SELAMAT DATANG DI "TEOLOGI KAUMAWAM"

Salam dalam Kasih Tuhan Yesus Kristus. Terimakasih telah mampir di blog yg sederhana ini. Kami sangat berterimakasih bila saudara berkenan memberi tanggapan atas tulisan yang saudara baca di blog ini. Karena dengan tanggapan itu kami akan dapat belajar dan berbagi, sebab untuk itulah blog ini dibuat agar hidup kita tetap terpelihara dalam persekutuan. Semua tulisan dalam blog ini dapat dikutip dengan tetap mencantumkan sumbernya. Kiranya Tuhan Yesus memberkati kita. Pax Vobiscum, Erianto Hasibuan

Senin, 02 Januari 2012

Hanya karena Permintaan


Oleh : P. Erianto Hasibuan
Setiap pergantian tahun umumnya setiap pribadi memiliki permintaan atau obsesi atau target yg akan dicapai pada tahun yg baru. Terlebih penulis, sebagai etnis batak, ritual rutin setiap pergantian tahun adalah menyampaikan kesaksian dan harapan saat ibadah keluarga menyambut thn baru.
Tentu permintaan yang kita sampaikan sangat beragam, ada yang abstrak, seperti anak bungsu saya yang memohon kepada Tuhan agar dia menjadi anak yang lebih baik, dengan setia kepada Tuhan dan menurut orang tua, atau yang nyata seperti anak sulung saya yang meminta agar dapat lulus level berikutnya kursus biolanya.
Apapun yang anda minta dan inginkan pada tahun 2012, sesungguhnya adalah doa anda yang menggambarkan arah dan tujuan hidup anda. Akan jadi persoalan jika anda tidak meminta apaun, karena akan muncul pertanyaan, "apa yang akan mengendalikan hidup anda"? Ingat istilah MBO (Management by objective) dalam ilmu management. Karena tanpa tujuan (target) maka hidup kita hanya bagaikan pucuk cemara yang senantiasa di kendalikan oleh arah angin, artinya arah hidup kita dikendalikan oleh lingkungan.
Hidup ini seumpama berada di lautan, bagi mereka yang memiliki keterampilan untuk berenang bahkan menyelam, akan memandangnya sebagai kenikmatan karena ia akan dapat menikmati birunya laut, bahkan menyelam menikmati indahnya tumbuhan laut. Tentu mengarungi lautan baginya adalah sebuah anugerah yang selayaknya disyukuri. Tidak demikian bagi mereka yang tidak memiliki keterampilan untuk berenang, apalagi menyelam. Melintasi lautan baginya adalah beban yang menyakitkan dan yang harus segera dihindari. Dapat dibayangkan apa yang akan keluar dari mulut keduanya. Yang pertama akan penuh dengan ucapan syukur sedang yang kedua akan penuh dengan sungut-sungut.
Salomo (Sulaiman) menjadi tokoh yang termasyur bahkan tokoh paling besar di segala abad dari sisi kebijaksanaannya dalam menimbang perkara. Mengapa ia dapat memiliki kemampuan yang begitu tak tertandingi? Rahasianya ternyata sederhana, bahkan sangat sederhana hanya karena permintaan yang tepat.
Saat Tuhan memberikan kesempatan kepada Salomo untuk meminta: "Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu."(1 Raj.3:5b), dapat kita bayangkan apa yang akan diminta Salomon pada saat itu? Sebagai pewaris Takhta Daud, pastilah Salomo menginginkan kelanggengan dari kekuasaannya dan umur panjang agar ia dapat menikmati kekuasaannya lebih lama lagi. Mengapa demikian?, karena Salomo adalah pewaris Takhta Daud yang mengalahkan berlaksa-laksa musuh (bandingkan dengan Saul yang hanya mengalahkan beribu), Kerajaan yang diwarisinya berawal dari kerajaan yg berbentuk Theokrasi dimana pemerintahan di pegang oleh Allah yg diwakili oleh para hakim dan selanjutnya diteruskan oleh para Raja.
Dengan bentuk kerajaan demikian, titah raja adalah hukum dan mutlak adanya. Dapat kita bayangkan bagaimana besar dan kuatnya kerajaan yang diwarisi oleh Salomo. Tetapi yang mengherankan, permintaannya tidak seperti yang kita duga, justru yang ia minta adalah HIKMAT untuk bersikap adil dalam memimpin. Coba simak permintaan Salomo: "Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?" (1Raj. 3:9)
Hikmat yang diminta Salomo tidak ubahnya seperti keterampilan untuk dapat berenang dan menyelam, jika kita kaitkan dengan ilustrasi terdahulu. Artinya Salomo memandang perjalannya merupakan anegerah yang yang layak untuk dinikmati karena persoalan yang muncul baginya sama dengan menyelam lebih dalam lagi ke dasar laut untuk menikmati indahnya tumbuhan laut.
Demikian saat memasuki tahun 2012, kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan, tetapi jika kita memiliki keterampilan (kompetensi) untuk menanganinya, maka persolan itu tak ubahnya seperti seorang penyelam yang menikmati kedalaman laut, semakin dalam semakin indah dan semakin penuh dengan rasa kagum akan kebesaran Sang Khalik yang empunya ciptaan.
Mari saudara ku, kita masuki tahun 2012 dengan terlebih dahulu meminta kepada Tuhan agar kita diperlengkapi, sehingga kita dapat menikmati kedalaman berkat dan persoalan hidup ke depan dengan ucapan syukur, karena seluruhnya adalah kenikmatan yang layak disyukuri, bukan beban yang harus dihindari. SELAMAT MEMASUKI TAHUN 2012. BERKAT TUHAN MENYERTAI ANDA. AMIN!
(erh010112-pwt)

Minggu, 04 Desember 2011

Memberi arti dalam penantian


Jika kepada kita ditanyakan, apa yang berbeda Adven kali ini dengan sebelumnya?  Mungkin sebagian dari kita sulit untuk menjawabnya, tetapi tidak bagi saya, setidaknya adven kali ini sangat berbeda dari sebelumnya, karena baru kali ini sejak berkeluarga saya melalui adven dalam kesendirian.
Pada sisi lain, pada adven kali ini bagi saya berbeda, karena saya tidak dapat mengikuti kebaktian di GKI, sebab di Banjarmasin memang tidak ada GKI. Apa yang membuat itu berbeda ? Biasanya saya membaca Lentera Umat dan Dian Penuntun, sebelum mengikuti kebaktian. Saat Sang Pdt. Kotbah “kepala” saya mulai melakukan rekonsiliasi, bagaimana penekanan yang dilakukan penulis Dian Penuntun dan Lentera Umat (karena biasanya keduanya saling menopang alias nyambung) dan bagaimana penekanan yang dilakukan sang pengkotbah. Emang harus diakui kadang juga “jaka sembung” alias ngak nyambung, tapi itulah dinamika.
Saat ini saya tidak dapat menikmati hal tersebut, karena kotbah yang saya diikuti di gereja lain, belum bersifat leksionaris. Jadi seolah saya mendapat dua pembelajaran berharga, yang mungkin juga bisa disambung-sambung sendiri.

http://letupanjiwa.files.wordpress.com/2010/12/2-advent.jpgTopik dalam Lentera Umat meberi judul “Pemerintahan Tuhan Mengubah Penindasan menjadi perdamaian” (Mikha 4: 1-5). Umat Israel pada masa pembuangan dan pasca pembuangan, mengalami tekanan yang sangat berat dan “nyaris” tanpa harapan, kehancuran masa kini membuat mereka seolah tanpa masa depan. Pada saat itu Mikha memberikan  pengharapan atas masa depan.  Pengharapan yang begitu indah saat Allah menjadi Hakim atas dunia. Pada masa itu bangsa-bangsa akan menempa pedangnya menjadi mata bajak, tombaknya menjadi pisau pemangkas, artinya sesuatu yang semula digunakan untuk menghancurkan dan menyakiti akan diubah menjadi alat yang membangun dan memberi kehidupan.
Kehadiran pemerintahan Allah tidak untuk menghancurkan tetapi untuk membangun, seyogianya kita yang mengaku umat Allah dan tunduk terhadap pemerintahan Allah, kehadiran kita juga selayaknya untuk membangun, artinya kata-kata dan prilaku kita eloklah untuk membangun dan menguatkan, jika sebelumnya menghancurkan dan melemahkan maka saatnya pada masa Adven ini untuk mengubahnya.
Dian Penuntun pada Minggu Adven kedua ini memberi judul “Bersiap Menyambut Kedatangan Mesias” (Yes. 40:1-11; Maz. 85:1-2, 8-13; 2 Pet 3: 8-15a; Mrk.1:1-8) Persiapan menyambut kedatangan Mesias kadang menjadi sesuatu yang tidak memberi makna apapun bagi kita, jika kita melihat bahwa Adven hanya sekedar rutinitas kalender gerejawi semata. Penulis Dian Penuntun dengan cerdas mengajak pembacanya untuk mendengarkan suara detik jam, untuk mengingatkan bagaimana kita memandang waktu. Adakah kita melihatnya bagai sebuah takdir yang harus dijalani karena segala sesuatu telah ditentukan, atau keseluruhannya tergantung pada kita. Tanpa harus memperdebatkan kedua pendapat tersebut, kita mengakui bahwa Allah memberi ruang kebebasan pada kita, sekaligus kita mengakui adanya otoritas Allah.
 Bersiap menyambut kedatangan Mesias bukanlah dengan memperdebatkan kapan kedatangan Sang Mesias, atau betulkah Sang Mesias akan datang? Inilah yang dihadapi jemaat di Asia kecil. Mereka “nyaris” disesatkan oleh ajaran para guru dan nabi palsu. Mereka mencoba mencoba memecahkan misteri Allah dengan mulai berhitung kapan dan apakah Mesias akan datang? Mereka mulai mengingkari bahwa Allah memiliki otoritas Nya sendiri. Banyak contoh kehancuran dari upaya ini, sebut saja Branch David  di USA yang akhirnya membakar diri bersama pengikutnya dan juga Mangampin Sibuea di Bandung yang akhirnya diringkus ke buih, semua kehancuran itu terjadi karena kutak-atik mereka berlalu dengan sia-sia.
Sebagaimana yang diuraikan dalam Lentera Umat, pada saat penantian yang perlu dilakukan dalam mempersiapkan adalah dengan merubah diri dari penindas menjadi pembawa damai. Inilah yang dikatakan Yohanes sebagaimana yang dituliskan Markus dengan “Pertobatan”, karena bagi Yohanes, Pertobatan adalah suatu perubahan pikiran yang menjadi permulaan dari pekerjaan anugerah dalam hati manusia. Pertobatan sebagaimana yang disimbolkan Yohanes dalam baptisan di Sungai Yordan, akan menyelamatkan manusia bila diikuti dengan iman kepada Yesus Kristus yang menjadi juru selamat manusia. Dengan demikian dalam penantian (adven) ada ruang untuk memanfaatkan kebebasan yang diberikan Allah kepada manusia, apakah akan digunakan untuk mempersiapkan diri melalui pertobatan atau hanya menjadikan sebagai ritual semata ? Kita memiliki kebebasan untuk menentukannya. Selamat menantikan dengan penuh arti. SELAMAT ADVEN ! (has04122011-bdj)

Rabu, 12 Oktober 2011

Harapan

Kata ini begitu kerap diucapkan, utamanya saat seseorang sedang memberI nasehat kepada mereka yang dalam kesusahan. Kerap diucapkan, namun tidak mudah mendapatkannya. Begitu banyak orang mengharapkan kata itu menjadi bagian dari hidupnya, tetapi begitu banyak pula tindakan yang ditujukan untuk menjauhkan realisasi dari kata itu.
Lihat saja acara di televise, dengan argumentasi untuk mengkritisi, tontonan yang disajikan mayoritas menyajikan “kegagalan” yang membuat kata “harapan” hanya sebuah impian yang hanya akan terwujud disaat kita sedang tidur.
Untuk sebuah majalah berita yang para pembacanya harus merogoh kocek lebih dalam, masih dapat diterima akal sehat, karena dapat dipastikan mereka yang membacanya adalah orang yang telah memiliki daya saring yang memadai untuk memisahkan antara “gossip”, “provokasi” dan fakta.
Tidak untuk sebuah acara televise, yang semua orang dapat menonton tanpa harus merogoh kocek sedikitpun. Tontonan tersebut justru membuat “harapan” berlari kencang menjauhi kaum “papa” yang menontonnya laiknya kecepatan mobil formula satu.
Konon kemudian “kita” yang memiliki daya saring cukup, kembali meneruskan cerita-cerita “serem” tersebut kepada mereka yang belum memiliki daya saring, sebagai orang yang dianggap memiliki kemampuan intlektual yang cukup, cerita kita kembali ditelan tanpa daya saring. Yang terjadi adalah pesimistis yang berkelanjutan. Akankah kita mengharapkan daya juang tinggi dalam masyarakat yang hidup dalam lingkaran persepsi pesimistis ?
Atasan menyalahkan bawahan, kolega menyalahkan rekan kerja, bawahan menyalahkan keadaan … dst. Lalu kapan keadaan tersebut akan membaik bila tidak ada yang memulai untuk mengatakan “masih ada harapan” untuk berbuat lebih baik.
Apakah teori X Douglas McGregor begitu merasuk, sehingga para atasan senantiasa mencurigai bawahannya dan harus mengawasi mereka terus menerus atau menyatakan hal-hal yang negative akan mereka?  Penulis seolah sedang berdiri sendiri di buritan kapal dan memandang ke lautan dalam kesendirian. Ditengah kesendirian, dengan tetap menyadarkan diri bahwa Douglas McGregor juga memberikan teori Y yang melihat dari sisi positif kemanusiaan, laiknya Sang Khalik saat usai mencipta manusia dengan bersabda “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.”
Jika semula dijadikan sungguh amat baik mengapa kita senantiasa memandang seolah tiada lagi tersisa yang baik ? Mari kembali melihat segala sesuatu dari hal yang baik, agar alam pikiran kita juga tetap memiliki harapan, yang dapat dirasakan orang disekitar kita, hingga akhirnya keputusasaan berubah menjadi harapan dan optimisme untuk berbuat lebih baik da lebih baik lagi …. Semoga  (erh12102011-bjd)

Sabtu, 01 Oktober 2011

Masikah ada kata ….”tapi” ?


Oleh : P. Erianto Hasibuan

Selesai upacara bendera tanggal 17 Agustus 2011 yang lalu, setelah ramah-tama sejenak (maklum bulan puasa, jadi tidak ada pertandingan dan makan bersama), inspektur upacara mendekati penulis, seraya mengajak menjauh dari keramaian.
               Si Ibu, sebut saja ibu “Sihol” mulai bercerita dan bersaksi bagaimana suka cita yang dirasakannya setelah mendapatkan mutasi dari tempat kerja yang lama ke tempat kerja yang baru.  Dengan penuh kesabaran, penulis mendengarkan secara cermat cerita dan kesaksian ibu Sihol.

Puncak cerita, tanda tanya besar penulis mulai tersingkap, mengapa kami harus mencari lokasi yang terbebas dari keramaian. Si Ibu menceritakan kisah hubungannya dengan atasannya di tepat kerja sebelumnya. Perlakuan atasannya yang menurut ibu Sihol, sangat kasar dan tidak manusiawi membuat dia “luka batin”. Berkali-kali Ibu Sihol mengatakan bahwa, ia telah mengampuni atasannya itu, tapi tak dapat melupakan perbuatannya yang begitu kasar. 
Kata-kata, “telah mengampuni, yang digandeng dengan kata tapi”, menarik disimak lebih lanjut. Benarkah Ibu Sihol, atau kita yang kerap mengatakan : saya mengampuni, tapi …  benar-benar sudah mengampuni ?
MENGAMPUNI
Di dalam Alkitab, kata mengampuni utamanya dalam PL (Perjanjian Lama) kerap digandengkan dengan kata kasih setiaNya, seperti pujian Musa saat hadirat Allah menghampirinya di gunung Sinai : Berjalanlah TUHAN lewat dari depannya dan berseru: "TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat." (Kel. 34 : 6-7; demikian halnya dalam Bil 14: 18; Neh 9: 17; Maz. 78: 38; Mzm 86: 5; Mik. 7: 18)
Dari sederetan ayat tersebut, tampak bahwa Allah mengampuni manusia berdasarkan pada kasih-Nya yang begitu besar kepada manusia, bukan karena sesuatu yang berasal dari manusia berdosa yang akan diampuni-Nya. Dalam PB (Perjanjian Baru), kata mengampuni disejajarkan dengan aktivitas resiprokal (timbal-balik),  yaitu bagaimana kita mengampuni orang lain agar Bapa di Sorga juga mengampuni kita, seperti dalam Mat. 6: 14 :  Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Hal senada juga terdapat dalam Mat. 6: 14-15; 18: 35; Mrk. 11: 25.
Dalam prespektif resiprokal di PB, pengampunan tergantung pada kerelaan kita untuk mengampuni orang lain. Bagaimana prespektif mengampuni yang dikehendaki Tuhan, dapat kita lihat pada konteks PL, saat Allah mengampuni. Pengampunan yang dilakukan Allah tidak tergantung pada upaya manusia, tetapi karena Kasih Allah kepada manusia. Artinya pemgampunan Allah timbul dari diri Allah sendiri yang memiliki Kasih, yaitu Kasih Agape, kasih yang tidak tergantung pada objeknya. Maksudnya, tidak tergantung pada tindakan manusia yang akan diampuni, tetapi karena Kasih Allah semata.
Bercermin dari hal tersebut, pengampunan dalam prespektif PB, mengajak kita untuk dapat mengampuni sesama sesuai dengan pola Allah mengampuni, yaitu dengan tidak tergantung pada objek yang kita ampuni, artinya tidak tergantung pada tindakan orang yang kita ampuni. Pada saat kita dapat mengampuni dengan cara demikian, maka Allah Bapa di Surga juga akan mengampuni kita.  

BELAJAR

Pemahaman akan pengampunan kerap dipersepsikan secara berbeda. Tidak jarang orang Kristen memandang bahwa pengampunan dapat dilakukan saat mereka yang bersalah kepada kita, telah bertobat dan mengakui kesalahannya. Sebagian lagi beranggapan saat mereka telah berbalik dari kesalahannya dan membuktikan bahwa mereka telah berubah, bahkan ada yang beranggapan setelah yang bersalah membayar lunas hutang-hutangnya.
Penafsiran ini, bahkan telah masuk ke lingkungan gereja. Mari memperhatikan beberapa geraja yang memiliki tata gereja yang begitu kaku, hingga seorang yang melakukan kesalahan, seolah tak memiliki pintu masuk lagi ke gereja tersebut, dan harus dikeluarkan.  Hal ini dapat saja memberi kesan bahwa gereja adalah tempat orang-orang yang “suci”, sementara Yesus sendiri mengikrarkan “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu “ (Mat. 11:28)
Tuhan Yesus dengan jelas dan lugas, mengajak semua yang letih lesu dan berbeban berat  untuk dapat datang kepada Nya untuk “belajar”, sebagaimana dituliskan dalam Mat. 11:29a Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku. Belajar  tidak hanya ditujukan bagi mereka yang berkecimpung dalam bidang kependetaan atau para teolog dan fungsionaris gereja, tetapi kepada semua orang.
Belajar kepada Yesus artinya, memahami tidak hanya tindakan-tindakan Yesus selama lebih dari 33 tahun hidup di dunia, tetapi lebih dari itu, memahami motivasi yang menjadi dasar pertimbangan Yesus melakukan hal tersebut, sehingga kita juga memahami mengapa kita mengambil sikap tertentu atas berbagai situasi, sesuai dengan perkembangan zaman.
Jika kita belajar untuk mengenal Yesus,  pada saatnya kita akan mengenal bahwa Yesus itu lemah lembut dan rendah hati (Mat. 11: 29b).  Pada saat memasuki fase pengenalan demikian, maka Yesus sendiri yang menjanjikan dan mengatakan bahwa : jiwamu akan mendapat ketenangan (Mat. 11: 29b). Pengenalan Yesus lemah lembut dan rendah hati, sudah barang tentu bukan dalam arti teoritis, atau sebatas pemahaman, tetapi dalam arti mengalami di dalam kehidupan sehari-hari dan tercermin dalam setiap ucapan, pandangan dan prilaku.
Sudah barang tentu, untuk masuk pada fase implementasi tersebut, harus diawali dari fase pembelajaran melalui apa yang ada di dalam kitab suci. Dengan demikian kita bertekun dalam pelajaran, hingga akhirnya kita berlatih mengimplementasikan apa yang kita pahami di dalam bimbingan Roh Kudus.
Secara sederhana, mari belajar dari riwayat Ayub, saat setelah dia mengalami penderitaan. Pengakuannya pantas disimak : Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. (Ayub 42: 5) Belajar penting untuk mengenal dan memahami, tetapi mengalami sediri pengenalan akan Tuhan adalah fase kedewasaan, setelah mengalami berbagai pembentukan, seperti Ayub. Pada akhirnya mereka yang masuk pada fase mataku sendiri memandang Engkau (mengalami sendiri kehadiran Tuhan) akan menjadi kesaksian yang hidup bagi setiap pribadi dan banyak orang.

KASIH
Kasih dalam bahasa Indonesia agak sulit dibedakan dari pengertian Agape, Philia dan Eros dalam bahasa Yunani.  Keseluruhan kata itu diterjemahkan sebagai “Kasih”, meskipun dalam bahasa Yunani, pengertian ketiganya berbeda.
Agape kerap digunakan untuk menyatakan kasih Allah. Kasih Agape ini adalah kasih yang tulus tanpa pamrih, kasih yang tidak tergantung pada objeknya. Sedang  Philia adalah kasih persaudaraan, yaitu kasih karena hubungan darah, atau hubungan lainnya, jadi masih mengandung pamrih. Eros adalah kasih yang terjadi diantara lawan jenis, dengan demikian kasih ini didasarkan pada adanya keinginan untuk memiliki.
Allah mengampuni didasarkan pada kehendaknya sendiri yang digerakkan oleh KasihNya kepada manusia. Tidak ada pamrih yang diharapkan dari manusia. Kasih Agape ini kerap diterjemahkan secara keliru, dengan mempersepsikan bahwa Agape adalah Kasih Allah semata, sehingga manusia tidak mungkin memiliki kasih agape. Sesungguhnya kasih agape sebagai kasih yang tanpa pamrih (tidak tergantung pada objeknya) berarti Allah menunjukkan kasihNya, agar manusia ciptaanNya yang memiliki gambar dan rupa  Allah dapat mewarisi kasih agape tersebut. Itulah sebabnya di PB, Tuhan Yesus memperkenalkan pengampunan yang resiprokal, dengan mengatakan, “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga” (Mat. 6: 14).
Kembali ke kisah ibu Sihol, boleh jadi pemahamannya bahwa kasih agape hanya milik Allah semata, maka wajar kalau manusia mengampuni “sekedar”  tidak membalaskan sakit hati kepada yang menyakiti, tetapi tetap mendendam atau mengingatnya adalah perkara manusiawi.
Philia dan Eros dimengerti sebagai kasih milik manusia, memiliki pamrih, entah  berdasarkan hubungan darah atau sekedar “nafsu” atau keinginan untuk memiliki. Jika kedua tipe kasih ini yang dipahami menjadi milik umat manusia, maka sangat wajar bila dalam mengampuni kita kerap mengatakan, “saya mengampuni, tapi saya masih mendendam luka, atau belum dapat melupakan kesalahannya atau alasan apapun yang kita tambahkan setelah kata “tapi”.
Dampak pola pengampunan jenis ini sangat jelas, mereka memang berdamai, tetapi hubungan mereka tetap gersang, mereka bertegur sapa, tapi tidak lebih hanya agar khalayak menilai bahwa mereka berjiwa besar dengan mengampuni satu sama lain. Ketulusan hubungan yang semula ada sebelum mereka berselisih (konflik) tidak pernah hadir kembali.

MENGAMPUNI TANPA KATA “TAPI”
Untuk dapat mengampuni tanpa kata “TAPI” menurut hemat penulis, hanya dapat dilakukan jika kita memiliki kasih Agape, yaitu Kasih dengan sudut pandang Allah. Bagaikan bercermin, jika kita masih menutupi lubang yang ada diwajah kita dengan make up, boleh jadi orang lain tidak tahu bahwa diwajah kita ada lubang, tetapi kita pemilik wajah tahu persis akan keberadaan lubang tersebut.  Demikian halnya dengan sikap pengampunan kita terhadap orang lain, hanya kita yang tahu setulus apa kita mengampuni orang lain.
Mari mendalami makna Kasih Agape yang bukan monopoli milik Allah, tetapi yang telah dipesankan oleh Yesus untuk kita Implementasikan kepada sesama, melalui pengampunan tanpa syarat. Hanya dengan cara itu, kita dapat menghadirkan SYALOM (EIRENE), Damai sejahtera bahkan kepada mereka yang pernah menyakiti kita atau yang  kita sakiti. Dengan cara itu, kita akan memperoleh ketenangan pada jiwa kita. Selamat bejar dan berlatih. (ERH 21082011)  Tulisan ini dimuat Mercusuar edisi 22 September 2011.


Sabtu, 10 September 2011

Pengampunan Jalan kepada kebebasan

               Sebagai pengikut Kristus, sudah pasti kita dituntut menjadi orang-orang yang istimewa, artinya tidak biasa. Sebut saja kejahatan, selayaknya dibalas dengan kejahatan, sebagaimana thema film laga dan sinetron yang tak lepas dari “balas dendam”. Namum Yesus mengajarkan untuk mengasihi musuh dan berdoa buat orang yang menganiaya kita (Mat. 5:44).
Demikian halnya dengan pengampunan, secara sadar maupun tidak sadar, dunia telah mengajarkan kepada kita, bahwa mengampuni adalah sebuah kekalahan besar. Setiap orang yang mengampuni sesamanya di”persepsikan” kehilangan banyak hal. Rugi besar istilah orang dagang. Kalau kita mau untung, kita harus menghukum seberat-beratnya (menghakimi) orang yang bersalah, agar kita di”persepsikan” mendapat kemenangan besar.
  Setidaknya situasi tersebut terjadi pada jemaat di Roma, mereka yang memegang teguh peraturan-peraturan, termasuk soal makanan dan memelihara hari-hari tertentu, mengahakimi kelompok yang tidak melakukan hal tersebut sebagai “terdakwa”. Sebaliknya kelompok yang mempercayai kebebasan kristen, sehingga tidak lagi tunduk terhadap larangan soal makan dan hari-hari tertentu , menghina kelompok lain.
Masing-masing kelompok menggunakan pengetahuan dan pemahamannya bukan sebagai berkat bagi orang lain, tetapi sebagai sarana untuk mencari kesalahan orang lain. Masing-masing kelompok “asyik” untuk mencari kesalahan orang lain, sebagai sarana untuk menghakimi, bukan untuk bertumbuh dan saling menguatkan.
Menjadi Kristen tidaklah otomatis membuat kita mampu mengerti sepenuhnya anugerah Allah dan pola hidup baru di dalam kristus. Yusuf adalah tokoh yang mengerti benar akan hal itu. Saat Yakub meninggal dan saudaranya cemas akan pembalasan yang akan dilakukan Yusuf kepada mereka atas dosa masa lalu mereka, dan Yusuf memiliki kekuasaan dan kesempatan untuk membalaskannya. Tetapi yang diucapkan Yusuf adalah “ …aku inikah pengganti Allah? (Kej.50:19b), ini adalah pengakuan yang sempurna akan anugerah Allah, bahwa Yusuf tidak berkehendak “merampas” kedaulatan Allah, dan ia mengampuni dan menerima saudara-saudaranya tanpa syarat, bahkan menjamin kehidupan mereka.
Yusuf tidak berlaku seperti seorang hamba raja, yang berhutang sepuluh ribu talenta, saat hutangnya yang sangat besar dan bahkan tidak mungkin untuk dilunasinya, dihapuskan, oleh karena raja berbelas kasihan (Mat.18:24-27), tetapi  hamba itu gagal mengampuni orang lain yang berhutang padanya hanya seratus dinar, suatu jumlah yang sangat tidak berarti (Mat.18:28-30). Yusuf istimewa, karena ia memiliki pengakuan yang tidak biasa: “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, … (Kej. 50:20)
Tidak ada yang berkurang dari Yusuf saat dia mengampuni, justru yang terjadi dia menghilangkan seluruh beban masa lalunya, dan menggapai masa depan yang sangat cerah dan penuh dengan keberhasilan, sekalipun banyak orang yang mereka-rekakan yang jahat bagi dia. Anda ingin hidup terbebas dari masa lalu yang suram? Dapatkan kebebasan anda dengan cara mengampuni secara total, tanpa pernah merampas hak Allah untuk menghakimi. (ERH08092011) Dimuat pada Renungan Warta Minggu, 11 September 2011-GKI KP

Kamis, 04 Agustus 2011

Teologi “Kemelaratan”

Bacaan :          Yesaya 39 : 1-8

Tujuan : Mendiskusikan prespektif Kristen akan harta benda.

Pengantar
Membaca topik di atas, sudah barang tentu menghadirkan rasa “kecut” di hati anda. Lain halnya jika saya membuat topik Teologi Kemakmuran. Karena pada dasarnya siapa sih yang mau hidup melarat ? Yang jelas bahasan kita kali ini, bukan memperdebatkan, Teologi Sukses atau kemakmuran yang pada dasarnya menekankan bahwa orang Kristen yang beriman dan benar-benar mengikuti Allah pasti akan kaya, atau harus kaya. Atau membahas Teologi kemiskinan yang pada dasarnya menolak materialisme demi mengagungkan asketisme.
Terlepas dari apa penyebutannya, pada dasarnya yang dipermasalahkan dalam Teologi Sukses atau Miskin adalah, bagaimana Alkitab memandang harta benda bagi umat Tuhan. Kekristenan tidak menghalangi umatnya untuk memiliki harta benda, namun yang perlu disadari bahwa pada harta benda itu tersembunyi kekuatan spiritualitas yang baik dan spiritualitas yang jahat dan dasyat. Pesona harta benda dapat menarik hati manusia sedemikian rupa, sehingga manusia berelasi mendalam dan emosional dengannya.

Belajar dari Hizkia

Hizkia anak Ahas pada usia dua puluh lima tahun, telah menjadi raja Yehuda. Hizkia adalah seorang raja yang baik. Kitab Raja-raja mencatat tiga hal kebaikan Hizkia. Pertama, Ia melakukan apa yang benar dihadapan Tuhan (2 Raj. 18:3); Kedua, Hizkia percaya kepada Tuhan, Allah Israel, dan tidak ada raja-raja Yehuda sebelum dia sesudahnya yang sama seperti dia (2 Raj. 18:5); Ketiga, Ia berpaut kepada TUHAN, tidak menyimpang dari pada mengikuti perintah Tuhan dan berpegang pada perintah-perintah TUHAN (2 Raj. 18:6).
Tuhan berpihak pada Hizkia, sehigga pada masa kepemimpinannya Hizkia mendapat kekayaan dan kemuliaan yang sangat besar. Ia juga telah membendung aliran Gihon di sebelah hulu, dan menyalurkannya ke hilir, ke sebelah barat, ke kota Daud. Hizkia berhasil dalam segala usahanya. (2Taw.32:27-31) Terowongan air yang dari mata air Gihon, telah membuat penduduk Yerusalem tetap mendapat air meskipun musuh mengepung Yerusalem.
Ketika berusia 39 tahun, Hizkia pernah sakit keras dan divonis bahwa ia akan meninggal dunia (Yes. 38 :1). Tetapi ia berdoa minta kesembuhan dari Tuhan dan Tuhan mengabulkan doanya. Ia sembuh dan Tuhan memperpanjang umurnya selama 15 tahun (Yes. 38 :5). Kesembuhan Hizkia disertai dengan tanda ajaib. (Yes. 38 :7-8).
Tanda ajaib ini ternyata telah menyebar, bahkan hingga ke manca Negara. Sesudah kesembuhannya, raja Babel, Merodakh Baladan mengirim utusannya dengan tujuan untuk mendengar penjelasan mengenai tanda ajaib itu. Tetapi apa yang dilakukan oleh Hizkia. Bukannya ia bersaksi akan kebesaran Tuhan yang telah menyembuhkan dan memberkatinya, tetapi yang dilakukannya adalah memamerkan seluruh harta benda yang dimilikinya. (Yes. 39: 2).
Hati Hizkia telah melekat pada harta benda yang dimilikinya, dia tidak lagi menceritakan bagaimana campur tangan Tuhan dalam hidupnya, tetapi bagaimana dia melihat dirinya memiliki kekuatan seiring dengan kepemilikan harta bendanya. Tidak ada lagi jarak pembatas antara Hizkia dengan harta bendanya. Kekuatan spiritualitas jahat yang dasyat pada harta benda telah mempengaruhi Hizkia. Harta benda telah menjadi berhala bagi Hizkia. Hizkia telah menyingkirkan posisi Tuhan itu dengan harta bendanya.
Tuan yang jahat itu telah menjadi tuan bagi Hizkia, sehingga ia juga ikut menjadi jahat. Ia menjadi jahat di mata Tuhan (2Taw. 32:25) dengan menyebutnya sebagai orang yang tidak tahu berterima kasih kepada Tuhan dan menjadi sombong. Ternyata kejahatan Hizkia tidak berhenti hanya di situ. Saat Yesaya menyampaikan hukuman yang akan menimpa kerajaannya dan keturunannya (Yes. 39:6-7), Hizkia bahkan tidak menghiraukannya dan yang Ia pikirkan  hanya kepentingannya sendiri saja (egoisme) yang penting itu tidak menimpa diriku (Yes. 39 :8).

Pertanyaan Diskusi :
1.    Bagaimana menurut saudara realitas “pemujaan” terhadap harta benda pada masa kini di masyarakat kita ?
2.    Menurut saudara, apakah yang menyebabkan orang menganggap harta benda sebagai kemuliaannya ? adakah kebudayaan di masyarakat yang mendukung terjadinya hal itu?
3.    Bagaimana kita seharusnya membuat pembatas yang tegas antara kita dengan harta benda yang kita miliki ?
Bacaan :  Lentera Umat Edisi 12.

Disampaikan pada acara ibadah (PA) Bapekkris PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Jakarta, 05 Agustus 2011  di Gedung Menara BTN Lt. 12

Minggu, 24 Juli 2011

Memilih dengan Hikmat Allah

Setiap pribadi pasti pernah bahkan kerap memilih, ada pilihan yang ringan, seperti harus memilih jalur mana untuk pulang agar tidak terkena macet, hingga pilihan yang pelik menyangkut masa depan. Saat selesai SMA, saya juga harus memilih, meneruskan sebagai karateka atau melanjutkan sekolah. Keseluruhan pilihan memiliki konsekuensi, hingga wajar jika kita mengatakan bahwa “hidup penuh dengan pilihan”.

Demikian halnya dengan Lot, saat harus memilih tempat dia hidup, agar tidak lagi terjadi pertikaian antara hambanya dan hamba Abram (sebelum menjadi Abraham). Lot memilih berdasarkan indranya, pandangan matanya bahwa seluruh Lembah Yordan banyak airnya, seperti taman TUHAN (Kej. 13:10), pilihannya pada akhirnya, membawa konsekuensi buruk baginya dan keluarganya, karena tempat yang elok menurut pandangan matanya ternyata dihuni oleh orang yang penuh dengan dosa dan jahat, itulah Sodom yang kemudian dimusnahkan oleh Allah.

Salomo merupakan contoh terbaik dalam memilih, saat dia diberi kesempatan Allah untuk meminta, "Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu." (1Raj.3:5), ia tidak meminta apa yang kasat mata, seperti yang dilakukan Lot, tetapi yang ia minta adalah “berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat” (1 Raj. 3:9).

Pertanyaannya adalah, mengapa Salomo dapat meminta hal yang begitu indah?, hingga ia mendapatkan anugerah yang luar biasa dari Allah seperti yang dikatakan Allah sendiri “… sesungguhnya Aku memberikan kepadamu hati yang penuh hikmat dan pengertian, sehingga sebelum engkau tidak ada seorang pun seperti engkau, dan sesudah engkau takkan bangkit seorang pun seperti engkau”. (1 Raj.3:12). Jawabannya karena Salomo menunjukkan kasihnya kepada Tuhan dan hidup menurut ketepan-ketetapan Daud, ayahnya (1Raj3:3a), artinya Salomo bergaul akrab dengan Tuhan, hingga hikmat Tuhan ada dalam dirinya. Paulus juga menegaskan hal ini bahwa “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, …” (Rom. 8: 28a)

Demikianlah seyogianya kita dalam memilih, kepada siapakah kita akan bertanya jalan menuju ke suatu tempat ? akankah kita mempercayai petunjuk jalan yang diberikan oleh seseorang yang belum pernah ke tempat itu?. Tidak kah kita kawatir akan dihantar ke tempat yang tidak seharusnya ?

Tetapi jika yang kita ikuti adalah petunjuk jalan dari pemilik tempat itu, masikah tersisa keraguan ? Mari simak apa yang dikatakan si empunya tempat, Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. (Yoh.14: 6) Selamat Memilih ! (ERH) Tulisan ini disampaikan dalam Renungan Warta GKI-KP Minggu 24 Juli 2011.