Sabtu, 16 Juli 2011
Sabar dan Berpengharapan dalam menjalani kehidupan
Minggu, 10 Juli 2011
Mencari kehendak Allah
Selasa, 21 Juni 2011
DIPANGGIL UNTUK MENERIMA BERKAT
Kamis, 30 September 2010
Keluarga yang Diberkati
1. Pembangunan rumah sendiri (1a)
Selasa, 10 Maret 2009
Rumah ku dari TUHAN ku
Kita umumnya memperoleh pendidikan, motivasi dan asuhan yang berawal dari keluarga, yaitu di dalam rumah. Dari rumah kita memperoleh pengajaran dalam bidang apapun, dengan maksud agar kita dapat berhasil dan menjadi orang yang sukses, sukses di sini dapat diartikan dengan istilah “unggul” . Dalam tulisan Om Anto (Harmanto Edy Djatmiko) di Majalah Swa 22 Januari 2009, dengan judul “Mencetak Manusia Unggul” dalam kalimat pembuka dikatakan “Lingkungan keluarga merupakan wahana utama untuk menempa karakter anak-anak menjadi manusia unggul.”
Bagi orang tua, memiliki anak yang unggul adalah kebanggaan luar biasa, sekalipun tidak jarang orang tua yang berambisi untuk menjadikan anak-anaknya untuk menutupi kegagalannya pada masa lalu, atau menjadikan fotocopy atas kesusksesan dirinya tanpa memperhatikan kehendak si anak sendiri.
Kesuksesan si anak yang menjadi kebanggaan orang tua, kerap menjadi sikap bermegah diri. Dalam pemahaman ini orang merasa bahwa semua keberhasilan yang dicapai dalam studi, pekerjaan dan karier, atau membangun rumah-tangga ditentukan oleh usaha, prestasi dan kemampuan dirinya. Dalam keadaan demikian pemazmur mengingatkan kita: ” Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga” (Mzm. 127:1). Firman Tuhan ini pada dasarnya mengingatkan kita, jikalau manusia berusaha sendiri tanpa mengingat pertolongan, campur-tangan dan berkat dari Tuhan; maka segala kerja yang dilakukan hanyalah seperti bayangan yang suatu saat akan lenyap. Karena itu di Mzm. 127:1 menyatakan setiap upaya manusia membangun rumah-tangga, bahkan upaya untuk mengerahkan kekuatan militer secara luar biasa untuk menjaga keamanan kota tidak pernah terwujud secara kekal jikalau manusia mengabaikan Allah.
Beberapa peristiwa penting diberbagai belahan dunia telah membuktikan hal itu, seperti kisah tenggelamnya kapal pesiar Titanic yang anti tenggelam, porak porandanya kota Kobe di Jepang segera setelah mereka memproklamirkan bahwa mereka telah berhasil membangun gedung-gedung “canggih” yang tahan gempa. Dengan perkataan lain, usaha dan kemampuan manusia tidak dapat menjamin keberlangsungan dari apa yang dikerjakannya termasuk rumah megah bukan menjadi jaminan kebahagiaan didalam rumah tangga, tapi bukan berarti didalam rumah yang megah tidak ada kebahagiaan.
Kita mungkin mengatakan, kami melakukan doa bersama saat hendak memulai pemabangunan rumah ini, bahkan saat dalam merencanakan untuk membangun (membeli) rumah ini kami telah menggumulinya dalam doa. Apakah itu belum cukup ? Bahkan saat ini saat memasuki rumah ini kami melakukan ibadah (renungan) dan sebelumnya (mungkin) telah mengundang pelayan Tuihan untuk berdoa. Tetapi mengapa pada kenyataannya keindahan fisik rumah tersebut tidak diikuti dengan keindahan isi hati penghuninya ?
Persoalannya adalah apakah arti firman Tuhan ” Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga” menjadi tindakan iman yang kita nyatakan setiap hari?. Kehadiran Tuhan dalam rumah-tangga bukan suatu kehadiran formalitas dalam ritual kebaktian. Tetapi seharusnya dalam kehidupann rumah-tangga kita, Tuhan perlu dihadirkan oleh semua pihak sebagai Allah yang kepadaNya kita berbakti dan melaksanakan kehendakNya dengan setia.
Kehadiran dan penyertaan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari perlu direspon oleh pasangan suami-isteri dengan melaksanakan tanggungjawab dan kewajibannya dengan setia. Makna berkat Allah tidak boleh dipahami secara pasif, tetapi sebaliknya harus dipahami secara pro-aktif. Suami dan isteri wajib melakukan tugas-tugasnya agar rumah-tangga mereka dapat kokoh bertahan mengarungi samudera kehidupan ini. Itu sebabnya di ayat 2, pemazmur berkata: ”Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah--sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur”. Perhatikanlah bahwa Allah memberikan berkatNya kepada yang dicintai pada waktu mereka tidur. Maksud firman Tuhan ini adalah bahwa Allah mengaruniakan berkatNya kepada mereka yang terlelap tidur setelah mereka bekerja dengan susah-payah. Jadi Allah tidak akan memberikan berkat dan rezeki kepada mereka yang gemar tidur dengan lelap, tetapi rumah tangga mereka tidak dilandasi oleh kerja dan usaha yang memadai. Landasan rumah tangga tidaklah cukup dengan cinta yang romantis belaka, tetapi perlu dilandasi oleh cinta yang diwujudkan dalam sikap tanggungjawab secara moril dan finansial.
Kata yang dicintai Nya pada ayat 2 mengingatkan kita pada perkataan Paulus pada Roma 8 :28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.
Karena itu marilah kita hayati pemahaman iman yang menyatakan, ” Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya” secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Khususnya sikap iman kita yang mau menerima apa yang menjadi kehendak Tuhan walaupun seringkali kehendak Tuhan itu tidak sesuai dengan harapan dan cita-cita kita. Kiranya Saudaraku Sari dan Mulyo dapat mengimani bahwa “Rumahku dari Tuhan ku”. Semoga.
Minggu, 16 November 2008
KITAB SUCI HARTA YANG BERHARGA.
Pendahuluan :
Disebuah desa di Eropa hiduplah seorang janda yang sangat miskin dan menderita. Suaminya telah meninggal beberapa tahun sebelumnya, dan anaknya laki-laki satu-satunya telah pindah ke Amerika, meninggalkan ibunya seorang diri di desa itu. Pada saat beberapa orang tetangganyamengetahui keadaannya yang sangat menyedihkan itu, mereka pun pergi untuk mengunjunginya. Ketika mereka menanyakan tentang anak laki-lakinya, dia pun menjawab, ” Oh, dia mendapatkan pekerjaan yang baik dan melakukan pekerjaannya itu dengan baik sekali.”
”Apakah dia tidak mengirimkan sesuatu apa[un untuk menolong engkau?” tanya seorang diantara mereka.
”Dia sangat sering mengirim surat untukku”, jawabnya, ”namun dia sama sekali tidak pernah mengirimkan uang padaku. Aku tahu bahwa dia mampu seandainya dia mau. Tetapi saat berkirim surat, biasanya dia menyertakan jega beberapa lembar kertas yang masih asing bagiku. Pada lembar kertas-kertas itu terdapat gambar dan angka-angka yang tidak berarti apa-apa bagiku. Hanya itulah yang dia kirimkan. Tetapi uang sama sekali tidak pernah!”.
”Bolekah aku melihat beberapa lembar dari kertas-kertas itu? Tanya salah seorang pengunjung itu. Ketika janda tersebut memperlihatkan lembar kertas itu, orang tersebut segera mengenalinya sebagai cek dalam jumlah lima puluh atau seratus dollar setiap lembarnya, yang sebenarnya cukup untuk memenuhi semua kebutuhan hidup janda itu, bahkan malah berkelebihan.
Injil memberitakan kepada kita tentang sengsara dan kematian Kristus. Bagi beberapa orang, Injil tidak berarti apa-apa sama sekali selain hanya sebagai lembaran-lembaran kertas yang dikirimkan dari tempat yang jauh. Karena mereka tidak memahaminya, akibatnya mereka hidup dalam kemiskinan rohani. Akan tetapi bagi kita yang memahami artinya, Injil memberikan kepada kita kekayaan yang tak terhitung nilainya.[1]
Peran Kitab Suci bagi Timotius
Timotius adalah seorang murid Paulus, ibunya adalah seorang Yahudi dan telah menjadi percaya, sedangkan ayahnya seorang Yunani. (Kis. 16:1). Sejak kecil ia sudah percaya kepada Tuhan Yesus, dan didik dengan baik didalam iman kepada Yesus pertama-tama oleh nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu. (2Tim.1:5).
Sebagai seorang anak yang sejak kecil telah mengenal Firman Tuhan, melalui nenek dan ibunya, yang tidak memandang Kitab Suci sebagai lembaran-lembaran tanpa arti tetapi mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat dan menuntun dia kepada keselamatan kepada Kristus Yesus (2Tim3:15) dalam Bahasa Batak dikatakan na margogo pabisukkon ho, asa taruli di haluaon marhite-hite haporseaon di Kristus Jesus, buah pengenalan tersebut adalah Timotius dikenal baik oleh saudara-saudara di Listra dan di Ikonium (Kis.16:2). Dalam bahasa Batak di Ulaon ni Apostel 16 :2 16:2 Denggan do baritana, dihatindangkon angka dongan na di Listra dohot Ikonium.
Timotius dikenal baik dalam bahasa aslinya (Yun) digunakan kata hemartureito yang berasal dari kata martureo atau yang sering kita kenal dengan marturia atau bersaksi, tetapi martureo berarti kata kerja memberi kesaksian, mengatakan baik atau membuktikan baik, artinya dalam Kis. 16:2 Timotius telah membuktikan bahwa ia baik baik dalam perbuatan maupun dalam kata-kata kepada saudara-saudar di Listra dan di Ikonium. Bahkan Paulus menyebutnya sebagai anakku yang kekasih dan yang setia dalam Tuhan. (1Kor.4:17). (anakkonku, haholongan jala haposan ni rohangku marhitehite Tuhan i)
Kalau kita melihat bagaimana Timotius dapat menjadi orang yang baik dimata banyak orang, ternyata ada 3 pihak yang berperan :
1. Neneknya Lois (ompung)
Peran ompung nya Lois, ternyata sejak kecil Ompungnya sudah memperkenalkan Firman Allah kepada Lois. Bukan hanya itu, Ompungnya pasti juga telah memberikan contoh yang baik kepadanya baik dalam tindakan dan ucapan. Bagaimana dengan kita, utamanya etnis Batak, gelar ompung adalah kebanggaan karena kelahiran cucu akan menjadi pembawa nama. Kelahiran cucu (pahoppu) akan di rayakan secara meriah utamanya bila cucu pembawa nama (pahoppu panggoaran).
Pertanyaan kepada kita sebagai Ompung, apa yang kita ajarkan kepada mereka, apakah kita menyampaikan Firman Tuhan, atau justru tarombo yang pertama kali kita ajarkan kepada nya atau masalah parjambaron. Saya tidak mengatakan bahwa adat itu tidak perlu, tetapi seharusnya Firman Tuhan mendapat prioritas utama. Kemudian prilaku apa yang kita contohkan kepada mereka, apakah ketekunan kita untuk bersaat teduh setiap hari, atau ketekunan kita ke Lapo ?.
2. Ibunya Eunike
Ibu Timotius seorang Yahudi, sedangkan ayahnya seorang Yunani. Timotius dilahirkan dari keluarga campuran, tetapi ibunya sebagai seorang Yahudi ternyata telah memberikan pengajaran yang baik kepada Timotius, dapat dipastikan sekalipun Eunike seorang Yahudi, ternyata ia masih mendahulukan mengajarkan Firman Tuhan kepada Timotius dibandingkan dengan adat istiadat Yahudi mereka. Selain itu ibunya tentu memberikan contoh yang baik dalam perkataan dan tindakan, bukankah pepatah batak mengatakan dang dao tubu sian bonana? Pertanyaan bagi para orang tua, bukan saja ibu contoh apa yang telah engkau berikan kepada anak mu ? Pertengkaran kah atau damai sejahtera didalam rumah tangga.
3. Firman Tuhan
Segala tulisan atau setiap nas Alkitab yang diilhamkan (theopneustos) Allah memang bermanfaat untuk (2Tim 3 :16) :
(1) Mengajar
Untuk dapat mengajar maka kita harus mengetahui apa yang harus kita ajarkan, Paulus telah menasehatkan Timotius akan hal ini dengan mengatakan untuk bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci (Firman Tuhan), dalam membangun dan dalam mengajar. (1Tim4:13)
(2) Untuk menyatakan kesalahan
Kita yang hidup didalam Tuhan dapat menilai apa yang dilakukan oleh sesama kita, dengan tujuan untuk mengembalikan kepada Allah, maka Tuhan menasihatkan kita untuk mengigatkan mereka, "Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. (Mat.18:15)
(3) Untuk memperbaiki kelakuan
Pertobatan bukanlah sebuah ritual atau upacara semata, pertobatan adalah pengakuan akan kesalahan dan keinginan yang kuat untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan tersebut, demikianlah yang dikritisi oleh Yohanes pembapis pada saat orang Farisi dan Saduki datang untuk dibaptis di sungai Yordan ia mengatakan. Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan. (Mat.3:8).
(4) Untuk mendidik orang dalam kebenaran.
Kebenaran disini menggunakan kata dikaiosune yang berarti perbuatan benar atau keadilan, kata yang sama digunkan dalam Rom. 14:17 Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. Kata kebenaran adalah terjemahan dari dikaiosune. Artinya orang yang menerima Firman Allah sebagai kitab suci seharusnya didalam hidupnya menunjukkan prilaku yang adil. Adil dalam arti yang luas, adil terhadap diri sendiri, adil terhadap Tuhan dan Adil terhadap sesama. Adil artinya ada keseimbangan antara kepentingan diri sendiri dengan kepentingan orang lain, ada keseimbangan antara waktu untuk diri sendiri dan waktu untuk Tuhan. Sulit memang, bahkan seolah tidak mungkin diwujud nyatakan, tetapi untunglah Tuhan tidak membiarkan kita seorang diri, jika kita didalam Roh Kudus maka kita akan dimampukan untuk melakukannya.
Penutup :
Kita akan dapat menjadi manusia kepunyaan Allah jika Firman Allah bagi kita bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran, bukan hanya sebagai lembar kertas-kertas yang terdapat gambar dan angka-angka yang tidak berarti apa-apa, seperti wanita janda memandang cek yang dikirimkan oleh anaknya. Seandainya dia mengetahui fungsi dan kegunaan cek itu, maka ia akan hidup dengan berkecukupan bahkan berkelimpahan, tetapi ketidak tahuannya membuat ia menderita bahkan bisa saja ia menganggap anaknya anak yang tidak baik.
Apa yang kita peroleh jika kita menjadi manusia kepunyaan Allah ? kita akan diperlengkapi untuk perbuatan baik (2Tim3:17). Dengan demikian seperti halnya Timotius, maka kita akan dikenal baik oleh orang-orang disekitar kita. Amin.
[1] Hariyono (penyunting), Sketsa Kehidupa – 78 Ilustrasi Terbaru, Yayasan Andi, Yogyakarta,1993. hal 3-4.
Minggu, 14 September 2008
KELUARGA YANG TAKUT AKAN TUHAN
Oleh : P. Erianto Hasibuan
Nats : Maz. 128 : 1- 6
Apabila saya bertanya kepada kita, pribadi lepas pribadi, apakah anda merasa bahagia saat ini ?, lalu saya bertanya lagi, apakah keluarga anda adalah keluarga yang berbahagia ?. Jawabannya tentu beragam. Mungkin ada yang mengatakan di dalam hati, apa kriteria nya ? saya dan keluarga saya disebut bahagia?, atau ada yang langsung bekata saya saat ini memang berbahagia, demikian juga keluarga saya, setidaknya saya dan pasangan saya masih dapat berangkat bersama ketempat ini, atau ada juga mungkin ibu yang mengatakan ah.. sebetulnya kalau pertanyaan ini deberikan kepada kami pada pekan kedua sebelum natal, pasti jawabannya bahagia, tapi sekarang ? wah sulit untuk menjawabnya.
Apapun jawaban kita akan hal itu, yang pasti bila bapak/ibu, menjawab ia bahagia dan keluarganya bahagia, tentu pasangannya juga menjawab hal yang sama. Jika tidak, kita mungkin perlu atur waktu untuk ketemu dan berbicara lebih jauh, ada apa dengan kebahagiaan di keluarga ini.
Untuk jenis kebahagiaan seperti ini, ada sebuah kisah tentang seorang moralis yang bernama Tolstoi, semasa hidupnya ia memberitakan pesan-pesan moral seperti damai sejahtera dan hidup penuh dengan toleransi. Tetapi tak lama setelah Tolstoi meninggal dunia, isterinya menulis sebuah buku yang menggemparkan, karena sang isteri menuliskan, selama puluhan tahun saya dan anak-anak hidup bersama dengannya tetapi untuk hitungan jam sekalipun kami tidak pernah merasakan damai sejahtera bersama dia. Istilah ini kemudian berkembang hingga saat ini dengan mengatakan keKristenan Tolstoi bagi mereka yang hanya dapat memberitakan damai sejahtera ataupun Firman Tuhan, tanpa mengimplementasikan dalam hidupnya.
Takut akan Tuhan
Bacaan kita Maz. 128 ayat 1 dengan gamblang menyatakan "Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya!".
Ada 2 unsur penting untuk takut akan Tuhan/Allah :
1. Mengenal dia dan memahami siapa sesungghuhnya Dia (Amsal 2:5) "maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah".
2. Percaya kepada Tuhan bahwa Dialah pertolongan dan perisai satu-satunya. (Maz 115:11) "Hai orang-orang yang takut akan TUHAN, percayalah kepada TUHAN! -- Dialah pertolongan mereka dan perisai mereka." => Ayub. 1:10 Bukankah Engkau yang membuat pagar sekeliling dia dan rumahnya serta segala yang dimilikinya?
Bagaimana kita dapat memerikasa diri kita pribadi lepas pribadi dan keluarga lepas keluarga bahwa kita Takut akan Tuhan ?, Setidaknya ada 4 tanda-tanda orang yang takut akan Tuhan, yaitu :
1. Sangat suka kepada segala perintah Tuhan (Maz. 112 :1) "Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya."
Mereka yang suka segala perintah Tuhan pasti tidak akan melewatkan satu hari pun tanpa menggumuli Firman Tuhan, ia akan memiliki waktu khusus sesibuk apapun dia dalam hidupnya. Saya semasa masih kecil selalu menyaksikan ompung (kakek dan nenek) saya melakukan hal sangat mengagumkan saya, mereka selalu bernyanyi dan membaca Firman Tuhan dan berdoa bersama setelah bangun pagi, dan sebelum tidur. Hari-hari bahagianya adalah saat ia memiliki kesempatan untuk memperbincangkan Firman Tuhan. Sudah barang tentu hari Minggu bukanlah hari yang membosankan baginya, persekutuan seperti ini juga bagian dari schedule utamanya.
2. Mengikuti ketetapan-ketetapan Nya dan yang tidak melakukan kejahatan.
Kita tentu tidak ingin disebut dengan seorang Kristen Tolstoi. Artinya apa yang kita pelajari dari Firman Tuhan kita melakukannya, sehingga kita dapat menjadi teladan.
3. Mengajarkan perintah Allah kepada anak-anaknya. (Ul. 4 :10) "yakni hari itu ketika engkau berdiri di hadapan TUHAN, Allahmu, di Horeb, waktu TUHAN berfirman kepadaku: Suruhlah bangsa itu berkumpul kepada-Ku, maka Aku akan memberi mereka mendengar segala perkataan-Ku, sehingga mereka takut kepada-Ku selama mereka hidup di muka bumi dan mengajarkan demikian kepada anak-anak mereka." => (Ul. 6:6-7) Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, (7) haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.
Masihkah perintah ini relevan ?. Secara kedokteran didalam otak kita ada ratusan milyar NEURON yaitu sel-sel otak yang saling berhubungan, belajar adalah mencita dan memperkuat jalan dari impuls-impuls listrik menempuh neuron-neuron. Tapi diantara dan tiap hubungan di otak kita ada celah kecil yang disebut SINAPS. Setiap kita belajar sesuatu yang baru, sinyal listrik itu harus melompat celah ini untuk melanjutkan perjalanannya. Cara kerjanya dapat diilustrasikan bagaikan seorang pendaki gunung yang hendak menyeberangi sebuah tebing ke tebing yang lain yang terpisah karena adanya cebuah celah. Si pendaki gunung pada tahap awal harus bersusah payah untuk menyeberanginya dengan menggunakan tali, melemparkannya ke sisi tebing yang lain, kemudian menggunakan tali itu untuk menyeberang. Penyeberangan pertama sangatlah sulit, demikian halnya saat kita mempelajari sesuatu yang baru, pada awalnya adalah sulit, penyeberangan kedua sudah serasa lebih mudah, bahkan pada penyeberangan selanjutnya si pendaki telah dapat membuat jembatan yang menghubungkan kedua sisi gunung tersebut, pada tahapan ini hampir tidak ada lagi kesulitan untuk menyeberangitebing tersebut. Demikian halnya sesuatu yang kita pelajari tersebut pada akhirnya akan serasa begitu mudah. Inila yang disampaikan musa kepada umat Israel dan kita saat ini, yaitu mengajarkan Firman Tuhan berulang-ulang. Tahap awal mungkin begitu sulitnya, saya sendiri membutuhkan waktu 10 tahun untuk mengajak isteri saya untuk memiliki waktu pribadi untuk membaca Firman Tuhan, pada awalnya menurut pengakuannya apa yang saya selalu bicarakan padanya tetntang Firman Tuhan, baginya adalah sesuatu yang membosankan tapi karena dia masih menghormati suaminya ia mendengarkannya walau tidak menyimak. Tetapi tidak ada usah yang sia-sia, saat ini itulah yang dilakukannya kepada saya, dia dengan semangat menceritakan dan mendiskusikan nats yang dibacanya pada hari itu. Kata-kata memang penting untuk mengajar, tetapi contoh yang kita berikan secara konsisten akan mengajar melampaui kata-kata yang dapat kita ucapkan.
4. Hidup Bahagia (Pkh. 8:12) "Walaupun orang yang berdosa dan yang berbuat jahat seratus kali hidup lama, namun aku tahu, bahwa orang yang takut akan Allah akan beroleh kebahagiaan, sebab mereka takut terhadap hadirat-Nya." => Kis. 9:31 "Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus."
Kita dapat melihat sekarang, bahwa setiap keluarga yang takut akan Tuhan adalah keluarga yang memiliki kebahagiaan, karena mereka akan memiliki Damai, sebagaimana jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria yang damai karena penghiburan Roh Kudus. Jadi apa kriteria keluarga anda berbahagia ? bila ada kedamaian di dalamnya, kedamaian yang didasarkan pada pertolongan dan penghiburan Roh Kudus, jadi tidak ada kaitannya saat menerima THR atau tidak.
Upah Keluarga yang Takut akan Tuhan
1. Dapat menikmati hasil jerih payah (2)
Ulangan 28: 1-14 mengajarkan kepada kita bagaimana berkat bagi mereka yang mendahulukan Tuhan artinya mereka yang baik-baik mendengarkan suara Tuhan, dan melakukan dengan setia segala perintahNya, tetapi tidak demikian bagi mereka yang mengabaikan perintah Tuhan sebagai mana umat Israel yang menolak ajakan Nabi Hagai untuk membangun kembali Bait Allah, tetapi umat itu menolak dengan alasan belum saatnya karena mereka beranggapan bahwa Bait Allah sebaiknya dibangun setelah kondisi kehidupan mereka baik, atau dengan kata lain setelah urusan perut dan hidup selesai baru urusan Tuhan. Situasi mengabaikan Tuhan ini berakibat pada keadaan mereka yang tidak dpat menikmati apa yang mereka kerjakan (Hag. 1:6)
Kamu menabur banyak, tetapi membawa pulang hasil sedikit; kamu makan, tetapi tidak sampai kenyang; kamu minum, tetapi tidak sampai puas; kamu berpakaian, tetapi badanmu tidak sampai panas; dan orang yang bekerja untuk upah, ia bekerja untuk upah yang ditaruh dalam pundi-pundi yang berlobang!
2. Isteri dan Anak menjadi sumber berkat. (3)
Pohon Anggur dan Zaitun adalah lambang berkat Allah yang tak terhalangi. Isteri seperti pohon anggur yang membutuhkan tunjangan, namun senantiasa memberi lebih banyak dari menerima dalam hal menyediakan kebahagiaan bagi suaminya. Sebagaimana pemazmur menggambarkan Maz 105:15 dan anggur yang menyukakan hati manusia, yang membuat muka berseri karena minyak, dan makanan yang menyegarkan hati manusia.
Anak seperti tunas pohon Zaitun yang digambarkan pemazmur menghijau di dalam rumah Allah. (Maz.52:10) Tetapi aku ini seperti pohon zaitun yang menghijau di dalam rumah Allah; aku percaya akan kasih setia Allah untuk seterusnya dan selamanya.
Berbahagialah kita, yang pada saat ini di sapa Tuhan untuk menjadikan keluarga kita menjadi keluarga yang takut akan Tuhan. Karena kita dapat memulai dari sejak dini .
Ilustrasi :
Pada suatu hari, seorang tua yang bijaksana berjalan dengan seorang pemuda yang terkenal tidak bisa bertanggung jawab dan berkepala batu. Orang tua itu menghentikan langkahhnya, lalu menunjuk sebuah pohon oak yang kecil sekali. "Cabutlah pohon itu," katanya. Dengan segera pemuda itu membungkuk dan hanya dengan dua jari saja secara mudah dia dapat mencabut pohon itu.
Setelah berjalan lebih jauh lagi, orang tua itu berhenti didepan sebuah pohon yang sudah agak besar tubuhnya. "Cabutlah pohon ini," katanya. Sekali lagi pemuda itu menuruti perintah orang tua itu, namun kali ini ia menggunakan kedua tangannya dan tenaganya sekuat mungkin untuk mencabut akar pohon itu. Akhirnya mereka berhenti lagi didepan pohon oak yang besar sekali. "Sekarang, cabutlah pohon ini!" perintahnya lagi.
"Wah, hal itu tidak mungkin!" protes pemuda itu. "Aku tidak dapat mencabut pohon sebesar ini, untuk memindahkannya diperlukan sebuah buldozer."
"Engkau benar sekali," jawab orang tua itu. "Kebiasaan, entakah itu baik ataupun buruk, sama seperti pohon-pohon itu. Kebiasaan yang belum berakar dalam, seperti pohon oak yang masih kecil sekali, dapat dicabut dengan sangat mudahnya. Kebiasaan yang akarnya mulai mendalam adalah seperti pohon yang sudah agak besar tumbuhnya. Untuk mencabutnya diperlukan usaha dan tenaga sekuat mungkin. Kebiasaan yang telah lama sekali sudah terlalu dalam akarnya, sehingga orang itu sendiri tidak mungkin lagi bisa mencabutnya.
Simpulan :
Akhirnya marilah kita memeriksa keluarga lepas keluarga, apakah keluargaku keluarga yang takut kepada Allah ?
1. Sudahkah keluarga ku Sangat suka kepada segala perintah Tuhan ?
2. Sudakah aku dan keluargaku mengikuti ketetapan-ketetapan Nya dan yang tidak melakukan kejahatan?
3. Apakah aku sudah mengajarkan perintah Allah kepada anak-anak ku?
4. Sudakah keluarga ku hidup Bahagia?.
Berbahagialah kita yang mendapati bahwa keluarga kita adalah keluarga yang Takut akan Tuhan, karena Pemazmur bermazmur : Maz. 112 : 1-4
Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya.
Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati.
Harta dan kekayaan ada dalam rumahnya, kebajikannya tetap untuk selamanya.
Disampaikan pada Kotbah Minggu 14 September 2008 Pkl. 19.00 Ibadah Persekutuan Doa Oikumene (PDO) Villa Ubud Puri Gading Pondok Gede.
Jumat, 27 Juni 2008
MENDIDIK ANAK SUPAYA BERHIKMAT
MINGGU VI SETELAH TRINITAS
Nats : Amsal 4 :1-9 BACAAN : Rom. 11 : 33-36
Pembuka :
Tidak seperti sebelumnya, jadwal kotbah saya adalah minggu pertama setelah kehadiran saya untuk pertama kali di sini pada Minggu 06 Mei 2006, dan saat ini adalah pelayanan saya yang terakhir secara rutin di tempat ini sehubungan dengan kepindahan kami sekeluarga ke BEKASI karena pindah tugas.
PENDAHULUAN :
Kitab Amsal merupakan bagian dari kitab syair dan hikmat yang begitu tersohor, Amsal merupakan hikmat para bijak yang terilhamkan. Istilah Ibrani mashal yang diterjemahkan “amsal”, bisa berarti “ucapan” orang bijak, “perumpamaan” atau “peribahasa berhikmat”.
Tujuan kitab Amsal dengan jelas dinyatakan dalam Amsal 1:2-7, yaitu :
1. Untuk mengetahui hikmat dan didikan, untuk mengerti kata-kata yang bermakna (2)
2. Untuk menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan dan kejujuran, (3)
3. Untuk memberikan kecerdasan kepada orang yang tak berpengalaman, dan pengetahuan serta kebijaksanaan kepada orang muda (4)
4. Untuk menambah ilmu dan sebagai bahan pertimbangan bagi orang yang berpengertian (5)
5. Untuk mengerti amsal dan ibarat, perkataan dan teka-teki orang bijak. (6)
6. Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.(7)
Nats, yang dituliskan oleh Salomo dalam Amsal 4 :1-9, merupakan refleksi dari pengalaman Salomo begitu pentingnya untuk mendengarkan didikan seorang Ayah. Salomo merasakan sendiri bagaimana ayahnya Daud telah mendidik dia di Jalan Allah, bahkan pada saat menjelang akhir hayatnya Daud masih memberikan pesan yang indah : (1 Raj. 2 :3-4)
“Lakukanlah kewajibanmu dengan setia terhadap TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya, dan dengan tetap mengikuti segala ketetapan, perintah, peraturan dan ketentuan-Nya, seperti yang tertulis dalam hukum Musa, supaya engkau beruntung dalam segala yang kaulakukan dan dalam segala yang kautuju, dan supaya TUHAN menepati janji yang diucapkan-Nya tentang aku, yakni: Jika anak-anakmu laki-laki tetap hidup di hadapan-Ku dengan setia, dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa, maka keturunanmu takkan terputus dari takhta kerajaan Israel”.
Pengalaman Salomo atas didikan Ayahnya ini yang membuat dia pada saat Allah menampakkan diri kepanya dan berfirman “Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepada mu”. (2Taw.1:7b) maka ia tidak meminta seperti yang orang lain pikirkan, tetapi ia meminta seperti yang Allah kehendaki II Taw.1:10 :
“ Berilah sekarang kepadaku hikmat dan pengertian, supaya aku dapat keluar dan masuk sebagai pemimpin bangsa ini, sebab siapakah yang dapat menghakimi umat-Mu yang besar ini?"
Sebagai jawaban dari Doanya (I.Raja-raja 4:29-30):
“ Dan Allah memberikan kepada Salomo hikmat dan pengertian yang amat besar, serta akal yang luas seperti dataran pasir di tepi laut, sehingga hikmat Salomo melebihi hikmat segala bani Timur dan melebihi segala hikmat orang Mesir”.
Didikan seorang Ayah (1-4)
Salomo telah belajar tentang jalan-jalan Allah dari ayahnya dan kini ia meneruskan pengarahan itu kepada anak-anaknya. Allah ingin agar kesalehan dan pengabdian sungguh-sungguh kepada jalan-jalan-Nya diajarkan terutama melalui pengajaran orang tua dan teladan di rumah, dan bukan dengan mengalihkan tanggung jawab secara menyeluruh kepada program pendidikan gerejani. Sejak semula Alkitab telah mengajarkan kepada kita bahwa tanggung jawab itu ada pada orang tua Ul. 6:7.
“ haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun”.
Saat ini begitu banyaknya tawaran pendidikan full day school terutama bagi anak-anak SD bahkan pada pendidikan yang berbasis pada agama. Bagi orang tua yang suami isteri bekerja dan memiliki dana yang cukup sekolah jenis ini sangat cocok, karena mereka dapat berangkat kerja bersama dengan anaknya dan pulang kerja kembali orangtua menjemput dari sekolah bersamaan. Sangat efisien dan efektif menurut ukuran manusia modern dan sibuk. Sampai di rumah, masing-masing telah lelah seharian di sekolah dan di pekerjaan. Orang tua merasa tugasnya sudah selesai dengan menyediakan sarana dan biaya pendidikan yang memadai, merekapun perlu waktu untuk beristirahat dan berdua (suami isteri) sedang si anak biarlah asyik dengan Pr nya atau PS nya. Pada saatnya si anak bertingkah tidak sesuai dengan yang diharapkan orang tua, maka sekolah atau gereja yang menjadi sasaran, biasanya nadanya demikian “ Kurang apa lagi Papa dan Mama, kan sudah disekolahkan disekolah yang faforit dan bergengsi lengkap dengan ekstra kurikuler dan keagamaan, hari minggu ikut sekolah minggu di gereja yang guru sekolah minggunya mendapat pendidikan rutin dengan materi yang standard, lalu kenapa koq jadi begini ?”
Saya tidak sedang mengatakan bahwa full day school itu tidak baik, tetapi jangan hal itu mengantikan peran orang tua dalam mendidik anak-anak.
Inilah kealpaan kita sebagai orang tua, kita melupakan apa yang telah diperintahkan Allah kepada bangsa Israel, itu juga perintah untuk kita pada saat ini (Ul. 6:7), berapa kali dalam sehari, seminggu bahkan sebulan kita membicarakan Firman Tuhan kepada anak-anak kita.
Bagaimana seharusnya hubungan prang tua dengan anak, agar didikannya dapat diterima si anak dengan baik ? Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Kolose telah membantu kita (Kol. 3 : 21) “Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya”. Demikian juga untuk anak (Kol. 3 : 20) “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan”.
Jadi yang terutama bertanggung jawab dalam memberikan didikan Alkitabiah kepada anak-anak adalah Keluarga, bukan gereja atau sekolah minggu ataupun sekolah formal. Lembaga-lembaga tersebut hanya membantu didikan orang tua.
Perolehlah Hikmat dan Pengertian (5-9)
Hikmat bukanlah sesuatu yang mudah untuk didapatkan, karena hanya diberikan kepada mereka yang mau berusaha untuk mendapatkannya. Hikmat disalurkan melalui dua jalur :
1. Pendidikan.
Melalui pendidikan seorang akan mengalami perubahan rohani yang mencakup hal berbalik dari kejahatan menuju kepada pengenalan akan Allah. Hubungan pribadi dengan Allah menjadi langkah pertama dalam memperoleh hikmat sejati. Orang percaya harus takut akan Tuhan dan membenci kejahatan. (Ams. 8:13) Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat.
Ams. 9: 10 Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.
2. Pengabdian
Hikmat adalah untuk orang yang mengerti nilainya dan karena itu mencarinya dengan tekun Ams. 8:17 “Aku mengasihi orang yang mengasihi aku, dan orang yang tekun mencari aku akan mendapatkan daku”. Orang yang bijaksana belajar dari ajaran Ams. 9:9 “berilah orang bijak nasihat, maka ia akan menjadi lebih bijak, ajarilah orang benar, maka pengetahuannya akan bertambah”. dan didikan Allah Ams. 3:11 Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya.
Yesus Kristus adalah perwujudan unggul dari Hikmat Allah (I Kor. 1:30) Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.
Segala harta hikmat ada didalam Yesus Kristus (Kol. 2 : 2-3)
supaya hati mereka terhibur dan mereka bersatu dalam kasih, sehingga mereka memperoleh segala kekayaan dan keyakinan pengertian, dan mengenal rahasia Allah, yaitu Kristus, sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan.
Selama setahun lebih saya telah melayani di Gereja POUK Maranatha ini, setiap minggu pertama setiap bulannya. Apapun yang saya sampaikan kepada Ibu Bpk. Sekalian tidak akan ada artinya bila ibu/bpk. dan saudara sekalian tidak mengerti nilai dari Firman Allah yang saya sampaikan. Tetapi dengan kita mengerti nilainya kita akan bertumbuh dan memiliki Hikmat Tuhan hingga pada gilirannya memiliki kerinduan untuk membicarakan/mengajarkannya siang dan malam sebagaimana perintah Tuhan dalam Ul. 6:7.
Isteri saya sejak muda berkecimpung di aktivitas Gereja, di komisi pemuda gereja dan komisi sekolah minggu. Meskin cukup lama menjadi guru sekolah minggu, sementara saya tidak pernah aktif dikegiatan gereja dimasa kecil dan muda saya, selain berjemaat, tetapi saat saya tanyakan apakah dia sudah pernah membaca Alkitab dari Kejadian hingga Wahyu, dia menjawab belum pernah. Seiring dengan perkuliahan saya di Teologia, saya selalu membicarakan hal-hal yang mencakup firman Tuhan kepadanya, terutama bila saya mendapatkan bacaan harian yang menarik, saya selalu menceritakan kepadanya, entah dia suka atau tidak. Tetapi sesuai dengan pengakuannya sendiri kepada saya, dia sama sekali tidak tertarik, bahkan sekalipun saya pernah menjanjikan kepadanya bahwa jika ia berhasil menyelesaikan pembacaan dari Kejadian sampai dengan Wahyu saya akan beri dia hadiah senilai Rp. 5 juta. Entah karena hadiah itu atau bukan, yang jelas apa yang menurutnya selama ini membosankan karena saya selalu menceritakan Firman Tuhan kepadanya setiap kali ada kesempatan, itulah yang sekarang dilakukannya kepada saya. Setiap saya kembali dari kantor dia selalu dengan antusias menceritakan nats-nats yang dibacanya dan mendiskusikannya dengan saya.
Saat ini isteri saya telah mengerti nilainya hikmat Allah, hingga ia tidak mau lagi melalukan hari tanpa membaca Firman Tuhan. Anak saya yang bungsu (6 thn) belum mengerti dengan jelas akan hal itu, tetapi dia sudah memulai membuka Alkitab setiap hari. Anak saya yang besar (10 thn) belum melakukannya, tetapi saya percaya pada saatnya dia akan melakukannya sekalipun saya tidak perlu memaksa dia, karena setiap hari itulah yang dia lihat. Bagaimana dengan anda ? Ingat kata Ki Hajar Dewantara, Ing Ngarso Sung Tulodo. (di depan /pemimpin memberi contoh).
Untuk dapat mengulang-ulang apa yang sudah saya sampaikan dalam setiap Kotbah, saya telah mempublikasikan catatan setiap kotbah di http://teologiawam.blogspot.com dengan media ini diharapkan dapat menolong kita untuk mengingat kembali hal-hal yang pernah saya sampaikan dalam kotbah minggu.
Simpulan :
Sebagai orang tua (ayah/ibu) dan keluarga adalah orang yang paling bertanggung jawab untuk memperkenalkan dan mengajarkan Hikmat Allah kepada anak-anak kita dengan mengajarkannya berulang-ulang dan terus menerus. Untuk dapat mengajarkan dengan benar, maka terlebih dahulu kita harus memperoleh hikmat dan pengertian melalui pendidikan yang memalingkan kita dari kejahatan menuju pengenalan yang benar akan Allah dan Pengabdian yang secara tekun mencarinya karena kita mengetahui nilainya.
Pada akhirnya kita akan memohon kepada Tuhan kita Yesus Kristus supaya Ia memberikan kepada kita Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar. Biarlah kiranya doa Paulus kepada jemaat di Efesus, sebagai langkah awal kita untuk mendidik anak kita kepada pengenalan yang benar akan Hikamat Allah, seperti yang ada pada Efesus 1 : 17 :
“dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar”. Amin.
Disampaikan pada Kotbah Minggu 29 Juni 2008 Pkl. 10.15 GEREJA POUK MARANATHA MEDAN – SUMUT. (KOTBAH PERPISAHAN))
Minggu, 01 Juni 2008
PENGUTUSAN MENJADI MURID
MINGGU II SETELAH TRINITAS
Nats : Luk. 10 :1-12 BACAAN : Kel. 3 : 10-12
PENDAHULUAN :
Ketika masih kanak-kanak, saya punya hobby menonton film action ala Hongkong. Bintang film hongkong seperti Fu Shen, Chen Kuan Tai, Bruce Lee, Ti Lung dsb. Adalah nama-nama yang begitu akrab ditelinga saya dan mungkin ditelinga generasi se usia saya. Film mereka umumnya menceritakan hubungan guru dan murid. Thema-nya tidak jauh dari balas dendam. Ini memang tidak mendidik, tapi terlepas dari thema tersebut yang selalu saya nantikan dalam film tersebut adalah adengan saat si murid sedang latihan keras dalam menuntut ilmu kungfu dari gurunya. Si murid pada akhirnya akan menjadi miniatur dari gurunya, cara ia berkelahi, jurus yang dimiliki, bahkan hingga gaya bicaranya pun diikuti oleh muridnya. Kemampuan seorang murid akan mencapai puncaknya pada saat sang guru meninggal, karena dianiaya oleh kelompok lain. Jika pada saat gurunya hidup ia masih mau melalaikan jadwal latihannya atau berlatih sesukanya, tetapi pada saat gurunya telah almarhum, ia berlatih sangat keras dan melakukan seluruh yang pernah diajarkan gurunya kepadanya, semua ini didasari oleh motivasi balas dendam.
Nats kita pada saat ini berbicara mengenai pengutusan murid. Yesus memang masih hidup secara manusiawi pada saat itu. Tetapi bagi kita yang hidup saat ini Yesus adalah seorang guru yang telah membuktikan KASIHNYA kepada kita, bahwa IA mau dianiaya dan mati demi untuk menebus kita, agar kita diselamatkan dari hukuman yang kekal.
Saat ini, SANG GURU memanggil kita untuk di utus menjadi murid, bagaimana tanggapan kita atas panggilan tersebut ?
Siapa yang di utus ?
Ayat 1 Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain,..
Angka 70 adalah angka simbolis Yahudi yang menunjukkan tua-tua yang dipilih untuk membantu Musa (Bi. 11:16); Juga angka anggota Sanhendrin, dewan tertinggi Yahudi. Juga dipercaya sebagai jumlah dari bangsa-bangsa di dunia (Kej.10), yang menunjukkan pandangan yang bersifat universitalitas.
Dengan demikian ayat ini menunjukkan bahwa Yesus mengutus mereka ke segala bangsa, dan tidak terbatas pada bangsa tertentu. Mereka yang di utus bukanlah para RASUL tetapi murid yang lain, yang boleh jadi adalah orang-orang biasa (Kis. 11:20)
Yesus saat ini juga memilih setiap kita untuk di utus menjadi murid. Menjadi utusan berarti Mewakili Tuhan. Karena kita akan mewakili Tuhan maka apa yang kita sampaikan adalah maksud Tuhan semata, artinya untuk menjadi utusan kita harus mengenal dengan baik siapa yang kita wakili dan apa yang hendak Ia sampaikan melalui kita. Dengan demikian kita tidak hanya sebagai penyampai pesan dalam kata-kata, tetapi prilaku dan gaya hidup kita juga menggambarkan siapa yang mengutus kita. Seperti halnya seorang murid yang menjadi miniatur sang guru.
Mengapa kita di utus sebagai murid ?
Karena :
Ayat 2 . "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.
Melalui ayat ini, juga ayat pararel (Mat.9:37) Yesus memperingatkan semua orang percaya bahwa orang yang terhilang mempunyai jiwa abadi yang sangat berharga dan harus tinggal di sorga atau neraka, dan banyak dari mereka dapat diselamatkan apabila ada yang memberitakan injil kepada mereka.
Ayat 2b Mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu
Ayat. 3 Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.
Ayat ini mengingatkan kita untuk tidak melupakan salah satu prinsip rohani Allah sendiri. Sebelum Allah bertindak biasanya IA memanggil umatnya untuk berdoa. Hanya setelah umatnya berdoa, barulah Allah melakukan pekerjaanNya. Jadi bagaimana Allah mengirimkan pekerja-pekerjaNya bila kita sendiri tidak pernah berdoa ?.
Jadi murid diperlukan untuk mengembalikan orang-orang yang terhilang, hingga pada saatnya jiwanya yang abadi akan tinggal di sorga. Tetapi panggilan untuk Pergi bukanlah pekerjaan yang mudah, karena para murid susungguhnya pergi ketengah-tengah serigala. Mengapa Lukas menuliskan hal tersebut ?. Pada saat Lukas menuliskan Injilnya sekitar tahun 60-63 M. Saat itu pemimpin Roma adalah Kaisar Nero (54-68). Nero pasca membunuh ibunya Agrippina thn 59M, ia menjadi raja yang tak terkendali. Kebenciannya terhadap pengikut Kristus telah dimulai dengan penganiayaan, sekalipun belum sedasyat pasca kebakaran besar di Roma thn 64 M. Pada masa itu, ia menuduh orang Kristen yang melakukan pembakaran tersebut untuk mengalihkan tuduhan terhadap dirinya yang berambisi membangun Gedung Emasnya, yaitu sebuah Istana megah yang dibangun di atas bukit Esquilline seluas 50 Ha.
Bagaimana sikap seorang murid yang diutus ketengah serigala ? Penulis Injil Matius memberikan jalan keluar Mat. 10:16 "Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Ayat yang baik ini, cenderung banyak disalah artikan oleh banyak kalangan dengan memberi arti negatif kepada kata cerdik. Dalam bahasa aslinya (Yun) kata itu berasal dari phronimos (fronimos) yang digunakan sebanyak 14 kali, antara lain digunakan dalam Mat. 7:24; 24:25; 25:2,4,8,9;Luk.12:42; 1Kor.10:15; 2Kor.11:19 yang diterjemahkan dengan bijaksana. Dengan demikian phronimos sesungguhnya berarti positif, sehingga dapat saja Mat. 10:16 diterjemahkan menjadi bijaksana seperti ular dan tulus seperti merpati. (Terjemahan ini mungkin sulit bagi pembaca karena pemahaman bahwa ular adalah si “pendosa” yang menggoda Hawa untuk jatuh kedalam dosa. Jadi bagimana mungkin si “pendosa” yang terhukum disebut dengan bijaksana).
Dengan demikian seorang murid yang akan di utus ketengah-tengah serigala haruslah murid yang bijaksana dan tulus. Jadi serigala tidak ditaklukkan dengan kekerasan tetapi dengan bijaksana dan tulus, yang juga merupakan perwujudan dari buah-buah Roh yang ajarkan Sang Guru Agung kepada kita.
Fokus Pada Panggilan
Ayat 4 Seorang murid yang akan memberitakan Firman Tuhan haruslah fokus pada tugas panggilannya, sehingga ia tidak boeh dibebani hal-hal yang bersifat :
1. Materialitas (4a)
Murid harus dapat berjalan dengan cepat ketempat tujuannya, tanpa harus dibebani dengan perkara-perkara makan dan minum serta peralatan lainnya. Situasi saat itu transportasi bukan seperti saat ini, setiap murid dalam kebiasaan orang Yahudi selalu membawa keranjang dipundaknya yang dapat diisi dengan berbagai keperluan termasuk makanan. Ingat, mengapa saat Tuhan Yesus memberi makan lima ribu orang ada sisa 12 bakul, karena kedua belas murid Yesus masing-masing membawa satu bakul. Perjalanan yang cukup jauh, umumnya ditempuh dengan jalan kaki. Berjalan kaki dengan bekal macam-macam akan memperlambat ruang gerak para murid. Dalam hal ini Tuhan Yesus mengajarkan agar para murid tidak dibebani oleh hal-hal yang bersifat material, yang dapat mengganggu tugas panggilannya.
Bukankah hal ini juga kerap kita alami saat ini. Kita merespon panggilan Tuhan, bahkan mungkin kita mengatakan “ini aku Tuhan, utuslah aku” Tapi pada saat yang hampir bersamaan kita mengkawatirkan akan bagaimana dengan barang daganganku bila aku harus ke gereja pada hari minggu, padahal justru hari minggulah jualanku laku. Sebagai pelayan memang kita sering mudah terpikat dengan hal-hal yang material, ah lebih baik melayani si A karena kalau ketempatnya pasti ada sesuatu, tapi kalau si B pasti kosongan. dst.
2. Hal-hal kecil yang menggangu tugas panggilan (4b)
Janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Nats ini bukanlah pengajaran untuk tidak ramah, tetapi kita jangan diganggu dengan hal-hal yang kecil. Memberi salam berarti berhenti berjalan dan bertegur sapa sesaat untuk meluangkan waktu berbicara akan hal-hal yang tidak begitu penting. Hal-hal kecil jangan sampai mengganggu hal besar yang akan dituju. Pada etnis Batak banyak ditemukan kumpulan (arisan) yang didasari pada ikatan marga. Kumpulan ini Pada saat pendirian kumpulan itu tujuannya adalah untuk mempererat persekutuan dan memuji nama Tuhan, sehingga setiap pertemuan selalu dimulai dengan ibadah singkat dan kotbah. Tetapi tujuan mulia ini pada akhirnya akan menjadi rutinitas yang kalau perlu lebih dipersingkat lagi karena peserta membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk bermain joker, atau hal-hal yang tidak begitu penting.
Tugas seorang utusan
Ayat 5-12 Tugas seorang utusan tidaklah selalu direspon dengan positif. Dalam hal utusan diterima beritakanlah bahwa Kerajaan Allah sudah dekat padamu (9) dan sembukanlah orang-orang sakit yang ada disitu. Artinya keadaan orang yang menerima pemberitaan akan dipulihkan (diubahkan). Bagaimana dengan penolakan, bila itu yang terjadi pemberitaan tetap harus dilakukan, karena pemberitaan tidak tergantung pada si penerima. Tetapi dalam hal ini tidak terjadi penyembuhan terhadap orang sakit ditempat itu, tetapi yang terjadi adalah pemberitaan akan hukuman (12).
Dengan demikian Kabar baik yang disampaikan yaitu Kerajaan Allah sudah dekat padamu bagi yang menerima akan disembuhkan tetapi bagi yang menolak akan mendapatkan hukuman bahkan yang lebih berat dari Sodom.
Simpulan
Bagaikan seorang murid pada cerita kungfu yang berlatih siang malam untuk dapat mewarisi ilmu yang dimiliki oleh gurunya yang telah mati teraniaya, agar ia dapat membalaskan dendam sang guru. Kita yang saat ini sebagai murid Yesus, yang telah mati teraniaya demi pembebasan kita dari hukuman abadi, sudah seyogianya juga berlatih siang malam untuk menjadi segambar dengan sang guru yaitu Yesus Kristus, sehingga kita dapat menjadi utusan yang mewakilinya untuk membawa jiwa-jiwa yang abadi untuk tinggal di sorga, karena Tuaian memang banyak tetapi pekerja sedikit. Sekalipun sebagai pekerja kita diutus ketengah-tengah serigala, tetapi dengan menjadi murid yang bijaksana dan tulus kita dapat menjadi pekerja yang baik karena kita tetap fokus kepada panggilan untuk memberitakan kabar baik yaitu Kerajaan Allah sudah dekat padamu.
Disampaikan pada Kotbah Minggu 1 Juni 2008 Pkl. 10.15 GEREJA POUK MARANATHA MEDAN – SUMUT.
Dipanggil untuk melayani
Menjadi pelayan bukanlah pekerjaan yang paling digemari di dunia. Ada yang melakukannya karena terpaksa, karena hanya itulah yang dapat mereka lakukan. Ada yang melakukannya sebagai suatu profesi sehingga mereka menjadi ahli dalam melayani, seperti halnya di Inggris. Tetapi pada umumnya orang dari kebudayaan mana pun, tidak suka melayani orang lain. Namun mengapa orang-orang Kristen dipanggil untuk melayani.
Pernahkah anda berfikir, mengapa Allah tidak segera saja mengambil orang-orang yang telah diselamtkannya dari dunia ini dan membawanya kedalam sorga. Mengapa mereka masih tetap dibiarkan didunia ini. Bukankah itu artinya kita diminta untuk bekerja untuk mewujud nyatakan rencana Allah di dunia ini. (Ingat perumpamaan gandum dan ilalang Mat.13:24-30)
Apakah setiap orang Kristen dipanggil untuk melayani? Bagaimana mengetahui panggilan Tuhan?
Mungkin kita berfikir bahwa yang dipanggil untuk melayani adalah para pekerja gereja, seperti Pdt, Pastor, Teolog, maupun mereka yang bergelut di lembaga penginjilan. Jadi bagaimana dengan kita sebagai jemaat biasa ?
Bacaan kita Roma 8 :28 "Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah".
Ayat tersebut di atas memberitahu kita dua hal:
1. Orang-orang yang mengasihi Tuhan adalah mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana-Nya.
2. Tuhan berjanji bahwa Ia turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka.
Dalam Perjanjian Baru, istilah "dipanggil" (Kletos) dan "panggilan" (Klesis) timbul 22 kali. Semuanya menyatakan panggilan Tuhan kepada umat-Nya untuk sesuatu maksud yang rohani. Panggilan-panggilan ini tidak melulu panggilan untuk menjadi seorang pendeta atau missionari, melainkan seluruh jemaat dipanggil oleh Tuhan dimana "kletos" + kata depan "ek" = "ekklesia." Istilah "ekklesia" timbul dalam Perjanjian Baru sebanyak 115 kali, yang berarti "the called-out ones" dan diterjemahkan sebagai "gereja."
Suatu gereja yang didirikan oleh Tuhan pasti terdiri atas individu-individu yang dipanggil oleh Tuhan. Mereka dipanggil ke luar dari keduniawian dan masuk ke dalam Kristus. Segala aktivitas dan cara hidup dalam gereja seharusnya :
tidak "serupa dengan dunia" (Rom 12:2), melainkan "berpadanan dengan panggilan itu" (Ef 4:1).
Ada 2 Jenis panggilan,
Pelayan Tuhan secara "Full time." (Rom 1:1) Paulus mengatakan bahwa ia "dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah"
Pelayanan umum yang harus dilakukan setiap orang Kristen (Rom 1:6; 1Kor 7:22) Paulus mengatakan bahwa anggota-anggota di jemaat Roma dan Korintus juga dipanggil oleh Kristus dalam pelayanan-Nya. Tiada seorang pun yang boleh berdalih bahwa ia tidak dipanggil oleh Tuhan dalam pelayanan. Semua anak Tuhan adalah pelayan Tuhan.
Secara praktis, banyak orang Kristen mempunyai alasan yang masuk akal untuk tidak terjun ke dalam pelayanan. Misalnya: "Aku tidak mempunyai talenta: Aku tidak berpendidikan tinggi; Aku lemah dan bodoh" dan lain-lain. Sebaiknya orang-orang tipe ini membaca 1Korintus 1:26-28 Sesungguhnya tidak ada yang mampu tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, meniadakan apa yang berarti ...". Ayat-ayat ini bukan berarti semua orang yang dipakai oleh Tuhan adalah yang bodoh-bodoh, memakai kita. Bahkan Tuhan berjanji akan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia (Rom 8:28).
Dalam masyarakat modern yang berkompetisi tinggi, perusahaan-perusahaan dan organisasi-organisasi dunia hanya mau memakai orang-orang yang "pandai, cakap, kuat dan mulia." Tetapi Tuhan memanggil segala macam orang yang "mengasihi Dia" (Rom 8:28) dan "yang kudus" (Ef 4:12), untuk diperlengkapi bagi pekerjaan pelayanan. Istilah "diperlengkapi" (katartismos Ef 4:12), boleh diterjemahkan "dipersenjatai" atau "disempurnakan." Syukur kepada Tuhan bahwa karena kerelaan melayani Tuhan, maka kita yang lemah dan bodoh "diperlengkapi" menjadi orang-orang yang pandai dan kuat. Seorang tokoh iman yang bernama A.W. Tozer mengatakan: "Tuhan hanya dapat memakai orang yang selalu bersukacita dan tidak menolak didikan atau ajaran Tuhan."
Ada banyak orang yang melayani Tuhan secara "temprary." Artinya, kalau ia "senang hati, lancar, banyak berkat, dipuni" maka ia mau melayani Than. Tetapi kalau keadaan memburuk, maka ia tidak lagi berminat untuk melayani. Ini adalah sifat manusia yang egois. Ingatlah bahwa "Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya" (Rom 11:29). Panggilan Tuhan bersifat "permanen", bukan "sementara."
Yang terakhir, bagaimana kita mengetahui panggilan Tuhan atas diri kita masing-masing?
1. "Berusahalah sungguh-sungguh" (2Pet 1:10a) untuk mengetahui panggilan Tuhan.
2. "Jika kamu melakukannya (taat), kamu tidak pernah tersandung" (2Pet 1:10b).
3. Mintalah (berdoa) ... supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apa yang terkandung dalam panggilan-Nya (Ef 1:17-18).
4. Semakin kita mengasihi Tuhan, semakin kita meyakini panggilan Tuhan. Menurut Roma 8:28 "mereka yang mengasihi Dia" identik dengan "mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." Maka ketaatan terhadap perintah Tuhan dan dorongan kasih kepada-Nya itulah yang mendasari pelayanan kita.
Setelah kita mengerti panggilan Tuhan, marilah kita siap untuk terjun ke dalam pelayanan dengan segenap hati dan pengucapan syukur. Sebagaimana ada sebuah poster yang mengatakan: "Uncle Sam needs you" demikian pula "we (our chruch) need you" Gereja membutuhkan orang Kristen yang mengasihi Tuhan dan rela melayani-Nya.
Disampaikan pada ibadah Kamis pagi di RSU Methodist Medan, 22 Mei 2008.