SELAMAT DATANG DI "TEOLOGI KAUMAWAM"

Salam dalam Kasih Tuhan Yesus Kristus. Terimakasih telah mampir di blog yg sederhana ini. Kami sangat berterimakasih bila saudara berkenan memberi tanggapan atas tulisan yang saudara baca di blog ini. Karena dengan tanggapan itu kami akan dapat belajar dan berbagi, sebab untuk itulah blog ini dibuat agar hidup kita tetap terpelihara dalam persekutuan. Semua tulisan dalam blog ini dapat dikutip dengan tetap mencantumkan sumbernya. Kiranya Tuhan Yesus memberkati kita. Pax Vobiscum, Erianto Hasibuan

Sabtu, 26 Juni 2010

Diskusi Sabda BAPEKRIS 2 Juli 2010

Acara Diskusi Sabda
1. Nyanyian Pembukaan
KJ No. 2. SUCI, SUCI, SUCI do = d (4 ketuk)
Ayat 2 Suci, suci, suci kaum kudus tersungkur Di depan TahtaMu memb'ri mahkotanya Segenap malaikat sujud menyembahMu Tuhan yang ada Slama - lamanya

Ayat 3 Suci, suci, suci walau tersembunyi, walau yang berdosa tak nampak wajahMu, Kau tetap Yang suci, tiada terimbangi, Kau Mahakuasa, murni kasihMu.

2. Doa Pembukaan
3. Nyanyian Kini saatnya
Kini saatnya berkliling di altarNyaSbab Allah maha kudus hadir disiniMari memuji angkat tangan menyembah Sbab Allah maha kudus hadir disini
Kita masuk tahta suciNyaBersama para malaikat menyembahMari puji YesuskuKita masuk hadiratNya maha kudus
4. Doa Pembacaan Firman
5. Pembacaan Nats : I Korintus 6 :15-20
6. Diskusi dan Kesimpulan
7. Lagu How Great Thou Art
O Lord my God, when I'm in awesome wonder consider all the worlds Thy hand have made I see the stars, I hear the rolling thunder Thy pow'r thro'-our the universe displayed
And when I think that God, His Son not sparing sent Him to die,I scarce can take it in that on the cross, my burden gladly bearing He bled and died to take away my sin
Chorus: Then sings my soul, my savior God, to Thee How great Thou art, How great Thou art Then sings my soul, my savior God, to Thee How great Thou art, How great Thou art
8. Doa Penutup

Free sex
Bacaan : I Korintus 6 :15-20
Tujuan : Memotivasi diri untuk menjaga kekudusan hidup di hadapan Allah dan sesama
Pengantar
Rasanya bila dilakukan rating perdiskusian, tayangan televisi dan media lainnya periode sebulan terakhir ini, dapat dipastikan yang menjadi top rating pastilah topik “video mesum” yang diperankan “para artis” papan atas di negeri ini.
Perselingkuhan seolah menjadi hal yang biasa di tengah masyarakat saat ini, bahkan ada teman yang mengatakan “kalau selingkuh dengan lawan jenis itu biasa, tetapi dengan sejenis itu baru luar biasa”.
Sebagian dari kita cenderung merasa tabu untuk menceritakan masalah sex secara terbuka, utamanya di forum kerohanian. Sebagaian bahkan masih beranggapan bahwa membicarakan masalah sex adalah dosa. Keinginan sex dianggap sebagai keinginan daging yang harus dilawan dan disangkali. Petentangan yang tajam antara keinginan daging dan roh membuat banyak orang beranggapan bahwa keinginan sex haruslah ditekan, dilawan karena mengotori keinginan roh yang kudus.
Sex dalam pandangan Alkitab
Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (Kej. 1 : 27-28)
Manusia (bhs Ibrani : adam) adalah kolektif, bukan nama perseorangan tetapi istilah umum untuk kemanusiaan. Manusia diciptakan menurut gambar (tselem) dan rupa (demuth) Allah. Istilah ini hanya digunakan untuk manusia, walaupun manusia memiliki keperluan jasmaniah yang berdekatan dengan alam binatang. Walau demikian tetap saja ada perbedaan manusia dengan ciptaan-Nya yang lain. Dalam soal sex manusia jelas berbeda, karena manusia tidak menempatkan sex sekedar sebuah insting atau naluri. Pertimbangan etis, perasaan, penghormatan dan cinta kasih menjadi dasar sex manusia yang tidak dimiliki binatang. Jadi kepuasannya bukanlah kepuasan hewani sebagaimana yang diistilahkan Prof. Komaruddin Hidayat saat memberikan ceramah di Bank BTN KC Medan beberapa tahun yang lalu. Itulah esensi dasar dari manusia diciptakan menurut gambar (tselem) dan rupa (demuth) Allah, ia diciptakan dengan prilaku dan cara hidup yang berbeda dengan binatang walaupun memiliki kebutuhan yang sama.
Oleh karena manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah secara lengkap (jasmani dan batin) maka keinginan sex juga diakui berasal dari Allah yang melaluinya manusia selanjutnya diminta untuk memenuhi bumi dan bertambah banyak, melalui aktivitas sex antara laki-laki dan perempuan. Jadi persetubuhan laki-laki dan perempuan andalah karunia Allah.
Sex dan orang belum menikah
Setiap orang mengalami godaan sex, baik yang telah menikah maupun yg belum (tidak) menikah. Artinya setiap orang memiliki keinginan sexual terlepas telah menikah atau tidak. Bagi yg belum menikah, merupakan perjuangan untuk tetap mempertahankan kekudusan hidup dengan jalan menghindari free sex maupun sex pra nikah. Hubungan sex diluar pernikahan sangat membahayakan dan menghancurkan hubungannya dengan diri sendiri, orang lain dan dengan Allah. Hubungan sex pra nikah menciptakan keputusasaan, kehilanngan kepercayaan dan penghormatan terhadap diri sendiri.
Dalam 1 Kor.6 Paulus mengkritisi kehidupan free sex jemaat Korintus, ini dapat dipahami karena sebagaian dari mereka adalah para kristen baru yang hidup ditengah-tengah masyarakat dengan kehidupan free sex. Cara hidup yg tidak benar dengan prilaku sex yg tidak benar disamakan dengan cara hidup kafir yang masih diperhamba dosa. Seorang pria atau wanita ketika menerima Kristus dalam hidup mereka melalui baptisan maka mereka diminta memiliki cara hidup yang berbeda dengan cara hidup yang lama. Mereka harus hidup suci karena tubuh mereka bukan milik mereka lagi. Mereka telah dibeli dengan harga lunas melalui darah Kristus. IA berkorban agar cara hidup kita, termsuk prilaku sex kita dikuduskan.
Sex dan orang yang telah menikah
Bagi orang yang telah menikah, godaannya adalah keinginan untuk mengkhianati kesetiaan (apapun alasannya). Perselingkuhan dalam rumah tangga menjadi prilaku sex yg marak. Menghadirkan kesetiaan terhadap satu orang pasangan hidup seolah dianggap sebagai mimpi belaka.
Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki." Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. (Kej.2:21-24)
Nats penciptaan perempuan menunjukkan bagaimana eratnya persekutuan antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki dan perempuan yang diikat dalam sebuah perkawinan menjadi satu. Hubungan ini lebih dekat dari hubungan apapun, karena mereka bukan hanya sehati dan serumah tetapi juga sedaging.
Kesedagingan ini membuat persekutuan suami-isteri bersifat eksklusif, tertutup bagi pihak lain (baik laki-laki maupun perempuan). Artinya dalam perkawinan tidak dibenarkan adanya perselingkuhan dengan alasan apapun. Ketidak setiaan akan berakhir dengan kehancuran.
Dengan demikain tiap orang (menikah atau tidak) harus menempatkan keinginan sexualnya dalam terang firman Allah. Mengendalikan keinginan sex dengan akal budi tidak hanya terdorong oleh insting belaka. Manusia diberikan oleh Allah Karunia untuk dapat mengendalikan dirinya. Melalui karya Allah yang membebaskan manusia dari belenggu dosa, memampukan manusia untuk hidup kudus dihadapan Allah baik pada saat ia single maupun menikah. Jadi baik menikah ataupun tidak, tiap orang beriman harus berjuang mengendalikan keinginan sexnya hingga ia menjadi kudus dan berkenan di hadapan Allah.
Pertanyaan Diskusi :
1. Menurut Sdr. Apa yg mendorong seseorang melakukan sex pra nikah atau perselingkuhan bagi yg telah menikah.
2. Bagaimana cara kita menghadirkan hidup kudus dalam pernikahan maupun bagi yang masih lajang ?

Bacaan : Lentera Umat Edisi 04

Minggu, 04 April 2010

Profesi tanpa Roh

Oleh : P. Erianto Hasibuan
Belum lama anak kami bercerita bahwa ada temannya tiba-tiba mogok sekolah, Nanda (bukan nama sebenarnya) hanya mau sekolah bila ditemani oleh keluarganya di dalam kelas. Mendengar cerita tersebut hati kami tergerak dan mencoba mengunjungi keluarga ini. Si anak yatim menurut penuturan si ibu ditinggal pergi Papanya kala ia masih belum sekolah. Sebagai anak tunggal ibunya memberikan kasih sayang yang penuh, si ibu yang single parents kemudian memindahkan sekolah anaknya untuk lebih memudahkan dalam transportasi. Namun perlakuan yang simpatik dari sekolahnya terdahulu tidak ditemukan si anak di sekolah yang baru. Si ibu telah beberapa kali menemui sang guru kelas, bahkan kepala sekolah namun belum ada solusi, bahkan pembicaraan lebih intensif dengan si anak ataupun dengan orang tua belum pernah dilakukan, “ padahal saya kerap membawa kue buat gurunya lho bu” tutur si ibu kepada kami saat berkunjung ke rumah mereka.
Penasaran dengan kondisi tersebut, kami mencoba mencari tahu berbagai informasi mengenai Nanda dan situasi sekolah dari anak kami. Singkat cerita, Nanda saat baru masuk ke kelas (sebagai siswa pindahan) tidak sempat diperkenalkan sang guru dan langsung mengikuti pelajaran sebagaimana siswa yang lain. Pada saat yang bersamaan sang guru menegur dengan keras teman sebangku Nanda. Setelah peristiwa itu Nanda masih bersekolah, namun kemudiaan Nanda kerap di “ledekin” teman sekelasnya dan itulah awal Nanda kerap tidak masuk sekolah, hingga akhirnya terjadi “pemogokan” dan hanya mau ke sekolah bila ditemani orang tua atau saudaranya di dalam kelas.
Dalam keseharian, kami memang kerap mendengar anak kami bercerita bagaimana guru mereka menegur dengan keras teman sekelasnya yang lambat dalam menulis dan mengerjakan pekerjaan di sekolah (PS) maupun yang tidak mengerjakan pekerjaan rumah (PR). Bahkan klaim bahwa si A merupakan calon tidak naik kelas, merupakan menu cerita yang kerap kami dengar.
Input vs Output
Secara kasat mata prestasi sebuah sekolah selalu dinilai dari berapa prosen para siswanya dapat lulus dengan nilai baik (bahkan terbaik) dan dapat melanjutkan ke sekolah favorit (ternama). Ukuran prestasi secara kuantitatif menjadi tujuan utama dari lembaga pendidikan. Tujuan tersebut secara otomatis menjadi sasaran pokok yang ditekankan pengelola lembaga pendidikan kepada setiap guru (tenaga pendidik). Bahkan saat ini sudah bukan rahasia lagi, bahwa mata pelajaran yang di ujikan secara nasional menjadi “primadona”.
Mungkin kurang santun jika dikatakan bahwa profesi pendidik saat inipun sudah diperlakukan laiknya sebuah mesin yang harus bekerja secara efisien dengan ukuran adalah perbandingan input vs output. Sejatinya kondisi tersebut telah menjadi fakta diberbagai tempat.
Pengalaman penulis saat menjadi tenaga pengajar di salah satu STIE (Swasta) di kota Medan, adalah secuil contoh, yang sudah barang tentu belum dapat digeneralisasi. Saat itu beberapa tenaga pengajar dipanggil oleh pengurus Yayasan berkaitan dengan hasil qesioner dari para mahasiswa/i. Pada dasarnya kami diminta untuk dapat meningkatkan rating dari hasil qesioner. Sudah menjadi semacam aksioma, bahwa para anak didik, keinginannya adalah nilai bagus tanpa kerja keras. Sehingga penilaian (qesioner) oleh para mahasiswa/i secara umum akan mengarah kepada para pengajar yang memberi banyak kemudahan (kompromistis) tetapi nilai tetap bagus.
Bagi tenaga pengajar yang tetap bertahan dengan “idealisme”nya, kita sudah pasti bisa menebak ke mana ujungnya. Namun bagi tenaga pengajar yang masih memerlukan pernafkahan dari tempat kerja tersebut, mau tidak mau, suka tidak suka, akan mengikuti arah yang dikehendaki oleh pengelola.
Pada akhirnya Sang tenaga pendidik “cenderung” melihat anak didiknya secara homogen sebagai sebuah input yang harus memberikan output sesuai standard yang ditetapkan bagi sekolahnya, hingga kerap melupakan hal yang paling hakiki dari kemanusiaan yaitu keberagaman dari perasaan. Inilah mungkin yang sedang di alami oleh Nanda, seorang anak yang secara lahiriah tidak memiliki perbedaaan dengan anak yang lain, namun perasaannya yang tak kasat mata membutuhkan sentuhan tersendiri.
Profesi kerap mengalami degradasi saat tiada lagi waktu dan peluang untuk merenung makna hakiki dari profesi yang digeluti, dalam himpitan tuntutan kejaran target bagaikan mengejar bayangan sendiri yang tak kunjung usai. Proses kadang terabaikan demi hasil, sehingga menghadirkan seseorang yang mau mendengar dan memberikan dukungan adalah kelangkaan pada era ini.
Cara Pandang Yesus.
Sejak dari sekolah minggu kita sudah hafal bahwa kedatangan Yesus ke dunia adalah untuk menebus dosa manusia. Jika kita mengibaratkan Yesus adalah seorang profesional, maka tugas pokok dari profesi yang dijalankannya adalah menebus dosa manusia. Namun mengapa dalam perjalanan pelayanannya banyak hal yang dilakukan-Nya seolah menyimpang dari tujuannya ? misalnya mengadakan mujizat melalui penyembuhan orang sakit maupun merubah air menjadi anggur ? apakah itu tidak menyimpang dari tujuan pokoknya datang ke dunia ?
Mari memperhatikan cara pandang Yesus atas mujizat yang dilakukannya, saat menyembuhkan seorang lumpuh sebagaimana yang dituliskan dalam Injil Markus 2:5 (bnd Luk. 5:20), Yesus tidak mengatakan “berjalanlah” tetapi "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni", apa kaitannya dosa dengan kelumpuhan ?.
Yesus paham betul cara pandang orang Yahudi pada masanya, bahwa sakit penyakit adalah buah dari hukuman karena dosa. Demikian halnya dengan si lumpuh, kesembuhan semata belum dapat mengembalikan kepercayaan dirinya sebagai warga masyarakat yang normal, jika rasa bersalah akan keberdosaannya masih meliputi hati dan pikirannya. Hal yang tak terlihat ini yang dipahami dengan baik oleh Yesus untuk memulihkan si lumpuh dengan seutuhnya dengan mengatakan "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni". Yesus mampu melihat lebih dari sekedar tampilan luar semata.
Demikian halnya saat Yesus mentahirkan orang kusta (Luk. 5 :13-14), Yesus melarang orang itu untuk memberitahukannya kepada siapapun, tetapi mengatakan : "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan seperti yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka." Penderita kusta adalah kelompok yang “terpinggirkan” dan “terbuang” dari komunitasnya, mereka dapat kembali ke komunitasnya secara utuh hanya bila mereka sudah menjalani prosesi pentahiran dengan persembahan oleh para imam. Yesus memahami dengan baik apa yang dibutuhkan mereka, bukan sekedar pentahiran, tetapi penerimaan oleh masyarakat sebagai warga yang normal. Inilah wujud Kasih yang yang diajarkan Yesus kepada kita yaitu Kasih yang melampaui kasih biasa yang reaktif dan kasat mata.
Contoh lain yang menarik adalah, perumpamaan Yesus tentang Domba yanng sesat dalam Matius 18 : 12-14. Dari seratus ekor domba, ada seekor domba tersesat, maka si pemilik domba meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor untuk mencari satu ekor yang tersesat. Logika kita di era ini, yang melihat profesi sebagai sebuah proses input dan output, tidak akan melakukan itu, karena kita selalu memandang input secara homogen, sebagaimana kasus yang di alami oleh Nanda. Namun Yesus memberikan pandangan yang hakiki dari sebuah profesi. Jika tujuan profesi adalah menebus dosa manusia, maka ukurannya tidak hanya sekedar input dan output, tetapi lebih dari itu, hingga si pemilik rela berlelah-lelah meninggalkan yang 99 ekor dan mencari seekor yang tersesat. Dengan demikian si pemilik memperoleh kegembiraan yang lebih besar (suka cita).

Refleksi.
Kerap kita merasa bahwa bila kita tidak melanggar ketentuan yang ada pada tempat kerja atau kode etik profesi, kita sudah melaksanakan profesi kita dengan baik. Namun Yesus telah memberikan contoh secara nyata dan jelas, bahwa Yesus tidak hanya sekedar melihat apa yang muncul dipermukaan, tetapi apa yang dapat memulihkan seseorang secara utuh.
Nanda, “mogok” sekolah hanyalah sebuah sympotm namun yang ia butuhkan adalah sebuah perhatian yang melampaui sekedar hubungan transfer knowledge dari sang guru. Kedatangan orang tua ke sekolah berkali-kali adalah sinyal yang kuat bahwa Nanda membutuhkan perhatian lebih untuk memulihkan dia menjadi kembali ke kondisi sedia kala.
Tidak salah secara hukum dan disiplin bagi sang guru untuk tetap melaksanakan tugasnya sebagaimana seharusnya tanpa memberikan perhatian lebih pada Nanda, tetapi itu adalah Sang guru biasa atau sang guru yang melaksanakan profesi nya tanpa Roh, karena belum mampu memaknai teladan yang telah diberikan Yesus dalam melakukan profesinya.
Teladan Yesus menunjukkan sebuah profesi yang dimaknai dengan baik, bagaimana seharusnya kita memulihkan keadaan sesama melalui profesi yang kita jalankan. Tidaklah cukup hanya melihat yang kasat mata, karena itu hanya sebuah profesi yang biasa namun ada kerelaan untuk berlatih bertindak sebagai mana Yesus telah memberi teladan bagi kita semua. Mari mulai melakukan profesi kita sebagai profesi yang jiwa bukan profesi tanpa Roh. Selamat berlatih. (has0210) Tulisan ini di muat dalam Bulletin Mercusuar Edisi 16/Maret 2010. hlm.36-39.

Selasa, 16 Februari 2010

KEMBALI KE HABITAT


Hari ini adalah hari pertama masa Pra-Paskah atau yang lebih dikenal dengan Rabu Abu. Disebut Rabu Abu karena pada hari ini umat yang datang ke Gereja dahinya diberi tanda salib dari abu sebagai simbol upacara ini. Simbol abu mengingatkan umat akan ritual Israel kuno di mana seseorang menabur abu di atas kepalanya atau di seluruh tubuhnya sebagai tanda kesedihan, penyesalan dan pertobatan (Ester 4:1, 3).
Masa Prapaskah adalah masa pertumbuhan jiwa kita. Kadang-kadang jiwa kita mengalami masa-masa kering di mana Sang Khalik terasa amat jauh. Saat itu kita tidak dapat mengalami pertumbuhan Iman, tetapi justru kekeringan dan kemerosotan kualitas hidup. Lihat pohon yang tumbuh di tepi aliran air, akan tetap segar sekalipun panas menyengat, karena dia dekat dengan sumber air. Demikian halnya kita saat dekat pada Sang Khalik. Karena pada hakekatnya sebagai ciptaan kita tidak dapat tumbuh bila jauh dari Sang Pencipta atau terlepas dari habitat yang seharusnya.
Masa Prapaskah akan mengubah jiwa kita yang kering. Masa Prapaskah juga membantu kita untuk mengatasi kebiasaan-kebiasaan buruk, bila kita memahami dengan baik maknanya dan bukan hanya sekedar ritual tanpa makna. Contoh terbaik adalah saat Daud diperingatkan nabi Natan atas konspirasinya untuk menghabisi Uria demi Betsyeba. Daud “mengakui” kesalahannya dan berbalik dari kesalahannya. Awal dari sebuah pertobatan adalah pengakuan. Contoh kecil, semula saya perokok berat, beberapa kali saya mencoba untuk berhenti, tetapi hanya berhasil untuk hitungan bulan dan kambuh lagi dan lagi. Sampaii pada akhirnya tahun 2003, saya mengakui bahwa kebiasaan merokok adalah kebiasaan buruk dan merugikan anak isteri dan orang disekitar saya. Puji Tuhan esok setelahnya, Tuhan menolong saya dan hingga saat ini saya melupakannya.
Marilah kembali ke habitat sebagai makhluk ciptaan yang hidup disekitar hadirat Sang Khalik. Terserah bagaimana anda melakukannya, dengan berpuasa atau berpantang. Yang pokok adalah, fokus kita pada perubahan prilaku menjadi segambar dengan Kristus yang telah memberi teladan. Mulailah hari ini dan ulangi hingga hari ke 40, niscaya anda akan memiliki prilaku yang baru. Selamat mencoba. Selamat memasuki Pra Paskah. (has170209)

Senin, 04 Januari 2010

Selaput


Semakin keras, keraguan terlihat pd langkahnya kala dia menatap gelombang laut. Saat kupegang tangannya dia kembali melangkah, namun keraguan kembali hadir saat angin semakin kencang, tak lagi cukup satu tanganku memegangnya, namun harus kedua dengan erat. Namun ku heran saat kubiarkan dia sendiri dibeton setapak tanpa kugapai, ia mampu berdiri sendiri untuk mengabadikan ku. Keberaniannya hadir kala ucapan yg kuberikan adalah penguatan bahwa ia mampu menentang angin dan berdiri sendiri. Begitulah kerap sang khalik terhadap ku kala aku lelah dan berbeban berat, atau mengalami suka cita, namun kerap aq hanya menggunakan mata dan telinga jasmani, sehingga tak kulihat Ia disisi ku dan tak kudengan Sabdanya memnguatkan ku, atau sabdanya yang mengingatkan ku untuk berbagi suka cita ku kepada sesama. Aku memang tidak pernah sendiri, karena Dia selalu ada dekat dengan ku namun aku yang kerap tak melihatnya karena mataku ditutupi selaput ketidak pekaan dan kesibukan. Selaput itukah yang kerap menghalangi ku untuk menguatkan sesamaku yang lemah ? atau mengeluarkan kata pemutus asa kepada sesama ? atau seoalah tak mendengar mereka yang berkelu kesah ? melalukan mereka yang terluka karena memang aku tak mengenalnya, sekalipun aku memahami bahwa dia juga adalah ciptaan Sang Khalik?. (has 050110)

Sabtu, 24 Oktober 2009

Membangun Jiwa membentuk Karakter

Oleh : P. Erianto Hasibuan

Jika menyebut nama Dr. Azhari, Noordin M Top dan Amrozi dipastikan persepsi pembaca akan mengarah ke satu kata yang maknanya sama, Terorisme. Namun jika menyebut nama Mangampin Sibuea, David Koresh, sebagian dari pembaca boleh jadi memiliki persepsi yang sama, dan sebagaian telah melupakan peristiwa yang menarik perhatian publik. Mangampin Sibuea adalah seorang pendeta yang kemudian mendirikan sekte sendiri dengan penafsirannya mencoba menghitung saat kiamat, sementara David Koresh adalah pemimpin Branch David yang bersama para pengikutnya mengakhiri hidup mereka sendiri.

Begitu dasyatnya sebuah pemahaman dan kepercayaan, dapat membentuk kepribadian yang berbeda dari pribadi yang lazim. Kepercaayaan yang mengarah kepada fanatisme sempit tentu diawali dari pemahaman dan berkembang menjadi kepercayaan dan keyakinan ybs. Seberapa besar pengaruhnya? Fakta telah menjelaskan lebih dari kata-kata, apa yang dilakukan Amrozi dkk dengan Bom Bali, David Koresh dan pengikutnya yang bersama-sama membakar diri.

Dalam banyak kesempatan, kerap diperdebatkan mana yang benar dalam membangun sebuah bangsa pertama membangun fisik lalu pembangunan karakter (character building), atau sebaliknya. Sekalipun para "pakar" seolah koor untuk menyetujui bahwa pembangunan karakter (character building) yang utama, tetapi pada akhirnya hasil pekerjaan pihak "eksekutif" (termasuk pengurus organisasi, CEO perusahaan) diukur dengan ukuran material berupa output yang riil. Lalu siapa yang peduli dengan hal-hal yang bersifat abstrak yang menyangkut kejiwaan, jika hampir mustahil untuk mengukurnya ?

Budaya Instan.

Cara mudah menilai kemana arah kebijakan suatu organisasi adalah dengan memperhatikan komposisi anggaran belanjanya, termasuk sebuah negara, bahkan gereja sekalipun. Jika komposisi masih didominasi pada bidang-bidang fisik, seperti membangun gedung dan sarana lainnya tanpa mempertimbangkan aspek manusia yang terlibat didalamnya, maka sulit untuk mengatakan bahwa organisasi tersebut memiliki visi jangka panjang.

Pembangunan fisik merupakan pekerjaan yang dapat dengan mudah dinilai bahkan dengan kasat mata sekalipun, pertanggung jawaban anggaran dapat dilakukan dengan cepat. Namun pembangunan jiwa (karakter) sangat abstrak dan penilaiannya membutuhkan waktu panjang. Tidak banyak orang yang memiliki keberanian untuk melakukannya, utamanya menyangkut aspek pertanggung jawaban.

Coba lihat para petinju kita, hanya sedikit dari mereka yang mau berlelah-lelah mengawali karirnya dari amatir, penyanyi tenar dengan instan dapat dicetak melalui "idol" dan sejenisnya, mahasiswa cukup baca diktat, text book terlalu tebal dan bertele-tele. Outputnya, begitu banyak petinju kita yang meninggal di atas ring, penyanyi yang eksistensinya tidak berakar hingga mudah hilang dari pasaran, para sarjana yang dipertanyakan kualitasnya dst.

Membangun Jiwa

Pada abad ke 16, Inggris dan Spanyol adalah dua negara besar, tetapi kemudian Inggris semakin besar sedangkan Spanyol semakin lemah. Seorang psikolog sosial David McClelland melakukan penelitian dan McClelland menemukan dongeng dan cerita anak Inggris abad ke-16 mengandung 'virus' yang menyebabkan pembaca atau pendengar terjangkit penyakit The need for Achievement (Kebutuhan Berprestasi) yang kemudian terkenal sebagai n-Ach. Sedangkan cerita dan dongeng Spanyol justru meninabobokan rakyatnya.

Dalam artikel The Need for Achievement, ia
mengungkapkan kalau dongeng dan cerita anak memiliki fungsi lain selain daripada sekedar membawa pesan moral. Ia menemukan bahwa dongeng sebelum tidur mempengaruhi nasib sebuah bangsa.

Bagaimana virus n-Ach dapat mempengaruhi nasib suatu bangsa? Lebih lanjut David McClelland dengan bantuan ahli yang netral, menemukan puisi, drama, pidato penguburan, kisah epik di Inggris ternyata menunjukkan optimisme yang tinggi, keberanian untuk mengubah nasib, dan sikap tidak cepat menyerah. Cerita-cerita seperti ini dianggap memiliki nilai n-Ach tinggi. Lalu ia juga menemukan pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi selalu didahului oleh The Need for Achievement yang tinggi dalam karya sastra masa itu.

Selanjutnya, ia mengumpulkan 1.300 dongeng dan cerita anak dari berbagai negara era tahun 1925 dan 1950, dan mendapati cerita atau dongeng yang mengandung nilai n-Ach tinggi selalu diikuti pertumbuhan ekonomi yang tinggi di negara itu dalam kurun waktu 25 tahun kemudian.

Waktu 25 tahun bagi bangsa yang terbiasa dengan budaya instan adalah kemustahilan, tidak demikian halnya bagi bangsa yang terbiasa memiliki "mimpi/visi". Dua puluh lima tahun bukanlah halangan untuk merubah karakter suatu bangsa, karena seluruh organisasi di negara tersebut dapat mengatakan: "dalam 10 tahun kedepan kami akan berubah", setiap rumah tangga dapat berubah dalam waktu 3 tahun dan bukan tidak mungkin bagi individu untuk merubah diri dalam 2 tahun. Masih sangat cukup waktu bagi suatu bangsa untuk mengkonsolidasikan dan mensinergikan perubabahan dan membentuk karakter baru.

Dasar Firman Tuhan

Jika David McClelland dengan teori The need for Achievement, bagaimana dengan Firman Tuhan dalam Alkitab. Adakah "Virus" n-Ach terdapat dalam Alkitab ?.

Abraham yang ketika itu masih sebagai Abram, saat dipanggil Allah, yang diberikan adalah sebuah "Janji/Visi" bahwa Allah akan memberikan suatu negeri kepada keturanannya (Kej. 12:7) janji yang sama diberikan kepada Musa saat ia hendak diutus Tuhan memimpin orang Israel keluar dari tanah Mesir "Aku akan memberikannya kepadamu untuk menjadi milikmu" (Kel 6:7), demikian halnya dengan janji Allah untuk memberikan keluarga yang teguh bagi Salomo seperti yang diberkan Allah kepada Daud (I Raj.11:38).

Janji yang diberikan tidak lalu menjadi kenyataaan tanpa upaya apapun. Abram selanjutnya mengalami proses pembentukan agar menjadi Abraham, Musa harus meninggalkan kenikmatan Istana. Janji yang dari Allah sekalipun harus dicapai dengan penuh kerja keras dan pengorbanan yang tidak kecil. Cerita perjuangan yang penuh heroik tersebut tidak hanya menjadi sebuah sejarah yang mati bagi generasi berikutnya, tetapi melekat bagi setiap perintah yang diberikan Allah kepada umat Israel. Llihat saja kata pembuka dari Dasa Titah " Akulah TUHAN, Allahmu yang membawa engkau keluar dari Tanah Mesir, dari tanah perbudakan". (Kel.5:6) pesan ini dimaksudkan agar umat Israel mengingat bagaimana besarnya kasih Allah kepada leluhur mereka dan kasih yang sama juga tetap menyertai mereka.

Pada bagian selanjutnya mereka diwajibkan tidak hanya sekedar berpengang pada perintah yang telah diberikan Allah kepada mereka, tetapi lebih dari itu "haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. (Ul. 6: 6-7) Perintah yang sama juga disampaikan kepada Yosua (1:8).

Dalam Perjanjian Baru, kita melihat bagaimana Paulus sebagai seorang yang visioner dengan goal setting yang jelas, mengumpamakan pelayanannya sebagai sebuah pertandingan yang harus dikejar dengan berlari demi mencapai tujuan dan mendapatkan hadiah (Flp 3: 13-14), visi yang sama juga ditanamkannya kepada muridnya Timotius (I Tim. 4:10)

Sesungguhnya jika ditelaah lebih lanjut, di dalam Firman Tuhan begitu banyak kandungan "virus" n Ach. Namun kerap kita tidak menyadari keberadaannya, atau sebagaian telah menyadarinya tetapi belum terbiasa untuk mebicarakannya, jangankan siang dan malam bahkan sekali seminggu juga masih penuh dengan kealpaan.

Peran Gereja dan Keluarga

Pdt. Dr. Andar Ismail dalam tulisannya di harian Suara Pembaruan 9 Juni 2009 yang berjudul Gereja yang Membaca dana Menulis, mengungkapkan hasil survey yang pernah dilakukan oleh Pdt. Dr. Andar Ismail dan Pdt. Dr. Eka Darmaputra kepada para pendeta di Jakarta tentang sebuah buku tafsiran tulisan seorang pakar biblika terbitan BPK Gunung Mulia. Buku itu sudah dua tahun tersedia, tidak terlalu tebal dan tidak terlalu mahal. Ternyata, kebanyakan pendeta tidak tahu tentang buku itu. Sebagian kecil pendeta tahu, namun belum membeli. Sebagian kecil lagi sudah membeli, namun belum membacanya. Ternyata, jumlah pendeta yang sudah membaca buku itu hanya sedikit.

Pada bagian lain dalam tulisannya, diceritakan bagaimana dimasa mudanya kedua pendeta ini pada akhir tahun1960-an, ketika Pdt. Eka baru menjadi pendeta di Jatinegara dan Pdt. Andar di Samanhudi, tiap Senin mereka berdua bertemu untuk melatih diri membaca dan menulis. Mereka sengaja memilih buku teologi yang sulit lalu mereka saling uji apakah betul sudah mengerti isinya. Konsep teologis yang berat dan susah mereka ubah menjadi yang ringan dan mudah. Tujuannya agar kemudian mereka menghasilkan tulisan yang bisa menumbuhkan dan mendewasakan iman umat. Umat dan pendeta perlu membaca buku bermutu supaya penghayatan iman tidak kerdil dan wawasan iman tidak sempit. Pada akhir tulisannya Pdt. Andar menyatakan bahwa hakikat gereja adalah komunitas yang belajar dan mengajar. Gereja adalah komunitas yang membaca dan menulis.

Jika gereja adalah komunitas yang membaca dan menulis, maka pribadi lepas pribadi yang menjadi warga gereja selayaknya juga adalah pribadi yang membaca dan menulis, dengan demikian umat tidak lagi senantiasa mencari hal-hal yang instan, karena disetiap rumah tangga, anak menyaksikan orang tuanya yang lebih banyak meluangkan waktu membaca daripada menonton sinetron, lebih sering mendengar orang tuanya membicarakan Firman Tuhan daripada "ngerumpuii" para tetangga.

Dalam hal sunagoge berarti rumah belajar, maka Gereja yang kita kenal saat ini sebagai kelanjutan tradisi tersebut selayaknya adalah rumah belajar. Sebagai rumah belajar dapat dipastikan aktivitas yang dilakukan lebih kepada pembangunan karakter dengan menularkan "virus" n-Ach kepada jemaatnya dengan mengajak jemaatnya untuk memiliki mimpi/visi sebagai umat pemenang. Memberi Visi bukan berarti memberi semacam "bius" yang meninabobokkan jemaatnya untuk beranggapan bahwa segala sesuatu masalah akan selesai bila kita berdoa kepada Tuhan yang penuh dengan berkat. Dan juga tidak untuk mengatakan bahwa mujizat adalah kemustahilan. Tetapi yang dimaksud adalah adanya sebuah proses yang akan dilalui dengan berbagai upaya untuk mewujudkan sebuah visi menjadi kenyataan. Upaya yang dilakukan akan serasa indah jika dilakukan dengan penuh suka cita karena dilakukan demi kemuliaan nama Tuhan.

Harapan

Membangun karakter bukanlah pekerjaan mudah dan singkat, namun bukan kemustahilan untuk melakukannya. Jika tidak dimulai sejak dini, yang terjadi adalah penyesalan yang berkepanjangan. Tidak jarang kita menyaksikan seseorang yang sukses dibidang pendidikan namun kurang berhasil dalam meniti karir atau bahkan sulit baginya untuk mendapatkan pekerjaan. IQ yang semula menjadi ukuran utama, saat ini telah dikenal berbagai ukuran lain seperti EQ dan SQ. Kedua ukuran terakhir adalah ukuran-ukuran yang cenderung kepada karakter seseorang. Karakter dipegaruhi banyak hal, namun biarlah Gereja dan Keluarga dapat memberikan kontribusi berarti dalam membentuk "karakter pemengang", caranya mulailah menularkan "virus" n-Ach dengan tidak lupa membagi cerita kepada anak-anak yang masih belia, melailah bercerita dari SEKARANG !. (has300809) Tulisan ini dimuat pada Bulletin Mercu Suar Edisi 14 Oktober 2009.


 

Minggu, 04 Oktober 2009

JANJI

Oleh : P. Erianto Hasibuan
Wednesday, September 23, 2009 at 2:04am
Semasa kecil aku selalu dijanjikan oleh Mamaku bahwa hanya dengan sekolah dapat membuat hidupku lebih baik. Janji itu semula tidak kumengerti dengan baik, tapi yang bergema dibenakku hanya satu, aku ingin menjadi lebih baik. Lingkungan kecilku bukanlah lingkungan yang baik untuk menumbuhkan semangat bersekolah. Rekan seusiaku hanya menikmati sekolah hingga SLTP, sesudahnya mereka lebih menikmati bermain dan bekerja atau berdagang. Tidak ada hal yang istimewa untuk membuatku bertahan, sekalipun kerap aku ditertawakan rekan sebayaku karena masih terus bersekolah, kecuali janji Mama kepadaku. Setelah 44 tahun Sang Khalik memberiku izin untuk menikmati kehidupan, banyak pasang surut yang kualami, kekecewaan, kebahagiaan dan kegagalan dan keberhasilan silih berganti. Bahkan kerap yang paling getir sekalipun, kala orang disekitar belum dapat memahami pemikiranku atau aku yang belum dapat memahami pemikiran lingkunganku. Jika masa kecilku aku berbeda karena “janji” yang selalu didengungkan oleh Mama dan Ompungku (maaf aku tidak pernah mengenal Ayahku secara fisik) dan aku mempercayainya, saat ini aku masih dapat tersenyum juga karena JANJI, tapi bukan lagi sekedar janji sementara, tetapi pada janji yang melampaui segala abad, sebagaimana Abraham percaya kepada JANJI ALLAH dan hal itu diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran. (Kej. 15:5-6). JANJI itu yang memberikan kegairahan baru bagiku, sekalipun aku mulai mendalaminya sejak Tahun 2005, ternyata semakin “jauh” bagi ku untuk memahaminya, jadi janganlah tanyakan kepadaku apa makna JANJI itu, karena kulakukan dan kulakukan adalah untuk tetap mempercayai JANJI itu, walau fakta berseberangan dengan Janji, bukankah “Orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya” (Hab.2:4b; Gal.3:11b). Jadi saudaraku, jangan pernah berhenti memberi Janji, karena dengannya banyak orang akan dapat menghadapi masa kini dengan tersenyum, melupakan masa lalu dan berharap pada masa depan. Tanpanya yang terjadi adalah hilangnya kegairahan hidup hingga keputusasaan, bahkan hilangnya kendali diri. Hari ini, kala aku menerima berkat penyertaan satu tahun lagi, yang akan ku lakukan tidak hanya berpegang terhadap Janji itu, tetapi meneruskan janji itu kepada orang sekitarku, pertama-tama adalah anak isteriku, lalu lingkungan dimana aku berada. Marilah menjadi pemegang Janji dan pemberi Janji, karena jika kita setia maka kita akan dihormati oleh PEMILIK JANJI (Yoh.12:26b). (has23092009 02.04)