Oleh : P. Erianto Hasibuan
Istilah pemungut cukai (Yunani : telones) dalam PB adalah pengumpul cukai atau bea demi kepentingan Roma, yang ditugasi oleh kontraktor. Pola pengumpulan cukai atau bea (pajak) di era PB tidaklah sama dengan apa yang diterapkan di negara kita saat ini. Para pemungut (kontraktor) diberi target tertentu oleh penguasa (Roma) dan mereka dapat secara bebas memungutnya dari masyarakat, karena masyarakat umum juga tidak memahami dengan baik perhitungan tarif yang digunakan. Selisih antara target yang ditetapkan pemerintah Roma dengan yang berhasil meraka pungut akan menjadi keuntungan bagi para pemungut cukai. Jadi tidak heran jika para kontraktor (pemugut cukai) menjadi kaya, sebagaimana Zakheus, kepala pemungut cukai, seorang yang kaya (Luk.19:2).
Dalam melakukan pemungutan di wilayah kerjanya, para kontraktor juga dapat mempekerjakan para sub kontraktor pribumi yang membantu mereka dalam memungut pajak. Dapat dibayangkan bagaimana para pemungut cukai dapat memperkaya diri dengan menerapkan beban pajak semau mereka, sebagaimana yang diakui sendiri oleh Zakheus dalam Luk. 19:8… sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang…, jadi wajar jika Cicero menganggap jabatan pemungut pajak rendah, karena kebencian yang diakibatkannya.
Orang Yahudi fanatik (seperti kaum Zelot) sangat membenci kelompok ini, bahkan menganggap para pemungut cukai adalah najis, karena mereka senantiasa berhubungan dengan kafir dan bekerja pada hari sabat. Kenajisan ini, dan ajaran para nabi bahwa murid mereka tidak boleh makan bersama orang-orang demikian, menjelaskan sikap yang nampak pada ungkapan pemungut cukai dan pendosa. (Mat.9:10 dab,11:19;Mrk.2:15 dab; Luk.5:30,7:34,15:1).
Intlektualitas Vs Kehendak Allah.
Masih ingat dengan nama Don Wolf ?, seorang ilmuawan dari Oregon Regional Primate Centre di Beaverton yang mempublikasikan hasil cloning terhadap kera, sebagaimana yang dipulikasikan pada majalah New Scientist terbitan Inggeris. Dr. Richard Seed bahkan mengatakan bahwa manusia klona yang pertama akan lahir sebelum tahun 2001, pada bulan September 1998 dia mengumumkan rencananya untuk mengklona dirinya dan isterinya bersedia mengandung klona tersebut. Menurut Dr. Ian Wilmut, jika memang penelitian dilanjutkan pada manusia, hanya dalam waktu dua tahun teknik yang mereka kembangkan bisa diterapkan untuk membuat klona manusia dari sel tubuh manusia, bukan dari sel embrio. Artinya mungkin saja seorang meminta anaknya yang karena meninggal dalam kecelakaan lalu-lintas, diklona dari sel rambut atau sel kulitnya.
Kita tentu telah mengetahui bagaimana kelanjutan cerita, dari penemuan yang spektakuler tersebut. Penolakan besar-besaran terjadi dari sebagaian besar kalangan karena ada hal esensi yang dilangar dari sang peneliti yang “amat cerdas” tersebut, yaitu kehendak Allah memberikan anak adalah melalui hasil hubungan antara suami dan isteri, sedang klona adalah perbuatan yang menentang kehendak Allah.
Demikian halnya di negeri ini, para KORUPOR umumnya adalah dari mereka yang memiliki kekuasaan dan terdidik, bahkan “hot news” belakangan ini mengagetkan berbagai kalangan dengan “Skandal Perpajakan”. Keterlibatan para pegawai pajak, pamen dan pati (maaf tidak dimaksudkan mendahului putusan pengadilan) yang adalah mereka “kalangan terpilih”, menjadi keprihatinan tersendiri setidaknya bagi penulis. Jika disimak lebih lanjut kasus “mafia peradilan” yang belakangan ini banyak diberitakan, pihak yang terlibat sudah melibatkan secara signifikan kalangan teman seiman.
Kemampuan intlektual yang tidak diikuti dengan pemahaman kehendak Allah, akan sangat rentan menghasilkan generasi yang kurang memiliki pertimbangan etis teologis sebagaimana yang diperlihatkan Don Wolf dan Dr. Richard Seed, mereka memang tidak merugikan orang lain, sebagaimana yang dilakukan oleh para Koruptor di negeri ini, tetapi mereka alpa atas batasan hak Ilahi yang esensi, demikian halnya para Koruptor.
Salah Siapa ?
Persoalannya adalah, mengapa dengan kemampuan intlektual mereka yang di atas rata-rata tidak membawa berkat bagi orang disekitarnya, tetapi merugikan banyak orang, bahkan Negara?. Adakah kesalahan tersebut semata-mata berada ditangan mereka ataukah kita yang merupakan bagian dari lingkungan di mana mereka berada juga berperan ?.
Aspek pendidikan dan lingkungan saat ini, yang cenderung mengutamakan hal-hal yang sangat kuantitatif, bisa jadi memberi kontribusi besar. Lihat saja misalnya lembaga pendidikan yang ada di negeri ini, dengan tegas mendikotomi kalangan berduit dan kalangan “kere” bahkan sejak play grup sekalipun sudah terdikotomi sedemikan rupa, hingga masuk ke PTN (Perguruan Tinggi Negeri). Bukan rahasia lagi adanya jalur masuk yang “dipengaruhi” oleh kekuatan “sumbangan” dari para orang tua si anak didik.
Lingkungan tempat tinggal juga tidak kalah sengitnya, bahkan dikotomi tersebut sangat nyata, hanya dengan menyebut kompleks tertentu yang dikenal sebagai perumahan “mewah” seseorang serta merta dapat diperlakukan secara istimewa.
Singkat cerita, keunggulan seseorang cenderung dilihat dari apa yang mereka gunakan (merek produk juga bagian dari pencitraan target market-nya), di mana mereka tinggal, apa profesi mereka, dst. Sesungguhnya tidak ada yang salah dengan kesuksesan yang diraih seseorang dengan kerja keras, sehingga ia mendapatkan berbagai fasilitas yang membuat mereka menjadi unggul dan dihormati di masyarakat. Namun, sudut pandang yang mendominasi faktor apa yang dimiliki oleh seseorang, akan mereduksi pandangan yang lebih mulia dengan melihat apa yang dilakukan seseorang. Materi memang penting, namun seyogianya tidak berada di atas nilai-nilai etis teologis yang seharusnya.
Peristiwa seorang siswa “mencontek” saat ujian adalah symptom dari apa yang kerap diharapkan orang tua dan pendidik sebagai lingkungan. Siswa yang ingin “dihormati” oleh lingkungannya dengan cara instan akan menempuh cara apapun untuk mendapatkan hasil ujian yanga baik, bahkan yang sangat memprihatinkan, orang tua sendiri ikut serta mencarikan “joki” atau “bocoran” jawaban soal bagi anaknya yang akan ujian.
Mengapa peristiwa ini terjadi ? sudah barang tentu adalah keinginan untuk mendapatkan hasil yang “cemerlang” dengan cara instan dan tetap mendapatkan penghormatan dari lingkungannya (masyarakat), celakanya lagi lingkungan juga merespon hal demikian secara positif, dan menganggap hal yang wajar dan lumrah.
Artinya peristiwa para Koruptor, sesungguhnya tidak berdiri sendiri, kita sebagai bagian dari masyarakat yang memberikian apresiasi secara berlebih terhadap materi (hedoisme) juga berperan untuk menciptakan para “koruptor-koruptor” baru. Bayangkan jika gereja dalam melakukan aktivitasnya juga mendapatkan kontribusi pembiayaan secara signifikan dari mereka yang mendapatkan penghasilan dengan cara yang demikian, masikah kita dapat mengatakan bahwa gereja adalah tempat bagi orang-orang yang dipilih ?
Dasar Firman Tuhan
Bayangkan jika anda bagian dari keluarga salah satu Koruptor, dan telah menikmati berbagai fasilitas dan bantuan dari mereka. Apa yang anda akan lakukan, saat mengetahui bahwa orang yang selama ini anda sanjung-sanjung dan banggakan, karena berbagai bantuan dan fasilitas yang diberikannya ternyata memperoleh penghasilannya dengan cara yang tidak semestinya ?. Akankah anda ikut serta menghinanya dan memungkiri segala pemberian yang telah anda terima? Sekaligus mengucilkan mereka?, atau anda justru membelanya sebagai balas jasa dari apa yang telah anda terima selama ini? Atau jika anda adalah tetangga dari mereka, yang selama ini memandang mereka seolah sebagai “problem solver” dari berbagai persoalan dilingkungan, utamanya yang berkaitan dengan keuangan. Bagaimana sikap anda?
Cara pandang Kaum Yahudi terhadap para pemungut cukai sangat jelas, mereka adalah pendosa, yang dipandang rendah oleh masyarakat. Sekalipun pandangan umum di antara orang Yahudi pada zaman PB ialah bahwa menjadi kaya merupakan tanda dari anugerah khusus Allah dan bahwa menjadi miskin merupakan tanda ketidak setiaan pada pihak orang yang bersangkutan dan ketidak senangan pada pihak Allah (APHB : hlm. 1674)
Sekalipun para pemungut cukai adalah orang kaya, namun kaum Yahudi menolak pandangan mereka sendiri perihal kekayaan secara khusus terhadap para pemungut cukai seperti Zakheus. Dengan demikian jelas bahwa para pemungut cukai, sekalipun mereka kaya tetapi mereka adalah kalangan yang ditolak oleh masyarakat.
Yesus bukan tidak mengetahui bahwa Zakheus adalah seorang pemungut cukai, tetapi sapaan yang diberikan pada Zakheus dan ajakan untuk menumpang dirumahnya, dalam bahasa Yunani digunakan kata μείναι (meinai) untuk kata menumpang KJV menggunakan kata abide yang berarti tinggal. Bagaimana mungkin Yesus sebagai seorang Yahudi dapat tinggal di rumah Zakheus yang adalah seorang pemungut cukai, sementara untuk makan bersama saja bagi orang Yahudi sudah merupakan larangan keras, konon lagi untuk tingga di rumah pemungut cukai?
Yesus tidak memandang Zakheus sebagai seorang pemungut cukai semata, tetapi Zakheus sebagai orang yang terhilang dan memerlukan keselamatan. Karena untuk itulah Yesus datang dan memberitakan Injil, maka Yesus berkenan untuk tidak hanya sekedar makan bersama Zakheus, tetapi tinggal di rumahnya, yang artinya adalah membebaskan Zakheus dari penolakan.
Firman Tuhan dengan jelas memberikan pandangan yang bertentangan dengan pemahaman yang ada di masyarakat. Yesus di pandang aneh dan menjadi “musuh bersama” para kaum Farisi, Saduki dan kalangan Yahudi lainnya karena tindakan tersebut, namun tindakan Yesus yang penuh risiko telah memberikan pemahaman baru bagi kita secara konkret, akan arti sebuah sapaan yang menyelamatkan jiwa Zakheus, yang adalah perlambang dari kalangan yang terhilang.
Peran Gereja dan Keluarga
Gereja sebagai sebagai organisasi tempat para jemaat (ekklesia) berkumpul seogianya memberikan peran penting dalam membebaskan Zakheus- Zakheus masa kini dan mencegah kehadiran Zakheus- Zakheus baru yang tak kunjung bertobat.
Pembebasan dapat dilakukan dengan menyapa mereka bukan sebagai “anak yang hilang” tetapi bagaikan domba yang hilang atau dirham yang hilang (Luk.15:1-10), artinya ada usaha proaktif dari Geraja untuk menolong mereka kembali dalam persekutuan yang aktif. Upaya ini memang memerlukan usaha yang tidak sedikit, tidak cukup hanya KOMISI PELAWAT yang melakukan pelawatan, tetapi sudah mengarah pada aktivitas PASTORAL KONSELING. Berbeda dengan konsep “anak yang hilang” dimana gereja lebih bersifat pasif, tetapi dalam hal ini GEREJA yang PROAKTIF untuk menemukan para Zakheus.
Hambatan pokok dalam upaya ini umumnya ada pada keterbatasan tenaga yang tersedia, pengalaman penulis sebelumnya menunjukkan, bahkan angota jemaat yang telah lebih dari setahun tidak ikut bersekutu, gereja kadang tidak mengetahui, konon lagi mencari yang terhilang? Namun upaya sistematis kearah perbaikan bukan hal yang mustahil jika setiap pekerja gereja dan elemen yang ada di dalamnya memahami tugas panggilan pokoknya dengan baik. (dengan kata lain, para pekerja gereja mau mendengar, mau melihat, rajin berpikir dan belajar sertaberupaya memetakan dan memenuhi kebutuhan unat – red)
Upaya pencegahan sesungguhnya adalah hal terbaik untuk melahirkan para kaum intlektual kristen yang cerdas dan berkarakter Kristus. Kotbah-kotbah mingguan dan PA memang sangat membantu jemaat untuk membimbing kepada prilaku sesuai kehendak Allah. Namun dalam kehidupan yang sangat dinamis saat ini, menurut penulis upaya konvensional tersebut tidak lagi cukup.
Gereja selaiknya dapat memformulasikan program secara klasikal dan periodikal kepada para anggota jemaat yang akan memasuki fase tertentu dalam kehidupan dan pekerjaan. Seperti halnya dengan pra nikah, mengapa tidak dilakukan kepada para karyawan dan pengusaha yang akan mengemban tugas dan tanggung jawab yang lebih besar?.
Aspek teknis dan organisasi sudah barang tentu disiapkan oleh perusahaan atau dunia usaha masing-masing, namun aspek keimanan senantiasa luput, padahal aspek ini yang sangat penting dalam memberikan pertahanan terakhir, bagi setiap individu dalam menghadapi berbagai godaan dalam tugas dan tanggung jawab yang lebih besar.
Keluarga adalah inti dari lingkungan, sebagai anggota jemaat kita juga adalah anggota keluarga. Semakin kerap kita menilai kesuksesan seseorang dari materi yang dimiliki, semakin kita berperan untuk menciptakan Zakheus-Zakheus baru (tanpa pertobatan). Peran anggota keluarga dapat berbeda-beda, dari yang tidak mendorong kepada hedoisme hingga yang menolak ketidak wajaran. Misalnya, seorang isteri yang mengetahui gaji suaminya per bulan delapan angka rendah selayaknya mempertanyakan sumber dananya saat sang suami membeli rumah seharga sepuluh angka rendah (Rp. 1 M).
Harapan
Keprihatinan atas kondisi bangsa ini yang dipenuhi dengan kasus Korupsi, tidaklah cukup jika tidak diikuti dengan upaya untuk memperbaikinya. Yesus telah memberikan contoh bagi kita secara konkret bagaimana Zakheus disapa hingga ia bertobat.
Gereja dan keluarga memiliki peran sentral untuk mencegah lahirnya Koruptor-koruptor baru dari kalangan umat Kristen. Keberanian diperlukan, sebagaimana Yesus berani untuk tidak populer demi keselamatan jiwa Zakheus, Gereja dan Keluarga selaiknya juga memiliki keberanian untuk mengambil langkah proaktif baik dalam mengembalikan Zakheus- Zakheus yang ada ke dalam persekutuan dan mencegah lahirnya koruptor-koruptor baru. SELAMAT BERBUAT.
Bacaaan :
-, Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpapahan, Gandum Mas, Malang: 2006.
KJV : King James Version
Tulisan ini di muat di Bulletin Mercuasuar, edisi 17 Juni 2010. hlm. 59-63.
Minggu, 18 Juli 2010
Pemungut Cukai haruskah dibenci?
Sabtu, 26 Juni 2010
Acara Diskusi Sabda 16 Juli 2010 Fanatisme Beragama
Acara Diskusi Sabda
1. Nyanyian Pembukaan
KJ. 457 YA TUHAN, TIAP JAM do = g (3 ketuk)
Ayat 1 Ya Tuhan, tiap jam ‘ku memerlukanMu,Engkaulah yang memb’ri sejahtera penuh.
Ayat 2 Ya Tuhan, tiap jam dampingi hambaMu;jikalau Kau dekat, enyah penggodaku.
Ayat 3 Ya Tuhan, tiap jam, di suka-dukaku,jikalau Tuhan jauh, percuma hidupku.
Ayat 4 Ya Tuhan, tiap jam ajarkan maksudMu;b’ri janjiMu genap di dalam hidupku.
Ref. Setiap jam, ya Tuhan, Dikau kuperlukan;‘ku datang, Jurus’lamat, berkatilah!
2. Doa Pembukaan
3. Nyanyian Kumasuki Gerbang Nya
Kumasuki gerbangNya dengan hati bersyukur
HalamanNya dengan pujian
Kataku hari ini harinya Tuhan
Kubersuka sbab Dia girangkanku, )
Dia girangkanku ... 2X ) 2X
Kubersuka sbab Dia girangkanku
4. Doa Pembacaan Firman
5. Pembacaan Nats : Matius 7 : 15 -23
6. Diskusi dan Kesimpulan
7. Lagu You are My All in All
You are my strength when I am weakYou are the treasure that I seekYou are my all in all Seeking You as a precious jewelLord to give up I'd be a foolYou are my all in all
Taking my sin, my cross, my shameRising again I bless Your nameYou are my all in all
When I fall down You pick me upWhen I am dry You fill my cupYou are my all in all
Chorus: Jesus ... Lamb of God, worthy is Your nameJesus ... Lamb of God, worthy is Your name
8. Doa Penutup
Fanatisme Beragama
Bacaan : Matius 7 : 15 -23
Tujuan : Mendiskusikan hal-hal yang seharusnya dilakukan untuk menopang terwujudnya hidup beragama yang sehat.
Pengantar
Kalau saya pendukung mati kesebelasan Brazil dalam Fifa world Cup 2010, atau Klub Barcelona atau pengagum penyanyi Vince Gill, pencinta Cristiano Ronaldo apakah itu yang disebut dengan fanatisme ?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), fanatisme berasal dari kata “fanatik” yang mempunyai kaitan dengan sesuatu yang “fana” (tidak kekal/dapat rusak). Jadi fanatisme (kb) berarti “keyakinan atau kepercayaan yang terlalu kuat terhadap sesuatu ajaran (seperti : politik, agama, dsb) yang sifatnya tidak kekal”. Dalam Alkitab ada istilah yang mirip dengan fanatisme yaitu kata “ortodoks” (Yunani : orthos = lurus, benar; doxa = pandangan, pendapat), seperti tampak dalam Yakobus 2:19 tentang Tuhan. Menurut kitab Yakobus, beriman secara orthodoks adalah baik, yang menjadi soal penting adalah apakah apakah beriman yang demikian juga disertai oleh sikap hati yang lurus kepada orang lain atau memberikan manfaat bagi sesamanya?
Dengan bersikap fanatik, kita menganggap suatu ajaran yang kita pegang itu pasti benar sedang yang lainnya adalah keliru, akibatnya sikap toleransi kita terhadap pendapat lain menjadi tertutup. Kita menjadi tidak suka dengan orang yang berbeda keyakinan, menganggap mereka menyimpang dari kitab suci. Kita adalah orang-orang yang ingin mengasihi Tuhan, akan tetapi kita tidak menyukai orang yang berpendapat berbeda, apa itu dapat dibenarkan ? Bagaimana jadinya, bila apa yang kita yakini benar ternyata dinyatakan Tuhan sebagai sesuatu yang kurang benar dan apa yang dipahami orang lain adalah yang lebih benar?
Sitz im Leben (Setting in life)
Bacaan kita dimulai dengan sebuah peringatan terhadap nabi-nabi Palsu, karena kitab Matius memang ditujukan kepada orang-orang Yahudi, sehingga istilah tersebut jelas dipahami oleh mereka. Pada saat Injil Matius ditulis, jabatan nabi masih merupakan jabatan resmi yang ada di dalam gereja mula-mula dan waktu itu banyak orang yang meninggalkan segala miliknya, lalu pergi ke berbagai tempat menyampaikan berita yang katanya berasal dari Allah. Pada waktu itu juga sudah ada ketentuan yang mengatur (buku Didakhe) apakah seorang nabi itu sejati atau palsu (baik tentang tinggal dalam jemaat, makannya, serta soal uang dsb.) Dalam konteks itulah, nabi-nabi palsu diibaratkan serigala yang datang menghampiri dengan menyamar sebagai domba, suatu perbandingan yang kontras sekali. (lihat : Yer.6:14,8:11; Yeh.22:27;Zef.3:3; bdk. Kis.20:29; Yoh.10:12) Seekor serigala yang buas menyamar sebagai domba yang lembut dan tenang. Itu sebabnya Matius sangat mewanti-wanti kepada pembacanya agar lebih berhati-hati karena lingkungan di mana mereka hidup rentan dengan penyamaran semacam itu.
Kondisi di masanya ternyata tidak hanya dilihat oleh Matius, tetapi nada yang seirama juga disampaikan oleh beberapa tokoh seperti Epictetus yang menyatakan “Dapatkah anggur tumbuh menjadi zaitun, atau zaitun menjadi pohon anggur?” atau yang disampaikan Seneca :“buah ara tidak dapat tumbuh dari pohon zaitun, demikian juga kebaikan tidak akan pernah muncul dari kejahatan” (bdk ay. 16-17). Dan itu semua diperkuat lagi dari perkataan Yesus : “Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?” Kata-kata harus terteruji melalui perbuatan sebab perbuatan merupakan ukuran yang benar dari tabiat seseorang. (bdk ay.20) Di Palestina pada zaman Yesus memang terdapat semak duri yang buahnya mirip anggur kecil, di situ juga terdapat rumput duri yang bunganya bila dari jauh terlihat seperti buah ara.
Pertanyaan Diskusi :
1. Adakah relevansi situasi kehidupan beragama di era Yesus dengan situasi yang ada di lingkungan (jemaat) anda ?
2. Bagaimana sikap kita dalam menghadapi orang-orang yang memiliki pemahaman iman berbeda (fanatik) terhadap pokok iman tertentu?
3. Menurut Saudara, faktor dan langkah-langkah apa saja yang perlu kita perhatikan agar hidup beragama yang sehat dapat terwujud?
Bacaan : Lentera Umat Edisi 03
Diskusi Sabda BAPEKRIS 2 Juli 2010
1. Nyanyian Pembukaan
KJ No. 2. SUCI, SUCI, SUCI do = d (4 ketuk)
Ayat 2 Suci, suci, suci kaum kudus tersungkur Di depan TahtaMu memb'ri mahkotanya Segenap malaikat sujud menyembahMu Tuhan yang ada Slama - lamanya
Ayat 3 Suci, suci, suci walau tersembunyi, walau yang berdosa tak nampak wajahMu, Kau tetap Yang suci, tiada terimbangi, Kau Mahakuasa, murni kasihMu.
2. Doa Pembukaan
3. Nyanyian Kini saatnya
Kini saatnya berkliling di altarNyaSbab Allah maha kudus hadir disiniMari memuji angkat tangan menyembah Sbab Allah maha kudus hadir disini
Kita masuk tahta suciNyaBersama para malaikat menyembahMari puji YesuskuKita masuk hadiratNya maha kudus
4. Doa Pembacaan Firman
5. Pembacaan Nats : I Korintus 6 :15-20
6. Diskusi dan Kesimpulan
7. Lagu How Great Thou Art
O Lord my God, when I'm in awesome wonder consider all the worlds Thy hand have made I see the stars, I hear the rolling thunder Thy pow'r thro'-our the universe displayed
And when I think that God, His Son not sparing sent Him to die,I scarce can take it in that on the cross, my burden gladly bearing He bled and died to take away my sin
Chorus: Then sings my soul, my savior God, to Thee How great Thou art, How great Thou art Then sings my soul, my savior God, to Thee How great Thou art, How great Thou art
8. Doa Penutup
Free sex
Bacaan : I Korintus 6 :15-20
Tujuan : Memotivasi diri untuk menjaga kekudusan hidup di hadapan Allah dan sesama
Pengantar
Rasanya bila dilakukan rating perdiskusian, tayangan televisi dan media lainnya periode sebulan terakhir ini, dapat dipastikan yang menjadi top rating pastilah topik “video mesum” yang diperankan “para artis” papan atas di negeri ini.
Perselingkuhan seolah menjadi hal yang biasa di tengah masyarakat saat ini, bahkan ada teman yang mengatakan “kalau selingkuh dengan lawan jenis itu biasa, tetapi dengan sejenis itu baru luar biasa”.
Sebagian dari kita cenderung merasa tabu untuk menceritakan masalah sex secara terbuka, utamanya di forum kerohanian. Sebagaian bahkan masih beranggapan bahwa membicarakan masalah sex adalah dosa. Keinginan sex dianggap sebagai keinginan daging yang harus dilawan dan disangkali. Petentangan yang tajam antara keinginan daging dan roh membuat banyak orang beranggapan bahwa keinginan sex haruslah ditekan, dilawan karena mengotori keinginan roh yang kudus.
Sex dalam pandangan Alkitab
Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (Kej. 1 : 27-28)
Manusia (bhs Ibrani : adam) adalah kolektif, bukan nama perseorangan tetapi istilah umum untuk kemanusiaan. Manusia diciptakan menurut gambar (tselem) dan rupa (demuth) Allah. Istilah ini hanya digunakan untuk manusia, walaupun manusia memiliki keperluan jasmaniah yang berdekatan dengan alam binatang. Walau demikian tetap saja ada perbedaan manusia dengan ciptaan-Nya yang lain. Dalam soal sex manusia jelas berbeda, karena manusia tidak menempatkan sex sekedar sebuah insting atau naluri. Pertimbangan etis, perasaan, penghormatan dan cinta kasih menjadi dasar sex manusia yang tidak dimiliki binatang. Jadi kepuasannya bukanlah kepuasan hewani sebagaimana yang diistilahkan Prof. Komaruddin Hidayat saat memberikan ceramah di Bank BTN KC Medan beberapa tahun yang lalu. Itulah esensi dasar dari manusia diciptakan menurut gambar (tselem) dan rupa (demuth) Allah, ia diciptakan dengan prilaku dan cara hidup yang berbeda dengan binatang walaupun memiliki kebutuhan yang sama.
Oleh karena manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah secara lengkap (jasmani dan batin) maka keinginan sex juga diakui berasal dari Allah yang melaluinya manusia selanjutnya diminta untuk memenuhi bumi dan bertambah banyak, melalui aktivitas sex antara laki-laki dan perempuan. Jadi persetubuhan laki-laki dan perempuan andalah karunia Allah.
Sex dan orang belum menikah
Setiap orang mengalami godaan sex, baik yang telah menikah maupun yg belum (tidak) menikah. Artinya setiap orang memiliki keinginan sexual terlepas telah menikah atau tidak. Bagi yg belum menikah, merupakan perjuangan untuk tetap mempertahankan kekudusan hidup dengan jalan menghindari free sex maupun sex pra nikah. Hubungan sex diluar pernikahan sangat membahayakan dan menghancurkan hubungannya dengan diri sendiri, orang lain dan dengan Allah. Hubungan sex pra nikah menciptakan keputusasaan, kehilanngan kepercayaan dan penghormatan terhadap diri sendiri.
Dalam 1 Kor.6 Paulus mengkritisi kehidupan free sex jemaat Korintus, ini dapat dipahami karena sebagaian dari mereka adalah para kristen baru yang hidup ditengah-tengah masyarakat dengan kehidupan free sex. Cara hidup yg tidak benar dengan prilaku sex yg tidak benar disamakan dengan cara hidup kafir yang masih diperhamba dosa. Seorang pria atau wanita ketika menerima Kristus dalam hidup mereka melalui baptisan maka mereka diminta memiliki cara hidup yang berbeda dengan cara hidup yang lama. Mereka harus hidup suci karena tubuh mereka bukan milik mereka lagi. Mereka telah dibeli dengan harga lunas melalui darah Kristus. IA berkorban agar cara hidup kita, termsuk prilaku sex kita dikuduskan.
Sex dan orang yang telah menikah
Bagi orang yang telah menikah, godaannya adalah keinginan untuk mengkhianati kesetiaan (apapun alasannya). Perselingkuhan dalam rumah tangga menjadi prilaku sex yg marak. Menghadirkan kesetiaan terhadap satu orang pasangan hidup seolah dianggap sebagai mimpi belaka.
Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki." Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. (Kej.2:21-24)
Nats penciptaan perempuan menunjukkan bagaimana eratnya persekutuan antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki dan perempuan yang diikat dalam sebuah perkawinan menjadi satu. Hubungan ini lebih dekat dari hubungan apapun, karena mereka bukan hanya sehati dan serumah tetapi juga sedaging.
Kesedagingan ini membuat persekutuan suami-isteri bersifat eksklusif, tertutup bagi pihak lain (baik laki-laki maupun perempuan). Artinya dalam perkawinan tidak dibenarkan adanya perselingkuhan dengan alasan apapun. Ketidak setiaan akan berakhir dengan kehancuran.
Dengan demikain tiap orang (menikah atau tidak) harus menempatkan keinginan sexualnya dalam terang firman Allah. Mengendalikan keinginan sex dengan akal budi tidak hanya terdorong oleh insting belaka. Manusia diberikan oleh Allah Karunia untuk dapat mengendalikan dirinya. Melalui karya Allah yang membebaskan manusia dari belenggu dosa, memampukan manusia untuk hidup kudus dihadapan Allah baik pada saat ia single maupun menikah. Jadi baik menikah ataupun tidak, tiap orang beriman harus berjuang mengendalikan keinginan sexnya hingga ia menjadi kudus dan berkenan di hadapan Allah.
Pertanyaan Diskusi :
1. Menurut Sdr. Apa yg mendorong seseorang melakukan sex pra nikah atau perselingkuhan bagi yg telah menikah.
2. Bagaimana cara kita menghadirkan hidup kudus dalam pernikahan maupun bagi yang masih lajang ?
Bacaan : Lentera Umat Edisi 04
Minggu, 04 April 2010
Profesi tanpa Roh
Oleh : P. Erianto Hasibuan
Belum lama anak kami bercerita bahwa ada temannya tiba-tiba mogok sekolah, Nanda (bukan nama sebenarnya) hanya mau sekolah bila ditemani oleh keluarganya di dalam kelas. Mendengar cerita tersebut hati kami tergerak dan mencoba mengunjungi keluarga ini. Si anak yatim menurut penuturan si ibu ditinggal pergi Papanya kala ia masih belum sekolah. Sebagai anak tunggal ibunya memberikan kasih sayang yang penuh, si ibu yang single parents kemudian memindahkan sekolah anaknya untuk lebih memudahkan dalam transportasi. Namun perlakuan yang simpatik dari sekolahnya terdahulu tidak ditemukan si anak di sekolah yang baru. Si ibu telah beberapa kali menemui sang guru kelas, bahkan kepala sekolah namun belum ada solusi, bahkan pembicaraan lebih intensif dengan si anak ataupun dengan orang tua belum pernah dilakukan, “ padahal saya kerap membawa kue buat gurunya lho bu” tutur si ibu kepada kami saat berkunjung ke rumah mereka.
Penasaran dengan kondisi tersebut, kami mencoba mencari tahu berbagai informasi mengenai Nanda dan situasi sekolah dari anak kami. Singkat cerita, Nanda saat baru masuk ke kelas (sebagai siswa pindahan) tidak sempat diperkenalkan sang guru dan langsung mengikuti pelajaran sebagaimana siswa yang lain. Pada saat yang bersamaan sang guru menegur dengan keras teman sebangku Nanda. Setelah peristiwa itu Nanda masih bersekolah, namun kemudiaan Nanda kerap di “ledekin” teman sekelasnya dan itulah awal Nanda kerap tidak masuk sekolah, hingga akhirnya terjadi “pemogokan” dan hanya mau ke sekolah bila ditemani orang tua atau saudaranya di dalam kelas.
Dalam keseharian, kami memang kerap mendengar anak kami bercerita bagaimana guru mereka menegur dengan keras teman sekelasnya yang lambat dalam menulis dan mengerjakan pekerjaan di sekolah (PS) maupun yang tidak mengerjakan pekerjaan rumah (PR). Bahkan klaim bahwa si A merupakan calon tidak naik kelas, merupakan menu cerita yang kerap kami dengar.
Input vs Output
Secara kasat mata prestasi sebuah sekolah selalu dinilai dari berapa prosen para siswanya dapat lulus dengan nilai baik (bahkan terbaik) dan dapat melanjutkan ke sekolah favorit (ternama). Ukuran prestasi secara kuantitatif menjadi tujuan utama dari lembaga pendidikan. Tujuan tersebut secara otomatis menjadi sasaran pokok yang ditekankan pengelola lembaga pendidikan kepada setiap guru (tenaga pendidik). Bahkan saat ini sudah bukan rahasia lagi, bahwa mata pelajaran yang di ujikan secara nasional menjadi “primadona”.
Mungkin kurang santun jika dikatakan bahwa profesi pendidik saat inipun sudah diperlakukan laiknya sebuah mesin yang harus bekerja secara efisien dengan ukuran adalah perbandingan input vs output. Sejatinya kondisi tersebut telah menjadi fakta diberbagai tempat.
Pengalaman penulis saat menjadi tenaga pengajar di salah satu STIE (Swasta) di kota Medan, adalah secuil contoh, yang sudah barang tentu belum dapat digeneralisasi. Saat itu beberapa tenaga pengajar dipanggil oleh pengurus Yayasan berkaitan dengan hasil qesioner dari para mahasiswa/i. Pada dasarnya kami diminta untuk dapat meningkatkan rating dari hasil qesioner. Sudah menjadi semacam aksioma, bahwa para anak didik, keinginannya adalah nilai bagus tanpa kerja keras. Sehingga penilaian (qesioner) oleh para mahasiswa/i secara umum akan mengarah kepada para pengajar yang memberi banyak kemudahan (kompromistis) tetapi nilai tetap bagus.
Bagi tenaga pengajar yang tetap bertahan dengan “idealisme”nya, kita sudah pasti bisa menebak ke mana ujungnya. Namun bagi tenaga pengajar yang masih memerlukan pernafkahan dari tempat kerja tersebut, mau tidak mau, suka tidak suka, akan mengikuti arah yang dikehendaki oleh pengelola.
Pada akhirnya Sang tenaga pendidik “cenderung” melihat anak didiknya secara homogen sebagai sebuah input yang harus memberikan output sesuai standard yang ditetapkan bagi sekolahnya, hingga kerap melupakan hal yang paling hakiki dari kemanusiaan yaitu keberagaman dari perasaan. Inilah mungkin yang sedang di alami oleh Nanda, seorang anak yang secara lahiriah tidak memiliki perbedaaan dengan anak yang lain, namun perasaannya yang tak kasat mata membutuhkan sentuhan tersendiri.
Profesi kerap mengalami degradasi saat tiada lagi waktu dan peluang untuk merenung makna hakiki dari profesi yang digeluti, dalam himpitan tuntutan kejaran target bagaikan mengejar bayangan sendiri yang tak kunjung usai. Proses kadang terabaikan demi hasil, sehingga menghadirkan seseorang yang mau mendengar dan memberikan dukungan adalah kelangkaan pada era ini.
Cara Pandang Yesus.
Sejak dari sekolah minggu kita sudah hafal bahwa kedatangan Yesus ke dunia adalah untuk menebus dosa manusia. Jika kita mengibaratkan Yesus adalah seorang profesional, maka tugas pokok dari profesi yang dijalankannya adalah menebus dosa manusia. Namun mengapa dalam perjalanan pelayanannya banyak hal yang dilakukan-Nya seolah menyimpang dari tujuannya ? misalnya mengadakan mujizat melalui penyembuhan orang sakit maupun merubah air menjadi anggur ? apakah itu tidak menyimpang dari tujuan pokoknya datang ke dunia ?
Mari memperhatikan cara pandang Yesus atas mujizat yang dilakukannya, saat menyembuhkan seorang lumpuh sebagaimana yang dituliskan dalam Injil Markus 2:5 (bnd Luk. 5:20), Yesus tidak mengatakan “berjalanlah” tetapi "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni", apa kaitannya dosa dengan kelumpuhan ?.
Yesus paham betul cara pandang orang Yahudi pada masanya, bahwa sakit penyakit adalah buah dari hukuman karena dosa. Demikian halnya dengan si lumpuh, kesembuhan semata belum dapat mengembalikan kepercayaan dirinya sebagai warga masyarakat yang normal, jika rasa bersalah akan keberdosaannya masih meliputi hati dan pikirannya. Hal yang tak terlihat ini yang dipahami dengan baik oleh Yesus untuk memulihkan si lumpuh dengan seutuhnya dengan mengatakan "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni". Yesus mampu melihat lebih dari sekedar tampilan luar semata.
Demikian halnya saat Yesus mentahirkan orang kusta (Luk. 5 :13-14), Yesus melarang orang itu untuk memberitahukannya kepada siapapun, tetapi mengatakan : "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan seperti yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka." Penderita kusta adalah kelompok yang “terpinggirkan” dan “terbuang” dari komunitasnya, mereka dapat kembali ke komunitasnya secara utuh hanya bila mereka sudah menjalani prosesi pentahiran dengan persembahan oleh para imam. Yesus memahami dengan baik apa yang dibutuhkan mereka, bukan sekedar pentahiran, tetapi penerimaan oleh masyarakat sebagai warga yang normal. Inilah wujud Kasih yang yang diajarkan Yesus kepada kita yaitu Kasih yang melampaui kasih biasa yang reaktif dan kasat mata.
Contoh lain yang menarik adalah, perumpamaan Yesus tentang Domba yanng sesat dalam Matius 18 : 12-14. Dari seratus ekor domba, ada seekor domba tersesat, maka si pemilik domba meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor untuk mencari satu ekor yang tersesat. Logika kita di era ini, yang melihat profesi sebagai sebuah proses input dan output, tidak akan melakukan itu, karena kita selalu memandang input secara homogen, sebagaimana kasus yang di alami oleh Nanda. Namun Yesus memberikan pandangan yang hakiki dari sebuah profesi. Jika tujuan profesi adalah menebus dosa manusia, maka ukurannya tidak hanya sekedar input dan output, tetapi lebih dari itu, hingga si pemilik rela berlelah-lelah meninggalkan yang 99 ekor dan mencari seekor yang tersesat. Dengan demikian si pemilik memperoleh kegembiraan yang lebih besar (suka cita).
Refleksi.
Kerap kita merasa bahwa bila kita tidak melanggar ketentuan yang ada pada tempat kerja atau kode etik profesi, kita sudah melaksanakan profesi kita dengan baik. Namun Yesus telah memberikan contoh secara nyata dan jelas, bahwa Yesus tidak hanya sekedar melihat apa yang muncul dipermukaan, tetapi apa yang dapat memulihkan seseorang secara utuh.
Nanda, “mogok” sekolah hanyalah sebuah sympotm namun yang ia butuhkan adalah sebuah perhatian yang melampaui sekedar hubungan transfer knowledge dari sang guru. Kedatangan orang tua ke sekolah berkali-kali adalah sinyal yang kuat bahwa Nanda membutuhkan perhatian lebih untuk memulihkan dia menjadi kembali ke kondisi sedia kala.
Tidak salah secara hukum dan disiplin bagi sang guru untuk tetap melaksanakan tugasnya sebagaimana seharusnya tanpa memberikan perhatian lebih pada Nanda, tetapi itu adalah Sang guru biasa atau sang guru yang melaksanakan profesi nya tanpa Roh, karena belum mampu memaknai teladan yang telah diberikan Yesus dalam melakukan profesinya.
Teladan Yesus menunjukkan sebuah profesi yang dimaknai dengan baik, bagaimana seharusnya kita memulihkan keadaan sesama melalui profesi yang kita jalankan. Tidaklah cukup hanya melihat yang kasat mata, karena itu hanya sebuah profesi yang biasa namun ada kerelaan untuk berlatih bertindak sebagai mana Yesus telah memberi teladan bagi kita semua. Mari mulai melakukan profesi kita sebagai profesi yang jiwa bukan profesi tanpa Roh. Selamat berlatih. (has0210) Tulisan ini di muat dalam Bulletin Mercusuar Edisi 16/Maret 2010. hlm.36-39.
Selasa, 16 Februari 2010
KEMBALI KE HABITAT

Masa Prapaskah adalah masa pertumbuhan jiwa kita. Kadang-kadang jiwa kita mengalami masa-masa kering di mana Sang Khalik terasa amat jauh. Saat itu kita tidak dapat mengalami pertumbuhan Iman, tetapi justru kekeringan dan kemerosotan kualitas hidup. Lihat pohon yang tumbuh di tepi aliran air, akan tetap segar sekalipun panas menyengat, karena dia dekat dengan sumber air. Demikian halnya kita saat dekat pada Sang Khalik. Karena pada hakekatnya sebagai ciptaan kita tidak dapat tumbuh bila jauh dari Sang Pencipta atau terlepas dari habitat yang seharusnya.
Masa Prapaskah akan mengubah jiwa kita yang kering. Masa Prapaskah juga membantu kita untuk mengatasi kebiasaan-kebiasaan buruk, bila kita memahami dengan baik maknanya dan bukan hanya sekedar ritual tanpa makna. Contoh terbaik adalah saat Daud diperingatkan nabi Natan atas konspirasinya untuk menghabisi Uria demi Betsyeba. Daud “mengakui” kesalahannya dan berbalik dari kesalahannya. Awal dari sebuah pertobatan adalah pengakuan. Contoh kecil, semula saya perokok berat, beberapa kali saya mencoba untuk berhenti, tetapi hanya berhasil untuk hitungan bulan dan kambuh lagi dan lagi. Sampaii pada akhirnya tahun 2003, saya mengakui bahwa kebiasaan merokok adalah kebiasaan buruk dan merugikan anak isteri dan orang disekitar saya. Puji Tuhan esok setelahnya, Tuhan menolong saya dan hingga saat ini saya melupakannya.
Marilah kembali ke habitat sebagai makhluk ciptaan yang hidup disekitar hadirat Sang Khalik. Terserah bagaimana anda melakukannya, dengan berpuasa atau berpantang. Yang pokok adalah, fokus kita pada perubahan prilaku menjadi segambar dengan Kristus yang telah memberi teladan. Mulailah hari ini dan ulangi hingga hari ke 40, niscaya anda akan memiliki prilaku yang baru. Selamat mencoba. Selamat memasuki Pra Paskah. (has170209)
.jpg)
.jpg)
.jpg)