SELAMAT DATANG DI "TEOLOGI KAUMAWAM"

Salam dalam Kasih Tuhan Yesus Kristus. Terimakasih telah mampir di blog yg sederhana ini. Kami sangat berterimakasih bila saudara berkenan memberi tanggapan atas tulisan yang saudara baca di blog ini. Karena dengan tanggapan itu kami akan dapat belajar dan berbagi, sebab untuk itulah blog ini dibuat agar hidup kita tetap terpelihara dalam persekutuan. Semua tulisan dalam blog ini dapat dikutip dengan tetap mencantumkan sumbernya. Kiranya Tuhan Yesus memberkati kita. Pax Vobiscum, Erianto Hasibuan

Senin, 18 April 2011

Benarkah TUHAN mengijinkan Perceraian ? (Jilid 2)

Pengantar
Masih ingat dengan tulisan di Mercusuar edisi Juni 2009 ? dengan judul “Benarkah TUHAN mengijinkan Perceraian?” Sekedar mengingatkan, pada tulisan itu dikisahkan bagaimana keluarga muda “Jati” yang “nyaris” bercerai karena persoalan ketidaksetiaan sang suami. Suara mayorotas dari pihak keluarga isteri dan suami pada saat itu adalah perceraian. Bahkan langkah tersebut seolah direstui oleh gereja di mana mereka tercatat sebagai jemaat.

Sekalipun pilihan untuk tetap mempertahankan kelangsungan pernikahan seolah menjadi kemustahilan, tetapi penulis masih tetap mendorong langkah tersebut. Pada tulisan awal difokuskan pada kajian teologis untuk meyakinkan pembaca bahwa perceraian bukanlah langkah yang dapat diterima secara alkitabiah, namun bagaimana implementasi hal tersebut pada pasangan muda Jati masih menjadi tanda tanya besar, sehingga wajar jika mungkin ada pembaca yang beropini bahwa kondisi dalam tulisan tersebut hanyalah sebuah gambaran untuk meyakinkan pembacanya, tetapi dalam kehidupan nyata niscaya sulit untuk terlaksana.

Tulisan ini dimaksudkan untuk menyajikan bagaimana kajian teologis tersebut coba diimplementasikan dalam sebuah langkah pastoral dan penerimaannya bagi mereka yang mengalaminya.

Pertobatan Palsu

Kata pertobatan kerap kita dengar dari mereka yang melakukan kesalahan dan bermaksud berbalik ke jalan Tuhan, sejatinya pengertian tobat adalah sesal atau menyesal akan dosanya dan berniat tetap hendak memperbaiki hidupnya atau pulang kepada Tuhan (dengan meninggalkan kejahatannya). Perdefenisi di atas, mereka yang bertobat seyogianya adalah mereka yang telah sungguh-sungguh menyadari kesalahannya dan bermaksud memperbaiki diri, namun pada prakteknya tidaklah sesederhana dimaksud.

Seseorang yang menyatakan dirinya bertobat, dapat saja dilakukan bukan karena dorongan hatinya karena kesadaran akan kesalahanya dan bermaksud memperbaiki diri, namun “tobat” yang dilakukan sekedar untuk meyakinkan orang-orang sekitar agar bersedia memenuhi keinginannya. Tobat seperti ini kerap membuat orang sekitarnya bertambah kecewa, karena yang bersangkutan melakukan lagi kesalahan yang sama.

Demikian yang terjadi dengan kasus keluarga Jati, si suami saat tidak mampu lagi berkelit dari kesalahannya, ia “mengaku” salah dan berjanji dihadapan keluarga dan majelis jemaat (bukan pengakuan dosa di gereja) “seolah” mengakui kesalahannya dan akan kembali kepada keluarganya. Namun hal ini tidak berlangsung lama, ia kembali kepada kesalahan yang sama. Pada situasi ini, penulis memang mengalami kendala untuk meyakinkan si isteri dan keluarga untuk dapat mengampuni kembali. Semula penulis menyampaikan kepada si isteri, bahwa suaminya melakukan hal tersebut bisa saja tidak semata karena keinginan hatinya, namun ada faktor psikologis (sejenis traumatis masa kecil) yang mendorongnya untuk melakukan hal tersebut. Untuk itu penulis meminta kepada sang isteri agar dapat memaklumi dan menerima si suami meskipun telah penuh dengan “lumpur” dosa.

Dengan berulangnya kesalahan yang sama, sulit bagi penulis untuk meyakinkan lebih lanjut, namun penulis tetap meyakinkan bahwa saat itu adalah fase penantian. Sebagaimana perumpamaan anak yang hilang dalam Luk. 15 :11-32, pada fase tersebut si bapa tidak lagi mencari anaknya, tetapi menantikan saja.

Memasuki fase penantian kerap banyak orang yang kehilangan kesabarannya, lalu mengambil langkah yang tidak sejalan dengan kehendak Tuhan. Dengan argumentasi bahwa mereka telah pernah memaafkan, namun masih mengulangi kesalahan yang sama, akhirnya fase ini tidak dapat dilalui dengan baik.

Bapa yang mengasihi

Perumpamaan tentang anak yang hilang dalam Luk. 15 :11-32 menurut William Barclay lebih baik kalau perumpamaan ini disebut “Perumpamaan mengenai Bapa yang mengasihi”, demikian halnya dengan B.J Boland melihat bahwa yang menjadi pokok inti dari perumpamaan ini bukanlah “si anak hilang” tetapi “si Bapa yang penuh kasih”

Terlepas dari kesesuaian perikop dari perumpamaan di atas, umumnya umat kristen telah terbiasa dengan perumpamaan di maksud. Bahkan beberapa pakar teologia menyebutkan perumpamaan tersebut sebagai injil di dalam injil. Di dalam injil Lukas ayat 15, terdapat 3 perumpamaan yang secara berturut-turut disampaikan, yaitu domba yang hilang (1-7); dirham yang hilang (8-10) hingga puncaknya pada anak yang hilang (11-32).

Berdasarkan ketiga perumpamaan tersebut, dapat digambarkan bagaimana upaya yang dilakukan untuk mendapatkan kembali seseorang yang hilang. Perumpamaan domba yang hilang dengan jelas menunjukkan upaya sang gembala yang meninggalkan kumpulan sembilanpuluh sembilan dombanya untuk mencari seekor domba yang terhilang. Inisiatif berasal dari sang gembala karena dengan kebodohannya seekor domba tak mampu kembali ke kawanannya jika telah terpisah.

Perumpamaan tentang dirham menggambarkan upaya si pemilik dirham untuk berusaha mendapatkan kembali dirham nya yang hilang, karena dirham itu begitu berarti baginya, baik sebagai perhiasan maupun sebagai alat tukar. Dirham yang hilang di sini dapat menggambarkan seseorang yang jatuh dalam dosa karena terpengaruh atau karena tekanan pihak lain, bukan karena kemauannya sendiri. Untuk mendapatkan dirhamnya kembali, si pemilik akan menyalakan pelita untuk menerangi rumahnya dan membersihkannya.

Pada akhirnya adalah anak yang hilang, menggambarkan bahwa inisiatif bukan berasal dari si Bapa, tetapi dari si anak yang hilang untuk menyadari keadaannya. Anak yang hilang menggambarkan pemberontakan yang datang atas kesadaran sendiri. Kesadaran anak yang hilang hadir saat ia tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan dasarnya, yaitu makan. Pada saat itu ia menyadari keadaannya hingga ia mengambil inisiatif untuk kembali ke rumah bapanya walau sebagai orang upahan sekalipun.

Sang suami pada kasus keluarga jati, sesungguhnya mengalami hal yang proporsional dengan kasus anak yang hilang. Setelah ia “seolah” bertobat namun kembali berbuat apa yang tidak seharusnya. Dalam periode tersebut upaya untuk bercerai tetap menjadi pilihan, namun penulis tetap meyakinkan untuk tidak menempuh langkah tersebut.

Akhir dari masa penantian tersebut kini hadir, sebuah peristiwa yang memprihatinkan menghantarkan si suami ke dalam penjara setelah mengalami penyiksaan sebelumnya. Selama di penjara ia kehilangan tente dan nenek yang dikasihinya. Seirama sepenarian dengan kasus anak yang hilang, pada masa paling sulit ia kembali kepada sang isteri. Keluarga bereaksi untuk tidak menerima karena beranggapan bahwa langkah tersebut adalah sandiwara semata untuk menggapai sesuatu dan bukan pertobatan yang sesungguhnya.

Pihak gereja sulit untuk menerima, bahkan ketika ybs meminta untuk mengaku dosa dan menjalani pengembalaan khusus. Pro kontra mulai terjadi, sebagian sudi menerima pengakuan dosa dan pengembalaan khusus, sebagian meminta pembuktian terlebih dahulu setidaknya satu hingga dua tahun ke depan setelah ada bukti kesungguhan.

Syukurlah, sekalipun masih diiringi dengan kecurigaan keluarga dapat menerima dan gereja bersedia menerima pengakuan dosa dan pengembalaan khusus. Ritual pengakuan dosa sesungguhnya adalah simbol yang menyatakan kepada Tuhan dan jemaat-Nya bahwa ybs dengan sungguh-sungguh ingin kembali kepada Nya. Tahapan yang utama adalah masa pengembalaan khusus untuk memulihkan hubungan ybs dengan Tuuhan dan sesama.

Pemulihan

Kembali ke Lukas 15 :11-32 perumpamaan tentang anak yang hilang, si Bapa sama sekali tidak mempertanyakan apaun tentang kesalahan si anak, yang ia lakukan adalah mengembalikan posisi si anak “ Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. (22) Jubah adalah pertanda penghormatan si bapa terhadap langkah yang di ambil anaknya, si bapa mengampuni anaknya tanpa tuduhan-tuduhan. Adalah buruk, ketika seseorang diampuni, tetapi senantiasa disertai dengan kata dan ancaman mengenai dosa yang ditanggungkan kepadanya.

Barclalay menggambarkan pengampunan tersebut secara apik dengan mengutip kisah Lincoln, saat kepadanya ditanyakan bagaimanakah ia memperlakukan kaum selatan (A.S bagian selatan) ketika mereka dikalahkan dan kemudian kembali kepada kesatuan Amerika Serikat. Penanya itu mengharapkan bahwa Lincoln akan mengambil sikap pembalasan dendam, tetapi ia menjawab, “saya akan memperlakukan mereka seakan-akan mereka selama ini tidak pernah memberontak.

Cincin adalah tanda kedudukan yang tinggi dan kekuasaan yang diberikan, sekalipun si anak telah terlebih dahulu memintak bagian warisannya, tetapi si bapa tetap memperlakukannya sebagai anak yang memiliki hak waris. Sepatu menunjukkan bahwa si bapa tidak menganggap ia sebagai orang upahan (misthios) sebagaimana harapan si anak, tetapi menjadi orang merdeka yaitu sebagai anak (huios).

Tahapan pemulihan dari sebuah pertobatan tidak jarang digagalkan dari prilaku orang disekitar. Dari satu sisi, mereka yang bertobat sesungguhnya telah berbeban berat akibat konsekuensi dari dosa dan kesalahannya, pada sisi lain orang disekitarnya penuh dengan kecurigaan hingga tidak dapat menunjukkan rasa penerimaan.

Si anak sulung yang selama ini tinggal bersama sang bapa, ternyata tidak melihat hubungannya sebagai hubunga anak dan bapa, tetapi lebih kepada hubungan yang penuh dengan kewajiban laiknya hubungan majikan dan buruh, sebgaiamana pengakuannya sendiri : “Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku(29). Demikian pandangannya akan hubungannya dengan sang adik, ia tidak memandang sebagai saudara tetapi ia mengatakan: Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, … (30). Ia termasuk pada jenis orang yang mempunyai watak membenarkan diri yang suka untuk menjatuhkan orang yang sudah jatuh untuk seterusnya.

Yang lebih memprihatinkan adalah cara si anak sulung memandang hubungannya dengan sang bapa sebagai hubungan yang penuh dengan kewajiban, bukan hubungan atas dasar kasih, sebagaimana pandangan bapanya : Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu (31).

Perumpamaan ini dengan jelas memperlihatkan kepada kita sebuah kebenaran, bahwa lebih mudah untuk mengaku kepada Allah dari pada kepada manusia, bahwa Allah lebih berbelas-kasih dalam penghakimannya daripada kebanyakan manusia, bahwa Allah dapat mengampuni dimana manusia menolak untuk mengampuni.

Pemulihan si suami dari keluarga jati dalam kisah di atas, adalah penerimaan dari orang-orang disekitarnya. Pertumbuhan rasa penerimaan itu bahkan lebih cepat dibanding pertumbuhan si suami dalam pengembalaan khusus.

Keluarga “jati” saat ini menjadi keluarga yang utuh dan bahagia, mereka bersatu kembali, hubungan keluarga dipulihkan. Keluarga ini tidak hanya hidup untuk dirinya sendiri, mereka (suami, isteri dan satu anak) telah menjadi berkat bagi banyak keluarga. Mereka dipakai Allah untuk membuktikan, kasih Allah sanggup memulihkan sebuah keluarga, sekalipun menurut pandangan manusia mustahil untuk dipulihkan, tetapi dalam rencana Allah segala sesuatu akan mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (Rom. 8:28).

Harapan

Disekitar kita akan ada dan selalu ada mereka yang karena ketidak tahuan, atau karena lingkungan bahkan karena kehendaknya sendiri menjadi terhilang. Kita dihadirkan ke dunia bukan sebagai “hakim” untuk membuat daftar kesalahan mereka. Kehadiran kita selayaknya bagaikan sang bapa, yang menyambut dengan sukacita kehadiran anak yang hilang, tanpa mempertanyakan kesalahan, namun memulihkan hubungan.

Bila kita telah memutuskan sebagai pengikut Kristus, itu berarti kita juga telah memutuskan sebagai pemaaf yang tak pernah berpikir ulang untuk berbalik sebagai penghakim. Hubungan kita dengan bapa adalah hubungan kasih, bukan hubungan yang sarat dengan kewajiban, dengan demikian kita selayaknya juga mendasari hubungan kita dengan sesama atas dasar kasih. Jangan pernah undur (no turning back) dari pribadi si bapa menjadi pribadi si anak sulung.
(http:\\teologiawam.blogspot.com)
Tulisan ini di publikasikan di Buletin Mercusuar Edisi 20 Maret 2011.

Bacaan :
B.J Booland dan P.S Naipospos, Tafsiran Alkitab Kitab Injil Lukas, BPK Gunung Mulia, Jakarta :2003.

William Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari Injil Lukas, diterjemahkan oleh A.A Yewangoe, BPK Gunung Mulia, Jakarta :2005.

Sabtu, 16 April 2011

Hamba, bukan sebatas nama

Oleh : P. Erianto Hasibuan, M. Div.

HARI Minggu ini dalam kalender gerejawi desebut dengan hari Minggu Palmarum. Minggu Palmarum menjadi penting karena lima hari setelahnya adalah Hari Raya Jumat Agung. Lima hari sebelum Jumat Agung (Penyaliban), Tuhan Yesus dieluelukan dengan penuh antusias oleh penduduk kota Yerusalem. Mereka berharap, Yesus dapat mereka angkat menjadi Raja Israel, sebuah harapan bangsa yang telah lama terjajah.

Mereka mengumandangkan mazmur pujian kepada Allah, seperti yang diajarkan oleh nenek moyang mereka ketika berziarah ke Bait Allah di Kota Jerusalem. Mazmur pujian itu berlatar belakang kemenangan nenek moyang mereka dalam peperangan pada masa lalu. Pujian mereka benar-benar menyanjung dan menghormati Tuhan Yesus dengan kutipan Mazmur 118:26. “Hosana!” yang berarti “Selamat sekarang”. Lalu seruan mereka berlanjut, “Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!” Nyata sekali bahwa kedatangan-Nya ke Jerusalem pada dasarnya adalah dengan tujuan baik, nama Tuhan disertakan dan diharapkan membawa berkat. Tetapi yang disayangkan, mereka tidak memperhatikan makna rohani dan lebih mementingkan pada gerakan politik untuk melawan pemerintah penjajahan Romawi.

Terabaikannya makna rohani atas pujian penduduk kota Israel, dibuktikan pada lima hari kemudian, saat harapan mereka tidak menjadi kenyataan, penduduk yang sama kembali berseru tetapi bukan lagi dengan seruan Hosana! tetapi menjadi, “Salibkan Dia!”

Hamba dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI) berarti budak, sedang dalam bahasa Yunani digunakan doulos yang berarti hamba atau orang yang bergantung pada. Jika kita mengaku bahwa kita adalah hamba Tuhan (yang dimaksud sudah barang tentu kita semua, bukan hanya terbatas pada mereka yang terlibat dalam jabatan-jabatan pelayanan) maka kita adalah orang yang bergantung pada Tuhan. Yesus telah memberikan teladan bagi kita, bagaimana Ia sebagai hamba yang bergantung pada Allah Bapa. Dia yang adalah Sang Pencipta rela mengambil rupa ciptaan (manusia) bahkan mengambil rupa yang paling hina yaitu hamba (Flp. 2:6-8). Hingga kematiannya pun disejajarkan dengan seorang penjahat (disalibkan).

Pujian yang dikumandangkan penduduk Yerusalem, tidak menggoyahkan pendiriannya sebagai hamba Allah yang mengemban tugas untuk menyelamatkan umat manusia, sekalipun itu penuh dengan derita di kayu salib. Itulah panggilan sejati, hamba buknan hanya sebatas nama yang diemban kala menyenangkan namun dilupakan kala penderita, hingga orang sekitar tidak dapat melihat dengan jelas makna hamba dalam kehidupan keseharian.

Minggu ini, anak-anak kita menerima Sakramen Pengakuan Iman/Sidi, selama sembilan bulan mereka telah dipersiapkan secara intensif oleh gereja sebagai katekisan, dan sepanjang usia mereka orang tua mereka telah membimbing mereka. Pengakuan Iman ini merupakan peristiwa penting yang mengantar mereka menjadi warga gereja yang dewasa. Kedewasaan tidak datang secara instan, tetapi memerlukan proses, jika lalai dalam proses maka para katekisan hanya akan mengkonsumsi “susu” sebagaiman kekecewaan Paulus pada jemaat di Korintus (1 Kor.3 :2)

Jadi, mari menjadi jemaat yang dewasa, bukan hanya sekedar sebutan pasca pengakuan Iman, tetapi dewasa karena kita mengetahui apa yang berkenan pada-Nya dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah. (Kol. 1:10)

Akhirnya, jika Yesus sendiri telah memberikan teladan bagi kita, bahwa Ia telah menjadi hamba dalam arti yang sesungguhnya, adakah kita lebih terhormat daripada Nya untuk mengambil kemuliaan bagi diri kita sendiri dengan menjadi majikan bagi hati kita ? (has10042011)
Tulisan ini merupakan renungan yang disampaikan di Warta Jemaat GKI KP Minggu 17 April 2011.

Sabtu, 26 Maret 2011

Panggilan

Tahun 2003 saat memasuki tahu ke tiga tinggal di kota Medan dan berjemaat di GKI Sumut Tanjung Rejo, seorng Pdt. Jemaat didampingi ketua majelis secara tidak diduga mengunjungi kami. Apa yang disampaikan kepada kami sangat mengejutkan, mengingat sebagai jemaat baru, kami hanyalah warga jemaat yang pasif dalam aktivitas gerejawi, kecuali kebaktian minggu rutin atau perayaan hari kebesaran keagamaan. Di luar aktivitas tersebut kami sama sekali tak terlibat.

Undangan untuk menjadi majelis gereja (Pnt) adalah sebuah kemustahilan bagi ku secara pribadi, kerena sejak kecil aku memang tidak pernah aktif sebagai pengurus di berbagai aktivitas gereja, kecuali ibadah rutin dan perayaan hari besar keagamaan. Tinggal dilingkungan keluarga yang taat memang ku alami sejak masa kecil ku, ompungku (kakek) adalah seorang majelis (Sintua/St) di HKBP Sipinggol-pinggol. Beliau termasuk tokoh dan taat, setidaknya pasangan suami isteri (kakek/nenek) ini tidak akan meninggalkan rumah sebelum melakukan renungan dengan bernyanyi dan membaca Bibel (sebutan Alkitab buat etnis Batak), demikian halnya di malam hari setelah mengakhiri aktivitas sebelum tidur.

Tetapi undangan yang menurutku tidak masuk akal dan kemustahilan tersebut, telah membawa ku sebagai langkah awal menekuni dunia teologi. Satu masa periode di Jemaat ku selesaikan, demikian halnya satu priode di klasis, tetapi satu periode di Sinode dan Yayasan belum sempat ku selesaikan karena aku di mutasi ke Jawa.

Saat ini, panggilan itu hadir kembali dan sebentar aku akan diteguhkan. Sekalipun aku bukanl lagi awam di aktivitas pelayanan dan teologi, sebagaimana yang kualami tahun 2003, tetapi tantangannya pasti lebih kompleks, mengingat anak ku sudah semakin besar dan butuh perhatian, waktu tempuh dari tempat kerja ke rumah dan ke pelayanan yang sangat tidak dapat diprediksi. Untuk itu, aku akan tetap mengingat apa yang penah disampaikan sang Pdt. Thomas Supardji, saat menawariku menjadi majelis tahun 2003, “sesungguhnya tidak ada yang mampu, tetapi Allah yang memampukan mereka yang mau menyambut panggilannya”. Kiranya Tuhan jua yang memampukan ku, sebagai alat Nya, karena tuaian begitu banyak ..... (has,27032011 : 07:20)

Minggu, 20 Februari 2011

Di halaman berapa sih ?

Dalam sebuah percakapan di rumah sakit, beberapa waktu yang lalu, aku tertegun mendengarkan cerita seorang saudara. Ia menceritakan saat beberapa tahun yang lalu ia di PHK dari pekerjaannya. Bagi keluarganya, peristiwa itu adalah peristiwa yang paling menyakitkan dan niscaya tak terlupakan. Rasa pemberontakan begitu kuat, kepada perusahaan maupun kepada Tuhan. Seolah mereka tak percaya mengapa Tuhan mengijinkan semua itu terjadi.

Tak lama berselang, sebuah perusahaan dalam skala yang lebih besar mempekerjakan yang bersangkutan. Belum lama bekerja di tempat itu, ia harus di rawat di rumah sakit. Penyakit yang dideritanya memerlukan perawatan yang intensive dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Ditengah-tengah sakit penyakit yang dideritanya, saudara tersebut bersaksi : “akhirnya kami memahami kebaikan Tuhan, tidak ada orang yang berharap sakit, namun bila peristiwa ini terjadi dan saya masih di tempat kerja yang lama, saya tidak bisa membayangkan bagaimana menyelesaikan semua biaya ini”.

Saudaraku, hidup ini dapat di ibaratkan dengan membaca sebuah buku yang berisi 100 halaman. Kala kita sampai pada halaman 45, kita kerap bertetiak dan memberontak atas jalan cerita yang kita dapatkan. Kita sesungguhnya tidak mengetahui bagaimana halaman selanjutnya, tetapi kita telah memberontak dan mengeluh, sedang Sang Khalik bahkan telah mengetahui hingga halaman 100.

Mari lebih peka memahami rancangan Tuhan, bukankah Paulus menuliskan “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Rom. 8:28). Untuk itu mari menjadi orang yang mengasihi Dia. Karena orang yang mengasihi tidak pernah ragu dan berprasangka buruk terhadap rancangan yang dikasihinya. (has20022010).

Rabu, 09 Februari 2011

Acara Diskusi Sabda

1. Nyanyian Pembukaan


God Will Take Care of You (KJ. 438) Civilia D. Martin

do = bes (6 ketuk)

1. Be not dismayed whate'er betide,

God will take care of you;

beneath His wings of love abide,

God will take care of you 3. All you may need He will provide,

God will take care of you;

nothing you ask will be denied,

God will take care of you.

Ref. God will take care of you,

through every day, o'er all the way;

he will take care of you,

God will take care of you.

2. Doa Pembukaan

3. Doa Pembacaan Firman

4. Pembacaan Nats : 2 Tesalonika 2 :13-17

5. Diskusi dan Kesimpulan

6. Lagu KJ. 278 Bila Sangkakala Menggegap

do = g (3 ketuk)

1. Bila sangkakala menggegap dan zaman berhenti,

fajar baru yang abadi merekah;

bila nanti dibacakan nama orang tertebus,

pada saat itu aku pun serta.

2 Bila orang yang telah meninggal dalam Tuhannya

dibangkitkan pada pagi mulia

dan berkumpul dalam rumah yang lestari dan megah,

pada saat itu aku pun serta.



Ref. Bila nama dibacakan,

bila nama dibacakan,

bila nama dibacakan,

pada saat itu aku pun serta.

7. Doa Penutup



Selamatkah Saya ?

Bacaan : 2 Tesalonika 2 :13-17

Tujuan : Mendiskusikan makna “dipilih sejak semula untuk diselamatkan”.

Pengantar

Andaikan kepada anda ditanyakan : Apakah anda akan selamat ?, sudah barang tentu jawabannya akan relatif seragam, tetapi jika ditanyakan sejak kapan anda diselamatkan ? (atau setidaknya merasa diselamatkan) jawabannya bisa jadi akan sangat beragam.

Di dalam kekristenan, kita mengamini bahwa Yesus Kristus memberikan janji keselamatan yang kekal. Janji keselamatan ini bukan hanya untuk kehidupan kita saat ini di sini, tetapi juga pada kehidupan kita nanti, di sana saat kedatangan Nya. Bagaimana kita mendapatkan keselamatan itu ? Sebagaian orang mungkin beranggapan bahwa keselamatan diperoleh karena usaha mereka, dan sebagian lagi beranggapan bahwa itu sudah menjadi takdir.

Keselamatan yang kita peroleh sesungguhnya adalah sebuah anugerah atau dengan kata lain GRATIS, karena tidak ada sesuatupun perbuatan baik yang telah kita lakukan hingga kita berhak dan layak untuk diselamatkan. Namun demikian keselamatan yang dari Allah ini, tidaklah kita terima secara otomatis, tetapi memerlukan respon dari kita.

Keselamatan tidak berjalan secara otomatis dalam kehidupan kita, hingga kita beranggapan bahwa apa yang kita perbuat tidaklah berkaitan dengan keselamatan tersebut. Pandangan ini mengingatkan kita pada paham Gnostik yang berusaha mencari keselamatan dengan pengetahuan yang pada akhirnya adalah kesatuan jiwa dengan Tuhan. Paham ini meyakini bahwa perbuatan tidak berkaitan dengan keselamatan sepanjang telah tercapai kesatuan jiwa dengan Tuhan. Paham ini jelas merupakan paham yang tidak bertanggung jawab, sebab dengan diselamatkan dari dosa, kita mempunyai konsekuensi untuk hidup dengan pola hidup sesuai dengan keselamatan tersebut. Kita diselamatkan bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan untuk melakukan apa yang KUDUS dan yang berkenan dengan ALLAH. Sehingga dengan pola hidup kita, Nama TUHAN dipermuliakan dan makin banyak orang yang diselamatkan.

Jemaat Tesalonika

Jemaat di Tesalonika sedang menghadapi maraknya ajaran tentang hari Tuhan yang telah dekat. Ajaran ini bahkan telah mengajak orang untuk tidak bekerja karena hari Tuhan yang sudah dekat. Tetapi penantian ini berujung pada kekecewaan, sebab apa yang mereka nantikan tidak kunjung datang. Keadaan ini mengakibatkan kegelisahan dan ketidakpastian yang juga dialami oleh jemaat di Tesalonika. Ditengah kebingungan jemaat Tesalonika tersebut Paulus menuliskan suratnya.

Bacaan kita ayat 13-17 menggambarkan orang-orang yang tetap memegang kepercayaannya kepada Allah ditengah situasi lingkungan yang percaya pada tanda-tanda ajaib yang palsu (1-12) yang berakhir pada penghukuman.

Paulus mengucap syukur atas jemaat Tesalonika yang oleh karya Allah sejak semula telah memilih mereka (jemaat Tesalonika) untuk diselamatkan. Dari mulanya diselamatkan dalam bahasa aslinya digunakan kata aparkhe (buah sulung) yang berarti orang pertama (13). Apakah ini berarti bahwa Allah pilih kasih ? atau pilihan Allah bersifat eksklusif ? Sama sekali tidak, karya penyelamatan Allah bersifat universal namun tidak bersifat otomatis dalam arti manusia bagaikan robot yang tinggal mengikuti kemauan Allah yang berencana menyelamatkannya. Allah memang memiliki otoritas atas kehidupan manusia, tetapi hal itu tidak meniadakan respon manusia. Sekalipun Tuhan berinisiatif menyelamatkan seluruh umat manusia, tetapi hal itu akan menjadi sia-sia jika manusia menolaknya.

Jadi bukannya Allah peduli hanya pada segelintir orang, tetapi inisiatif Allah ini juga bergantung pada respon manusia, yaitu respon untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai (13b). Dan ini menunjukkan tidak semua orang memilih untuk percaya terhadap berita keselamatan ini, dengan kesadarannya banyak orang yang menolak untuk percaya, yang berarti menolak untuk diselamatkan, menolak dipulihkan hubungannya dengan Allah.

Maka bagi orang percaya, pertanyaannya bukan lagi apakah aku terpilih? Tetapi apakah aku percaya, beriman kepada Yesus Kristus yang menganugerahkan keselamatan itu? Sebab orang percaya adalah orang yang terpilih dan wujud keterpilihan itu adalah IMAN DAN PERBUATAN (16-17).



Pertanyaan Diskusi :

1. Bagaimana menurut anda pemahaman “Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan” apakah berbeda atau sama dengan pemahaman akan “Takdir” ? Beri penjelasan
2. Apakah anda sudah diselamatkan ? Bagaimana merespon keselamatan itu dalam kehidupan anda sehari-hari , seberapa jauh hal itu mempengaruhi anda dalam bersikap ?

Bacaan : Lentera Umat Edisi 01
Dijadwalkan akan disampaikan pada acara PA Bapekris PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Kantor Pusat Gedung Menara BTN Jumat, 12 Februari 2011. Pkl. 11.30-13.00 wib.

Minggu, 02 Januari 2011

Satu dalam Kepelbagaian

Oleh : P. Erianto Hasibuan, M. Div

Pengantar

Saat kembali ke Medan beberapa saat yang lalu, penulis menemui salah seorang anggota gereja yang merupakan pendiri sebuah Gereja. Si Bapak menceritakan bagaimana “perpecahan” yang terjadi di antara anggota jemaat dan majelis jemaat. Program kerja majelis tidak lagi berjalan dengan baik, karena jika kelompok yang satu duduk di sebuah kepanitian, kelompok yang lain tidak lagi berkenan untuk ambil bagian.

Kisah jemaat tersebut adalah akumulasi dari sebuah persoalan kecil yang tidak pernah diselesaikan dengan tuntas, sehingga menjadi akar pahit bagi persoalan-persoalan lain yang muncul. Di tempat lain mungkin tidak seekstrim persoalan di atas, tetapi boleh jadi pembiaran atas pelbagai aktivitas mulai terasa bahkan mulai mengkawatirkan berbagai pihak, walau hanya dihati belaka.

Konflik mungkin belum hadir secara kasat mata, tetapi konflik batin mulai terasa di antara anggota jemaat. Pembiaran hal demikian hanya masalah waktu untuk menjadi disharmoni diantara sesama jemaat.

Keprihatinan Paulus

Dalam Alkitab, kita temukan bahwa Paulus memberikan perhatian yang besar terhadap perpecahan di dalam jemaat. Setidaknya ada dua surat yang dikirimkan Paulus yaitu surat Roma dan Surat kepada jemaat Korintus yang mengangkat persoalan perpecahan di dalam jemaat, dengan pola yang berbeda.

Pertama, dalam Surat Paulus kepada jemaat Roma, keprihatinan Paulus didasari pada kejadiaan yang ada di lingkungan Yunani-Romawi. Dalam masyarakat Roma ada cerita mengenai pemberontakan kaum plebeii (rakyat kecil) yang merasa tertekan oleh kaum patricii, golongan atas. Mereka meninggalkan kota Roma dan hendak mendirikan kota yang baru. Lalu seorang wakil dari golongan patricii mendatangi mereka dan menceritakan kepada mereka kisah anggota tubuh (tangan dan kaki) yang tidak mau lagi capai mencari makanan bagi perut, sebab mereka tidak kebagian. Laparlah perut. Tetapi sesudah beberapa lama, waktu semua anggota tubuh termasuk tangan dan kaki, ikut menderita. Maka sadarlah tangan dan kaki maka mereka kembali menunaikan tugasnya.

Perumpamaan tersebut dikutip Paulus untuk menggambarkan keprihatinannya atas ketidak peduliaan jemaat Roma terhadap satu dengan lainnya. (Rom. 12 :4-5). Karunia yang dimiliki seolah hanya untuk dimiliki sendiri, kalaupun seseorang mengambil peran di dalam jemaat karena karunia yang dimilikinya, peran itu tidak lagi dilakukan dengan sepenuh hati (Rom.12 :6-8).

Kondisi jemaat Roma yang terdiri dari Yahudi dan non Yahudi, sangat memungkinkan terbentuknya pengelompokkan berdasarkan kebangsaan (baca etnis) maupun berdasarkan keadaan ekonomi, hal ini dimungkinkan mengingat kota Roma adalah kota kosmopolitan yang dihuni para saudagar kaya dan juga buruh serta budak yang miskin.

Kondisi masyarakat yang majemuk, semula diharapkan menjadi kekuatan dalam persekutuan di jemaat, pada kenyataannya yang terjadi adalah hal yang sebaliknya, setidaknya menurut pandangan Paulus. Karunia seseorang tidak dijadikan sebagai berkat yang mempersatukan bagi jemaat, tetapi menghadirkan dinding pemisah.

Kedua, surat Paulus kepada jemaat di Korintus yang didasari adanya perselisihan di dalam jemaat karena adanya keberpihakan terhadap aliran-aliran yang mereka kagumi, seperti Apolos dan Paulus (1Kor.3 :4-5). Mereka menonjolkan aliran masing-masing, para pengikut Apolos merasa memiliki keunggulan dibandingkan dengan pengikut Paulus. Mereka larut pada “dogma” masing-masing sehingga gagal untuk memahami bahwa kabar yang dibawa Apolos dan Paulus adalah kabar yang sama yang disampaikan oleh Yesus Kristus.

Demikian halnya dengan ketidak mampuan mereka untuk berbagi satu sama lain (1Kor.11: 21), perjamuan malam yang seyogianya untuk memperlihatkan kesetaraan dan kesehatian mereka, serta melatih mereka untuk berbagi satu sama lain, pada kenyataannya hanya menjadi ajang untuk mempertontonkan kemampuan masing-masing individu dan kelompoknya, menurut Paulus hal ini menjadi cerminan kegagalan mereka untuk memahami kesatuan dalam kepelbagaian (1Kor.12 :12-26).

Hakekat Pelayanan

Paulus menyadari adanya rupa-rupa pelayanan (1Kor. 12 :5) yang bersumber pada satu Tuhan. Paulus tidak melihat pelayanan seperti memperlihatkan kemurahan, menolong orang lain dalam kesusahan atau sekedar memperlihatkan rasa simpatik adalah pelayanan yang lebih rendah dibanding dengan karunia-karunia karismatis yang jelas lebih “rohani”. Itulah yang dilupakan orang-orang korintus, yang mengejar karunia-karunia tanpa pelayanan kasih kepada orang lain (bnd. 1Kor. 13).

Aktivitas warga jemaat dalam komisi pelawatan saat menghibur orang sakit, ataupun menguatkan mereka yang berduka, tidaklah lebih rendah nilainya dibandingkan kotbah seorang pengkotbah di atas mimbar. Itulah kira-kira yang diingatkan Paulus kepada kita saat ini.

Allah dalam memperlengkapi umat-Nya dengan karunia-Nya tidaklah dimaksudkan diberikan untuk dinikmati secara pribadi, melainkan untuk kepentingan bersama. Seperti suatu tindakan mungkin sah, tetapi tidak baik bila tidak berhasil melayani orang lain (1kor.6 :12; 10 :23), demikian halnya dengan memiliki karunia roh tidak banyak artinya (kecuali, mungkin untuk kebanggaan pribadi) bila tidak digunakan untuk kepentingan orang lain.

Dalam konteks pelayanan, Paulus tidak berbicara tentang jemaat sebagai sebuah oraganisasi, melainkan organisme. Ia bukanlah sebuah sturuktur eksternal, melainkan orang-orang yang terjalin bersama, dengan masing-masing anggotanya melayani keseluruhan tubuh itu dengan memenuhi fungsi yang telah ditetapkan kepadanya. Lebih jauh, jemaat itu bukanlah semata-mata seperti sebuah tubuh; ia adalah tubuh Kristus (1Kor.12 :4-11).

Sebagaimana Paulus menggambarkan dalam Roma 12 :4-5 contoh tubuh manusia itu meng-gambarkan kepelbagaian rohani di dalam satu Tubuh Kristus. Orang-orang Korintus tahu benar tentang kepelbagaian ini, jadi maksud utamanya bukanlah kepelbagaian karunia dan anggota melainkan keesaan jemaat. Itu sebabnya Paulus memulai dengan pernyataan sentral : Tubuh manusia itu satu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh; tidak ada satu bagian atau organ pun yang dapat berada atau berfungsi di dalam dirinya sendiri, yang dapat mengklaim bahwa ia adalah sesuatu yang terpisah dari kesatuan organisme yang hidup keseluruhannya. Demikian pula Kristus di dalam Tubuh-Nya yaitu jemaat.

Singkatatnya Paulus tidak melihat anggota jemaat terpisah satu sama lain, dengan pandangan yang sama, Ia melihat setiap anggota memiliki peran dalam membangun sebuah jemaat dengan talenta yang dimilikinya. Tangan tidaklah lebih berharga dibandingkan dengan mata atau mulut, demikian halnya dengan kaki. Penerima tamu dengan sapaannya yang menghangatkan tidaklah kurang penting dibandingkan dengan pemimpin pujian atau lektor bahkan pengkotbah sekalipun. Masing-masing pelayan memiliki keunikan fungsi masing-masing untuk mendukung keutuhan pelayanan bagi kemuliaan nama Tuhan.

Merubah Pola Pikir

Bukan Paulus namanya jika tidak memberikan jalan keluar terhadap persoalan yang menjadi keprihatinannya. Demikian halnya dengan persoalan yang ada di jemaat Roma dan Korintus. Pertikaian yang terjadi menurut Paulus adalah buah dari kegagalan mereka dalam memahami makna pelayanan dan peran setiap anggota jemaat di dalam sebuah jemaat.

Paulus dengan tegas memberikan cara untuk dapat mengambil peran yang semestinya sebagai pengikut Tuhan, yaitu dengan cara berubah (metamorphousthai-Yun) melalui pembaharuan pemikiran (nous-Yun) LAI menerjemahkan budi (mind –NIV) lebih tegas CEV menerjemahkan but let God change the way you think (Rom.12: 2b).

Kata metamorphousthai dengan akar kata morphe berarti suatu bentuk atau unsur pokok yang tidak berubah, pengertian ini berbeda dengan schema yang merupakan bentuk luar yang selalu berubah-ubah. Dalam hal ini Roma 12 :2 “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Berarti untuk tidak sama dengan dunia yang penampilan luarnya selalu berubah (schema), kita harus mengalami perubahan (morphe) hingga unsur pokok pemikiran tidak berubah. Dalam kondisi ini kita dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Dengan bahasa yang lebih sederhana dapat disampaikan, bahwa untuk mengerti kehendak Allah, dan memahami peran di dalam jemaat diperlukan pembaharuan pola pikir secara permanen di dalam roh kudus. Pola pikir yang berubah dimaksud Paulus bukan yang tergantung pada situasi. Artinya saat posisi yang menguntungkan dalam pelayanan (misalnya ditempatkan pada posisi yang dikehendaki) dengan senang hati mengambil peran, namun saat sebaliknya sulit untuk memberikan dukungan. Atau saat pihak yang kita sukai mengambil peran kita sudi melibatkan diri, namun jika tidak, kita hanya sebagai penonton. Jika itu yang terjadi, kita masih sama dengan dunia yang senantiasa mengalami perubahan pada sisi luar semata (schema), tetapi Paulus menginginkan kita berubah secara total (morphe).

Gereja masa kini

Andai Paulus akan menuliskan suratnya kepada jemaat kita saat ini, apakah ia akan menuliskan sebuah keprihatinan atau pujian kebanggaan seperti kepada jemaat di Filipi ?

Kehidupan jemaat di dalam gereja modern saat ini kadang menjadi antiklimaks, dengan alasan kesatuan dan damai sejahtera, perbedaan pendapat seolah menjadi kealpaan demi menciptakan damai sejahtera. Kecenderungan yang terjadi bahwa perbedaan pendapat menjadi “tabu” kritik menjadi “haram” hingga segala ide diputuskan “nyaris” dengan kata bulat sesuai hirarkhi jabatan gerejawi. Hakiki hal ini tidaklah salah jika apa yang diputuskan menjadi milik bersama. Namun yang kerap disayangkan keputusan seolah menjadi milik si penggagas, sementara para “follower” (partisipan) cukup menjadi penonton akibat lemahnya pembedahan konsep sebelum diputus atau ketiadaan rasa memiliki terhadap keputusan yang diambil.

Benarkah gereja harus berjalan tanpa perbedaan pendapat dan daya kritis? Mari melihat hubungan Paulus dan Petrus. Petrus adalah pemimpin jemaat mula-mula bersama Yakobus saudara Yesus, sedang Paulus bukan termasuk dari keduabelas murid Yesus yang setia menemaninya di kala Yesus hidup. Namum saat Petrus berlaku “munafik” terhadap kalangan kristen non Yahudi, secara tegas Paulus mengkritik. Yang terjadi kemudian adalah pembaruan dalam pola pikir Yakobus terhadap keselamatan bagi kaum non Yahudi. Pada sisi lain, hubungan Petrus dengan Paulus tidak mengalami kerenggangan.

Tentu tidak seluruh perselisihan di antara para Rasul membawa “happy ending” lihat saja hubungan Paulus dan Barnabas, mereka akhirnya berpisah dalam pelayanan karena berbeda pendapat perihal Yohanes yang disebut Markus (Kis.15: 37-41), tetapi mereka tetap tidak berubah dalam panggilannya untuk memberitakan kabar baik.

Menurut penulis kondisi tersebut tercipta setidaknya di dasari pada dua hal, pertama Paulus, Petrus maupun Barnabas memiliki tujuan yang sama, yaitu melayani Tuhan dengan memberitakan kabar baik. Paulus, Petrus dan Barnabas, dapat dipastikan memiliki kepentingan pribadi yang berbeda, tetapi kepentingan pribadi mereka tidak melampaui tujuan bersama sebagai hamba Tuhan, yaitu melayani Tuhan. Kedua mereka terbuka terhadap pembaharuan. Petrus terbuka untuk dikoreksi walaupun oleh seorang pengikut Kristus yang lebih junior, Paulus bersedia menerima perbedaan pendapat dengan Barnabas, walau Barnabaslah yang pertama kali mengenalkan Paulus kepada para murid, (Kis.4 :36) dan teman sepelayanannya.

Tidak jarang symptom (gejala) dari perpecahan di dalam jemaat diawali dari lemahnya pemahaman akan tujuan yang sama dari setiap warga jemaat. Kepentingan kelompok misalnya melampaui tujuan, sentimen pribadi melampaui panggilan tugas pelayanan. Perbedaan pandangan belum menjadi sebuah proses untuk menghasilkan hal yang lebih baik. Respon yang memadai terhadap symptom diharapkan akan mencegah munculnya ketidakpedulian terhadap aktivitas geraja bahkan konflik yang terbuka.

Harapan

Kesatuan dalam kepelbagaian bukanlah suatu proses instan yang dapat dicapai dalam waktu singkat, ini adalah proses yang berkelanjutan yang dimulai dari proses kepekaan setiap jemaat akan perannya di dalam sebuah jemaat.

Bagaikan anak kecil yang kerap diingatkan untuk memberi salam kepada orang yang ditemuinya, pada saatnya ia akan melakukan hal tersebut tanpa harus diingatkan. Demikian halnya dengan jemaat, kepekaan akan hadir bila hal itu kerap diperbincangkan. Media terdepan dalam sebuah gereja adalah kotbah.

Kebiasaan memperbincangkan kehidupan jemaat sebagai sebuah ilustrasi yang relevan dengan topik kotbah menurut penulis dapat mendorong kepekaan dan kepedulian diantara sesama jemaat. Setidaknya ajakan untuk berbagi kasih kepada jemaat dalam arti luas, yang kerap disampaikan dalam doa, tentu pada waktunya akan membuahkan kepekaan satu sama lain.

Jika Paulus seorang penganiaya jemaat dapat merubah pola pikirnya menjadi pelayan jemaat Tuhan, maka bukan hal yang sulit bagi kita sebagai anggota jemaat yang memiliki Alkitab untuk dapat merubah pola pikir untuk ambil peran.

Akhirnya, biarlah kita berharap jika Paulus akan menuliskan suratnya kepada kita, yang tertulis sebagai kata pembukanya adalah “Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu. Dan setiap kali aku berdoa untuk kamu semua, aku selalu berdoa dengan sukacita. Aku mengucap syukur kepada Allahku karena persekutuanmu dalam Berita Injil mulai dari hari pertama sampai sekarang ini. (Flp. 1 :3-5)

Bacaan :

1. Dave Hagelberg, Tafsiran Surat Roma dari Bahasa Yunani, Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 2004.

2. Th van den End, Tafsiran Alkitab : Surat Roma, BPK Gunung Mulia, Jakarta :2003.

3. Hasan Susanto, Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru (PBIK), LAI, Jakarta : 2004

4. R.A. Jaffray, Tafsiran Surat Roma, Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 2007.

5. V.C. Pfitzner, Kesatuan dalam Kepelbagaian : Tafsiran atas surat 1 Korintus, BPK Gunung Mulia, Jakarta :2004.

6. William Barclay, Pemahaman Alkitab setiap hari Surat Roma, BPK Gunung Mulia, Jakarta :2003.

7. William Barclay, Pemahaman Alkitab setiap hari Surat 1 & 2 Korintus, BPK Gunung Mulia, Jakarta :2008.
Tulisan ini dimuat dalam Buletin Mercusuar Edisi 19/Desember 2010.

Kamis, 09 Desember 2010

Teladan Sang Penyemangat

Malam ini seharusnya aku mengerjakan pekerjaan yang terpending dan sudah harus diserahkan esok pagi, tetapi pikiran ku tak dapat diajak kompromi. Ia menerawang jauh melewati batas waktu yg telah kulalui. Rencana memang sudah diniatkan untuk menulis lebih serius tentang seseorang yang memberi makna dalam hidup ini, tetapi malam ini jemari dan pikiran seolah senada untuk enggan menunda bergerak bersahaja.

Pdt. Ruben Bangun, M.Th adalah sosok seorang Pdt. yang sebagian orang mengenal agak “eksentrik”, beliau spesialis PB (Perjanjian Baru). Awal perkenalan kami adalah saat mengikuti perkuliahan di STT Abdi Sabda. Kedekatan ini berlanjut karena pada akhirnya perkulihan berubah menjadi “privat”. Semula kami ada tiga orang yang mengambil mata kuliah yang sama PB 1, tetapi karena seorang teman meninggal dunia, dan tak lama yang satu menghilang tanpa jejak, maka tinggal seorang diri mencoba bertahan.

Saat berkunjung ke rumah beliau, begitu terkejut melihat koleksi buku yang luar biasa banyaknya, laiknya sebuah perpustakaan mini. Sang pendeta selalu meminjamkan ku buku-buku yang tidak hanya bidang biblika tetapi buku politik bahkan budaya. Saat tidak lagi mendapatkan mata kuliah dari beliau, kami masih tetap kerap berjalan bersama sambil berdiskusi tetntang berbagai hal.

Saat seluruh perkuliahan tetah diselesaikan dan tinggal menulis tesis, aq dipindah tugas dan membuat segala sesuatunya terbengkalai. Pak Bangun tidak pernah ragu sedikitpun untuk memberikan dorongan dan semangat, agar aq tetap melanjutkan dan menyelesaikan tugas akhir. Asa ini kadang “nyaris” terputus melihat jarak dan waktu yang kadang tak terjangkau. Semangat tidak hanya disampaikan beliau, tetapi contoh yang faktual. Pak Bangun mengalami penyakit diabet parah, kemana pun beliau pergi selalu membawa suntikan insulin untuk menurunkan kadar gula darahnya. Namun dengan keterbatasan fisik, beliau tak pernah berhenti untuk melaksanakan tugasnya bahkan setelah menjadi Pdt. emeritus beliau tidak pernah berhenti mengajar. Tidak hanya sekedar mengajar, membeli dan membaca buku tetap dilakukannya. T

Walau beliau tidak pernah membandingkan keadaannya dengan permasalahan yang ku hadapi, tetapi hati ini seolah terbakar untuk tidak menyerah. Pada akhirnya aq memang menyelesaikan tugas akhir ku, tetapi beliau tidak lagi ada pada saat itu. Beliau telah pergi dengan tenang tanpa aq dapat bersua untuk yg terakhir.

Pdt. R. Bangun telah memberiku teladan untuk tidak menyerah, memberiku contoh disiplin yang mengagumkan. Walau kami hanya berdua, tetapi kami tidak pernah melanggar jam perkuliahan laiknya sebuah kelas. Walau kami dekat secara pribadi, namun tidak pernah ada kompromi masalah date line tugas dan kesempurnaan sebuah tugas.

Engkau bukan saja Dosen bagiku, tetapi Bapak, Pendeta, penyemangat dan teladan ku …. Terimakasi Pak Bangun. (has09122010-BKS)