SELAMAT DATANG DI "TEOLOGI KAUMAWAM"

Salam dalam Kasih Tuhan Yesus Kristus. Terimakasih telah mampir di blog yg sederhana ini. Kami sangat berterimakasih bila saudara berkenan memberi tanggapan atas tulisan yang saudara baca di blog ini. Karena dengan tanggapan itu kami akan dapat belajar dan berbagi, sebab untuk itulah blog ini dibuat agar hidup kita tetap terpelihara dalam persekutuan. Semua tulisan dalam blog ini dapat dikutip dengan tetap mencantumkan sumbernya. Kiranya Tuhan Yesus memberkati kita. Pax Vobiscum, Erianto Hasibuan

Minggu, 16 November 2008

Gereja yang membutuhkan anda atau anda yang membutuhkan gereja ?

Oleh : P. Erianto Hasibuan [1]

Pengantar :
Kedatangan Pak Pdt. Ferry H bersama pemuda ke rumah pada Jum’at lalu (110507) membuat saya tidak sempat berfikir panjang untuk menyanggupi, kecuali dengan pertimbangan bahwa tidak baik menolak permintaan untuk melayani. Yang lebih membuat saya mengerutkan kening adalah karena saya diberikan cek kosong, alias tema suka-suka. Dengan situasi tersebut maka menjanjikan sebuah tulisan pun saya tidak berani. Untuk itu tulisan singkat kali ini semoga dimaklumi segala kekurangannya, sekalipun sesungguhnya penulis berkeinginan menyajikan yang terbaik.
Sebagai Gereja dengan azas Calvin, sudah seyogianya dalam membicarakan peranan kaum muda kita bercermin saja pada Yohanes Calvin, seorang yang sangat berdisiplin tinggi dan pada usia muda (26 Thn) menerbitkan edisi pertama Institutio : Pengajaran Agama Kristen, tahun 1535. Buku yang selanjutnya menjadi dasar pengajaran dan doktrin kaum Reformasi Calvin, termasuk GKI SUMUT. Calvin muda adalah seorang yang idealis, yang dengan nyata menolak ajakan Pdt. Willem Farel untuk menolongnya melayani jemaat di Jenewa. Penolakan Calvin didasarkan pada pendiriannya bahwa ia hanya mempunyai bakat dibidang karang mengarang saja, sehingga tidak berguna dalam praktek. Tetapi sejarah membuktikan, bahwa keteguhan hati Pdt. Willem Farel telah meluluhkan hati “keras” seorang Calvin bahkan ternyata ia telah berhasil dalam memimpin jemaat di Jenewa, bahkan ia mampu menciptakan sistim pemerintahan Kristokrasi yang sangat berdisiplin tinggi di Jenewa serta mengutamakan kehidupan yang dikuasai oleh Firman Tuhan, sekalipun disana sini masih terdapat kritikan terhadapnya.
Semula Calvin bisa jadi merasa, bahwa gereja lah yang membutuhkannya (setidaknya melalui pengakuannya bahwa ia tidak berbakat di lapangan), tetapi dalam perjalanan selanjutnya, sekalipun ia sempat diasingkan tetapi pada akhirnya dia kembali ke jemaatnya. Pada titik ini mungkin dapat kita katakan bahwa justru Calvin yang membutuhkan gereja.
Bagaimana dengan kaum muda saat ini, apakah anda merasa bahwa Gereja yang membutuhkan anda atau justru anda yang membutuhkan Gereja ?
Sebagai bahan referensi dalam mendiskusikan hal tersebut, berikut disajikan sebagaian dari bukunya Rick Warren, yang berjudul The Purpose Driven Life [2], yang mengemukakan bahwa ada 6 alasan mengapa anda membutuhkan Gereja dan keluarga gereja, yaitu :
1. Sebuah keluarga gereja menunjukkan bahwa anda adalah sungguh- sungguh orang percaya.
Saya tidak bisa menyatakan diri sebagai pengikut Kristus jika saya tidak terikat pada satu kelompok murid tertentu. Yesus berfirman,
"Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." (Yohanes 13:35)

Bila kita bersatu di dalam kasih sebagai sebuah keluarga gereja dari latar belakang, ras dan status sosial yang berbeda, hal tersebut merupakan kesaksian yang sangat kuat bagi dunia (Galatia 3:28; lihat juga Yohanes 17:21). Anda bukanlah tubuh Kristus secara sendirian. Anda membutuhkan orang lain untuk menyatakannnya. Bersama-sama, bukan terpisah, kita merupakan tubuh-Nya (1Korintus 12:27).
2. Sebuah keluarga gereja mengeluarkan Anda dari keterasingan yang mementingkan diri sendiri.
Gereja lokal merupakan ruang kelas untuk belajar bagaimana bergaul dengan baik di dalam keluarga Allah. Gereja merupakan laboratorium untuk menerapkan kasih yang penuh perhatian dan tidak mementingkan diri sendiri. Sebagai anggota yang aktif anda belajar untuk memperhatikan orang lain dan ikut merasakan pengalaman orang lain:
"Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita." (1Korintus 12:26)

Hanya di dalam hubungan yang terus menerus dengan orang-orang percaya yang biasa dan yang tidak sempurna, kita bisa mengenal persekutuan yang sesungguhnya dan mengalami kebenaran Perjanjian Baru tentang saling berhubungan dan saling bergantung (Efesus 4:16; Roma 12:4-5; Kolose 2:19; 1Korintus 12:25).
Persekutuan yang Alkitabiah berarti menimbulkan satu ikatan satu dengan yang lain seperti kita terikat dengan Yesus Kristus. Allah mengharapkan agar kita memberikan hidup kita satu kepada yang lain. Banyak orang Kristen yang mengetahui Yohanes 3:16 tidak menyadari akan 1Yohanes 3:16:
"Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita."
Inilah jenis kasih yang berkorban yang Allah ingin anda tunjukkan kepada orang-orang percaya lainnya, yaitu suatu kesediaan untuk mengasihi mereka dengan cara yang sama seperti Yesus mengasihi anda.
3. Sebuah keluarga gereja membantu anda mengembangkan otot-otot rohani.Anda tidak akan pernah bertumbuh menuju kedewasaan hanya dengan menghadiri ibadah dan menjadi penonton yang pasif. Hanya keikutsertaan dalam kehidupan penuh dari gereja lokallah yang akan membangun otot rohani. Alkitab berkata, Efesus 4:16b
"Setiap anggota tubuh melakukan pekerjaannya masing-masing dan itu membuat seluruh tubuh bertumbuh dan menjadi kuat dengan kasih (VMD) Ketika masing-masing bagian melakukan pekerjaan khususnya, ia akan menolong bagian lainnya untuk bertumbuh, sehingga seluruh tubuh sehat dan bertumbuh dan penuh dengan kasih." (NLT))
Lebih dari lima puluh kali di dalam Perjanjian Baru frasa "saling" atau "seorang akan yang lain" digunakan. Kita diperintahkan untuk mengasihi seorang akan yang lain, saling mendoakan, saling menguatkan, saling menasihati, memberi salam seorang kepada yang lain, melayani seorang akan yang lain, mengajar seorang akan yang lain, saling menerima, saling hormat, bertolong-tolongan menanggung beban, saling mengampuni, merendahkan diri seorang kepada yang lain, dan mengerjakan banyak tugas bersama lainnya. Inilah keanggotaan menurut Alkitab! Inilah "tanggung jawab keluarga" anda yang Allah harapkan untuk anda penuhi melalui persekutuan lokal. Bersama siapa anda melakukan hal-hal ini?
Mungkin terasa lebih mudah untuk menjadi suci ketika tidak ada orang lain di sekeliling yang akan menganggu kesenangan- kesenangan anda, tetapi itu adalah kesucian yang palsu dan tidak teruji. Keterasingan menghasilkan kebohongan; mudah untuk membodohi diri kita sendiri dengan mengira bahwa kita menjadi dewasa jika tidak ada seorang pun yang menantang kita. Kedewasaan yang sejati muncul dalam hubungan.
Kita tidak hanya membutuhkan Alkitab untuk bertumbuh; kita memerlukan orang-orang percaya lainnya. Kita bertumbuh lebih cepat dan kuat dengan saling belajar dan saling bertanggung jawab. Ketika orang lain membagikan apa yang Allah ajarkan pada mereka, saya juga belajar dan bertumbuh.
4. Tubuh Kristus membutuhkan anda
Allah memiliki peran yang unik untuk anda mainkan di dalam keluarga-Nya. Inilah yang disebut "pelayanan" anda, dan Allah telah memberi anda karunia untuk tugas ini:
"Karunia rohani diberikan kepada setiap kita sebagai alat untuk menolong seluruh gereja." (1Korintus 12:7)
Persekutuan lokal anda adalah tempat yang Allah rancang bagi anda untuk menemukan, mengembangkan dan memakai karunia-karunia anda. Anda juga mungkin memiliki pelayanan yang lebih luas, tetapi hal tersebut hanya merupakan tambahan untuk pelayanan anda dalam tubuh lokal. Yesus tidak berjanji untuk membangun pelayanan anda; Dia berjanji untuk membangun Gereja-Nya.

5. Anda akan ambil bagian dalam misi Kristus di dunia.
Pada saat Yesus hidup di bumi, Allah bekerja melalui tubuh jasmani Kristus; sekarang Dia menggunakan tubuh rohani-Nya. Gereja adalah alat Allah di bumi. Kita bukan hanya harus meneladani kasih Allah dengan saling mengasihi; kita harus membawa kasih Allah bersama-sama bagi seluruh dunia ini. Ini merupakan hak istimewa yang luar biasa yang telah diberikan kepada kita semua. Sebagai anggota Tubuh Kristus, kita merupakan tangan-Nya, kaki-Nya, mata-Nya, dan hati-Nya. Dia bekerja melalui kita di dunia. Kita masing-masing memiliki bagian untuk dilakukan. Paulus memberi tahu kita,
"Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalam-Nya." (Efesus 2:10)
6. Sebuah keluarga gereja akan membantu menjaga anda dari kemunduran.Tidak seorang pun dari kita kebal terhadap pencobaan. Dalam situasi yang tepat, saya dan anda bisa berbuat dosa apa saja. Allah mengetahui hal ini, sehingga Dia memberi kita tanggung jawab sebagai individu untuk saling menjaga agar tetap berada di jalur (1Korintus 10:12; Yeremia 17:9; 1Timotius 1:19). Alkitab berkata,
"Tetapi nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari ... supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi tegar hatinya karena tipu daya dosa." (Ibrani 3:13)
"Uruslah urusanmu sendiri" bukanlah frasa kristiani. Kita dipanggil dan diperintahkan untuk terlibat dalam kehidupan orang percaya lainnya. Jika Anda mengetahui seseorang sedang menyimpang secara rohani sekarang, menjadi tanggung jawab Anda untuk pergi kepada mereka dan membawa mereka kembali ke dalam persekutuan. Yakobus memberi tahu kita, (Yak. 5:19)
"Saudara-saudara, seandainya salah satu dari kamu tidak lagi setia kepada kebenaran, biarlah orang lain membuatnya insyaf dan kembali kepada kebenaran (VMD) Jika kamu mengetahui orang-orang yang telah menyimpang dari kebenaran Allah, janganlah menolak mereka. Pergilah kepada mereka. Bawalah mereka kembali." (Msg)
Manfaat lain dari gereja lokal adalah bahwa gereja lokal tersebut juga menyediakan perlindungan rohani dari pemimpin-pemimpin yang saleh. Allah memberi para gembala tanggung jawab untuk menjaga, melindungi, mempertahankan dan memperhatikan kesejahteraan rohani dari kawanan domba-Nya (Kisah Para Rasul 20:28-29; 1Petrus 5:1-4; Ibrani 13:7,Ibrani 13:17). Kita diberi tahu,
"Sebab mereka selalu memperhatikan jiwamu, dan mereka harus bertanggung jawab kepada Allah." (Ibrani 13:17 (BIS))
Iblis menyukai orang-orang percaya yang mundur, yang memisahkan diri dari kehidupan Tubuh, terpisah dari keluarga Allah, dan tidak lagi di bawah tanggung jawab pemimpin-pemimpin rohani, karena Iblis tahu mereka tidak memiliki pertahanan dan tidak berdaya melawan taktiknya.
Pandangan Sekular :
Sekedar memberikan pandangan lebih lanjut berikut disajikan secara singkat pandangan David Clarence McClelland (191727 Maret 1998) mengatakan bahwa kebutuhan individu diperoleh dari waktu ke waktu dan dibentuk melalui pengalaman hidup seseorang. Sebagian besar dari kebutuhan ini dapat dikelompokkan menjadi prestasi, afiliasi dan kekuasaan. Keefektifan seseorang dalam melaksanakan tugas dan fungsinya dipengaruhi oleh ketiga kebutuhan tersebut. Teori McClelland kadang-kadang di katakan sebagai teori tiga kebutuhan atau sebagai teori kebutuhan yang dipelajari (learned needs theory).
Sesuai dengan namanya teori kebutuhan yang dipelajari, maka teori ini pada awalnya didasari pada kenyataan bahwa para sarjana yang memiliki prestasi tinggi di kampus tidak selamanya dapat menunjukkan prestasi yang tinggi didalam pekerjaan. Atas dasar tersebut dilakukan penelitian terhadap para pekerja yang sukses, dan mengapa mereka dapat sukses dalam pekerjaannya. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan maka diperoleh karakteristik yang ditunjukkan oleh individu dengan kinerja yang menonjol. Karakteristik tersebut mungkin juga dimiliki oleh mereka yang tidak berprestasi menonjol, tetapi pada mereka yang berprestasi menonjol, karakteristik tersebut lebih sering ditunjukkan dan diberbagai situasi dengan hasil yang lebih baik. Hal tersebut dikenal dengan istilah Kompetensi.

Penutup :
Tulisan singkat di atas diharapkan dapat menggiring kita untuk mendiskusikan lebih lanjut bagaimana pandangan kita mengenai hubungan Kaum muda dengan Gereja. Yang pokok yang diharapkan penulis dari diskusi ini adalah bagaimana kaum muda memahami keberadaannya di tempat ini, apakah keberadaannya di tempat ini akan membawa manfaat baginya secara rohani demikian juga kaitannya dengan pencapaian cita-citanya untuk di masa depan.
Berdasarkan hal di atas mari kita diskusikan menurut pandangan anda, apakah anda merasa bahwa Gereja yang membutuhkan anda atau justru anda yang membutuhkan Gereja ? Jawaban tentunya disertai dengan argumentasi yang mendukung baik melalui Firman Tuhan maupun menurut pandangan Sekular.

Referensi :
Berkhof, H (disadur untuk Indonesia oleh I.H.Enklaar) Sejarah gereja, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2004.
Curtis, A. Kenneth, The 100 Most Important Events in Christian History, Ing H. Revell, Michigan, 1991. Edisi Terjemahan oleh BPK Genung Mulia, Jakarta, 2006
Gibson, James L. Organizations : behavior, structure, processes, 9thed. Richard D. Irwin, 1997.
Warren, Rick, The Purpose Driven Life, EdisiTerjemahan oleh Gandum Mas, Malang, 2004.
[1] Disampaikan pada acara Reatreat Komisi Pemuda GKI Sumut Tanjung Rejo di Taman Dewi pada 13 Mei 2007.
[2] Warren, Rick, The Purpose Driven Life, EdisiTerjemahan oleh Gandum Mas, Malang, 2004. hal. 148-151.

Minggu, 14 September 2008

KELUARGA YANG TAKUT AKAN TUHAN

Oleh : P. Erianto Hasibuan
Nats : Maz. 128 : 1- 6



Apabila saya bertanya kepada kita, pribadi lepas pribadi, apakah anda merasa bahagia saat ini ?, lalu saya bertanya lagi, apakah keluarga anda adalah keluarga yang berbahagia ?. Jawabannya tentu beragam. Mungkin ada yang mengatakan di dalam hati, apa kriteria nya ? saya dan keluarga saya disebut bahagia?, atau ada yang langsung bekata saya saat ini memang berbahagia, demikian juga keluarga saya, setidaknya saya dan pasangan saya masih dapat berangkat bersama ketempat ini, atau ada juga mungkin ibu yang mengatakan ah.. sebetulnya kalau pertanyaan ini deberikan kepada kami pada pekan kedua sebelum natal, pasti jawabannya bahagia, tapi sekarang ? wah sulit untuk menjawabnya.
Apapun jawaban kita akan hal itu, yang pasti bila bapak/ibu, menjawab ia bahagia dan keluarganya bahagia, tentu pasangannya juga menjawab hal yang sama. Jika tidak, kita mungkin perlu atur waktu untuk ketemu dan berbicara lebih jauh, ada apa dengan kebahagiaan di keluarga ini.
Untuk jenis kebahagiaan seperti ini, ada sebuah kisah tentang seorang moralis yang bernama Tolstoi, semasa hidupnya ia memberitakan pesan-pesan moral seperti damai sejahtera dan hidup penuh dengan toleransi. Tetapi tak lama setelah Tolstoi meninggal dunia, isterinya menulis sebuah buku yang menggemparkan, karena sang isteri menuliskan, selama puluhan tahun saya dan anak-anak hidup bersama dengannya tetapi untuk hitungan jam sekalipun kami tidak pernah merasakan damai sejahtera bersama dia. Istilah ini kemudian berkembang hingga saat ini dengan mengatakan keKristenan Tolstoi bagi mereka yang hanya dapat memberitakan damai sejahtera ataupun Firman Tuhan, tanpa mengimplementasikan dalam hidupnya.

Takut akan Tuhan
Bacaan kita Maz. 128 ayat 1 dengan gamblang menyatakan "Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya!".
Ada 2 unsur penting untuk takut akan Tuhan/Allah :
1. Mengenal dia dan memahami siapa sesungghuhnya Dia (Amsal 2:5) "maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah".
2. Percaya kepada Tuhan bahwa Dialah pertolongan dan perisai satu-satunya. (Maz 115:11) "Hai orang-orang yang takut akan TUHAN, percayalah kepada TUHAN! -- Dialah pertolongan mereka dan perisai mereka." => Ayub. 1:10 Bukankah Engkau yang membuat pagar sekeliling dia dan rumahnya serta segala yang dimilikinya?
Bagaimana kita dapat memerikasa diri kita pribadi lepas pribadi dan keluarga lepas keluarga bahwa kita Takut akan Tuhan ?, Setidaknya ada 4 tanda-tanda orang yang takut akan Tuhan, yaitu :
1. Sangat suka kepada segala perintah Tuhan (Maz. 112 :1) "Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya."
Mereka yang suka segala perintah Tuhan pasti tidak akan melewatkan satu hari pun tanpa menggumuli Firman Tuhan, ia akan memiliki waktu khusus sesibuk apapun dia dalam hidupnya. Saya semasa masih kecil selalu menyaksikan ompung (kakek dan nenek) saya melakukan hal sangat mengagumkan saya, mereka selalu bernyanyi dan membaca Firman Tuhan dan berdoa bersama setelah bangun pagi, dan sebelum tidur. Hari-hari bahagianya adalah saat ia memiliki kesempatan untuk memperbincangkan Firman Tuhan. Sudah barang tentu hari Minggu bukanlah hari yang membosankan baginya, persekutuan seperti ini juga bagian dari schedule utamanya.
2. Mengikuti ketetapan-ketetapan Nya dan yang tidak melakukan kejahatan.
Kita tentu tidak ingin disebut dengan seorang Kristen Tolstoi. Artinya apa yang kita pelajari dari Firman Tuhan kita melakukannya, sehingga kita dapat menjadi teladan.
3. Mengajarkan perintah Allah kepada anak-anaknya. (Ul. 4 :10) "yakni hari itu ketika engkau berdiri di hadapan TUHAN, Allahmu, di Horeb, waktu TUHAN berfirman kepadaku: Suruhlah bangsa itu berkumpul kepada-Ku, maka Aku akan memberi mereka mendengar segala perkataan-Ku, sehingga mereka takut kepada-Ku selama mereka hidup di muka bumi dan mengajarkan demikian kepada anak-anak mereka." => (Ul. 6:6-7) Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, (7) haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.
Masihkah perintah ini relevan ?. Secara kedokteran didalam otak kita ada ratusan milyar NEURON yaitu sel-sel otak yang saling berhubungan, belajar adalah mencita dan memperkuat jalan dari impuls-impuls listrik menempuh neuron-neuron. Tapi diantara dan tiap hubungan di otak kita ada celah kecil yang disebut SINAPS. Setiap kita belajar sesuatu yang baru, sinyal listrik itu harus melompat celah ini untuk melanjutkan perjalanannya. Cara kerjanya dapat diilustrasikan bagaikan seorang pendaki gunung yang hendak menyeberangi sebuah tebing ke tebing yang lain yang terpisah karena adanya cebuah celah. Si pendaki gunung pada tahap awal harus bersusah payah untuk menyeberanginya dengan menggunakan tali, melemparkannya ke sisi tebing yang lain, kemudian menggunakan tali itu untuk menyeberang. Penyeberangan pertama sangatlah sulit, demikian halnya saat kita mempelajari sesuatu yang baru, pada awalnya adalah sulit, penyeberangan kedua sudah serasa lebih mudah, bahkan pada penyeberangan selanjutnya si pendaki telah dapat membuat jembatan yang menghubungkan kedua sisi gunung tersebut, pada tahapan ini hampir tidak ada lagi kesulitan untuk menyeberangitebing tersebut. Demikian halnya sesuatu yang kita pelajari tersebut pada akhirnya akan serasa begitu mudah. Inila yang disampaikan musa kepada umat Israel dan kita saat ini, yaitu mengajarkan Firman Tuhan berulang-ulang. Tahap awal mungkin begitu sulitnya, saya sendiri membutuhkan waktu 10 tahun untuk mengajak isteri saya untuk memiliki waktu pribadi untuk membaca Firman Tuhan, pada awalnya menurut pengakuannya apa yang saya selalu bicarakan padanya tetntang Firman Tuhan, baginya adalah sesuatu yang membosankan tapi karena dia masih menghormati suaminya ia mendengarkannya walau tidak menyimak. Tetapi tidak ada usah yang sia-sia, saat ini itulah yang dilakukannya kepada saya, dia dengan semangat menceritakan dan mendiskusikan nats yang dibacanya pada hari itu. Kata-kata memang penting untuk mengajar, tetapi contoh yang kita berikan secara konsisten akan mengajar melampaui kata-kata yang dapat kita ucapkan.
4. Hidup Bahagia (Pkh. 8:12) "Walaupun orang yang berdosa dan yang berbuat jahat seratus kali hidup lama, namun aku tahu, bahwa orang yang takut akan Allah akan beroleh kebahagiaan, sebab mereka takut terhadap hadirat-Nya." => Kis. 9:31 "Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus."
Kita dapat melihat sekarang, bahwa setiap keluarga yang takut akan Tuhan adalah keluarga yang memiliki kebahagiaan, karena mereka akan memiliki Damai, sebagaimana jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria yang damai karena penghiburan Roh Kudus. Jadi apa kriteria keluarga anda berbahagia ? bila ada kedamaian di dalamnya, kedamaian yang didasarkan pada pertolongan dan penghiburan Roh Kudus, jadi tidak ada kaitannya saat menerima THR atau tidak.

Upah Keluarga yang Takut akan Tuhan

1. Dapat menikmati hasil jerih payah (2)
Ulangan 28: 1-14 mengajarkan kepada kita bagaimana berkat bagi mereka yang mendahulukan Tuhan artinya mereka yang baik-baik mendengarkan suara Tuhan, dan melakukan dengan setia segala perintahNya, tetapi tidak demikian bagi mereka yang mengabaikan perintah Tuhan sebagai mana umat Israel yang menolak ajakan Nabi Hagai untuk membangun kembali Bait Allah, tetapi umat itu menolak dengan alasan belum saatnya karena mereka beranggapan bahwa Bait Allah sebaiknya dibangun setelah kondisi kehidupan mereka baik, atau dengan kata lain setelah urusan perut dan hidup selesai baru urusan Tuhan. Situasi mengabaikan Tuhan ini berakibat pada keadaan mereka yang tidak dpat menikmati apa yang mereka kerjakan (Hag. 1:6)
Kamu menabur banyak, tetapi membawa pulang hasil sedikit; kamu makan, tetapi tidak sampai kenyang; kamu minum, tetapi tidak sampai puas; kamu berpakaian, tetapi badanmu tidak sampai panas; dan orang yang bekerja untuk upah, ia bekerja untuk upah yang ditaruh dalam pundi-pundi yang berlobang!
2. Isteri dan Anak menjadi sumber berkat. (3)
Pohon Anggur dan Zaitun adalah lambang berkat Allah yang tak terhalangi. Isteri seperti pohon anggur yang membutuhkan tunjangan, namun senantiasa memberi lebih banyak dari menerima dalam hal menyediakan kebahagiaan bagi suaminya. Sebagaimana pemazmur menggambarkan Maz 105:15 dan anggur yang menyukakan hati manusia, yang membuat muka berseri karena minyak, dan makanan yang menyegarkan hati manusia.
Anak seperti tunas pohon Zaitun yang digambarkan pemazmur menghijau di dalam rumah Allah. (Maz.52:10) Tetapi aku ini seperti pohon zaitun yang menghijau di dalam rumah Allah; aku percaya akan kasih setia Allah untuk seterusnya dan selamanya.

Berbahagialah kita, yang pada saat ini di sapa Tuhan untuk menjadikan keluarga kita menjadi keluarga yang takut akan Tuhan. Karena kita dapat memulai dari sejak dini .

Ilustrasi :
Pada suatu hari, seorang tua yang bijaksana berjalan dengan seorang pemuda yang terkenal tidak bisa bertanggung jawab dan berkepala batu. Orang tua itu menghentikan langkahhnya, lalu menunjuk sebuah pohon oak yang kecil sekali. "Cabutlah pohon itu," katanya. Dengan segera pemuda itu membungkuk dan hanya dengan dua jari saja secara mudah dia dapat mencabut pohon itu.
Setelah berjalan lebih jauh lagi, orang tua itu berhenti didepan sebuah pohon yang sudah agak besar tubuhnya. "Cabutlah pohon ini," katanya. Sekali lagi pemuda itu menuruti perintah orang tua itu, namun kali ini ia menggunakan kedua tangannya dan tenaganya sekuat mungkin untuk mencabut akar pohon itu. Akhirnya mereka berhenti lagi didepan pohon oak yang besar sekali. "Sekarang, cabutlah pohon ini!" perintahnya lagi.
"Wah, hal itu tidak mungkin!" protes pemuda itu. "Aku tidak dapat mencabut pohon sebesar ini, untuk memindahkannya diperlukan sebuah buldozer."
"Engkau benar sekali," jawab orang tua itu. "Kebiasaan, entakah itu baik ataupun buruk, sama seperti pohon-pohon itu. Kebiasaan yang belum berakar dalam, seperti pohon oak yang masih kecil sekali, dapat dicabut dengan sangat mudahnya. Kebiasaan yang akarnya mulai mendalam adalah seperti pohon yang sudah agak besar tumbuhnya. Untuk mencabutnya diperlukan usaha dan tenaga sekuat mungkin. Kebiasaan yang telah lama sekali sudah terlalu dalam akarnya, sehingga orang itu sendiri tidak mungkin lagi bisa mencabutnya.

Simpulan :
Akhirnya marilah kita memeriksa keluarga lepas keluarga, apakah keluargaku keluarga yang takut kepada Allah ?
1. Sudahkah keluarga ku Sangat suka kepada segala perintah Tuhan ?
2. Sudakah aku dan keluargaku mengikuti ketetapan-ketetapan Nya dan yang tidak melakukan kejahatan?
3. Apakah aku sudah mengajarkan perintah Allah kepada anak-anak ku?
4. Sudakah keluarga ku hidup Bahagia?.

Berbahagialah kita yang mendapati bahwa keluarga kita adalah keluarga yang Takut akan Tuhan, karena Pemazmur bermazmur : Maz. 112 : 1-4
Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya.
Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati.
Harta dan kekayaan ada dalam rumahnya, kebajikannya tetap untuk selamanya.

Disampaikan pada Kotbah Minggu 14 September 2008 Pkl. 19.00 Ibadah Persekutuan Doa Oikumene (PDO) Villa Ubud Puri Gading Pondok Gede.

Jumat, 27 Juni 2008

MENDIDIK ANAK SUPAYA BERHIKMAT

Oleh : P. Erianto Hasibuan

MINGGU VI SETELAH TRINITAS
Nats : Amsal 4 :1-9 BACAAN : Rom. 11 : 33-36


Pembuka :
Tidak seperti sebelumnya, jadwal kotbah saya adalah minggu pertama setelah kehadiran saya untuk pertama kali di sini pada Minggu 06 Mei 2006, dan saat ini adalah pelayanan saya yang terakhir secara rutin di tempat ini sehubungan dengan kepindahan kami sekeluarga ke BEKASI karena pindah tugas.

PENDAHULUAN :
Kitab Amsal merupakan bagian dari kitab syair dan hikmat yang begitu tersohor, Amsal merupakan hikmat para bijak yang terilhamkan. Istilah Ibrani mashal yang diterjemahkan “amsal”, bisa berarti “ucapan” orang bijak, “perumpamaan” atau “peribahasa berhikmat”.
Tujuan kitab Amsal dengan jelas dinyatakan dalam Amsal 1:2-7, yaitu :
1. Untuk mengetahui hikmat dan didikan, untuk mengerti kata-kata yang bermakna (2)
2. Untuk menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan dan kejujuran, (3)
3. Untuk memberikan kecerdasan kepada orang yang tak berpengalaman, dan pengetahuan serta kebijaksanaan kepada orang muda (4)
4. Untuk menambah ilmu dan sebagai bahan pertimbangan bagi orang yang berpengertian (5)
5. Untuk mengerti amsal dan ibarat, perkataan dan teka-teki orang bijak. (6)
6. Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.(7)
Nats, yang dituliskan oleh Salomo dalam Amsal 4 :1-9, merupakan refleksi dari pengalaman Salomo begitu pentingnya untuk mendengarkan didikan seorang Ayah. Salomo merasakan sendiri bagaimana ayahnya Daud telah mendidik dia di Jalan Allah, bahkan pada saat menjelang akhir hayatnya Daud masih memberikan pesan yang indah : (1 Raj. 2 :3-4)
“Lakukanlah kewajibanmu dengan setia terhadap TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya, dan dengan tetap mengikuti segala ketetapan, perintah, peraturan dan ketentuan-Nya, seperti yang tertulis dalam hukum Musa, supaya engkau beruntung dalam segala yang kaulakukan dan dalam segala yang kautuju, dan supaya TUHAN menepati janji yang diucapkan-Nya tentang aku, yakni: Jika anak-anakmu laki-laki tetap hidup di hadapan-Ku dengan setia, dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa, maka keturunanmu takkan terputus dari takhta kerajaan Israel”.

Pengalaman Salomo atas didikan Ayahnya ini yang membuat dia pada saat Allah menampakkan diri kepanya dan berfirman “Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepada mu”. (2Taw.1:7b) maka ia tidak meminta seperti yang orang lain pikirkan, tetapi ia meminta seperti yang Allah kehendaki II Taw.1:10 :
“ Berilah sekarang kepadaku hikmat dan pengertian, supaya aku dapat keluar dan masuk sebagai pemimpin bangsa ini, sebab siapakah yang dapat menghakimi umat-Mu yang besar ini?"
Sebagai jawaban dari Doanya (I.Raja-raja 4:29-30):
“ Dan Allah memberikan kepada Salomo hikmat dan pengertian yang amat besar, serta akal yang luas seperti dataran pasir di tepi laut, sehingga hikmat Salomo melebihi hikmat segala bani Timur dan melebihi segala hikmat orang Mesir”.

Didikan seorang Ayah (1-4)
Salomo telah belajar tentang jalan-jalan Allah dari ayahnya dan kini ia meneruskan pengarahan itu kepada anak-anaknya. Allah ingin agar kesalehan dan pengabdian sungguh-sungguh kepada jalan-jalan-Nya diajarkan terutama melalui pengajaran orang tua dan teladan di rumah, dan bukan dengan mengalihkan tanggung jawab secara menyeluruh kepada program pendidikan gerejani. Sejak semula Alkitab telah mengajarkan kepada kita bahwa tanggung jawab itu ada pada orang tua Ul. 6:7.
“ haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun”.

Saat ini begitu banyaknya tawaran pendidikan full day school terutama bagi anak-anak SD bahkan pada pendidikan yang berbasis pada agama. Bagi orang tua yang suami isteri bekerja dan memiliki dana yang cukup sekolah jenis ini sangat cocok, karena mereka dapat berangkat kerja bersama dengan anaknya dan pulang kerja kembali orangtua menjemput dari sekolah bersamaan. Sangat efisien dan efektif menurut ukuran manusia modern dan sibuk. Sampai di rumah, masing-masing telah lelah seharian di sekolah dan di pekerjaan. Orang tua merasa tugasnya sudah selesai dengan menyediakan sarana dan biaya pendidikan yang memadai, merekapun perlu waktu untuk beristirahat dan berdua (suami isteri) sedang si anak biarlah asyik dengan Pr nya atau PS nya. Pada saatnya si anak bertingkah tidak sesuai dengan yang diharapkan orang tua, maka sekolah atau gereja yang menjadi sasaran, biasanya nadanya demikian “ Kurang apa lagi Papa dan Mama, kan sudah disekolahkan disekolah yang faforit dan bergengsi lengkap dengan ekstra kurikuler dan keagamaan, hari minggu ikut sekolah minggu di gereja yang guru sekolah minggunya mendapat pendidikan rutin dengan materi yang standard, lalu kenapa koq jadi begini ?”
Saya tidak sedang mengatakan bahwa full day school itu tidak baik, tetapi jangan hal itu mengantikan peran orang tua dalam mendidik anak-anak.
Inilah kealpaan kita sebagai orang tua, kita melupakan apa yang telah diperintahkan Allah kepada bangsa Israel, itu juga perintah untuk kita pada saat ini (Ul. 6:7), berapa kali dalam sehari, seminggu bahkan sebulan kita membicarakan Firman Tuhan kepada anak-anak kita.
Bagaimana seharusnya hubungan prang tua dengan anak, agar didikannya dapat diterima si anak dengan baik ? Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Kolose telah membantu kita (Kol. 3 : 21) “Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya”. Demikian juga untuk anak (Kol. 3 : 20) “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan”.
Jadi yang terutama bertanggung jawab dalam memberikan didikan Alkitabiah kepada anak-anak adalah Keluarga, bukan gereja atau sekolah minggu ataupun sekolah formal. Lembaga-lembaga tersebut hanya membantu didikan orang tua.

Perolehlah Hikmat dan Pengertian (5-9)

Hikmat bukanlah sesuatu yang mudah untuk didapatkan, karena hanya diberikan kepada mereka yang mau berusaha untuk mendapatkannya. Hikmat disalurkan melalui dua jalur :
1. Pendidikan.
Melalui pendidikan seorang akan mengalami perubahan rohani yang mencakup hal berbalik dari kejahatan menuju kepada pengenalan akan Allah. Hubungan pribadi dengan Allah menjadi langkah pertama dalam memperoleh hikmat sejati. Orang percaya harus takut akan Tuhan dan membenci kejahatan. (Ams. 8:13) Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat.
Ams. 9: 10 Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.

2. Pengabdian
Hikmat adalah untuk orang yang mengerti nilainya dan karena itu mencarinya dengan tekun Ams. 8:17 “Aku mengasihi orang yang mengasihi aku, dan orang yang tekun mencari aku akan mendapatkan daku”. Orang yang bijaksana belajar dari ajaran Ams. 9:9 “berilah orang bijak nasihat, maka ia akan menjadi lebih bijak, ajarilah orang benar, maka pengetahuannya akan bertambah”. dan didikan Allah Ams. 3:11 Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya.
Yesus Kristus adalah perwujudan unggul dari Hikmat Allah (I Kor. 1:30) Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.
Segala harta hikmat ada didalam Yesus Kristus (Kol. 2 : 2-3)
supaya hati mereka terhibur dan mereka bersatu dalam kasih, sehingga mereka memperoleh segala kekayaan dan keyakinan pengertian, dan mengenal rahasia Allah, yaitu Kristus, sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan.

Selama setahun lebih saya telah melayani di Gereja POUK Maranatha ini, setiap minggu pertama setiap bulannya. Apapun yang saya sampaikan kepada Ibu Bpk. Sekalian tidak akan ada artinya bila ibu/bpk. dan saudara sekalian tidak mengerti nilai dari Firman Allah yang saya sampaikan. Tetapi dengan kita mengerti nilainya kita akan bertumbuh dan memiliki Hikmat Tuhan hingga pada gilirannya memiliki kerinduan untuk membicarakan/mengajarkannya siang dan malam sebagaimana perintah Tuhan dalam Ul. 6:7.
Isteri saya sejak muda berkecimpung di aktivitas Gereja, di komisi pemuda gereja dan komisi sekolah minggu. Meskin cukup lama menjadi guru sekolah minggu, sementara saya tidak pernah aktif dikegiatan gereja dimasa kecil dan muda saya, selain berjemaat, tetapi saat saya tanyakan apakah dia sudah pernah membaca Alkitab dari Kejadian hingga Wahyu, dia menjawab belum pernah. Seiring dengan perkuliahan saya di Teologia, saya selalu membicarakan hal-hal yang mencakup firman Tuhan kepadanya, terutama bila saya mendapatkan bacaan harian yang menarik, saya selalu menceritakan kepadanya, entah dia suka atau tidak. Tetapi sesuai dengan pengakuannya sendiri kepada saya, dia sama sekali tidak tertarik, bahkan sekalipun saya pernah menjanjikan kepadanya bahwa jika ia berhasil menyelesaikan pembacaan dari Kejadian sampai dengan Wahyu saya akan beri dia hadiah senilai Rp. 5 juta. Entah karena hadiah itu atau bukan, yang jelas apa yang menurutnya selama ini membosankan karena saya selalu menceritakan Firman Tuhan kepadanya setiap kali ada kesempatan, itulah yang sekarang dilakukannya kepada saya. Setiap saya kembali dari kantor dia selalu dengan antusias menceritakan nats-nats yang dibacanya dan mendiskusikannya dengan saya.
Saat ini isteri saya telah mengerti nilainya hikmat Allah, hingga ia tidak mau lagi melalukan hari tanpa membaca Firman Tuhan. Anak saya yang bungsu (6 thn) belum mengerti dengan jelas akan hal itu, tetapi dia sudah memulai membuka Alkitab setiap hari. Anak saya yang besar (10 thn) belum melakukannya, tetapi saya percaya pada saatnya dia akan melakukannya sekalipun saya tidak perlu memaksa dia, karena setiap hari itulah yang dia lihat. Bagaimana dengan anda ? Ingat kata Ki Hajar Dewantara, Ing Ngarso Sung Tulodo. (di depan /pemimpin memberi contoh).
Untuk dapat mengulang-ulang apa yang sudah saya sampaikan dalam setiap Kotbah, saya telah mempublikasikan catatan setiap kotbah di http://teologiawam.blogspot.com dengan media ini diharapkan dapat menolong kita untuk mengingat kembali hal-hal yang pernah saya sampaikan dalam kotbah minggu.
Simpulan :
Sebagai orang tua (ayah/ibu) dan keluarga adalah orang yang paling bertanggung jawab untuk memperkenalkan dan mengajarkan Hikmat Allah kepada anak-anak kita dengan mengajarkannya berulang-ulang dan terus menerus. Untuk dapat mengajarkan dengan benar, maka terlebih dahulu kita harus memperoleh hikmat dan pengertian melalui pendidikan yang memalingkan kita dari kejahatan menuju pengenalan yang benar akan Allah dan Pengabdian yang secara tekun mencarinya karena kita mengetahui nilainya.
Pada akhirnya kita akan memohon kepada Tuhan kita Yesus Kristus supaya Ia memberikan kepada kita Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar. Biarlah kiranya doa Paulus kepada jemaat di Efesus, sebagai langkah awal kita untuk mendidik anak kita kepada pengenalan yang benar akan Hikamat Allah, seperti yang ada pada Efesus 1 : 17 :
“dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar”. Amin.

Disampaikan pada Kotbah Minggu 29 Juni 2008 Pkl. 10.15 GEREJA POUK MARANATHA MEDAN – SUMUT. (KOTBAH PERPISAHAN))

Minggu, 01 Juni 2008

PENGUTUSAN MENJADI MURID

Oleh : P. Erianto Hasibuan

MINGGU II SETELAH TRINITAS
Nats : Luk. 10 :1-12 BACAAN : Kel. 3 : 10-12

PENDAHULUAN :
Ketika masih kanak-kanak, saya punya hobby menonton film action ala Hongkong. Bintang film hongkong seperti Fu Shen, Chen Kuan Tai, Bruce Lee, Ti Lung dsb. Adalah nama-nama yang begitu akrab ditelinga saya dan mungkin ditelinga generasi se usia saya. Film mereka umumnya menceritakan hubungan guru dan murid. Thema-nya tidak jauh dari balas dendam. Ini memang tidak mendidik, tapi terlepas dari thema tersebut yang selalu saya nantikan dalam film tersebut adalah adengan saat si murid sedang latihan keras dalam menuntut ilmu kungfu dari gurunya. Si murid pada akhirnya akan menjadi miniatur dari gurunya, cara ia berkelahi, jurus yang dimiliki, bahkan hingga gaya bicaranya pun diikuti oleh muridnya. Kemampuan seorang murid akan mencapai puncaknya pada saat sang guru meninggal, karena dianiaya oleh kelompok lain. Jika pada saat gurunya hidup ia masih mau melalaikan jadwal latihannya atau berlatih sesukanya, tetapi pada saat gurunya telah almarhum, ia berlatih sangat keras dan melakukan seluruh yang pernah diajarkan gurunya kepadanya, semua ini didasari oleh motivasi balas dendam.
Nats kita pada saat ini berbicara mengenai pengutusan murid. Yesus memang masih hidup secara manusiawi pada saat itu. Tetapi bagi kita yang hidup saat ini Yesus adalah seorang guru yang telah membuktikan KASIHNYA kepada kita, bahwa IA mau dianiaya dan mati demi untuk menebus kita, agar kita diselamatkan dari hukuman yang kekal.
Saat ini, SANG GURU memanggil kita untuk di utus menjadi murid, bagaimana tanggapan kita atas panggilan tersebut ?
Siapa yang di utus ?
Ayat 1 Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain,..
Angka 70 adalah angka simbolis Yahudi yang menunjukkan tua-tua yang dipilih untuk membantu Musa (Bi. 11:16); Juga angka anggota Sanhendrin, dewan tertinggi Yahudi. Juga dipercaya sebagai jumlah dari bangsa-bangsa di dunia (Kej.10), yang menunjukkan pandangan yang bersifat universitalitas.
Dengan demikian ayat ini menunjukkan bahwa Yesus mengutus mereka ke segala bangsa, dan tidak terbatas pada bangsa tertentu. Mereka yang di utus bukanlah para RASUL tetapi murid yang lain, yang boleh jadi adalah orang-orang biasa (Kis. 11:20)
Yesus saat ini juga memilih setiap kita untuk di utus menjadi murid. Menjadi utusan berarti Mewakili Tuhan. Karena kita akan mewakili Tuhan maka apa yang kita sampaikan adalah maksud Tuhan semata, artinya untuk menjadi utusan kita harus mengenal dengan baik siapa yang kita wakili dan apa yang hendak Ia sampaikan melalui kita. Dengan demikian kita tidak hanya sebagai penyampai pesan dalam kata-kata, tetapi prilaku dan gaya hidup kita juga menggambarkan siapa yang mengutus kita. Seperti halnya seorang murid yang menjadi miniatur sang guru.

Mengapa kita di utus sebagai murid ?
Karena :
Ayat 2 . "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.

Melalui ayat ini, juga ayat pararel (Mat.9:37) Yesus memperingatkan semua orang percaya bahwa orang yang terhilang mempunyai jiwa abadi yang sangat berharga dan harus tinggal di sorga atau neraka, dan banyak dari mereka dapat diselamatkan apabila ada yang memberitakan injil kepada mereka.

Ayat 2b Mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu
Ayat. 3 Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.

Ayat ini mengingatkan kita untuk tidak melupakan salah satu prinsip rohani Allah sendiri. Sebelum Allah bertindak biasanya IA memanggil umatnya untuk berdoa. Hanya setelah umatnya berdoa, barulah Allah melakukan pekerjaanNya. Jadi bagaimana Allah mengirimkan pekerja-pekerjaNya bila kita sendiri tidak pernah berdoa ?.
Jadi murid diperlukan untuk mengembalikan orang-orang yang terhilang, hingga pada saatnya jiwanya yang abadi akan tinggal di sorga. Tetapi panggilan untuk Pergi bukanlah pekerjaan yang mudah, karena para murid susungguhnya pergi ketengah-tengah serigala. Mengapa Lukas menuliskan hal tersebut ?. Pada saat Lukas menuliskan Injilnya sekitar tahun 60-63 M. Saat itu pemimpin Roma adalah Kaisar Nero (54-68). Nero pasca membunuh ibunya Agrippina thn 59M, ia menjadi raja yang tak terkendali. Kebenciannya terhadap pengikut Kristus telah dimulai dengan penganiayaan, sekalipun belum sedasyat pasca kebakaran besar di Roma thn 64 M. Pada masa itu, ia menuduh orang Kristen yang melakukan pembakaran tersebut untuk mengalihkan tuduhan terhadap dirinya yang berambisi membangun Gedung Emasnya, yaitu sebuah Istana megah yang dibangun di atas bukit Esquilline seluas 50 Ha.
Bagaimana sikap seorang murid yang diutus ketengah serigala ? Penulis Injil Matius memberikan jalan keluar Mat. 10:16 "Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Ayat yang baik ini, cenderung banyak disalah artikan oleh banyak kalangan dengan memberi arti negatif kepada kata cerdik. Dalam bahasa aslinya (Yun) kata itu berasal dari phronimos (fronimos) yang digunakan sebanyak 14 kali, antara lain digunakan dalam Mat. 7:24; 24:25; 25:2,4,8,9;Luk.12:42; 1Kor.10:15; 2Kor.11:19 yang diterjemahkan dengan bijaksana. Dengan demikian phronimos sesungguhnya berarti positif, sehingga dapat saja Mat. 10:16 diterjemahkan menjadi bijaksana seperti ular dan tulus seperti merpati. (Terjemahan ini mungkin sulit bagi pembaca karena pemahaman bahwa ular adalah si “pendosa” yang menggoda Hawa untuk jatuh kedalam dosa. Jadi bagimana mungkin si “pendosa” yang terhukum disebut dengan bijaksana).
Dengan demikian seorang murid yang akan di utus ketengah-tengah serigala haruslah murid yang bijaksana dan tulus. Jadi serigala tidak ditaklukkan dengan kekerasan tetapi dengan bijaksana dan tulus, yang juga merupakan perwujudan dari buah-buah Roh yang ajarkan Sang Guru Agung kepada kita.

Fokus Pada Panggilan
Ayat 4 Seorang murid yang akan memberitakan Firman Tuhan haruslah fokus pada tugas panggilannya, sehingga ia tidak boeh dibebani hal-hal yang bersifat :
1. Materialitas (4a)
Murid harus dapat berjalan dengan cepat ketempat tujuannya, tanpa harus dibebani dengan perkara-perkara makan dan minum serta peralatan lainnya. Situasi saat itu transportasi bukan seperti saat ini, setiap murid dalam kebiasaan orang Yahudi selalu membawa keranjang dipundaknya yang dapat diisi dengan berbagai keperluan termasuk makanan. Ingat, mengapa saat Tuhan Yesus memberi makan lima ribu orang ada sisa 12 bakul, karena kedua belas murid Yesus masing-masing membawa satu bakul. Perjalanan yang cukup jauh, umumnya ditempuh dengan jalan kaki. Berjalan kaki dengan bekal macam-macam akan memperlambat ruang gerak para murid. Dalam hal ini Tuhan Yesus mengajarkan agar para murid tidak dibebani oleh hal-hal yang bersifat material, yang dapat mengganggu tugas panggilannya.
Bukankah hal ini juga kerap kita alami saat ini. Kita merespon panggilan Tuhan, bahkan mungkin kita mengatakan “ini aku Tuhan, utuslah aku” Tapi pada saat yang hampir bersamaan kita mengkawatirkan akan bagaimana dengan barang daganganku bila aku harus ke gereja pada hari minggu, padahal justru hari minggulah jualanku laku. Sebagai pelayan memang kita sering mudah terpikat dengan hal-hal yang material, ah lebih baik melayani si A karena kalau ketempatnya pasti ada sesuatu, tapi kalau si B pasti kosongan. dst.

2. Hal-hal kecil yang menggangu tugas panggilan (4b)
Janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Nats ini bukanlah pengajaran untuk tidak ramah, tetapi kita jangan diganggu dengan hal-hal yang kecil. Memberi salam berarti berhenti berjalan dan bertegur sapa sesaat untuk meluangkan waktu berbicara akan hal-hal yang tidak begitu penting. Hal-hal kecil jangan sampai mengganggu hal besar yang akan dituju. Pada etnis Batak banyak ditemukan kumpulan (arisan) yang didasari pada ikatan marga. Kumpulan ini Pada saat pendirian kumpulan itu tujuannya adalah untuk mempererat persekutuan dan memuji nama Tuhan, sehingga setiap pertemuan selalu dimulai dengan ibadah singkat dan kotbah. Tetapi tujuan mulia ini pada akhirnya akan menjadi rutinitas yang kalau perlu lebih dipersingkat lagi karena peserta membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk bermain joker, atau hal-hal yang tidak begitu penting.

Tugas seorang utusan
Ayat 5-12 Tugas seorang utusan tidaklah selalu direspon dengan positif. Dalam hal utusan diterima beritakanlah bahwa Kerajaan Allah sudah dekat padamu (9) dan sembukanlah orang-orang sakit yang ada disitu. Artinya keadaan orang yang menerima pemberitaan akan dipulihkan (diubahkan). Bagaimana dengan penolakan, bila itu yang terjadi pemberitaan tetap harus dilakukan, karena pemberitaan tidak tergantung pada si penerima. Tetapi dalam hal ini tidak terjadi penyembuhan terhadap orang sakit ditempat itu, tetapi yang terjadi adalah pemberitaan akan hukuman (12).
Dengan demikian Kabar baik yang disampaikan yaitu Kerajaan Allah sudah dekat padamu bagi yang menerima akan disembuhkan tetapi bagi yang menolak akan mendapatkan hukuman bahkan yang lebih berat dari Sodom.

Simpulan
Bagaikan seorang murid pada cerita kungfu yang berlatih siang malam untuk dapat mewarisi ilmu yang dimiliki oleh gurunya yang telah mati teraniaya, agar ia dapat membalaskan dendam sang guru. Kita yang saat ini sebagai murid Yesus, yang telah mati teraniaya demi pembebasan kita dari hukuman abadi, sudah seyogianya juga berlatih siang malam untuk menjadi segambar dengan sang guru yaitu Yesus Kristus, sehingga kita dapat menjadi utusan yang mewakilinya untuk membawa jiwa-jiwa yang abadi untuk tinggal di sorga, karena Tuaian memang banyak tetapi pekerja sedikit. Sekalipun sebagai pekerja kita diutus ketengah-tengah serigala, tetapi dengan menjadi murid yang bijaksana dan tulus kita dapat menjadi pekerja yang baik karena kita tetap fokus kepada panggilan untuk memberitakan kabar baik yaitu Kerajaan Allah sudah dekat padamu.


Disampaikan pada Kotbah Minggu 1 Juni 2008 Pkl. 10.15 GEREJA POUK MARANATHA MEDAN – SUMUT.

Dipanggil untuk melayani

Nats : Roma 8 : 28

Mengapa Orang Kristen Harus Melayani?
Menjadi pelayan bukanlah pekerjaan yang paling digemari di dunia. Ada yang melakukannya karena terpaksa, karena hanya itulah yang dapat mereka lakukan. Ada yang melakukannya sebagai suatu profesi sehingga mereka menjadi ahli dalam melayani, seperti halnya di Inggris. Tetapi pada umumnya orang dari kebudayaan mana pun, tidak suka melayani orang lain. Namun mengapa orang-orang Kristen dipanggil untuk melayani.
Pernahkah anda berfikir, mengapa Allah tidak segera saja mengambil orang-orang yang telah diselamtkannya dari dunia ini dan membawanya kedalam sorga. Mengapa mereka masih tetap dibiarkan didunia ini. Bukankah itu artinya kita diminta untuk bekerja untuk mewujud nyatakan rencana Allah di dunia ini. (Ingat perumpamaan gandum dan ilalang Mat.13:24-30)
Apakah setiap orang Kristen dipanggil untuk melayani? Bagaimana mengetahui panggilan Tuhan?
Mungkin kita berfikir bahwa yang dipanggil untuk melayani adalah para pekerja gereja, seperti Pdt, Pastor, Teolog, maupun mereka yang bergelut di lembaga penginjilan. Jadi bagaimana dengan kita sebagai jemaat biasa ?
Bacaan kita Roma 8 :28 "Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah".
Ayat tersebut di atas memberitahu kita dua hal:
1. Orang-orang yang mengasihi Tuhan adalah mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana-Nya.
2. Tuhan berjanji bahwa Ia turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka.
Dalam Perjanjian Baru, istilah "dipanggil" (Kletos) dan "panggilan" (Klesis) timbul 22 kali. Semuanya menyatakan panggilan Tuhan kepada umat-Nya untuk sesuatu maksud yang rohani. Panggilan-panggilan ini tidak melulu panggilan untuk menjadi seorang pendeta atau missionari, melainkan seluruh jemaat dipanggil oleh Tuhan dimana "kletos" + kata depan "ek" = "ekklesia." Istilah "ekklesia" timbul dalam Perjanjian Baru sebanyak 115 kali, yang berarti "the called-out ones" dan diterjemahkan sebagai "gereja."
Suatu gereja yang didirikan oleh Tuhan pasti terdiri atas individu-individu yang dipanggil oleh Tuhan. Mereka dipanggil ke luar dari keduniawian dan masuk ke dalam Kristus. Segala aktivitas dan cara hidup dalam gereja seharusnya :
tidak "serupa dengan dunia" (Rom 12:2), melainkan "berpadanan dengan panggilan itu" (Ef 4:1).
Ada 2 Jenis panggilan,
Pelayan Tuhan secara "Full time." (Rom 1:1) Paulus mengatakan bahwa ia "dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah"
Pelayanan umum yang harus dilakukan setiap orang Kristen (Rom 1:6; 1Kor 7:22) Paulus mengatakan bahwa anggota-anggota di jemaat Roma dan Korintus juga dipanggil oleh Kristus dalam pelayanan-Nya. Tiada seorang pun yang boleh berdalih bahwa ia tidak dipanggil oleh Tuhan dalam pelayanan. Semua anak Tuhan adalah pelayan Tuhan.
Secara praktis, banyak orang Kristen mempunyai alasan yang masuk akal untuk tidak terjun ke dalam pelayanan. Misalnya: "Aku tidak mempunyai talenta: Aku tidak berpendidikan tinggi; Aku lemah dan bodoh" dan lain-lain. Sebaiknya orang-orang tipe ini membaca 1Korintus 1:26-28 Sesungguhnya tidak ada yang mampu tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, meniadakan apa yang berarti ...". Ayat-ayat ini bukan berarti semua orang yang dipakai oleh Tuhan adalah yang bodoh-bodoh, memakai kita. Bahkan Tuhan berjanji akan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia (Rom 8:28).
Dalam masyarakat modern yang berkompetisi tinggi, perusahaan-perusahaan dan organisasi-organisasi dunia hanya mau memakai orang-orang yang "pandai, cakap, kuat dan mulia." Tetapi Tuhan memanggil segala macam orang yang "mengasihi Dia" (Rom 8:28) dan "yang kudus" (Ef 4:12), untuk diperlengkapi bagi pekerjaan pelayanan. Istilah "diperlengkapi" (katartismos Ef 4:12), boleh diterjemahkan "dipersenjatai" atau "disempurnakan." Syukur kepada Tuhan bahwa karena kerelaan melayani Tuhan, maka kita yang lemah dan bodoh "diperlengkapi" menjadi orang-orang yang pandai dan kuat. Seorang tokoh iman yang bernama A.W. Tozer mengatakan: "Tuhan hanya dapat memakai orang yang selalu bersukacita dan tidak menolak didikan atau ajaran Tuhan."
Ada banyak orang yang melayani Tuhan secara "temprary." Artinya, kalau ia "senang hati, lancar, banyak berkat, dipuni" maka ia mau melayani Than. Tetapi kalau keadaan memburuk, maka ia tidak lagi berminat untuk melayani. Ini adalah sifat manusia yang egois. Ingatlah bahwa "Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya" (Rom 11:29). Panggilan Tuhan bersifat "permanen", bukan "sementara."
Yang terakhir, bagaimana kita mengetahui panggilan Tuhan atas diri kita masing-masing?
1. "Berusahalah sungguh-sungguh" (2Pet 1:10a) untuk mengetahui panggilan Tuhan.
2. "Jika kamu melakukannya (taat), kamu tidak pernah tersandung" (2Pet 1:10b).
3. Mintalah (berdoa) ... supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apa yang terkandung dalam panggilan-Nya (Ef 1:17-18).
4. Semakin kita mengasihi Tuhan, semakin kita meyakini panggilan Tuhan. Menurut Roma 8:28 "mereka yang mengasihi Dia" identik dengan "mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." Maka ketaatan terhadap perintah Tuhan dan dorongan kasih kepada-Nya itulah yang mendasari pelayanan kita.
Setelah kita mengerti panggilan Tuhan, marilah kita siap untuk terjun ke dalam pelayanan dengan segenap hati dan pengucapan syukur. Sebagaimana ada sebuah poster yang mengatakan: "Uncle Sam needs you" demikian pula "we (our chruch) need you" Gereja membutuhkan orang Kristen yang mengasihi Tuhan dan rela melayani-Nya.

Disampaikan pada ibadah Kamis pagi di RSU Methodist Medan, 22 Mei 2008.

Selasa, 27 Mei 2008

TETAP PERCAYAKAN HIDUPMU HANYA PADA ALLAH

Oleh : P. Erianto Hasibuan

MINGGU EXAUDI = DENGARLAH AKU YA TUHAN

Nats : Daniel 3 : 20-29 BACAAN : Wahyu 3 : 7b-11

PENDAHULUAN :
Cerita Daniel dan ketiga sahabatnya Hanaya, Misael dan Azarya adalah cerita yang sangat populer dan telah akrab ditelinga kita sejak kita masih kanak-kanak, utamanya bagi mereka yang aktif di sekolah minggu. Jadi apa lagi yang menarik dari kisah Daniel dan sahabat-sahabatnya ini yang akan kita bicarakan saat ini ?. Pada minggu Exaudi yaitu Dengarlah aku ya Tuhan, kita dibimbing dengan epistola dari Wahyu 3 : 7b-11 yang membicarakan jemaat Filadelfia. Filadelfia merupakan suatu jemaat yang setia yang mematuhi firman Kristus dan tidak menyangkal Dia. Mereka telah menerima pertentangan dari dunia dan menolak untuk menyesuaikan diri dengan kecenderungan jahat dari jemaat-jemaat lainnya. Oleh karena kesetiaan mereka yang teguh maka Allah berjanji untuk melepaskan mereka dari masa kesengsaraan. Jika kita ingat latar belakang penulisan Wahyu oleh Yohanes dilatarbelakangi oleh penganiayaan yang dilakukan oleh Domitianus yang memuja dirinya sendiri. Tetapi ditengah kondisi tersebut ternyata masih ada jemaat yang masih berani tampil beda untuk tetap setia hanya memuji Allah didalam Kristus.
Cerita Daniel dan ketiga sahabatnya, dilatarbelakangi oleh jatuhnya kerajaan Yehuda dibawah pemerintahan Yoyakim kepada Nebukadnezar, raja Babel. (Dan 1:1 dab). Kerajaan Babel sebagai kerajaan penakluk, telah menjadi besar dan pada akhirnya mereka kekurangan tenaga terpelajar dari bangsanya sendiri untuk dapat menjalankan pemerintahan, karena itu Nebukadnezar memilih pemuda-pemuda tampan, sehat dan terpelajar dan membawa mereka ke Babel untuk mengajarkan kebudayaan dan bahasa Babel kepada mereka sehingga dapat dipakai untuk melayani kerajaan. Supaya diterima sebagai pegawai kerajaan Daniel dan kawan-kawan memerlukan kewarganegaraan Babel, untuk itu mereka diberi nama Babel, Daniel (Beltsazar) dan ketiga sahabatnya Hanaya (Sadrakh), Misael (Mesakh) dan Azarya (Abednego).

DUA KONTRADIKSI

1. Nebukadnezar Contoh Pemimpin yang buruk
Jika kita perhatian Nats kita Daniel 3 : 20-29, kita akan melihat 2 kontradiksi dalam kisah ini, yang pertama adalah Raja Babel Nebukadnezar, ia adalah contoh pemimpin yang tidak konsisten (labil), mari kita lihat ke pasal sebelumnya. Dalam Daniel 2, setelah tiada seorangpun dari para orang berilmu, ahli jampi, ahli sihir dan Kasdim yang dapat menjelaskan arti mimpi tersebut kecuali Daniel, maka Nebukadnezar mengakui bahwa Allah yang disembah Daniel adalah Allah yang mengatasi segala allah. (Daniel 2 :47-48). Tetapi dengan berlalunya waktu dan dengan semakin berlimpahnya kemakmuran atas negeri yang dikuasainya, serta merta ia membuat peraturan yang mengarah kepada kepuasan pribadinya sendiri yang pada akhirnya bermuara pada pengkultusan individu sebagaimana yang dilakukan oleh Domitianus pada latar belakang kitab Wahyu. Ketidak konsistenan Nebukadnezar terlihat dengan peraturan yang dibuatnya untuk menyembah patung yang dibuatnya. Mengapa Nebukadnezar begitu cepat berubah kepada penyembahan berhala (patung) sementara ia telah mengakui kebesaran Allah yang disembah Daniel ?. Jawabannya adalah karena ia hanya mengakui bahwa Allah yang disembah Daniel adalah Allah yang lebih besar dari berbagai allah lain. Artinya ia tetap mengakui keberadaan allah lain. Bukannya mengakui adanya Allah yang Esa. Pengakuan Nebukadnezar ini juga kerap kita lakukan secara sadar atau tidak sadar. Saat kita mendapatkan manfaat dari penyembahan kita kepada Allah misalnya doa kita dijawab (dikabulkan) kita mengakui kebesaran Tuhan, tetapi pada saat doa kita tidak kunjung dijawab (menurut versi kita) maka kita meminta pertolongan kepada allah lain, ke orang pintar atau dukun misalnya. Bukankah ini juga menunjukkan ketidak konsistenan kita kepada Allah ? Bukankah seharusnya kita mengakui hanya ada satu Allah didalam Yesus Kristus yang kita sembah walau bagaimana konsisi kita.
Nebukadnezar adalah contoh pemimpin yang emosional (spgr-toba), pada saat ia mendengar laporan dari para Kasdim bahwa orang Yahudi tidak menyembah patung tersebut pada saat sangkakala, seruling, kecap, rebab, gambus dan berbagai bunyi-bunyian dikumandangkan, ia menjadi begitu marahnya hingga meminta api dipanaskan 7 kali lebih panas, akibat ulahnya tersebut bahkan telah menghabisi nyawa prajuritnya yang mengangkat Sadrakh, Mesakh dan Abednego ke dalam perapian. Emosi Nebukadnezar didorong oleh ambisi pribadinya hingga ia tidak mampu berfikir secara rasional dan mengingat kembali bahwa sebagaian dari kejayaannya tidak terlepas dari jasa para gubernurnya yaitu Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Emosi/Panas hati ini juga yang membuat Kain tega membunuh saudaranya sendiri Habil (Kej. 4: 6-7) karena hati yang panas inilah merupakan pintu masuk bagi kebencian, dan bila tidak dapat dikuasasi akan menjadi tindakan kekerasan bahkan pembunuhan. Kita kadang juga diperhadapkan pada hal yang sama, karena ketidak sukaan kita terhadap seseorang telah menghasilkan emosi sehingga apapun yang dikatakan orang tersebut kita tidak dapat menerima dan bahkan menentangnya seolah menjadi sebuah ketidak benaran, sekalipun didalamnya ada kebenaran, bahkan kita melupakan hal-hal baik yang pernah ada diantara kita dengannya. Tidak jarang orang melukiskan kebenciannya dengan mengatakan “ dang diahu dang diho tumagonan tu begu” (tidak untuk ku tidak juga untuk mu lebih baik untuk hantu)

2. Sadrakh, Mesakh dan Abednego Contoh ketaatan yang sempurna
Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego adalah orang Yahudi yang dibawa oleh Aspenas atas perintah Nebukadnezar ke Babel, tidak hanya dibawa ke Babel tetapi keempat orang ini juga dijadikan sebagai orang Babel dengan mengganti nama mereka dari nama Yahudi Beltsazar (Daniel) dan ketiga sahabatnya Hanaya (Sadrakh), Misael (Mesakh) dan Azarya (Abednego), nama yang semula artinya adalah untuk memuji Allah Isreel mis. Daniel Allah adalah hakimku menjadi Beltsazar Bel dewa tertinggi Babel melindungi hidupnya demikian juga dengan Hanaya Tuhan menunjukkan kasih karunia menjadi Sadrakh Hamba Aku yaitu dewa bulan tidak hanya itu mereka juga diberikan pendidikan secara Kasdim dan makanan dari makanan raja (Dan. 1 : 3-7). Mereka dididik selama 3 tahun. Tetapi sekalipun diberi kenikmatan di Babel, tetapi Daniel dan ketiga sahabatnya tetap tidak mau menajiskan diri dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum oleh raja. Dalam hal ini Daniel dan ketiga sahabatnya tetap mempertahankan kesucian hidupnya untuk tidak memakan makanan yang telah dipersembahkan kepada berhala/dewa. Ketaatan mereka yang menjadikan mereka berani tampil beda dari sekian banyak para pelajar lainnya telah mengkawatirkan pengurus istana bahwa mereka nanti kelihatan tidak sehat dan pintar. Tetapi Daniel dengan ketaatan yang penuh telah sanggup untuk meminta diadakan perlombaan selama sepuluh hari, mereka tidak mengkonsumsi makanan raja dan anggur tetapi hanya memakan sayur. Setelah sepuluh hari ternyata mereka kelihatan lebih gemuk dari semua orang muda yang memakan santapan raja (Dan 1: 15), bahkan kepada keempat orang tersebut Allah telah memberikan pengetahuan dan kepandaian tentang berbagai-bagai tulisan dan hikmat, dan Daniel juga mempunyai pengertian tentang berbagai-bagai penglihatan dan mimpi. (Dan 1:17) Kemampuan ini yang nantinya digunakan oleh Daniel untuk menyingkapkan misteri dari mimpi raja yang tidak mampu disingkapkan seluaruh orang pintar di Babel.
Kemampuan yang dimiliki oleh Daniel telah mengantarkan mereka menduduki posisi kunci di kerajaan Babel. Ketiga sahabatnya atas saran Daniel telah ditempatkan menjadi gubernur di berbagai wilayah di Babel. Ketaatan mereka telah menghasilkan berkat dan suka cita yang besar bagi mereka. Tetapi ternyata ketaatan dan kesetiaan tidak selalu mendatangkan berkat dan pujian (kesenangan), tetapi juga membutuhkan pengorbanan.
Nebukadnezar yang telah terbuai dengan kekuasaan dan ambisinya, membuat sebuah patung emas yang besar, dan pada saat peresmian ia mengundang seluruh petinggi negeri termasuk para gubernur, hingga ketiga sahabat Daniel hadir, tidak dijelaskan mengapa Daniel tidak ada pada kesempatan tersebut. Pada saat mereka harus menyembah kepada patung tersebut, ketiga sahabat Daniel ini ternyata tetap konsisten terhadap iman percayanya, kepercayaannya tidak luntur oleh kemilau jabatan yang diembannya. Mereka pasti sadar betul bahwa ketidak taatan mereka terhadap Nebukadnezar bukan hanya akan menghilangkan jabatan mereka, tetapi bahkan nyawa mereka. Siapa sih sesungguhnya yang sudi kehilangan jabatan yang begitu mengah?, apa sih susahnya hanya sekedar menyembah kepada patung, toh belum tentu itu artinya berkhianat kepada yang kita percayai atau Allah yang kita sembah? Itu mungkin pikiran kita. Tetapi Sadrakh, Mesakh dan Abednego memiliki kesetiaan dan ketaatan yang didasari pada iman yang teguh kepada Allah, mereka berani tampil beda dan siap untuk berjalan bersama Allah dalam situasi apapun. Tidak sekedar hanya dikala senang. Perhatiakan bagaimana mereka bertiga menghadapi arogansi seorang Nebukadnezar : “ Dan 3:15 Sekarang, jika kamu bersedia, demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, sujudlah menyembah patung yang kubuat itu! Tetapi jika kamu tidak menyembah, kamu akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala. Dan dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?"
Nebukadnezar telah beranggapan bahwa dirinya bahkan lebih kuat dari para dewa. Tetapi dengan penuh ketenangan sebagai buah dari kepercayaannya kepada Allah mereka merespon “ Dan 3:16 Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: "Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. 3:17 Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; 3:18 tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu."
Ini adalah jawaban penuh iman yang menyatakan sesungguhnya Nebukadnezar bukanlah penentu nasib mereka, dan kepercayaan mereka kepada Allah tidak tergantung pada hukuman yang diberikan raja kepada mereka. Sekalipun mereka harus dihukum mereka tetap tidak akan menyembah patung buatan tangan manusia tersebut.
Ternyata kepercayaan mereka yang bulat kepada Allah telah menghasilkan mujizat yang luar biasa, Allah telah meluputkan mereka dari panas api yang membara, bahkan Nebukadnezar sendiri menyaksikan ada seorang yang bagaikan anak dewa (3:25), apa hasil mujizat tersebut?, hasilnya adalah Nama Allah ditinggikan di Babel, untuk kedua kalinya setelah penyingkapan mimpi oleh Daniel, kembali Nebukadnezar mengakui kebesaran Allah dengan mengatakan “terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego (3:28) Pada akhirnya Nebukadnezar menitahkan (3:29) bahwa setiap orang dari bangsa, suku bangsa atau bahasa mana pun ia, yang mengucapkan penghinaan terhadap Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego, akan dipenggal-penggal dan rumahnya akan dirobohkan menjadi timbunan puing, karena tidak ada allah lain yang dapat melepaskan secara demikian itu."
3:30 Lalu raja memberikan kedudukan tinggi kepada Sadrakh, Mesakh dan Abednego di wilayah Babel.


Simpulan
Nebukadnezar saat mendengar ada yang tidak mengindahkan titahnya dipenuhi dengan rasa amarah, karena ia merasa paling berkuasa, tetapi ada orang yang tidak taat kepada titahnya, ia khawatir kehilangan rasa kemasyurannya hingga dengan serta merta ingin menghabisi mereka yang tidak mengakui kekuasaannya. Sadrakh, Mesakh dan Abednego, sama sekali tidak khawatir akan kehilangan apapun bahkan nyawanya sehingga ia tetap taat kepada Allah. Logika manusia mereka akan kehilangan segalanya bahkan nyawanya saat mereka tetap bertahan untuk tidak menyembah berhala tersebut dan diamsukkan kedalam api, tetapi benarlah yang dikatakan Matius dalam Mat. 10:39 Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.
Nebukadnezar akhirnya kehilangan kewibawaannya saat ia melihat bahwa ketiga orang tersebut tidak mati, bahkan prajurutnya yang mati kepanasan saat mencampakkan ketiga orang tersebut kedalam perapian. Tetapi Sadrakh, Mesakh dan Abednego tidak hanya memperoleh nyawanya kembali tetapi kemuliaan Allah di Babel dengan dikeluarkannya perintah Raja bahwa setiap orang dari bangsa, suku bangsa atau bahasa mana pun ia, yang mengucapkan penghinaan terhadap Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego, akan dipenggal-penggal dan rumahnya akan dirobohkan menjadi timbunan puing, Lebih dari itu mereka diberikan kedudukan tinggi kepada Sadrakh, Mesakh dan Abednego di wilayah Babel.




Disampaikan pada Kotbah Minggu 6 April 2008 Pkl. 10.15 GEREJA POUK MARANATHA MEDAN – SUMUT.

PUJILAH KASIH SETIA TUHAN

Oleh : P. Erianto Hasibuan

MINGGU MISERICORDIAS DOMINI = KASIH SETIA TUHAN

Nats : Mazmur 33 : 4-9 BACAAN : Rom. 8 : 17-26

PENDAHULUAN :
Setiap kali Mancester United bertanding dan disiarkan di televisi itu merupakan hal yg menyenangkan bagi saya, sekalipun membosankan bagi isteri saya. Seandainya saya tidak berkesempatan menontonnya karena ada hal lain, saya tetap akan akses ke website MU untuk mencari tahu hasil pertandingannya, dan bila tim itu menang dengan senang hati saya akan membaca beritanya via internet sekalipun itu akan menambah pengeluaran untuk membayar pulsa.
Kepuasan saya akan semakin lengkap bila saya menceritakan hasil pertandingan tsb kepada siapapun yg saya temui termasuk isteri saya sekalipun dia tidak suka bola. Ketertarikan kita terhadap sesuatu dapat dipengaruhi banyak faktor, seperti Adam Malik (Alm), sejak kecil saya mengidolakan tokoh ini karena dia orang Siantar dan bersekolah di SD yang sama dengan saya sekalipun beda generasi. Isteri saya misalnya dia gemar mengikuti berita Mayang Sari bukan karena dia mau meniru kelakuannya, tetapi karena Mayang teman sekampungnya di Purwokerto.
Di Bandung kita mendengar ada konser yang hingga membawa korban nyawa karena para pencinta (fans) grup band tersebut begitu mengidolakannya sehingga anak-akan muda tidak mau kehilangan kesempatan untuk melihat idolanya secara langsung.
Anda tentu juga memiliki tokoh ”pujaan” yang dengan penuh pengorbanan terus mengikuti perkembangan tokoh tersebut, untuk dapat mengenal tokoh tersebut dari seluruh aspek kehidupannya yang tujuannya agar anda dapat meniru atau bertingkah seolah tokoh pujaan anda tsb.

Pengenalan Kepada Firman :
Mazmur 33 adalah Pujian bangsa Israel yang biasanya dilantunkan pada perayaan hari besar. Pengakuan bahwa Firman TUHAN itu benar, segala sesuatu dikerjakanNya dengan kesetiaan (4) adalah hasil dari pengalaman bangsa Israel secara kolektif dengan Allah sejak leluhur mereka keluar dari Mesir. Bumi Penuh dengan kasih setia TUHAN (5) tidak ada yg terluput lingkungan dimana mereka tinggal diakui bahwa kasih setia Tuhan ada dimana saja. Bangsa Israel semula hidup sebagai pengembara selama 40 tahun, dipadang yg tandus mereka dipelihara dengan tiang awan pada siang hari dan tiang api pada malam hari agar mereka dapat jalan siang dan malam.(Kel. 13:21). Saat di Kanaan mereka diberi curah hujan agar tanah mereka menghasilkan dan siapa sumber semua kasih setia tersebut adalah TUHAN. Inilah yang dikumandangkan oleh bangsa Israel, sebagai wujud ketaatan dan pengenalan mereka terhadap TUHAN yang mereka sembah.
Dengan baik pemazmur juga mengenal Allah yang mencipta dengan FIRMAN NYA, inilah yang kemudian dinyatakan oleh Yohanes bahwa Firman itu adalah Allah (Yoh 1:1b). Jauh sebelum Injil dituliskan, orang Israel telah mengenal Firman yang bukan hanya sebagai pencipta tetapi juga pemelihara ciptaanNya (Mzm.147 :15-18; 148:8). Di era PB kalangan Yunani berfikir bahwa Yohanes sedang membicarakan asas rasional dari alam semesta. Mereka paham benar bahwa Firman lah yang mencipta Langit dan Bumi, sehingga pada saat Yohanes menuliskan bahwa Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan dan tanpa Dia tidak ada suatu apapun yang telah jadi ... (Yoh 1:3) mereka dapat memahaminya. Tetapi pada saat Yohanes menuliskan bahwa Firman itu telah menjadi manusia (daging/sarx) dan diam diantara kita, (Yoh. 1:14) mereka terkejut dan sulit untuk memahaminya, dan bahkan tidak dapat memahaminya, buktinya mereka menyalibkan Dia yang adalah Firman itu.
Bagaimana pemahaman kita tentang Firman? Dapatkah kita memahami bahwa : Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dgn Allah (en arkhe en ho logos, kai ho logos en pros ton Teon) Yoh. 1:1 dan Padamulanya Allah menciptakan Langit dan Bumi (beresit bara elohim et hasmayim weet haares) Kej 1: 1.
Apakah kita hanya dapat meneriman itu sebatas alam ini masih bersahabat dengan kita, dan meragukannya pada saat alam ini tidak lagi bersahabat dengan kita. Jika demikian dimanakah pengharapan kita kepada TUHAN ? Bukankah Paulus mengatakan didalam Rom. 8 : 24 b ...Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi. 25. Tetapi jika kita mengharapkan apa yg tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun. (Epistola).
Orang Israel sekalipun kerap memberontak kepada Allah dan dikenal sebagai bangsa yang tegar tengkuk, tetapi disisi lain, Pemazmur menggambarkan bagaimana bangsa ini mengakui bahwa oleh Firman TUHAN langit telah dijadikan oleh nafas (Ruach=roh) dr mulut-Nya segala tentaranya (7). Inilah pengakuan mereka yang menggambarkan adanya pengharapan mereka akan campur tangan Allah dalam setiap kehidupan mereka sekalipun yang sedang mereka hadapi adalah ketidak nyamanan, tetapi mereka tetap berpengharapan karena ” Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada (9) adalah pengakuan yang menegaskan kembali bahwa Padamulanya Allah menciptakan Langit dan Bumi (Kej. 1:1) dan Yoh 1: 1 Padamulanya adalah Firman.

Pujilah Kasih Setia Tuhan
Sulit sekali bagi saya untuk mengatakan yang buruk tentang klub sepak bola MU, karena saya penggemarnya, sekalipun secara rasional saya memahami ada beberapa kelemahan yang dimiliki mereka. Konon lagi dengan ALLAH yang SEMPURNA, selayaknya kita menjadikan FIRMAN itu menjadi Idola kita, sehingga kita senantiasi terdorong untuk mengetahui lebih jauh lagi sehingga kita dapat berprilaku sebagaimana Firman itu menggariskannya.
Pengenalan akan Firman itu tidak dapat kita lakukandengan cara mengasingkan diri dan bertapa, tetapi pengenalan tersebut akan disempurnakan melalui perbuatan kita yang segambar dengan Tuhan Yesus sebagai tokoh sentral dalam Firman itu, karena memang Dia sendirilah Firman itu.
Pengenalan yang benar akan Allah akan membuat kita senantiasa memuji TUHAN karena kita semakin merasakan begitu besarnya Kasih Setia Tuhan (MISERI CORDIAS DOMINI)

Disampaikan pada Kotbah Minggu 6 April 2008 Pkl. 10.15 GEREJA POUK MARANATHA MEDAN – SUMUT.