SELAMAT DATANG DI "TEOLOGI KAUMAWAM"

Salam dalam Kasih Tuhan Yesus Kristus. Terimakasih telah mampir di blog yg sederhana ini. Kami sangat berterimakasih bila saudara berkenan memberi tanggapan atas tulisan yang saudara baca di blog ini. Karena dengan tanggapan itu kami akan dapat belajar dan berbagi, sebab untuk itulah blog ini dibuat agar hidup kita tetap terpelihara dalam persekutuan. Semua tulisan dalam blog ini dapat dikutip dengan tetap mencantumkan sumbernya. Kiranya Tuhan Yesus memberkati kita. Pax Vobiscum, Erianto Hasibuan

Minggu, 21 Juli 2013

Masih adakah waktu buat Tuhan ?


Oleh : P. Erianto Hasibuan, M. Div

            Pagi tadi saat mengikuti kebaktian di gereja, hati ini terusik saat menyaksikan seorang bapak paruh baya yang duduk di sebelah. Entah karena sibuknya si bapak, ia ke gereja dengan bekal dua gadget dan satu tablet. Sejak awal kebaktian ia sudah disibukkan dengan kedua gadgetnya dan satu tablet saat mulai kotbah. Entah sepenting apa aktivitasnya hingga ia sibuk mengirimkan pesan secara bergantian dari gadget yang satu ke yang lain.

            Mungkin pemandangan seperti ini banyak ditemukan di tempat lain. Tetapi peristiwa itu menjadi inspirasi penulis untuk menulisan karena kebetulan kotabah di mimbar tadi berkaitan dengan peristiwa Marta dan Maria. (Luk. 10 : 38-42)
           
            Ada benarnya apa yang banyak dibicarakan orang menyangkut kehadiran smart phone akhir-akhir ini, apakah itu HP, BB, iPhone, iPad, Tablet dan apapun jenis dan namanya yaitu “menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh”.  Sudah lazim melihat sebuah keluarga duduk di rumah makan sambil menunggu pesanan, tetapi tidak satu pun dari mereka yang berkomunikasi satu sama lain, tetapi masing-masing tertunduk menatap gadgetnya dengan serius sambil tersenyum sendiri. Padahal semula tujuan mereka makan ke luar bukan semata karena tidak ada  makanan di rumah, tetapi untuk “wisata kuliner” dan menjalin keakraban, karena sepanjang hari bahkan minggu masing-masing telah disibukkan oleh urusan masing-masing.  Sayangnya, makna kebersamaannya hilang karena di renggut oleh kehadiran gadget yang lebih memesona dibandingkan dengan keakraban “live” tiap individu.

            Tak ayal lagi dengan si bapak di sebelah  penulis, dia memang ke gereja untuk memuji dan memuliakan Nama Tuhan. Secara fisik yah, tetapi apakah dia memberi waktu dan hatinya pada hadirat Tuhan yang tidak lebih dari dua jam ?  Itulah yang dilakukan Marta, saat Yesus mampir ke rumahnya, ia sibuk dgn urusan yang dia anggap penting bagi Tuhan, tanpa pernah bertanya “apakah yang Tuhan ingin aku lakukan buat Tuhan?”  

            Saat ia merasa tidak diperhatikan oleh Tuhan Yesus, sementara kelelahan melingkupi dirinya, ia mulai protes kepada Tuhan.  Protes tanda kecemburuan mulai hadir saat ia mempersalahkan saudaranya Maria yang hanya duduk manis di dekat Yesus. Mari kita lihat lebih jauh produk karakter Marta. Orang banyak akan melihat Marta adalah orang yang dekat dengan Yesus dan mengenal Yesus dengan baik, karena Tuhan kerap mampir di rumahnya. Tetapi sesungguhnya Marta tidak mengenal Yesus dengan baik, perhatikan saat saudaranya Lazarus meninggal dunia dan Yesus datang, keraguan Marta mempertegas “aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman” (Yoh. 11:24b).

            Marta ternyata tidak mengenal Yesus dengan baik, walaupun ia kerap ada di mana Yesus ada. Ia hadir tetapi tidak memberi hatinya, ia ada tetapi seolah tiada. Berapa banyak kita memberi waktu “untuk Tuhan” menurut pemikiran kita, bukan menurut Tuhan. Kita mungkin menghabiskan waktu berjam-jam untuk melayani dan bekerja untuk aktivitas gerejawi atau rohani, tetapi kita melupakan memberikan hati dan telinga kita buat mendengar apa yang Tuhan mau kita lakukan.

            Saat kita lelah dan harapan-harapan kita tidak tergapai, kita mulai memprotes Tuhan seperti Marta mempersalahkan saudaranya Maria yang duduk saja. Kita mulai memperbandingkan diri kita dengan orang lain yang “kelihatannya” tidak seaktif kita di gereja atau aktivitas lainnya. Pada hal sesungguhnya Tuhan justru menertawakan kita, sebagai mana Yesus menjawab Marta : “Marta, Marta, Engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara,  tetapi hanya satu yang perlu : Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil daripadanya.” (Luk. 10: 41b-42)
           
            Masih adakah waktu untuk Tuhan? Bukan dimaksudkan untuk menghitung kuantitas semata, tetapi kualitas. Saat kita menyatakan bahwa waktu ini untuk Tuhan di Gereja, Kebaktian Rumah Tangga, PA dan apapun itu, biarlah itu seratus persen untuk Tuhan.  Jika Gadget membuat hatimu terpaut tinggalkanlah itu, tidak sekedar silent. Jika kebaktian Rumah tangga atau PA dimulai, lupakanalah seluruh aktivitas yang lain, ikutilah dengan baik, jika memang belum siap lebih baik kita tunda. Anak kecil sekalipun harus dididik untuk memberi waktu untuk Tuhan secara utuh. Bukan hanya kehadiran semata tanpa makna dan pemahaman.

Semoga tidak perlu lagi ada tulisan di gereja sebelum ibadah untuk menonaktifkan HP atau sejenisnya, karena seluruh jemaat telah “mengharamkannya” untuk ikut ibadah bersamanya.  erh-bth, 21072013.

Minggu, 19 Mei 2013

Masih adakah kasih tanpa syarat ?

-->
Oleh : P. Erianto Hasibuan
Saat isteri ku menanyakan bahwa ia mengasihi aku sejak awal tanpa syarat, rasanya seperti utopia, walau ia bukan tipe yang idealis. Kalimat “kasih tanpa syarat” menjadi kalimat yang langka saat ini, karena yang lebih populer adalah kata saling, dalam arti, saling memberi dan menerima (take and give).
Tidak hanya di dunia sekular, bahkan masuk melampaui pintu gereja dan memberi corak dalam kehidupan berjemaat. Saling mengasihi dimaknai dengan senantiasa membalas kebaikan dengan kebaikan, menjadi kelaziman bahkan mengarah kepada kewajiban. Itulah etika dan pengajaran yang diterima secara universal.
Seolah tidak ada yang salah, tetapi pada kenyataanya yang terjadi adalah semakin meningkatnya keegoisan setiap individu, karena pada dasarnya kebaikan yang dilakukan berpusat pada kepentingan diri sendiri.  Saat kebaikan yang ditebar tidak menghasilkan seperti yang diharapkan, maka hadirlah sejumlah kekecewaan, bahkan cercaan.
Kasih tidak ubahnya bagaikan iklan yang senantiasa menyertakan syarat ketentuan berlaku. Bahkan sejak dalam PL (Perjanjian Lama) hingga masa Yesus, kasih bersyarat tumbuh subur. Lihat saja bagaimana ketatnya peraturan (tradisi) kaum Yahudi yang melarang keras mereka bergaul dengan kaum Samaria, demikian halnya dengan bangsa nonyahudi lainnya. Penulis kitab Kisah Para Rasul bahkan dengan gamblang menceriterakan, bagaimana perselisihan pengikut Kristus dari golongan bersunat (sebutan untuk kaum Yahudi) dan tak bersunat (sebutan untuk kaum bukan Yahudi) atas peristiwa pertemuan Petrus dengan Kornelius (Kis. 11 : 1-18).
Rasul Petrus sendiri yang pernah hidup bersama Yesus, mengalami pergumulan mendalam untuk memahami bahwa Kasih itu tanpa batasan, konon lagi para pengikutnya. Bersyukurlah kita yang hidup di era ini, yang memiliki Alkitab yang menyaksikan bagaimana Rasul Petrus diubahkan sudut pandangnya dalam melihat tradisi nenek moyangnya dalam relasinya dengan bangsa lain. Kasih yang dipahami Rasul Petrus berikutnya adalah kasih yang tanpa dibatasi syarat asal bangsa (Kis. 11:17-18).
Penyaliban Yesus, merupakan karya keselamatan terbesar sepanjang sejarah, Yesus memperdamaikan semua orang, tanpa peduli ia percaya atau tidak kepadanya, bahkan mereka yang menyalibkan dan menyiksanya, Ia memberikan diriNya untuk menjadi korban tebusan agar mereka memperoleh jalan mencapai keselamatan.  Coba lihat, adakah Yesus meminta syarat kepada Sang Bapa saat Ia berdoa di bukit getsemani? Ditengah kegundahanNya untuk melaksanakan tugasNya, Ia hanya menyatakan bahwa “Jangan kehendak ku tetapi kehendak Mulah yang jadi”, artinya Ia tidak meminta apapun sebagai syarat agar umat  manusia di perdamaikan dengan Bapa. Kasih Nya nyata, senyata Allah memberikan sinar mentari kepada siapa saja, yang percaya atau tidak, baik atau jahat.  Lalu mengapa saat ini kita selalu meminta syarat dalam mengasihi ? Seolah kita mendapatkan kasih itu dengan usaha kita.
Pemahaman kita akan kasih tanpa syarat (Agape, kasih yang tidak tergantung pada objeknya) pada masa ini memudar dengan cepat. Seolah terhimpit oleh kelaziman dan pengajaran universal atas saling, lihat saja sebuah acara PA (Pemahaman Alkitab) yang dibuat di gereja, pesertanya tidak lebih dari jumlah jemari, tetapi kala PA di buat di rumah jemaat, jumlahnya akan meningkat drastis bahkan tak lagi dapat dihitung dengan jemari tangan dan kaki. Mengapa demikian? Karena kita perlu saling menghargai, jika kita tidak hadir di rumah si A, bisa jadi pada saat di rumah kita si A juga tidak hadir, itulah dahsyatnya formula saling.
Mari melihat kembali pengajaran Yesus tentang Penghakiman Terakhir (Mat. 25 : 31-46).  Saat Raja itu mengatakan kepada mereka yang disebelah kanan Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh BapaKu, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan (Mat. 25: 35), Siapakah mereka yang masuk dalam kelompok itu? yaitu mereka yang memberi makan kepada yang lapar, memberi minum kepada yang haus, memberi tumpangan kepada orang asing, memberi pakaian kepada yang telanjang, melawat yang sakit,  mengunjungi orang dipenjara.  Apakah semua orang yang melakukan hal demikian mendapat bagian dalam Kerajaan yang telah disediakan?  Ternyata tidak, karena mereka yang melakukan dengan tulus itu pun bertanya. Tuhan bila manakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan memberi Engkau minum? … (Mat. 25 :38 …) 
Yesus menjelaskan dengan  tegas “ Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu melakukannya untuk Aku”. (Mat 25: 40).  Kebaikan sebagai wujud rasa kasih yang kita lakukan kepada mereka yang paling hina, tentu tanpa kata saling.  Sebab mereka yang paling hina, hanya dapat menerima tanpa memberi. Pada saat itulah kita dapat menyatakan kasih tanpa syarat.  Pengajaran Yesus ini menjelaskan kepada kita dengan tegas, bahwa hanya dengan kasih yang demikian kita dapat merefleksikan kasih Allah (Agape) kepada sesama.
Seorang pengkotbah mengelompokkan kasih dengan kalimat yang sederhana, menjadi tiga, yaitu kasih jika, kasih karena dan kasih walaupun.  Kasih jika, adalah kasih yang diberikan kepada pihak lain, jika pihak lain melakukan sesuatu untuk kita. Bagi muda mudi misalnya, seorang pria mengatakan akan mengasihi si wanita itu, jika ia menerima ku sebagai kekasihnya.  Kasih karena, adalah kasih yang kita berikan kepada seseorang karena ia adalah saudara ku, atau karena ia adalah atasanku. Kedua kasih ini sarat dengan kelaziman saat ini, yaitu untuk Saling. Sedang kasih walaupun, merupakan kasih yang murni. Aku mengasihi dia walaupun ia orang yang paling hina dan aku tidak dapat berharap apapun darinya. Lebih jauh lagi, seperti Yesus mengasihi kita walaupun kita masih berdosa.
Selama ada hitungan matematis dalam kita berbuat baik kepada orang lain, itu adalah kasih yang masih berpusat pada diri sendiri atau kasih dengan tujuan saling, bukan kasih tanpa syarat. Misalnya aku memberi seratus agar aku mendapatkan seratus atau bahkan lebih, atau tidak masalah aku mendapatkan sepuluh. Tetapi kasih tanpa syarat adalah memberi seratus dengan berharap nol, karena pemberian itu didasarkan pada rasa syukur atas besarnya Kasih Tuhan yang sudah kita terima melalui penebusanNya.
Seyogianya demikianlah kita di dalam kehidupan kita, kasih terhadap sesama biarlah lahir karena kita sudah merasakan kasih Yesus yang begitu besar untuk kita, sehingga kita dapat mengasihi sesama, bukan lagi untuk kepentingan kita, tetapi lebih untuk menyatakan kasih Yesus kepada kita. Itulah makna Paskah sesungguhnya dalam keseharian kita, yaitu untuk menyatakan bahwa kasih tanpa syarat itu masih ada dan nyata, senyata terang mentari dan cahaya rembulan yang dapat dinikmati siapa saja tanpa syarat. SELAMAT PASKAH  (ERH Bth 10032012)
Tulisan ini dimuat dalam Buletin Mercusuar edisi 28 Maret 2013.

Rabu, 28 November 2012

Masikah keluarga menjadi tempat menabur asa ?

Oleh : P. Erianto Hasibuan

Judul tulisan di atas bukan untuk menggambarkan pesimisme bahwa keluarga bukanlah tempat yang nyaman lagi utuk menabur asa (harapan), atau dengan kata lain bukanlah suatu padangan yang mereduksi peran keluarga. Tetapi mencoba melihat, apakah ditengah-tengah perubahan era seperti hadirnya finger generation yang lebih menikmati bermain gadget daripada bercengkrama satu sama lain. Masikah kebersamaan di dalam keluarga efektif menjalin komunikasi satu sama lain, ditengah persaingan hiburan yang mengasikkan seperti televise, game dan gadget. Setiap anggota keluarga seolah kehabisan waktu untuk bercengkrama satu sama lain, sekalipun jarak tak membatasi mereka. Dalam kondisi tersebut, apakah keluarga masih mampu menjadi tempat untuk menabur asa ?
Belajar dari Keluarga Timotius
Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu. (2 Tim. 1:5)

Menarik untuk mengenal lebih jauh keluarga Timotius di era heteroginitas saat ini, Timotius dilahirkan oleh seorang ibu Yahudi yang telah menjadi percaya sedangkan ayahnya seorang Yunani. Alkitab tidak mencatat secara eksplisit apakah ayah Timotius orang percaya atau tidak. Tetapi Alkitab menegaskan secara eksplisit, bahwa iman yang tulus ikhlas dalam diri Timotius tidak lepas dari peran nenknya Lois dan ibunya Eunike
Sebagai seorang Yahudi, Lois dan Eunike tentu sangat kental dengan ajaran Musa yang memerintahkan umatnya untuk mengajarkan hukum Taurat kepada anak-anak mereka (Ul. 32:45) sebagaimana mereka sendiri harus memperkatakan kitab Taurat dan merenungkannya siang dan malam, agar mereka dapat bertindak hati-hati dengan demikian mereka akan mendapatkan keberhasilan (Yos. 1:8). Berlandaskan pada perintah tersebut dapat dipastikan bahwa Lois dan Eunike sejak usia dini, kerap memperbincangkan Firman Allah kepada Timotius, sehingga Timotius muda mendapatkan pengajaran sejak dini untuk mengenal kebenaran Firman Tuhan.
Pertanyaan kepada kita pribadi lepas pribadi, masihkah suasana seperti itu ada dalam keluarga kita ? Masikah kita memiliki waktu untuk memperbincangkan Firman Tuhan dengan keluarga kita? ataukah kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk menikmati permainan yang begitu mengasyikkan dan memperbincangkan kenikmatan dari permainan tersebut?.
Memperbincangkan kebenaran Firman Tuhan di dalam keluarga tentu bukan sekedar sebuah pengajaran yang monolog, tetapi menjadi diskusi yang hangat dan bahkan terefleksi dari prilaku orang tua sebagai pemberi contoh. Lihat misalnya pengakuan Paulus akan ketulusan iman Timotius yang diperoleh pertama-tama dari neneknya Lois dan di dalam ibunya Eunike. Artinya Nenek dan Ibu Timotius sesungguhnya telah memberikan contoh (teladan) kepada Timotius muda untuk tumbuh dengan asa yang kuat akan penyertaan Tuhan dalam hidupnya. Faktor itulah yang membuat Timotius memiliki karakter terpuji, sehingga ia dikenal baik oleh saudara-saudara di Listra dan Ikonium (Kis. 16 :2)
Asa Vs Disiplin
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah sebuah keniscayaan, perkembangan itu senantiasa mempengaruhi pola pikir dan pola hidup insan sesuai eranya. Tidak ada yang salah dengan perkembangan tersebut sepanjang tidak merubah karakter ke imanan.  Bagaimana agar karakter ke imanan tersebut tetap bertahan ? Carl Jung  dengan teori kepribadian psikoanalitiknya mengemukakan bahwa tingkah laku manusia ditentukan tidak hanya oleh sejarah individu dan rasi (kasualitas) tetapi juga oleh tujuan-tujuan dan aspirasi-aspirasi (teologi).
Teori ini setidaknya membantu kita untuk menjelaskan secara ilmiah bahwa apa yang dilakukan Lois dan Eunike kepada Timotius adalah penguatan atas asa yang berupa tujuan-tujuan yang disampaikan secara berulang dan terus menerus. Alam bawa sadar Timotius dibentuk oleh asa yang dibangun oleh Ibu dan neneknya.
Tidak sedikit keluarga saat ini yang membangun kepribadian anak bukan dengan menabur asa, tetapi melalui pembiaran. Membiarkan si anak melakukan apapun demi alasan memberi kebebasan berkembangnya kepribadiaan si anak. Tidak jarang orang tua memberikan apa saja yang si anak inginkan, sekalipun si anak belum mampu untuk menyeleksi dengan baik kemanfaatan akan benda tersebut.
Membiarkan si anak berteriak sekerasnya di keramaian, atau melakukan sesuatu yang tidak sewajarnya dan mengusik ketenangan orang lain, atau mengizinkan si anak membawa dan memainkan gadget ataupun game di sekolah minggu, atau di tempat lain, di mana seharusnya si anak harus mendengarkan dengan tekun, menurut penulis hal ini bukanlah bagian dari pendewasaan karakter, karena pembentukan karakter disamping dengan memberi asa namun juga dengan disiplin. Hanya dengan kedisiplinan seorang ibu seperti Eunike dapat memiliki waktu dengan Timotius muda bercengkrama dan berdiskusi akan imannya kepada anaknya.
Tanpa dibarengi dengan kedispilinan adalah kemustahilan bagi sebuah keluarga untuk memiliki waktu bersekutu bersama. Menjadikan persekutuan di dalam keluarga menjadi sebuah kebutuhan memerlukan disiplin dan konsistensi, tetapi manakala hal itu tercipta, anak dan anggota keluarga secara tidak langsung sedang mengasah kompetensi yang dimilikinya, setidaknya setiap individu akan belajar untuk berani mengemukakan pendapat dan menghargai pendapat orang lain dan tentunya menjadi bertanggung jawab. Penulis melihat perilaku ini dilakukan oleh Ompung (kakek/nenek dalam etnis Batak) penulis semasa hidupnya, mereka tidak pernah keluar rumah sebelum bersekutu bersama, demikian juga saat sebelum tidur. Seorang isteri (nenek) yang buta huruf, pada akhirnya mampu membaca sendiri Alkitab (Bibel-Alkitab berbahasa Batak) karena ketekunan dan kedisiplinan si suami (kakek) untuk mengajarinya. Contoh ini membekas sangat jelas bagi penulis, sekalipun beliau tidak pernah meminta penulis untuk melakukan hal demikian, tetapi contoh yang penulis saksikan saat masih kanak-kanak menjadi pelajaran yang tak pernah lekang dari ingatan.
Harapan
Dalam era perkembangan teknologi informasi dan hiburan yang sangat pesat saat ini, seolah menjadi kemustahilan untuk memiliki waktu bersama meski hanya kurang dari lima belas menit, tanpa ditemani oleh peralatan teknologi informasi. Ketergantungan itu terjadi, selain karena fungsi tetapi juga karena mengasikkan. Orang tua sebagai pemimpin keluarga perlu lebih kreatif lagi untuk membuat acara bersekutu bersama keluarga menjadi menarik dan diminati anggota keluarga lainnya. Saat acara itu menjadi kebutuhan, maka keluarga akan menjadi tempat menabur asa yang paling efektif bukan hanya pada acara bersekutu bersama untuk membahas Firman Tuhan, tetapi dalam setiap interaksi dalam keluarga, merupakan ajang pemberi asa tanpa terkesan menggurui. 
Semoga persekutuan yang dibangun di setiap keluarga dapat mendekatkan yang jauh dan mengakrabkan yang dekat. (erh 25082012bdj).

Tulisan ini dimuat dalam Buletin Mercusuar  Edisi 26 September 2012  p. 30-32

Minggu, 28 Oktober 2012

Bocah yang tak pernah memberi

Oleh : P. Erianto Hasibuan
“Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku." (Mat. 18:5)

                Persaingan untuk mendapatkan posisi terbaik sudah ada sejak era purbakala. Persaingan di dorong oleh ambisi untuk mendapat yang terbaik. Tidak kecuali dengan para murid Yesus, mereka berdebat untuk memperbincangkan, siapa diantara mereka yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Meski yang mereka perdebatkan siapa yang terbesar di dalam Kerajaan Sorga, namun pada pokoknya mereka sedang memperbincangkan siapa yang terbesar diantara mereka.
                Mengapa persaiangan ini senantiasa hadir di dalam setiap lini kehidupan? karena setiap orang ingin mendapatkan lebih, bukankah yang terbesar akan mendapatkan bagian terbesar? Itulah pemahaman yang ada diantara para murid, sebagaimana yang diutarakan “the Venerable Bede” (Barclay, 2005 hal.183) bahwa pertengkaran ini timbul berhubung Yesus telah membawa serta Petrus, Yohanes dan Yakobus ke atas gunung pada waktu Yesus dimuliakan (Mat.17: 1). Murid-murid yang lain merasa iri hati. Penulis injil Matius memang tidak menuliskan pertengkaran ini secara eksplisit, tetapi penulis injil Lukas secara eksplisit menuliskannya. (Luk. 9: 46-48)
                Pemahaman para murid akan persaingan, oleh Yesus diluruskan dengan mengambil contoh seorang anak kecil (bocah). Pertanyaannya tentu kenapa harus bocah? apakah tidak ada ilustrasi lain yang lebih tepat utntuk digunakan Yesus ? Bocah, yang ditempatkan di antara keduabelas murid Kristus itu, tentu saja tidak berdiri di situ penuh kesombongan. Kita dapat bayangkan, bahwa sebaliknya anak itu merasa agak malu ditengah-tengah orang dewasa itu, dan dapatlah dikatakan bahwa anak itu menginsafi kekecilannya (Heer, 2003). Di sinilah kepiawaian Yesus dalam memberikan contoh. Yesus meminta mereka untuk bertobabat dan menjadi seperti anak kecil (bocah) dan merendahkan diri menjadi seperti anak kecil (bocah) (Mat. 18:3-4). Pertengkaran para murid jelas dipicu pada rasa untuk “meninggikan diri”, mereka ingin tahu siapa di antara mereka yang terbesar, apakah Yakobus sebagai saudara Yesus ?, atau Petrus seorang yang memberikan pengakuan spektakuler akan kemesiasan Yesus? atau bahkan murid yang lain. Ambisi ini ternyata tidak hanya sebatas di antara para murid, tetapi meluas ke pada orang tua para murid, lihat saja bagaimana ibu Yakobus dan Yohanes yang secara khusus datang menemui Yesus dan meminta agar kedua anaknya mendapat posisi terhormat (Mat. 20: 21).
                Sifat dasar dari seorang bocah adalah ketulusan hatinya, tergambar dari keluguannya. Kita kerap tertawa melihat tingkah pola seorang bocah, karena reaksinya adalah reaksi spontan tanpa kamuflase (kepura-puraan). Bandingkan sifat itu dengan sifat para murid yang telah melakukan kalkulasi, apa yang akan saya dapatkan dengan mengikut Yesus. Sekalipun tidak dikatakan secara eksplisit tetapi pada kesempatan yang lain, Petrus dengan segala sifat ekspresifnya mempertanyakan, apa yang akan diperolehnya setelah ia mengikuti Yesus. (Mat.19:27)  Adakah seorang bocah yang berkenan bermain atau melakukan sesuatu dengan temannya mempertanyakan upah yang akan diterimanya? Sifat bocah penuh dengan sukacita, ia akan melakukan apapun yang ia sukai dengan suka cita, tanpa memperhitungkan seberapa banyak waktu dan energi yang telah dan akan ia keluarkan atau apa upah yang akan dia dapatkan. Tidak demikian dengan orang dewasa, penuh dengan perhitungan. Demikian halnya dengan peran yang akan dimainkan si bocah, ia tidak akan mempertanyakan apakah ia akan jadi pemimpin atau sekedar penggembira, baginya bisa ikut serta dalam aktivitas kelompok mereka adalah sebuah sukacita besar. Karekter inilah yang ingin dihadirkan Yesus melalui perumpamaan seorang bocah.
                Dengan karakter demikian,  pada akhirnya Yesus sampai pada inti yang akan disampaikan kepada para murid perihal motif menjadi murid Yesus, dengan mengumpamakan menyambut seorang bocah sebagai menyambut Yesus.


Motif Pelayanan
                Anda dan saya tentu memiliki motif yang berbeda untuk mengambil bagian dalam pelayanan. Setiap motif yang disampaikan tentu memiliki alasan masing-masing. Namun bagaimana sesungguhnya alasan untuk melayani sebagai murid Yesus ?
                Seorang bocah adalah orang yang lemah, yang menggambarkan tentang orang yang memerlukan sesuatu (Barclay, 2006 hal. 371). Bocah tidak memiliki apapun yang bersumber dari dirinya, kecuali kalau ia diberi. Motif pelayanan terhadap sesama menurut konteks ini adalah MEMBERI bukan menerima, sebagaimana yang dipertengkarkan para murid. Menjadi yang terbesar menurut persepsi para murid saat itu adalah untuk mendapatkan lebih dari yang lain. Menerima saudara (dalam arti seiman maupun sesama manusia ciptaan Tuhan) menurut konteks pengajaran Yesus adalah memberi kepada mereka yang memerlukan.
                Seorang bocah tidak memiliki kekuasaan untuk memberikan anda kenaikan jabatan, bila anda menerima dan melayaninya, ataupun membantu anda untuk memenangkan sebuah tender, atau menambah pundi-pundi harta anda. Yang dapat anda lakukan kepada bocah hanya memberi dan memberi. Memberi hidup bagi pelayanan adalah membantu dan mencintai orang yang di mata dunia tidak mempunyai apa-apa, maka anda dan saya sudah melayani Allah. Jikalau anda bersedia untuk mengorbankan hidupmu untuk melakukan hal-hal yang kelihatannya tidak penting ini dan tidak pernah mencoba untuk menjadi apa yang oleh dunia disebut besar, maka anda akan besar di hadapan Allah (Barclay, 2005 hal. 183).
                Barclay dengan elok menuliskna cerita A.J Cronin mengenai juru rawat desa yang ia kenal ketika berprakterk sebagai dokter. Selama dua puluh tahun, seorang diri juru rawat itu melayani desa yang jaraknya sepuluh mil. “Saya takjub,” kata dokter itu, “atas keberadaannya, keteguhan hati dan keramahtamahannya”. Ia rasanya tidak pernah merasa lelah pada malam hari untuk memenuhi panggilan yang mendadak. Gajinya hanya pas-pasan saja, dan pada suatu malam yang larut sesudah suatu hari yang sangat giat, saya mengajukan protes kepadanya, “ Suster, kenapa anda tidak meminta mereka untuk membayar lebih banyak lagi? Allah tahu bahwa anda layak untuk itu”.  Juru rawat itu menjawab : ”Kalau Allah tahu bahwa saya layak untuk itu, maka hal itu sudah cukup bagiku.” Ia bekerja bukan hanya bagi manusia, tetapi bagi Allah.
                Tidak masalah apa motif anda dan saya saat ini untuk melayani, tetapi mari memperbaharui motif pelayanan kita hingga kita dapat tidak sekedar mengatakan, tetapi melakukan seperti apa yang disampaikan Paulus “Upahku ialah ini : bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil”. (1 Kor. 9:  18). Jadi tidak peduli saya menjadi apa dan orang lain menjadi apa, yang penting saya dapat memberi dan memberi tanpa memperdebatkan apakah orang lain juga akan memberi seperti yang saya lakukan. SELAMAT MEMBERI untuk MEMBERI. (erh 19052012 pwt) 
Tulisan ini dimuat dalam Buletin Mercusuar Edisi 25 Juli 2012.   

Bacaan :
Barclay, William, The Daily Bible Study : The Gospel of Mark,  Diterjemahkan oleh Wenas Kalangit, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2006.
Barclay, William, The Daily Bible Study : The Gospel of Luke,  Diterjemahkan oleh A.A Yewangoe, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2005.
Heer, J.J. de, Tafsiran Alkitab : Injil Matius pasal 1-22,  BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2003.
http://teologiawam.blogspot.com  di akses 18 Mei 2012. 

Rabu, 18 Juli 2012

Lima belas tahun


Saat sebelum menikah pernah sekali waktu aku berbincang dengan seorang tua, ia menceritakan dan memberi nasehat bagaimana sebuah pernikahan akan mengalami titik kritis di usia pernikahan 5 tahun, 10 tahun dan 15 tahun. Saat usia pernikahan 5 tahun menurut ybs, sang suami mulai kehilangan perhatian oleh sang isteri karena harus berbagi waktu dengan anak. Anak yang masih kecil akan menghabiskan waktu isteri, sehingga ia tidak lagi memiliki waktu, bukan hanya untuk sang suami, bahkan untuk mengurusi diri sendiri pun sudah tidak ada waktu.
Usia pernikahan yang ke sepuluh, masih menurut si bapak, mulai muncul kebosanan karena tidak ada lagi yang menarik, lihat saja tingkat percaraian sangat tinggi menjelang usia pernikahan ke sepuluh, ujar beliau untuk meyakinkan. Jika lolos dari usia pernikahan tersebut, akan ada fase rawan ketiga, yaitu saat usia pernikahan menuju dan memasuki usia ke lima belas. Banyak hal sudah serasa datar pada situasi ini, pasangan sudah berubah bentuk, komunikasi apa adanya sehingga sang suami mulai mencari ketertarikan yang lain.
Saat mendengar cerita itu, memang langkah menuju pernikahan serasa melemah, tetapi kemudian yang terpikir adalah untuk membuktikan atau mematahkan teori si bapak. Saat setelah menikah aku kerap menceritakan hal ini kepada pasangan ku, dengan tekad untuk mematahkan teori beliau dan merubahnya menjadi fase pernikahan yang menyenangkan.
Sesungguhnya teori si bapak tidak sepenuhnya keliru, yang berbeda adalah sudut pandang kami akan sebuah pernikahan. Beliau melihat sebuah pernikahan yang memiliki opsi break (cerai), sehingga persoalan yang muncul dalam rumah tangga dapat diselesaikan dengan solusi cepat, cari yang lain. Sementara aku tidak melihat opsi tersebut dalam sebuah pernikahan. 
Tanpa opsi perceraian dalam sebuah pernikahan akan mendorong setiap pasangan untuk menyesuaikan diri dengan pasangannya, sekalipun tidak mudah dan kerap menyakitkan (mungkin), tetapi perlahan namun pasti kesesuaian dan saling pengertian akan hadir. 
Pernikahan adalah sebuah kenikmatan jika masing masing pihak mau menikmatinya, tetapi akan menjadi siksaan jika masing-masing atau salah satu pihak merasa terpaksa. 
Saat ini kami memasuki usia pernikahan ke lima belas, tentu penuh liku dan suka duka, tetapi itu akan menjadi perjalanan yang menyenangkan jika masing-masing pihak mau menyesuaikan diri ke arah yang lebih baik, tentu dengan acuan yang sama. Acuannya bagiku adalah Firman yang hidup, Firman itu yang akan mensinkronisasi karakter masing-masing pribadi yang berbeda, bukan yang lain. Tanpa acuan yang sama, mustahil kebahagian yang hakiki dapat dinikmati. (erh,190812).

Kamis, 19 April 2012

Rabu Abu, Lalu Apa ?


Menilik tulisan “Rabu Abu : Upaya mengembalikan tanda pertobatan” pada edisi 23 yang lalu (Desember 2011), Rabu Abu sebagai tanda pertobatan di masa pra paskah menarik untuk diulas lebih lanjut aspek pertobatannya.
                Pertobatan kerap dikaitkan dengan adanya hukuman. Seseorang dengan segera mengakui kesalahannya (dosanya) karena ia takut akan ganjaran yang akan diterimanya sebagai akibat dari kesalahan itu.  Pernah di salah satu stasion televisi nasional ditayangkan sebuah acara yang membuat seorang pendosa menjadi bertobat. Caranya adalah dengan mengubur si pendosa, mensituasikan seolah ia telah berada di alam “sana” dan akan segera mendapatkan siksaan. Pada penghujung acara, jelas terlihat bagaimana si pendosa menjadi bertobat dan menyesali perbuatannya karena rasa takut luar biasa yang dialaminya. Allah dikesankan sebagai hakim yang kecintaan-Nya adalah menghukum.
                Pertobatan demikiankah yang dimaksudkan dari peringatan rabu abu ? Pertobatan yang didasarkan oleh rasa takut, pada hakikatnya bukanlah pertobatan yang sesungghnya. Pertobatan karena rasa takut hanya merupakan upaya untuk menghindarkan diri dari sebuah hukuman, pertobatan demikian terjadi karena yang bersangkutan tidak ingin menderita akibat menerima ganjaran, seperti seorang pengendara yang mematuhi rambu lalulintas hanya pada saat ada petugas. Pertobatan demikian menurut penulis tidak meningkatkan kualitas hidup si petobat maupun lingkungannya.
                Pertobatan yang sesungguhnya adalah pertobatan yang lahir atas dasar kasih, bukan atas dasar ketakutan. Sebagaimana yang dituliskan Yohanes :“Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.” (I Yoh. 4:18)   Kata Kasih yang digunakan di sini berasal dari kata agape.
                Agape kerap digunakan untuk mengambarakan kasih Allah kepada manusia, yang berarti kasih yang tidak tergantung pada objeknya. Artinya kasih yang tidak didasari pada kepentingan diri sendiri, misalnya karena ketakutan terhadap hukuman yang akan diterima. Kasih agape berdasar pada kesadaran untuk berbuat sesuatu yang menyenangkan pihak lain. Dalam kasih inilah tidak lagi ada ketakutan, tidak ada kepentingan diri, melainkan hanya rasa ingin menyenangkan pihak lain.
                Selama tindakan kita didasarkan pada rasa takut, maka tindakan yang mulia dan suci sekalipun akan menjadi sesuatu yang tidak sempurna. Misalnya tindakan memberi derma pada acara di gereja adalah tindakan yang mulia, namun manakala tindakan itu didasari pada rasa takut disebut pelit, ia akan menjadi tindakan manipulatif dan segera berubah menjadi tindakan untuk mencari pahala. Pertobatan juga tidak didasari oleh semangat kemunafikan, tetapi ketulusan. Baik tindakan mencari pahala maupun tindakan yang didorong oleh semangat kemunafikan adalah tindakan yang berpusat kepada diri sendiri, bukan karena rasa ingin menyenangkan pihak lain.
                Lalu pertobatan seperti apakah yang selayaknya dilakukan pada saat memasuki pra paskah yang diawali dengan Rabu Abu? Pertobatan dengan hati sebagaimana yang diingatkan oleh nabi Yoel dalam Yoel 2:13a, “Koyakanlah hatimu dan jangan pakaianmu, …“ Pertobatan dengan hati penuh dengan kesadaran akan kasih Allah yang telah memberi saat kita masih berlumur dosa. Tidak melihat apakah kita sudah baik atau belum, Allah telah menyatakan KasihNya. Bila seseorang membantu kita tanpa diminta saat kita kesusahan, orang tersebut laiknya pahlawan dalam hidup kita ? Bagaimana dengan Tuhan yang telah menghinakan diriNya menjadi manusia (pencipta menjadi ciptaan) bahkan mengorbankan nyawaNya  buat kita? Bukankah Ia lebih layak lagi untuk mendapatkan (terima) kasih kita dalam rupa perilaku kita yang berkenan kepada-Nya dan menyenangkan hati-Nya.
                Ritual rabu abu sebagai tanda pertobatan dilakukan saat memasuki Pra-Paskah, hingga rangkaian peringatan Kamis Putih, Jumat Agung dan Minggu Paskah. Pertobatan dalam konteks ini jelas tidak dikaitkan dengan hukuman, tetapi pada kasih di mana Allah sendiri yang menanggung hukuman untuk membebaskan manusia dari akibat dosa. Rangkaian hari raya gerejawi ini secara tegas mengajarkan kepada kita bagaimana prespektif kasih mendasari pertobatan bukan ketakutan. 
Kecintaan kita akan kasih Allah tersebutlah seyogianya menjadi dasar kita dalam pertobatan. Kita bertobat karena kita sebagai warga kerajaan Allah belum berprilaku sebagai warga kerajaan Allah. Simaklah apa yang dikatakan Rasul Paulus : “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus” (Rom. 14:17). Artinya, pertobatan dengan hati dilakukan dengan penuh suka cita untuk dapat hidup dalam kebenaran (dikaiosune) dengan bertindak seturut kehendak Allah, hidup berdampingan dengan penuh damai sejahtera (eirene) dan memancarkan sukacita (khara) karena menjadikan Roh Allah sebagai penguasa hidup.
                Pertobatan dengan hati pada akhirnya membuat kita lebih dekat dengan Allah. Tanpa rasa takut, melainkan rasa rindu senatiasa, kita hidup lebih dekat dan lebih mengenal kebenaran Allah. Bukan rasa takut yang membuat kita menghindar dan bersembunyi dari hukuman. Rasa rindu untuk dekat dengan Allah itulah upaya kita senantiasa untuk dapat hidup kudus sebagai mana Allah kudus adanya. Kekudusan Allah yang mendorong kita untuk senantiasa berupaya hidup kudus.
Selamat Paskah, dengan memaknai pertobatan yang benar, menjalaninya “sepanjang hidup”, dan senantiasa lebih dekat dengan Allah. (erh20022012)
Tulisan ini di muat dalam Buletin Mercusuar Edisi 24;  Maret 2012.

Sabtu, 25 Februari 2012

Tujuh Puluh Tiga


        Tujuh puluh tiga tahun yang lalu, seorang wanita dilahirkan. Sebagai anak wanita satu-satunya, tentu ia mendapatkan kasih sayang penuh dari seluruh keluarga. Tetapi jalan hidup seseorang memenag tidak dapat diduga, semasa sekolah ayahnya menigga, yang kemudian diikuti ibunya.
        Ia dibesarkan dalam keluarga Non Kristen namun tinggal dilingkungan Kristen.  Seorang pria kemudian menyuntingnya, namun tidak lama usia pernikahan mereka, ia ditinggal pergi suaminya untuk selama-lamanya tidak kembali. Ibu muda, dengan usia 26 tahun harus melanjutkan hidup dengan tiga anak yang masih sangat kecil, bahkan si bungsu baru berusia kurang dari sebulan.
         Dengan kegigihan yang dimilikinya, ia tetap setia untuk membesarkan ketiga anaknya. Sekalipun tidak mungkin menurut hitungan manusia, tetapi ia mampu menyekolahkan ketiga anaknya bahkan hingga perguruan tinggi. Ditengah hadirnya harapan, saat anaknya yang sulung telah bekerja, kebahagiaan tersebut tidak berlangsung lama, karena sebuah kecelakaan lalulintas telah merenggut si anak kebanggaan keluarga, untuk selama-lamanya tidak kembali. Itupun tidak mengurunkan niat si Ibu untuk tetap berjuang dan berusaha tanpa banyak kata-kata, karena memang sangat pemalu.
         Yang menakjubkan, sekalipun si Ibu mengenal Kekristenan saat ia tealah dewasa, tetapi, ia, dengan kebersahajaannya menanamkan kekristenan kepada ketiga anaknya. Kedua anaknya yang masih berkarya saat ini, memiliki latar belakang teologia, bahkan yang wanita memilih profesi sebagai guru agama dan melayani dilingkungan gereja.
         Tanpa banyak kata-kata ia telah mengajarkan arti kesetiaan, setia pada pilihan, setia pada komitmen, bahkan setia untuk tidak pernah meminta-minta kepada siapapun kecuali kepada Sang Khalik, walaupun permintaannya (Doanya) sejak anak-anaknya  masih SD hingga saat ini, masih tetap sama. Doa makan, doa mau tidur, doa bangun tidur, "nyaris sama". Mungkin itu bentuk kesetiaan nya juga.  Namun  ternyata Sang Khalik memahami bahasa manusia walau diucapkan secara keliru, tetapi Roh Allah ada pada manusia, mengerti keinginan manusia bahkan yang tidak terucapkan, itulah yang telah dibuktikan ibu dalam perjalanan hidupnya.
         Ibu itulah Mamaku, yg berjuang seorang diri membesarkanku sejak usia 10 hari. Memungkiri kepentingan pribadinya demi kami anak-anaknya. Selamat Ulang Tahun Mama, Horas jala gabe. (ERH14092011)
Tulisan ini dimuat dalam Buletin Mercusuar Edisi 23 Desember 2011.

                                                                                              Pematang Siantar September 2011

Minggu, 15 Januari 2012

Rabu Abu : Upaya Mengembalikan Tanda Pertobatan


Sebagai anggota keluarga yang dibesarkan dilingkungan gereja etnis, ritual Rabu Abu tentu bukan hal yang lazim. Tetapi sebagai seorang yang mendalami bidang teologi, sulit untuk menghindar kala orang-orang dekat bertanya akan makna dari ibadah Rabu Abu.
Sebetulnya, Rabu Abu bukanlah baru muncul pada zaman Gereja Roma Katolik semata. Zaman Perjanjian Lama telah menggunakan Abu dalam liturgi. Abu adalah lambang perkabungan, kefanaan, serta pertobatan. Lihat saja dalam kitab Ester, Mordekhai mengenakan kain kabung dan abu ketika ia mendengar perintah Raja Ahasyweros (485-464 SM) dari Persia untuk membunuh semua orang Yahudi dalam kerajaan Persia (Est 4:1).  Demikian juga dengan Ayub yang menyatakan penyesalannya dengan duduk dalam debu dan abu (Ayb 42:6).
MAKNA ABU DARI WAKTU KE WAKTU
            Dalam Perjanjian Baru, Yesus sendiri juga menyinggung soal penggunaan abu: kepada kota-kota yang menolak untuk bertobat dari dosa-dosa mereka, meskipun mereka telah menyaksikan mukjizat-mukjizat dan mendengar kabar gembira, Kristus berkata, "Seandainya mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengahmu terjadi di Tirus dan Sidon, maka sudah lama orang-orang di situ bertobat dengan memakai pakaian kabung dan abu." (Mat 11:21)
Gereja Perdana mewariskan penggunaan abu untuk alasan simbolik yang sama. Dalam bukunya De Poenitentia , Tertulianus (sekitar 160-220) menulis bahwa pendosa yang bertobat haruslah "hidup tanpa bersenang-senang dengan mengenakan kain kabung dan abu." Eusebius (260-340), sejarahwan Gereja perdana yang terkenal, menceritakan dalam bukunya Sejarah Gereja bagaimana seorang murtad bernama Natalis datang kepada Paus Zephyrinus dengan mengenakan kain kabung dan abu untuk memohon pengampunan. Dalam masa yang sama, imam akan mengenakan abu ke kepala setelah pengakuan orang-orang yang diwajibkan untuk menyatakan tobat di hadapan umum.
Dalam abad pertengahan (setidak-tidaknya abad kedelapan), mereka yang menghadapi ajal dibaringkan di tanah di atas kain kabung dan diperciki abu. Imam akan memberkati orang yang menjelang ajal tersebut dengan air suci, sambil mengatakan "Ingat engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu." Setelah memercikkan air suci, imam bertanya, "Puaskah engkau dengan kain kabung dan abu sebagai pernyataan tobatmu di hadapan Tuhan pada hari penghakiman? " Pertanyaan itu akan dijawab orang tersebut dengan: "Saya puas." Dalam contoh-contoh di atas, tampak jelas makna abu sebagai lambang perkabungan, ketidakabadian dan tobat.
Akhirnya, abu dipergunakan untuk menandai permulaan Masa Prapaskah, yaitu masa persiapan selama 40 hari (tidak termasuk hari Minggu) menyambut Paskah. Ritual perayaan "Rabu Abu" ditemukan dalam edisi awal Gregorian Sacramentary yang diterbitkan sekitar abad kedelapan. Sekitar tahun 1000, seorang imam Anglo-Saxon bernama Aelfric menyampaikan khotbahnya, "Kita membaca dalam kitab-kitab, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, bahwa mereka yang menyesali dosa-dosanya menaburi diri dengan abu serta membalut tubuh mereka dengan kain kabung. Sekarang, marilah kita melakukannya sedikit pada awal Masa Prapaskah kita, kita menaburkan abu di kepala kita sebagai tanda bahwa kita wajib menyesali dosa-dosa kita terutama selama Masa Prapaskah." Disinilah kita semua mengingat ketidakabadian kita dan menyesali dosa-dosa kita.
Dalam perayaan Rabu Abu, umumnya dipergunakan abu yang berasal dari daun-daun palma yang telah diberkati pada perayaan Minggu Palma tahun sebelumnya yang telah dibakar. Imam memberkati abu dan mengenakannya pada dahi umat beriman dengan membuat tanda salib dan berkata, "Ingat, engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu," atau "Bertobatlah dan percayalah kepada Injil."
Kendati sekarang ini masa Natal, masa Pra-Paskah tanpa terasa akan segera tiba. Guna menyambut Paskah, patutlah kita mengingat makna abu yang telah kita terima : kita menyesali dosa-dosa kita. Kita mengarahkan hati kita kepada Kristus, yang segsara, wafat dan bangkit demi keselamatan kita. Kita memperbaharui janji-janji yang kita ucapkan dalam baptisan/pengakuan percaya, yaitu ketika kita mati atas hidup kita yang lama dan bangkit kembali dalam hidup yang baru bersama Kristus. Kita pun menyadari bahwa kerajaan dunia ini segera berlalu. Kita berjuang untuk hidup dalam kerajaan Allah sekarang ini serta merindukan kepenuhannya di surga kelak. Pada intinya, kita mati bagi diri kita sendiri, dan bangkit kembali dalam hidup yang baru dalam Kristus.
ANTARA RITUAL DAN PRILAKU
Perayaan Pasakah dewasa ini telah dirayakan “nyaris” sama dengan perayaan natal. Jika Natal penuh dengan sukacita, namun Paskah kerap melambangkan duka cita sekaligus sukacita atas kemenangan.  Perayaan paskah selalu diwawali dengan pra paskah, namun Rabu Abu sebagai awal dari masa Pra Paskah cenderung terlupakan (dan terabaikan?-red), sekalipun sesungguhnya Rabu Abu merupakan ritual pertobatan dan pengakuan kefanaan umat manusia yang esensial.
Masa Pra Paskah selama enam minggu, sesungguhnya adalah masa pembentukan karakter baru sebagai buah dari pertobatan. Sangatlah disayangkan, apabila masa pra paskah kehilangan momentum awalnya untuk bertobat dan mengakui kefanaan manusia. Umat akan dapat melakukan pelatihan pembentukan karakter baru dan menghilangkan karakter (perbuatan keberdosaan) lama, hanya jika ia telah mengakui adanya pelanggaran dan ketidak sesuaian prilakunya yang lama dengan prilaku yang dikehendaki Tuhan. Tanpa pengakuan dan pertobatan tersebut sulit bagi umat untuk memaknai masa Pra Paskah. Paskah harus dimaknai sebagai sebuah kemenangan karena terbebas dari keterikatan dengan dosa. Sebagaimana umat Israel yang terbebas melewatikematian anak sulung (Kel. 12:23)  ataupun mereka dapat melewati laut Teberau dengan selamat.
Dalam ritual Rabu Abu pengakuan dosa menjadi sentral, kalimat "Bertobatlah dan percayalah kepada Injil," saat memberikan tanda salib di dahi seyogianya merupakan klimas dari pengakuan umat atas dosa dan kesalahannya.  Tentu tidak ada yang dapat mengatakan bahwa saya tidak berdosa sehingga tidak perlu untuk bertobat. Karena jika demikian pastilah kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita (1Yoh. 1: 10).
PERTOBATAN SEPERTI APA ?
Yang seharusnya kita lakukan adalah mengakui dosa dan kesalahan kita satu persatu dan bukan secara global. Tentu kecenderungan kita untuk mengakui dosa kita secara global, misalnya : Tuhan, kami telah berdosa kepada mu baik melalui pikiran ucapan maupun prilaku kami.  Pengakuan seperti ini tentu dapat menjadi sarana yang aman bagi kita untuk menyembunyikan kesalahan dan dosa kita yang sebenarnya. Akibatnya, dosa yang telah kita perbuat tidak pernah dibereskan secara menyeluruh dan total di hadapan Allah.
Pengakuan dosa dan kesalahan kita secara rinci kepada Allah, akan membuat hati kita hancur dan merendahkan diri dihadapanNya, jauh dari argumentasi teologis untuk membenarkan diri. Hati yang hancur sudah barang tentu hati yang dipenuhi dengan kejujuran, dalam hal ini Allah berkenan kepada orang yang rendah hati dan jujur dan remuk jiwanya.
Daud seorang Raja yang sangat berkuasa telah memberikan teladan bagi kita, Daud mengungkapkan dan mengakui dosanya dihadapan Allah dengan berkata  : “Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku. Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu”. (Mzm. 51: 5-6)
Daud dengan penuh kesadaran mengakui seluruh dosanya, bahwa ia telah berdosa dengan melakukan apa yang jahat dimata Allah. Pengakuan ini membuktikan bahwa Daud tidak mau mendustai Allah dengan keahliannya berargumentasi secara teologis dan pembenaran dirinya, karena itu Daud akhirnya tetap hidup berdamai dengan Allah.
Alkitab juga mencatat bagaimana kegagalan umat Israel yang mencari Allah tetapi tidak dengan kerendahan hati, artinya mencari Allah untuk mengenalNya bukan dengan hati, tetapi hanya diri sisi intlektualitas semata. Perhatikan dalam Yesaya 58: 2 : “Memang setiap hari mereka mencari Aku dan suka untuk mengenal segala jalan-Ku. Seperti bangsa yang melakukan yang benar dan yang tidak meninggalkan hukum Allahnya mereka menanyakan Aku tentang hukum-hukum yang benar, mereka suka mendekat menghadap Allah,”  Semestinya bangsa ini akan menjadi bangsa yang menyukakan hati Allah jika mereka mencari Allah dengan hatinya, tetapi apa yang terjadi ?
Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi”. (Yes. 58:4)  Ternyata umat Israel hanya mampu berbicara tentang Allah dari sudut otak dan intlektualitas, tetapi dalam praktek mereka gagal.  Bukankah hal yang sama kerap kita lakukan ?  Pdt. Yohanes Bambang Mulyono menyebutnya dengan Syaraf Spiritualitas yang terputus (Pelita Umat, BPK Gunung Mulia, 2011)  dengan mengutip dari buku yang berjudul Jesus Among Other God, karya Ravi Zakharias dikisahkan bagaimana pengalamannya ketika ia tinggal di suatu hotel yang berseberangan dengan sebuah kuil. Ia mengamati betapa antusias ribuan orang yang khusuk berdoa di depan kuil tersebut. Di saat sekedar berjalan di depan kuil itu, mereka akan membuat tanda penghormatan seperti menundukkan kepala dan melipat tangan menyembah kepada Tuhan yang ada di dalam kuil tersebut. Tetapi, setelah beberapa langkah, mereka segera “berjaga-jaga” untuk melihat turis manakah yang dapat mereka perdayai hari itu-dari upaya menunjukkan gambar telanjang atau menawarkan pelayanan seks seorang pelacur hingga menjual jam tangan Rolex palsu. Disatu pihak, mereka jelas sangat hikmat dan menghormati hal-hal religius, tetapi di lain pihak, mereka tidak segan mempraktikkan berbagai tindakan illegal dan amoral.
Ritual memang bukan segalanya, karena Tuhan Yesus sendiri telah mengkritisi ritual-ritual yang dilakukan kaum Farisi dan Ahli Taurat yang ditujukan hanya sekedar untuk mendapatkan pujian dari orang lain dan atau memojokkan orang lain (menjadi batusandungan).
Nabi Yoel dengan tegas menyatakan dalam Yoel 2:13 : “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya.”  Yang diinginkan Tuhan bukanlah hanya sekedar ritual tanpa ada hati yang menyesal dan remuk, apalah artinya sebuah ritual tanpa diikuti dengan perubahan sikap sebagai hasil dari sebuah pertobatan.
Sekali lagi Daud memberikan teladannya, saaat ia ditegur oleh Nabi Natan atas dosa perzinahannya dengan Batsyeba. Daud mengungkapkan pengakuannya : “ Sebab Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan; sekiranya kupersembahkan korban bakaran, Engkau tidak menyukainya. Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah. (Mzm. 51: 18-19) Daud tidak lagi menggunakan pengakuan dosanya dengan simbolis ritual, tetapi memilih pengakuan dosa yang lahir dari hati yang hancur.
HARAPAN
            Rangkaian perayaan Paskah akan menjadi lebih bermakna dan mengubahkan, jika diawali dengan pemaknaan secara benar. Rabu Abu sebagai pembuka Pra Paskah, seyogianya dimaknai dengan sebuah pertobatan yang berasal dari hati namun juga tercermin dalam sebuah ibadah yang menggambarkan hati yang hancur dan penuh kerendahan untuk mengubah diri (bertobat).
            Masa Pra Paskah selama enam minggu yang diikuti dengan Puasa (menahan dan membatasi diri sebagai implementasi dari penguasaan diri) adalah masa yang cukup untuk membentuk karakter baru yang jauh dari karakter keberdosaan. Pada akhirnya dalam ibadah Paskah, kita akan menemukan sebuah kemenangan atas prilaku yang lama dan lahirnya sebuah prilaku baru yang seturut dengan kehendak Tuhan. Semoga Rabu Abu bukan awal yang terlupakan, tetapi awal yang mengubahkan. (erh03112011-bdj)
Tulisan ini dimuat dalam Buletin Mercusuar Edisi 23 Desember 2011
Bacaan :
Yohanes Bambang Mulyono, Pdt,  Pelita Umat: ulasan tafsir alkitab yang kritis, mendalam, dan mengugah : BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2011
"YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald."  (Disadur dan diedit oleh: JA Gianto - Sie Katekese)
William P.Saunders, "Straight Answers: The Ashen Cross", Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright C2003 Arlington Catholic Herald. "diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell. net/yesaya
atas ijin The Arlington Catholic Herald.

Rabu, 11 Januari 2012

Hedonisme dalam Natal



Natal saat ini seolah sudah dimiliki secara universal, tidak hanya untuk kalangan umat kristiani, setidaknya dari sisi keramaian yang dihasilkan. Lihat saja pusat perbelanjaan di berbagai kota besar, tanpa peduli itu kota berpenduduk kristiani atau tidak. Bulan November Desember pusat perbelanjaan sudah berhiaskan suasana Natal, apakah itu dengan pohon natalnya ataupun sekedar boneka santa claus.  Untuk kota yang penduduknya di dominasi umat Kristen bahkan sejak bulan Oktober sudah berhias diri.
Natal seolah identik dengan Big Sales, santa claus, dan keramaian lainnya, kalau pun ada hiasan bayi yang disertai bunda Maria dan para gembala, itu hanyalah sebuah patung/hiasan bisu tanpa makna, yang tak dapat bercerita apapun dan alpa memberi makna hadirnya sebuah kesederhanaan dibalik datangnya sang penyelamat.
Bila pergeseran makna Natal hanya terjadi di pusat perbelanjaan tiada yang perlu dirisaukan, tetapi bagaimana bila makna Natal yang demikian juga menjalar memasuki ruang ibadah di gereja ?  
Hedonisme suatu trend
            Hedonisme berasal dari kata latin Hedone yang berarti kesenangan, merupakan istilah teknis yang menunjukkan paham yang mementingkan kesenangan dan kemewahan fisik.  Tokoh pertama yang mengajarkan aliran hedonisme adalah Democritus (400-370 SM), menurutnya kesenangan adalah tujuan utama di dalam kehidupan ini. Walaupun yang dimaksud bukan sebatas kesenangan fisik semata, tetapi kesenangan fisik sebagai alat perangsang bagi berkembangnya intelek manusia. Aristippus (395 SM) yang merupakan pengikut Socrates, mengajarkan bahwa kesenangan merupakan satu-satunya yang ingin dicari manusia. Kesenangan didapat langsung dari pancaindera. Orang yang bijaksana selalu mengusahakan kesenangan sebanyak banyaknya, sebab kesakitan adalah suatu pengalaman yang tidak menyenangkan. Sedang tokoh lain Epicurus (341-270 SM) melihat bahwa kesenangan tidak semata-mata bersifat ragawi, tetapi senang baginya bila tidak adanya rasa sakit dalam raga dan atau tidak adanya kesulitan jiwa. Dia berargumen, jika hanya kesenangan ragawi yang menjadi ukuran, maka hal itu dapat menyebabkan rasa sakit, misalnya  banyak makan enak akan menyebabkan sakit perut.
           
            Di era modern saat ini hedonisme terus berkembang dan menjadi trend, hanya saja, fenomena hedonisme di akhir abad ini sudah sedemikian meluas dan mencolok bila dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Hedonisme modern tidak dapat dilepaskan dari perkembangan antroposentrisme dan positivisme pada abad pertengahan sebagai reaksi dari perkembangan hegemoni berkembangnya wilayah akal budi manusia. Diikuti dengan gerakan renaisans, humanisme, dan rasionalisme, bahkan ateismematerialisme yang mencapai puncak pada abad 18 yang dikenal dengan sebutan zaman Aufkl ärung atau Enlightenment. Muncul anggapan bahwa agama menjadi penghambat perkembangan otonomi manusia, muncul paham sekularisme sebagai sumber moral manusia modern.
Perkembangan industrialisasi di Barat seiring dengan revolusi industri berdampak pada hilangnya nilai-nilai tradisional. Secara faktual nilai-nilai tradisional itu adalah nilai agama dan nilai rohaniah. Modernisasi tidak berhenti di negara barat, di negara-negara berkembang akibat proses global yang dialaminya terimbas oleh paham materialisme dan sekularisme, yang pada akhirnya bermuara pada hedonisme.
Saat ini tidak lagi ada batas barat, timur. Cara hidup dan gaya hidup seolah tanpa batas, simak saja trend mode, apa yang hari in menjadi gaya hidup di belahan eropa, serta merta menyebar ke Indonesia dan negara-negara lain.
Demikian juga dengan penyambutan Natal, cerita Santa Claus yang berasal dari Lycia, sebuah propinsi dari Byzantine Anatolia (sekarang Turki) walau tidak banyak orang tahu asal muasal cerita ini, tetapi hampir di seluruh dunia mengenal tokoh ini  walaupun mungkin dengan penyebutan yang berbeda.
Tidak hanya warga kristiani, bahkan non kristiani juga mengenal dan menikmati tokoh Santa Claus dengan berbagai acara yang menghibur saat menjelang Natal di berbagai pusat perbelanjaan. Tokoh Santa Claus menjadi magnit bagi para pebisnis untuk memasarkan produknya menjelang akhir tahun, tentu dengan berbagai potongan harga dan bonus menarik. Bahkan kehadiran sang bayi sebagai sebuah hiasan di pusat perbelanjaan dikalahkan oleh kehadiran sosok Santa Claus.
Tak ayal lagi, Natal identik dengan perayaan dan belanja berbagai kebutuhan dan saatnya untuk menghias dan memanjakan diri dengan berbagai kepuasan, apakah itu dalam berbusana ataukah dalam santapan, karena menu khusus juga tak urung disajikan pada bulan ini. Singkatnya kepuasan ragawi menjadi prioritas pada saat-saat menjelang natal.

Kesederhanaan Natal
            Peristiwa kelahiran Yesus di kandang domba yang terbungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan  (Luk. 2: 12) tidak terasa begitu dramatis jika kita tidak memahami bagaimana Nubuatan nabi Yesaya akan kelahiran sang Mesias.  Nabi Yesaya menubuatkan akan kelahiran seorang anak yang memiliki kekuasaan luar biasa, karena lambang pemerintahan ada di atas bahunya. Nubuatan ini disampaikan Yesaya pada saat Kerajaan Israel Selatan (Yehuda) dalam keadaan “nyaris” tanpa harapan saat mereka akan diserang oleh kerajaan Asyur yang begitu perkasa. Dalam hitungan apapun saat itu, mereka akan kalah dan menjadi porak poranda serta akan dikuasai oleh bangsa Asyur, mereka segera akan menjadi kerajaan jajahan.
            Pada saat yang demikianlah Nabi Yesaya menubuatkan : “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai”. (Yes. 9:5) Bayangkan bagaimana besarnya seorang putera yang akan lahir tersebut.  Selayaknyalah Ia lahir ditengah soraksorai kemewahan dan penghormatan besar karena kekuasaannya dan harapan yang dibawanya pada bangsa yang sedang kehilangan harapan.  Tetapi apa yang terjadi, secara lahiriah Ia hanya lahir di kandang domba, yang penuh dengan kesederhanaan dan kemiskinan. Sangat dramatis seorang juru selamat lahir dalam kehinaan. Tentu kelahirannya tidak masuk dalam hitungan manusia. Apalagi mereka yang menganut hedonisme, apa enaknya lahir di kandang domba? Siapa yang mau menjadi pengikut Dia yang lahir saja sudah ditengah kemiskinan dan kesusahan ragawi ? 
            Kaum pengikut hedonisme yang menjadikan kesenangan sebagai tujuan hidupnya, sudah barang tentu enggan “melirik” peristiwa kelahiran itu, karena peristiwa itu justru tidak memberikan kesenangan ragawi. Simak saja saat Yesus akan dilahirkan, sudah ada penolakan dengan  tidak tersedianya penginapan bagi sang bayi, sehingga akhirnya dilahirkan  di kandang domba.

Makna Natal : Kesukaan Besar bagi Semua
            Mari kita simak kembali bagaimana kabar yang dibawakan malaikat saat kelahiran Yesus: “sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa (Luk. 2: 10b)  Jelas bahwa kabar kelahirannya memberikan kesukaan besar bagi seluruh bangsa. Ini sejalan dengan nubuatan nabi Yesaya yang menyatakan bahwa Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar (Yes. 9:1a). Artinya, kelahiran Yesus selain membawa keselamatan, juga memberikan kesukaan besar bagi siapa saja, bukan hanya bagi golongan tertentu. Demikian juga saat bangsa Israel pada masanya berjalan di dalam kegelapan, meraka melihat terang yang besar. Secercah terang bagi mereka yang sedang mengalami kegelapan sudah merupakan hal yang menakjubkan, apalagi lagi terang yang besar, artinya terang yang dapat dinikmati oleh orang banyak.
            Bagaimana perayaan Natal yang kita lakukan, masikah menyisakan hadirnya kesukaan besar bagi seluruh bangsa, atau setidaknya bagi orang disekitar kita? Ataukah Natal hanya sekedar perayaan yang menjadi pemuas berbagai kebutuhan kita? THR yang kita terima sebagai tambahan penghasilan sekaligus meningkatan daya beli kita?.  Pakaian, hiasan ekslusif dan menu mewah ? Apakah porsi besar anggaran panitia Natal masih tetap saja jatuh pada pos konsumsi dan urusan raga lainnya ?
Penulis bukan anti perayaan natal, tetapi mari kita mencoba mengembalikan makna natal kepada semangat awal kehadiran natal. Penulis tidak bermaksud mengatakan bahwa natal selayaknya tanpa konsumsi, tetapi yang menjadi pokok adalah : mari kita lihat kembali apakah hedonism yang tidak sesuai dengan iman Kristen justru (kita biarkan – red) masuk dalam perayaan Natal yang kita lakukan ?
           
Harapan
            Perayaan natal selalu menjadi saat yang dinantikan, dengan berbagai persepsi masing-masing. Sebagai umat Kristen, selayaknya kita tidak menantikannya karena kesenangan ragawi yang akan kita puaskan pada saat menyambut maupun merayakannya. Karena jika demikian kita tidak lebih seperti laiknya penganut hedonisme.
Menyambut dab merayakan Natal dengan segala yang “wah” dan eksklusif untuk diri sendiri membuat tembok pemisah baru antara kita dan orang lain. Sementara kesukaran besar Natal sesungguhnya berfokus pada orang-orang disekitar kita yang belum dapat melihat terang itu karena berbagai keterbatasan.  Kesukaan besar Natal bukan terletak pada kenikmatan ragawi diri sendiri seperti yang ditawarkan oleh pelaku bisnis melalui kehadiran santa claus. Kesukaan besar Natal semestinya terjadi karena kehadiran Sang Bayi yang memberi harapan bagi mereka yang kehilangan asa, menghadirkan damai bagi orang-orang disekitar kita, utamanya mereka yang ada di ruang gereja tempat kita merayakan natal bersama.
Jika melalui natal, kita dapat dipersatukan setidaknya pada pengakuan akan hari dan perayaan yang sama, setidaknya peristiwa tersebut tidak digunakan untuk mengeliminir batas-batas yang ada di antara individu, antar jemaat dan antar sekat-sekat lain yang kita ciptakan sendiri.
Perubahan secara radikan tentu akan membuat gejolak dan hadirnya resistensi, untuk itu yang perlu ditekankan adalah pemaknaan baru dari kehadiran natal, pesan hakiki dari sebuah natal yang meberikan kesukaan besar bagi semua bangsa. Nilai dan makna itu yang selayaknya menjadi porsi terbesar dari natal.

Makna baru natal seyogianya membuat kita dapat merasakan kesukaan besar dan menghadirkan kesukaan bagi orang disekitar kita. Itulah makna kebahagiaan yang melampui kebahagiaan fana. Jaulah kiranya mengejar kenikmatan ragawi yang dalam Natal. Kita bukan penganut Hedonisme, kita adalah pengikut Kristus. Selamat Natal, Damai Besertamu (Pax Vobiscum) erh22112011 Tulisan Ini dimuat dlam Buletin Mercusuar Edisi 23 Desember 2011