SELAMAT DATANG DI "TEOLOGI KAUMAWAM"

Salam dalam Kasih Tuhan Yesus Kristus. Terimakasih telah mampir di blog yg sederhana ini. Kami sangat berterimakasih bila saudara berkenan memberi tanggapan atas tulisan yang saudara baca di blog ini. Karena dengan tanggapan itu kami akan dapat belajar dan berbagi, sebab untuk itulah blog ini dibuat agar hidup kita tetap terpelihara dalam persekutuan. Semua tulisan dalam blog ini dapat dikutip dengan tetap mencantumkan sumbernya. Kiranya Tuhan Yesus memberkati kita. Pax Vobiscum, Erianto Hasibuan

Selasa, 21 Juli 2009

Keseimbangan Roh dan Daging

Oleh : P. Erianto Hasibuan *)

Nats : Mat. 26 : 41

Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah."


 

Peserta diminta untuk membentuk lingkaran, dan memainkan ice breaking KESEIMBANGAN. Setiap cerita yang akan disampaikan ada kata-kata PETRUS, peserta diminta untuk melakukan dua hal sekaligus, pertama tangan kanan akan menangkap jari peserta disebelahnya, sekaligus tangan kiri harus menghindarkan diri dari tangkapan sebelahnya,

Dari permainan ini banyak peserta yang melakukan tindakan sekalipun dalam cerita belum ada kata PETRUS, demikian halnya masih ada peserta yang tidak bereaksi apapun saat mendengar kata Petrus. Peserta yang jarinya tertangkap juga tidak sedikit bahkan lebih dari 3X dari 5X kata Petrus dalam cerita.

Permainan ini menunjukkan bagi kita, 3 Hal penting :

PERTAMA,     MEMAHAMI perintah, perintah yang disampaikan dalam permainan tersebut sesungguhnya sanagat sederhana, menangkap jari rekan sebelah kiri dan sekaligus melepaskan jari telunjuk sebelah kanan dari tangkapan, pada saat mendengar kata-kata "Petrus". Perintah ini bahkan lebih sederhana dari perintah Yesus pada murid-muridnya (Petrus dan kedua anak Zebedeus, Yakobus dan Yohanes) : "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku." (Mat. 26 :38b), hasilnya ? mereka bukannya berjaga-jaga tapi malah ketiduran, dan ini terjadi selama 3X Tuhan Yesus berdoa. Dalam kehidupan sehari-hari kita kerap tidak memahami apa yang diinginkan orang lain dari kita, jika kata-kata saja tidak dapat kita pahami, bagaimana dengan bahasa tubuh atau mimik seseorang tanpa bahasa ? Banyak hubungan yang menjadi tawar karena kesullitan untuk memahami maksud satu sama lain, jangankan dalam keluarga besar dalam hubungan suami isteri sekalipun kerap ada terjadi saling tidak memahami. Paguyuban ini, bisa jadi sebagai langkah awal untuk saling memahami satu sama lain sehingga hubungan yg lebih erat dapat dijalin. Sekalipun ada pepatah yang mengatakan "pohon kelapa yang ditanam berdekatan akan sangat mungkin dahannya saling bergesekan" itu benar, tetapi alangkah indahnya jika gesekan itu tidak untuk menjatuhkan dahan yang satu oleh yang lainnya, tetapi justru untuk menopang dahan yang lemah. Artinya semakin tinggi frekuensi berkomunikasi, sangat mungkin terjadi ketidak sepahaman satu sama lain, tetapi ketidak sepahaman tersebut selayaknya menjadi penguat satu sama lain, caranya. Ada sebuah kisah berikut : Ini sebuah kisah tentang dua orang sahabat karib yang sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan, mereka bertengkar dan salah seorang menampar temannya. Orang yang kena tampar merasa sakit hati, tapi dengan tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir: "Hari ini, sahabat terbaikku menampar pipiku." Mereka terus berjalan sampai akhirnya menemukan sebuah oasis. Mereka memutuskan untuk mandi. Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, mencoba berenang namun nyaris tenggelam, tapi dia berhasil diselamatkan oleh sahabatnya. Ketika dia siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis di sebuah batu: "Hari ini, sahabat terbaikku menyelamatkan nyawaku."
Orang yang menolong dan menampar sahabatnya, bertanya "Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir dan sekarang menuliskan ini di batu?" Sambil tersenyum temannya menjawab, "Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan itu. Dan bila sesuatu yang luar biasa baik terjadi, kita harus memahatnya di atas batu hati kita, agar takkan pernah bisa hilang tertiup angin."

KEDUA,     MELAKSANAKAN perintah, boleh jadi kita memahami perintah tersebut pada saat awal disampaikan, tetapi dalam pelaksanaannya begitu banyak rintangan yang harus kita hadapi, misalnya ah…sebelah saya kan mertua saya, masah sih saya mempermalukannya ? atau udalah kan ini cuma permainan ndak apa-apalah. Demikian halnya dengan ketiga murid Yesus, boleh jadi mereka memahami dengan baik perintah sederhana tersebut, tetapi kelelahan yang mereka alami seharian membuat mata mereka begitu berat, sehingga mereka tidak sanggup lagi melawan kantuknya. (Dan ketika Ia kembali pula, Ia mendapati mereka sedang tidur, sebab mata mereka sudah berat Mat. 26 : 43)

    Inilah yang kerap kita hadapi, besar sesunguhnya hasrat kita untuk melaksanakan perintah Tuhan, bahkan di doa kita selalu kita meminta agar kita dan keluarga kita dapat memiliki prilaku yang segambar dengan Tuhan Yesus, tetapi pada kenyataannya ? adik-adik misalnya untuk dapat ikut tes di Perusahaan Besar dan BUMN saja IPK harus diatas dua koma tujuh lima, bahkan untuk program officer develpoment harus diatas tiga, nah ini membuat godaan melakukan kecurangan. Habis gimana kadang sudah belajar serius eh..eh.. yang keluar ujian malah yang lain.. Mereka yang berkarir juga demikian, belum lama kita membaca di berbagai harian, bagaimana seorang perwira keepolisian yang memiliki karier diatas normal, sebagai akibat kedekatannya dengan para pengusaha dan saat ini dituduhkan berkonspirasi untuk menghilangkan nyawa orang lain.

KETIGA,     KESEIMBANGAN, dalam game tadi kita diminta untuk melakukan dua hal sekaligus, konsentarasi kita tidak boleh pecah hanya kepada salah satu sisi tangan saja, sebab jika demikian yang terjadi adalah kegagalan untuk melaksanakan perintah dengan baik. Ketiga murid Yesus juga mengalami hal yang sama, mereka tidak dapat mengatur stamina mereka dengan baik, sehingga pada saat mereka diminta untuk berjaga-jaga, bahkan hanya satu jam saja (40b), kelelahan tubuh mereka mengalahkan niatan mereka untuk setia terhadap perintah gurunya. Kondisi ini dimengerti dengan baik oleh sang guru, hingga saatnya Yesus mengatakan :"Tidurlah sekarang dan istirahatlah.(45 b).

Roh dan Daging

Keseimbangan perhatian terhadap roh dan daging (baca : tubuh) menjadi perhatian kita, karena pada era borderless (tanpa batas) saat ini kita seolah mundur ke era abad pertama masehi saat berkembangnya ajaran Gnostik, pemahaman yang kiliru akan kasih karunia dan pemahaman keselamatan, membuat mereka tidak lagi menjaga kesucian tubuhnya. Kita diingatkan oleh Matius, bahwa sejak awal Yesus telah memperingatkan kita, bahwa daging (sarks) lemah. Para teolog sistematika membagi struktur manusia menjadi empat yaitu Nyawa/jiwa, roh, daging dan tubuh. Roh didefenisikan sebagai kemampuan manusia untuk bekerjasama dengan Allah, dan Daging didefenisikan sebagai kemampuan manusia untuk bekerjasama dengan iblis (Indra, 2003 p. 90).

Kemampuan manusia bekerjasama dengan iblis (daging) diingatkan Yesus adalah lemah, sedang Roh adalah penurut, artinya diperlukan keseimbangan akan hal keduanya dengan lebih menitkberatkan pada pertolongan roh agar kita dimampukan untuk mengelolah tubuh ini tetap menjadi persembahan yang hidup bagi Allah. Bukakah Paulus meminta kita untuk
mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup. (Roma : 12:1 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.)

REFLEKSI

Kita kerap mendengarkan kata-kata klise "ah sudalah…toh kita masih hidup didunia, tipu-tipu dikit bolelah…atau istilah berbohong untuk kebaikan… atau banyak istilah lain yang sejenis, pada dasarnya hal itu menunjukkan bagaimana sulitnya menjaga keseimbangan antara kebutuhan daging dan roh, atau berarti pula ketidak pahaman kita akan ajaran, karena kita masih lebih berkonsentrasi pada hal-hal yang bersifat kedagingan dan melewatkan kemapuan kita untuk berkomunikaasi dengan Allah. Saat ini kita diingatkan, untuk menjaga keseimbangan keduanya, kemampuan kita untuk bekerja sama dengan Allah selayaknya mengendalikan aktivitas kedagingan kita. Sehingga seperti game yang kita lakukan, kita dapat membebaskan jari kita dari genggaman lawan laiknya kita membebaskan diri kita dari ketergantungan yang bersifat hedonisme dan disisi lain kita dapat menangkap sesama kita untuk masuk dalam keluarga Tuhan. Amin.

(Disampaikan pada acara renungan pertemuan keluarga besar Yoharam Sueharno di Baturaden, 18-20 Juli 2009).

Minggu, 24 Mei 2009

Menjadi Pemenang pada tahun 2009, Mungkinkah ?

Oleh : P. Erianto Hasibuan

Siapa yang memiliki suatu alasan (why) untuk hidup akan sanggup mengatasi persoalan hidup dengan cara (how) apa pun. Nietzsche


 

Sejumlah prediksi dan ramalan yang disajikan sejak akhir Desember 2008 hingga memasuki tahun 2009, didominasi dengan gambaran yang "menakutkan" paling tidak membuat "nyali" ciut untuk memasuki tahun 2009. Bahkan para pengkotbah sekalipun tidak luput untuk memberikan gambaran suram, sekalipun pada akhirnya akan menunjukkan gambaran yang penuh harapan.

Prediksi dan ramalan tersebut sesungguhnya bukanlah isapan jempol belaka, karena fakta trimester tiga tahun 2008 angka-angka indikator ekonomi nasional dan internasional menunjukkan arah ke krisis global. Dimulai dari runtuhnya para raksasa ekonomi Amerika, hingga anjloknya pasar modal hampir diseluruh dunia. Ketidak mampuan para debitor housing di Amerika Serikat untuk membayar angsuran karena kenaikan suku bunga, telah berdampak pada hilangnya kepercayaan investor terhadap secondary mortgage yang dimilikinya. Selanjutnya hanya tinggal menuggu waktu dari efek domino tersebut. Lembaga keuangan yang menjamin surat berharga tidak lagi mampu menyelesaikan kewajibannya. Sederhananya memang kondisi itu hanya terjadi di Amerika Serikat, seharusnya hanya negara itu yang mengalami krisis. Tetapi karena surat berharga yang diterbitkan negara paman sam tersebut laku keras, sehingga banyak dimiliki oleh negera-negara lain, termasuk Indonesia, maka kita tidak dapat lepas dari dampakk tersebut.

Untuk Indonesia, prediksi ekonomi yang pesimis pada tahun 2009 masih ditambah lagi dengan kekawatiran akan pelaksanaan Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden pada tahun yang sama. Bayang-bayang peristiwa kerusuhan Mei 1998 seolah lahir kembali dalam ingatan.


 

Realita Kehidupan

Untuk menyajikan persoalan hidup yang lebih nyata, penulis menyajikan dua peristiwa yang pernah terjadi beberapa tahun yang lalu.

Minggu 11 Maret 2007 di Malang ditemukan jenazah Mercy Junaina (31) bersama keempat anaknya. Sang ibu Mercy meracuni anaknya sendiri dengan Potasium yang dimasukkan dalam kapsul, dan akhirnya meracuni dirinya sendiri.
Berdasarkan berita yang ada di detik.com diuraikan bahwa penyebab tragedi ini dipicu oleh permasalahan keuangan, karena usaha bengkel suami Mercy mengalami kebangkrutan sementara salah satu anaknya mengalami gagal ginjal sehingga harus melakukan cuci darah seminggu sekali.

Kasus yang lain terjadi di Medan, yaitu Melawati br. Simanjuntak (34) seorang PNS isteri dari seorang Bintara Polri pada Senin 16 April 2007 bunuh diri dengan cara menembakkan senjata api milik suaminya ke perutnya sendiri. Menurut Kabid Humas PoldaSU, penyebabnya diduga karena ybs depresi akibat sakit yang diderita selama ini tidak kunjung sembuh. Berdasarkan informasi dari teman sekerjanya, diceritakan bahwa ybs sehari-hari dalam bekerja juga sering mengalami depresi.


 

Belajar dari Musa

Saat musa memimpin umat Israel keluar dari tanah Mesir menuju tanah perjanjian, kerap ia seolah berjalan sendiri menentang kekerasan hati dan ketidak percayaan umat Israel. Peristiwa di Pi-Hahirot di tepi Laut Teberau (Kel. 14 : 1-14). Saat bangsa Israel berkemah mereka di serang oleh 600 kereta kuda tentara Mesir.

Bangsa Israel ternyata tidak lebih baik dari Mercy dan Melawati. Mereka putus asa, melihat didepan terhampar lautan yang tak mungkin terseberangi, sementara dibelakang tentara Mesir yang bergerak dengan gemuruh dan membuat "nyali" mereka ciut. Mereka melupakan janji Tuhan, dan memilih menyerah dengan kematian sebagai jalan keluar terbaik. (Kel. 14:11).

Andai saat itu Musa tidak bersama dengan mereka, maka bangsa itu hanya akan tinggal meratap dan menunggu "dihabisi" oleh tentara Mesir. Tetapi kehadiran Musa telah merubah segalanya,


"    Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya." (Kel. 14:13)


 

Fakta yang dilihat oleh Musa dan Bangsa Israel tidak berbeda, tetapi cara mereka melihat yang berbeda. Bangsa Israel fokus pada persoalan yang ada, yaitu jalan buntu didepan karena ada laut yang terbentang luas, sementara tentara Israel terus bergerak mendekat mereka. Persoalan ini membuat mereka melupakan janji Tuhan, dan bahkan ingin kembali ke masa lalu sebagai budak di Mesir. Musa melihat hal yang sama, tetapi ia mengingat janji Tuhan bahwa mereka bekemah di Pi-Hahirot agar Tuhan dapat menyatakan kemuliaan-Nya kepada Firaun dan seluruh pasukannya. (Kel.14:1-4)

Andai disisi Mercy Junaina dan Melawati br. Simanjuntak saat itu ada seseorang yang memiliki pandangan seperti Musa, maka mereka tidak akan melihat bahwa kematian adalah jalan keluar bagi persoalan yang sedang mereka hadapi.

Jika kita lihat lebih jauh, buah dari pengaruh Musa. Dia tidak hanya membuat bangsa Israel memiliki pengharapan dan mampu bangkit untuk menyeberangi laut Teberau, bahkan memampukan Miryam nabiah itu yang sebelumnya memiliki mental menyerah seperti bangsa itu, memimpin kaumnya menyanyikan lagu kemenangan (Kel. 15 : 20-19)


 

Refleksi

Musa telah memberi teladan bagi kita, tidak hanya memberikan semangat sebagai pemenang bagi bangsa Israel, tetapi lebih dari itu mengubah mentalitas "budak" menjadi mentalitas pemimpin. Miryam saudara perempuan Musa tidak dibesarkan di Istana seperti masa kecil Musa, tetapi ia hidup seperti bangsa Israel hidup di Mesir sebagai budak. Artinya ia memiliki mentalitas seperti bangsa Israel kebanyakan, tetapi dengan pengaruh Musa, ia dapat menjadi pemimpin bagi kaumnya dan menyanyikan nyanyian kemenangan bagi Tuhan.

Menghadapi tahun 2009, masalah pasti akan datang silih berganti, besar kecil. Tidak ada yang dapat memastikan bagaimana cara menghadapinya, karena persoalan bukan hanya sebatas persoalan ekonomi, tetapi hubungan personal antar sesama juga dapat menjadi persoalan yang kadang menerpa bak kereta kuda tentara Mesir yang terus bergerak. Seperti yang dihadapi Mercy, usaha bengkel suaminya yang bangkrut bagaikan laut Taberau yang tak terseberangi, sementara biaya cuci darah anaknya seminggu sekali harus berjalan terus, bagaikan gerakan kereta kuda tentara Mesir yang tak terbendung.

Siap menjadi pemenang pada tahun 2009 ? Terserah anda. Jika anda menghadapi tahun 2009 laiknya bangsa Israel, maka anda hanya dapat menyelematkan diri anda sendiri dan tidak lebih hanya sebagai penonton yang baik. Tetapi jika anda bertindak seperti Musa, yang dapat hadir pada saat orang lain butuh untuk dikuatkan, maka anda tidak hanya sekedar menjadi pemenang, tetapi menghadirkan pemenang-pemenang baru.

Ada benarnya apa yang dikatakan Nietzsche : Siapa yang memiliki suatu alasan untuk hidup akan sanggup mengatasi persoalan hidup dengan cara apapun. Tepatlah apa yang dikatakan Paulus, alasan kita untuk hidup adalah menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada Tuhan Yesus dan mendapat hidup yang kekal. (1Tim. 1:16). Dengan cara memiliki cara pandang Musa, yang selalu setia pada Janji Tuhan. SELAMAT MENJALANI TAHUN 2009, SELAMAT MENJADI PEMENANG.

Tulisan ini dimuat pada: Bulletin Mercusuar edisi 12 Maret 2009. (GKI Kemang Pratama – Bekasi)

Selasa, 10 Maret 2009

Rumah ku dari TUHAN ku

Mazmur 127:1 – 5

Kita umumnya memperoleh pendidikan, motivasi dan asuhan yang berawal dari keluarga, yaitu di dalam rumah. Dari rumah kita memperoleh pengajaran dalam bidang apapun, dengan maksud agar kita dapat berhasil dan menjadi orang yang sukses, sukses di sini dapat diartikan dengan istilah “unggul” . Dalam tulisan Om Anto (Harmanto Edy Djatmiko) di Majalah Swa 22 Januari 2009, dengan judul “Mencetak Manusia Unggul” dalam kalimat pembuka dikatakan “Lingkungan keluarga merupakan wahana utama untuk menempa karakter anak-anak menjadi manusia unggul.”
Bagi orang tua, memiliki anak yang unggul adalah kebanggaan luar biasa, sekalipun tidak jarang orang tua yang berambisi untuk menjadikan anak-anaknya untuk menutupi kegagalannya pada masa lalu, atau menjadikan fotocopy atas kesusksesan dirinya tanpa memperhatikan kehendak si anak sendiri.
Kesuksesan si anak yang menjadi kebanggaan orang tua, kerap menjadi sikap bermegah diri. Dalam pemahaman ini orang merasa bahwa semua keberhasilan yang dicapai dalam studi, pekerjaan dan karier, atau membangun rumah-tangga ditentukan oleh usaha, prestasi dan kemampuan dirinya. Dalam keadaan demikian pemazmur mengingatkan kita: ” Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga” (Mzm. 127:1). Firman Tuhan ini pada dasarnya mengingatkan kita, jikalau manusia berusaha sendiri tanpa mengingat pertolongan, campur-tangan dan berkat dari Tuhan; maka segala kerja yang dilakukan hanyalah seperti bayangan yang suatu saat akan lenyap. Karena itu di Mzm. 127:1 menyatakan setiap upaya manusia membangun rumah-tangga, bahkan upaya untuk mengerahkan kekuatan militer secara luar biasa untuk menjaga keamanan kota tidak pernah terwujud secara kekal jikalau manusia mengabaikan Allah.
Beberapa peristiwa penting diberbagai belahan dunia telah membuktikan hal itu, seperti kisah tenggelamnya kapal pesiar Titanic yang anti tenggelam, porak porandanya kota Kobe di Jepang segera setelah mereka memproklamirkan bahwa mereka telah berhasil membangun gedung-gedung “canggih” yang tahan gempa. Dengan perkataan lain, usaha dan kemampuan manusia tidak dapat menjamin keberlangsungan dari apa yang dikerjakannya termasuk rumah megah bukan menjadi jaminan kebahagiaan didalam rumah tangga, tapi bukan berarti didalam rumah yang megah tidak ada kebahagiaan.
Kita mungkin mengatakan, kami melakukan doa bersama saat hendak memulai pemabangunan rumah ini, bahkan saat dalam merencanakan untuk membangun (membeli) rumah ini kami telah menggumulinya dalam doa. Apakah itu belum cukup ? Bahkan saat ini saat memasuki rumah ini kami melakukan ibadah (renungan) dan sebelumnya (mungkin) telah mengundang pelayan Tuihan untuk berdoa. Tetapi mengapa pada kenyataannya keindahan fisik rumah tersebut tidak diikuti dengan keindahan isi hati penghuninya ?
Persoalannya adalah apakah arti firman Tuhan ” Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga” menjadi tindakan iman yang kita nyatakan setiap hari?. Kehadiran Tuhan dalam rumah-tangga bukan suatu kehadiran formalitas dalam ritual kebaktian. Tetapi seharusnya dalam kehidupann rumah-tangga kita, Tuhan perlu dihadirkan oleh semua pihak sebagai Allah yang kepadaNya kita berbakti dan melaksanakan kehendakNya dengan setia.
Kehadiran dan penyertaan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari perlu direspon oleh pasangan suami-isteri dengan melaksanakan tanggungjawab dan kewajibannya dengan setia. Makna berkat Allah tidak boleh dipahami secara pasif, tetapi sebaliknya harus dipahami secara pro-aktif. Suami dan isteri wajib melakukan tugas-tugasnya agar rumah-tangga mereka dapat kokoh bertahan mengarungi samudera kehidupan ini. Itu sebabnya di ayat 2, pemazmur berkata: ”Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah--sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur”. Perhatikanlah bahwa Allah memberikan berkatNya kepada yang dicintai pada waktu mereka tidur. Maksud firman Tuhan ini adalah bahwa Allah mengaruniakan berkatNya kepada mereka yang terlelap tidur setelah mereka bekerja dengan susah-payah. Jadi Allah tidak akan memberikan berkat dan rezeki kepada mereka yang gemar tidur dengan lelap, tetapi rumah tangga mereka tidak dilandasi oleh kerja dan usaha yang memadai. Landasan rumah tangga tidaklah cukup dengan cinta yang romantis belaka, tetapi perlu dilandasi oleh cinta yang diwujudkan dalam sikap tanggungjawab secara moril dan finansial.
Kata yang dicintai Nya pada ayat 2 mengingatkan kita pada perkataan Paulus pada Roma 8 :28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.
Karena itu marilah kita hayati pemahaman iman yang menyatakan, ” Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya” secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Khususnya sikap iman kita yang mau menerima apa yang menjadi kehendak Tuhan walaupun seringkali kehendak Tuhan itu tidak sesuai dengan harapan dan cita-cita kita. Kiranya Saudaraku Sari dan Mulyo dapat mengimani bahwa “Rumahku dari Tuhan ku”. Semoga.
*) Disampaikan pada acara ibadah Keluarga pada pertemuan keluarga Yoram Suharso dalam rangka memasuki rumah baru Kel. Mulyo dan Sari di Villa Nusa Indah 5 pada Sabtu 7 Maret 2009.

Rabu, 03 Desember 2008

Guru yang terlalu cepat menghukum

Akhir bulan November yang lalu, saya dikagetkan oleh sebuah hasil ujian anak bungsu ku yang masih duduk di kelas 1 SD. Selembar hasil ujian materi lokal bahasa Sunda tertulis nila dengan warna merah 100, tetapi dibawahnya dibarengi dengan asesoris NYONTEK. Tersentak aku melihatnya setelah isteriku mempertontonkannya kepada ku. Bawah sadarku sepontan bertanya, apakah aku sudah gagal dalam mendidik anakku ? ataukah aku terlalu keras mendidik mereka, hingga muncul karakter takut gagal hingga menghalalkan segala cara ?.

Sejenak aku bertanya kepada anak ku Yohana Romauli Sayekti Hasibuan (Uli) apakah ia benar melakukan pencontekan, ternyata dia menolak untuk dikatakan menyontek, tetapi memang dia berkomunikasi dengan temannya saat ujian karena si teman meminjam penghapus (eraser) darinnya. Belum terlalu yakin, aku meminta isteriku untuk melakukan uji ulang atas materi pelajaran yang sama, dan ternyata ia memang dapat menjawab pertanyaan sesuai dengan nilai yang ada.

Sesaat saya merenung, apakah hal ini saya diamkan saja atau saya bicarakan dengan sang guru. Tetapi setelah saya menerima penjelasan dari anak saya bahwa posisi sang guru ada di depan dan anak saya ada di belakang, serta banyak teman temannya yang juga mendapatkan tulisan yang sama, maka saya putuskan untuk menemui sang guru keesokan harinya untuk mengklarifikasi.

Pada awalnya sang ibu guru yang manis dan belia, bertahan bahwa ia melihat anak saya menyontek. Tetapi setelah aku pertanyakan dimana posisi si ibu guru dan dimana posisi anak ku, serta menceritakan track record anak ku, ia mulai melunak, utamanya saat aku memintanya untuk melakukan uji ulang untuk membuktikan kebenaran apakah Uli menyontek atau tidak. Dan aku meminta surat resmi dari sekolah bagaimana hasil penilaian mereka, apakah Uli benar menyontek atau tidak. Singkat cerita anak ku di tes ulang dan ia mendapat nilai 98, kesalahan satu soal yang dilakukannya adalah kesalahan dalam sebuah pemenggalan kata dalam penulisan jawabannya. Dan sehari setelah ujian ulang, kami mendapat surat permohonan maaf secara resmi dari sekolah atas kekilafan si ibu dalam membuat penilaian.

Lebih baik salah memberi hadiah dari pada salah dalam menghukum.

Saya menuliskan ini, karena memang sejak semula tekad yang ada di benak saya untuk kedua anak saya adalah mendidik mereka untuk menjadi anak yang JUJUR (ANTI BOHONG), sehingga nilai rendah sekalipun yang mereka peroleh atau kegagalan untuk meraih juara dalam pertandingan, selalu saya apresiasi sepanjang mereka tidak melakukan kecurangan, saya hanya tinggal mendoronga upaya mereka karena prosesnya sudah benar. Saya berharap kelak mereka menjadi orang dewasa yang senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran. Berbekal itu saya percaya, sekalipun mereka aneh tetapi mereka menjadi orang yang aneh karena mereka dapat menunjukkan secercah harapan bahwa mentalitas anak bangsa ini pada dasarnya adalah baik.

Andai saya mendiamkan peristiwa di atas, maka pada saatnya setelah ia mengerti apa yang dimaksud dengan meyontek, hal itu akan dapat memberikan efek negatif pada dirinya dimata dirinya sendiri atau dimata temannya. Karakter yang akan ia bangun kelak akan ternodai oleh kenangan pahit nyontek (sama dengan mencuri menurut saya) yang secara formal ia lakukan, sekalipun fakta tidak pernah ia lakukan. Efek ini akan terbalik jika seorang guru memberi nilai 100 kepada seorang murid, sekalipun sesungguhnya anak itu hanya mendapat nilai 70. Si anak boleh jadi akan menjadi lebih percaya diri karena ia merasa ternyata ia dapat melakukan dengan sempurna.

Saya mempunyai pengalaman lain akan hal ini, kakak saya diwaktu SD selalu dicemooh oleh gurunya, bahwa ia tidak pintar dan tidak dapat bernyanyi. Pada akhirnya kakak saya menjadi minder dan prestasinya disekolah tidak terlalu baik, bahkan ia tidak berani menyanyi. Pada saat ia telah dewasa, bahkan ia dapat ikut kelompok vokal yang dikelola oleh tetangga kami seorang pelatih musik. Kelompok ini bahkan sering manggung diberbagai acara. Tetapi usaha si Om untuk membangkitkan semangatnya bahwa ia memiliki suara yang tidak kalah dengan orang lain cukup melelahkan.

Alangkah baiknya bagi kita untuk lamban dalam menghukum dan cepat dalam menghargai, utamanya bagi seorang guru SD, bukankan menurut Sigmund Freud bahwa masa kecil si anak akan sangat mempengaruhi kepribadian nya ke depan ? artinya, akan lebih baik jika kita memberikan masa kecil yang indah bagi si anak daripada masa kecil yang penuh dengan hukuman atau hal yang negatif. Ini yang juga saya sampaikan kepada si ibu guru, bahwa LEBIH BAIK SALAH DALAM MEMBERI HADIAH DARIPADA SALAH DALAM MENGHUKUM. SEMOGA !

Minggu, 16 November 2008

KITAB SUCI HARTA YANG BERHARGA.

Nats : 2 Tim 3 : 15-17

Pendahuluan :
Disebuah desa di Eropa hiduplah seorang janda yang sangat miskin dan menderita. Suaminya telah meninggal beberapa tahun sebelumnya, dan anaknya laki-laki satu-satunya telah pindah ke Amerika, meninggalkan ibunya seorang diri di desa itu. Pada saat beberapa orang tetangganyamengetahui keadaannya yang sangat menyedihkan itu, mereka pun pergi untuk mengunjunginya. Ketika mereka menanyakan tentang anak laki-lakinya, dia pun menjawab, ” Oh, dia mendapatkan pekerjaan yang baik dan melakukan pekerjaannya itu dengan baik sekali.”
”Apakah dia tidak mengirimkan sesuatu apa[un untuk menolong engkau?” tanya seorang diantara mereka.
”Dia sangat sering mengirim surat untukku”, jawabnya, ”namun dia sama sekali tidak pernah mengirimkan uang padaku. Aku tahu bahwa dia mampu seandainya dia mau. Tetapi saat berkirim surat, biasanya dia menyertakan jega beberapa lembar kertas yang masih asing bagiku. Pada lembar kertas-kertas itu terdapat gambar dan angka-angka yang tidak berarti apa-apa bagiku. Hanya itulah yang dia kirimkan. Tetapi uang sama sekali tidak pernah!”.
”Bolekah aku melihat beberapa lembar dari kertas-kertas itu? Tanya salah seorang pengunjung itu. Ketika janda tersebut memperlihatkan lembar kertas itu, orang tersebut segera mengenalinya sebagai cek dalam jumlah lima puluh atau seratus dollar setiap lembarnya, yang sebenarnya cukup untuk memenuhi semua kebutuhan hidup janda itu, bahkan malah berkelebihan.
Injil memberitakan kepada kita tentang sengsara dan kematian Kristus. Bagi beberapa orang, Injil tidak berarti apa-apa sama sekali selain hanya sebagai lembaran-lembaran kertas yang dikirimkan dari tempat yang jauh. Karena mereka tidak memahaminya, akibatnya mereka hidup dalam kemiskinan rohani. Akan tetapi bagi kita yang memahami artinya, Injil memberikan kepada kita kekayaan yang tak terhitung nilainya.[1]
Peran Kitab Suci bagi Timotius
Timotius adalah seorang murid Paulus, ibunya adalah seorang Yahudi dan telah menjadi percaya, sedangkan ayahnya seorang Yunani. (Kis. 16:1). Sejak kecil ia sudah percaya kepada Tuhan Yesus, dan didik dengan baik didalam iman kepada Yesus pertama-tama oleh nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu. (2Tim.1:5).
Sebagai seorang anak yang sejak kecil telah mengenal Firman Tuhan, melalui nenek dan ibunya, yang tidak memandang Kitab Suci sebagai lembaran-lembaran tanpa arti tetapi mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat dan menuntun dia kepada keselamatan kepada Kristus Yesus (2Tim3:15) dalam Bahasa Batak dikatakan na margogo pabisukkon ho, asa taruli di haluaon marhite-hite haporseaon di Kristus Jesus, buah pengenalan tersebut adalah Timotius dikenal baik oleh saudara-saudara di Listra dan di Ikonium (Kis.16:2). Dalam bahasa Batak di Ulaon ni Apostel 16 :2 16:2 Denggan do baritana, dihatindangkon angka dongan na di Listra dohot Ikonium.
Timotius dikenal baik dalam bahasa aslinya (Yun) digunakan kata hemartureito yang berasal dari kata martureo atau yang sering kita kenal dengan marturia atau bersaksi, tetapi martureo berarti kata kerja memberi kesaksian, mengatakan baik atau membuktikan baik, artinya dalam Kis. 16:2 Timotius telah membuktikan bahwa ia baik baik dalam perbuatan maupun dalam kata-kata kepada saudara-saudar di Listra dan di Ikonium. Bahkan Paulus menyebutnya sebagai anakku yang kekasih dan yang setia dalam Tuhan. (1Kor.4:17). (anakkonku, haholongan jala haposan ni rohangku marhitehite Tuhan i)
Kalau kita melihat bagaimana Timotius dapat menjadi orang yang baik dimata banyak orang, ternyata ada 3 pihak yang berperan :
1. Neneknya Lois (ompung)
Peran ompung nya Lois, ternyata sejak kecil Ompungnya sudah memperkenalkan Firman Allah kepada Lois. Bukan hanya itu, Ompungnya pasti juga telah memberikan contoh yang baik kepadanya baik dalam tindakan dan ucapan. Bagaimana dengan kita, utamanya etnis Batak, gelar ompung adalah kebanggaan karena kelahiran cucu akan menjadi pembawa nama. Kelahiran cucu (pahoppu) akan di rayakan secara meriah utamanya bila cucu pembawa nama (pahoppu panggoaran).
Pertanyaan kepada kita sebagai Ompung, apa yang kita ajarkan kepada mereka, apakah kita menyampaikan Firman Tuhan, atau justru tarombo yang pertama kali kita ajarkan kepada nya atau masalah parjambaron. Saya tidak mengatakan bahwa adat itu tidak perlu, tetapi seharusnya Firman Tuhan mendapat prioritas utama. Kemudian prilaku apa yang kita contohkan kepada mereka, apakah ketekunan kita untuk bersaat teduh setiap hari, atau ketekunan kita ke Lapo ?.
2. Ibunya Eunike
Ibu Timotius seorang Yahudi, sedangkan ayahnya seorang Yunani. Timotius dilahirkan dari keluarga campuran, tetapi ibunya sebagai seorang Yahudi ternyata telah memberikan pengajaran yang baik kepada Timotius, dapat dipastikan sekalipun Eunike seorang Yahudi, ternyata ia masih mendahulukan mengajarkan Firman Tuhan kepada Timotius dibandingkan dengan adat istiadat Yahudi mereka. Selain itu ibunya tentu memberikan contoh yang baik dalam perkataan dan tindakan, bukankah pepatah batak mengatakan dang dao tubu sian bonana? Pertanyaan bagi para orang tua, bukan saja ibu contoh apa yang telah engkau berikan kepada anak mu ? Pertengkaran kah atau damai sejahtera didalam rumah tangga.
3. Firman Tuhan
Segala tulisan atau setiap nas Alkitab yang diilhamkan (theopneustos) Allah memang bermanfaat untuk (2Tim 3 :16) :
(1) Mengajar
Untuk dapat mengajar maka kita harus mengetahui apa yang harus kita ajarkan, Paulus telah menasehatkan Timotius akan hal ini dengan mengatakan untuk bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci (Firman Tuhan), dalam membangun dan dalam mengajar. (1Tim4:13)
(2) Untuk menyatakan kesalahan
Kita yang hidup didalam Tuhan dapat menilai apa yang dilakukan oleh sesama kita, dengan tujuan untuk mengembalikan kepada Allah, maka Tuhan menasihatkan kita untuk mengigatkan mereka, "Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. (Mat.18:15)

(3) Untuk memperbaiki kelakuan
Pertobatan bukanlah sebuah ritual atau upacara semata, pertobatan adalah pengakuan akan kesalahan dan keinginan yang kuat untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan tersebut, demikianlah yang dikritisi oleh Yohanes pembapis pada saat orang Farisi dan Saduki datang untuk dibaptis di sungai Yordan ia mengatakan. Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan. (Mat.3:8).
(4) Untuk mendidik orang dalam kebenaran.
Kebenaran disini menggunakan kata dikaiosune yang berarti perbuatan benar atau keadilan, kata yang sama digunkan dalam Rom. 14:17 Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. Kata kebenaran adalah terjemahan dari dikaiosune. Artinya orang yang menerima Firman Allah sebagai kitab suci seharusnya didalam hidupnya menunjukkan prilaku yang adil. Adil dalam arti yang luas, adil terhadap diri sendiri, adil terhadap Tuhan dan Adil terhadap sesama. Adil artinya ada keseimbangan antara kepentingan diri sendiri dengan kepentingan orang lain, ada keseimbangan antara waktu untuk diri sendiri dan waktu untuk Tuhan. Sulit memang, bahkan seolah tidak mungkin diwujud nyatakan, tetapi untunglah Tuhan tidak membiarkan kita seorang diri, jika kita didalam Roh Kudus maka kita akan dimampukan untuk melakukannya.
Penutup :
Kita akan dapat menjadi manusia kepunyaan Allah jika Firman Allah bagi kita bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran, bukan hanya sebagai lembar kertas-kertas yang terdapat gambar dan angka-angka yang tidak berarti apa-apa, seperti wanita janda memandang cek yang dikirimkan oleh anaknya. Seandainya dia mengetahui fungsi dan kegunaan cek itu, maka ia akan hidup dengan berkecukupan bahkan berkelimpahan, tetapi ketidak tahuannya membuat ia menderita bahkan bisa saja ia menganggap anaknya anak yang tidak baik.
Apa yang kita peroleh jika kita menjadi manusia kepunyaan Allah ? kita akan diperlengkapi untuk perbuatan baik (2Tim3:17). Dengan demikian seperti halnya Timotius, maka kita akan dikenal baik oleh orang-orang disekitar kita. Amin.
[1] Hariyono (penyunting), Sketsa Kehidupa – 78 Ilustrasi Terbaru, Yayasan Andi, Yogyakarta,1993. hal 3-4.
Disampaikan dalam Ibadah Minggu di GKPI Sari Rejo Medan 28 Oktober 2007

EIRENE SEBAGAI WASIT DIDALAM HATIMU

Oleh : P. Erianto Hasibuan

BEDSTON PERNIKAHAN KEL. SOEHARSONO PURWOKERTO- 26 DES 2007
Nats : Kol. 3 : 14-17

PENDAHULUAN :
Ibu Bapak dan saudara sekalian, bila kepada kita ditanya pada saat ini, dan secara khusu kepada pengantin berdua ditanyakan, jika ada 3 pilihan manakan yang akan kita pilih Harta, Sukses, atau Cinta. Untuk menguji jawaban kita masing-masing berikut sebuah cerita.
Pada suatu siang, dari balik jendela, seorang ibu melihat ada tiga orang tua berjanggut putih duduk termenung di halaman rumahnya. Dia segera keluar menghampiri mereka dan berkata, "Aku tidak mengenal kalian, tetapi aku kira kalian haus dan lapar, silakan masuk ke rumah kami." "Apakah suamimu ada di rumah?" tanya salah seorang dari mereka. "Tidak, dia masih bekerja." "Kalau begitu kami tidak bisa masuk, kami akan menunggu," jawabnya lagi.
Sore harinya ketika suarninya pulang, ibu itu menyampaikan kejadian yang dialaminya siang tadi. "Kalau mereka masih ada, panggil mereka ke dalam dan beritahu bahwa aku sudah pulang." kata si suami. Si ibu keluar menemui ketiga orang tua berjanggut putih tadi, memberitahu mereka bahwa suaminya telah pulang dan mempersilakan mereka untuk masuk ke rumah.
"Kami tidak bisa masuk bersama-sama," kata mereka serentak. "Mengapa demikian," tanya si ibu kebingungan. Salah satu dari orang tua itu berkata, "Dia bernama Harta," katanya sambil menunjuk kawannya yang berada di sebelah kirinya dan sambil menunjuk ke sebelah kanannya, "Dia Sukses, dan aku Cinta. Masuklah ke rumah dan rundingkan dengan suamimu siapa diantara kami yang akan kalian undang masuk."
Si Ibu kembali masuk ke dalam rumah dan menyampaikan kepada suaminya permintaan ketiga orang tersebut. Si Suami menjadi kegirangan dan berkata, "Kita undang saja si Harta, biar rumah kita dipenuhi dengan harta dan kita menjadi kaya."
"Mengapa bukan si Sukses saja?" tanya Ibu. Menantu mereka yang kebetulan mendengar percakapan tersebut segera keluar dari kamar dan berkata, "Sebaiknya kita undang Cinta saja, sehingga rumah kita nantinya penuh dengan cinta."
"Ya, itu lebih bagus," kata ayahnya ”Panggil si Cinta untuk menjadi tamu kita."
Si Ibu keluar menemui ketiga orang tua itu dan bertanya, "Siapa diantara kalian yang bernama Cinta akan menjadi tamu kami dan silakan masuk." Cinta berdiri dan berjalan menuju pintu masuk, yang lain segera berdiri juga dan mengikutinya. Dengan heran si ibu bertanya, "Aku hanya mengundang Cinta, mengapa kalian berdua ikut masuk." Ketiga orang tua itu menjawab bersama-sama: "Kalau kalian mengundang Harta atau Sukses, maka yang dua lainnya akan menunggu di luar, tetapi begitu kalian mengundang Cinta, kemana saja dia pergi kami selalu mengikutinya. Dimana ada Cinta, disitu selalu ada Harta dan Sukses."

Dalam Nats kita Kol. 3 : 14-17 kita akan membicarakan 2 hal yaitu Kasih (Agapen) dan Damai Sejahtera (Eirene).

KASIH (AGAPE) SEBAGAI PENGIKAT
Ilusterasi kita di atas menunjukkan bagaimana bila kita memiliki Cinta (baca Kasih) ternyata Harta dan Sukses akan mengikutinya. Bagaimana Alkitab melihat hal tersebut ? Bacaan kita Kol. 3:14 mengatakan 3:14 Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Di atas semuanya itu dalam bacaan kita menunjuk pada ayat 12-13, bahwa karakter-karakter sebagai orang pilihan Allah, yang terpenting adalah Kasih (terjemahan dari Agapen) Kasih yang paling tinggi, kasih yang tidak tergantung pada objeknya. Seperti halnya Allah memberikan matahari, sinar matahari dapat dinikmati oleh siapa saja, tidak peduli dia baik atau jahat, itulah kasih agape. Tidak peduli orang baik atau jahat kepada kita, maka kita tetap mengasihinya. Karakter ini, tidak akan melihat kesalahan, tidak akan melihat kekurangan, tetapi KASIH tetaplah KASIH, jika kita sampai pada tahap ini,maka KASIH itu akan mendatangkan hal-hal lain yang baik, bukan hanya Harta dan Sukses seperti ilustrasi kita di atas.
Dalam suasana Natal seperti ini, kita pasti ingat dengan jelas, mengapa Yesus hadir kedunia ini, Alasannya yang utamna adalah Yoh. 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
Kasih Allah itu tidak muncul karena kebaikan kita, atau pada saat kita telah menjadi baik, tetapi justru pada saat kita masih didalam dosa dan supaya kita tidak terus larut didalam Dosa, itulah yang membuat Yesus hadir untuk melepaskan kita dari kuasa kegelapan (skotos) dan memindahkan kita kedalam kerajaan anaknya (Kol.1: 13) supaya kita dapat disebut anak-anak terang (huios photos=orang-orang yang sudah mendapatkan pencerahan) (1Tes.5:5).
Kalau kita sudah dapat memahami KASIH ALLAH, maka kepada kitapun dituntut Kasih yang sama yaitu Kasih Agape untuk PENGIKAT yang mempersatukan dan menyempurnakan. Kalau ibu bapak pernah melihat petani duku dalam mengepak duku tersebut untuk dikirim ke luar daerah, maka dalam memasukkan duku tersebut harus benar-benar memperhatikan besarnya duku, terutama duku terakhir disetiap baris, bila ukuran duku yang masukkan tidak cocok, maka duku tersebut tidak akan terikat erat, akhirnya akan ada ruang yang membuat duku tersebut bergerak, bila itu terjadi maka duku tersebut keseluruhannya akan rusak, karena saling bergesekan, tetapi bila duku tersebut ukurannya pas, maka seolah terikat erat hingga tidak terjadi kerusakan pada duku. Demikianlah dengan kasih, semakin erat ia sebagai pengikat, maka hubungan kita dengan sesama tidak akan mengalami kerusakan, tetapi jika kasih itu lemah sebagai pengikat maka hubungan kita dengan sesama dapat saja menjadi rusak.


DAMAI SEJAHTERA (EIRENE) KRISTUS SEBAGAI WASIT
Bacaan kita di ayat 15 Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.
Damai sejahtera (Eirene) Kristus memerintah merupakan terjemahan dari brabeto atau berkuasa sebagai hakim atau wasit. Artinya ayat ini lebih baik bila kita terjemahkan demikian ”hendaklah Damai Sejahtera Kristus berkuasa sebagai wasit dalam hatimu ...”
Dalam menonton pertandingan sepak bola apa yang membuat kita nyaman dan asyik menikmati sebuah pertandingan tentu karena ada seorang wasit yang berkuasa penuh untuk menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan masing-asing pemain, bila dalam pertandingan tersebut tidak ada wasit, apa yang akan terjadi tentu bukan sebuah tontonan yang menarik, tetapi bisa saja perkelahian yang brutal dan tak terkontrol yang kadang kala masih kita saksikan di sepak bola di Indonesia. Demikain halnya dengan hati kita, Eirene (Damai Sejahtera dari Kristus) hendaknya berkuasa (penuh) sebagai wasit yang dapat mengendalikan hati dan pikiran kita dalam berucap dan bertingkah laku. Dengan demikian kita akan dapat tetap bersatu, berasatu dalam sebuah rumah tangga yang utuh, bersatu dalam satu persekutuan di sebuah blok, dan bersatu didalam satu jemaat bahkan Klasis bahkan Sinode yang tetap bersatu. Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana hal itu dapat terealisir ? Ayat 16 menolong kita untuk menjawabnya.
Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.
Perkataan Kristus (yaitu Alkitab) harus selalu dibaca, dipelajari, direnungkan, dan didoakan sehingga diam didalam kita dengan segala kekayaannya. Bila ini menjadi pengalaman kita, maka pikiran, perkataan, perbuatan, dan motivasi kita akan dipengaruhi dan dikuasai oleh Kristus. Bukankah Paulus menuliskan dalam Roma 10:17 Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.
Akhirnya kita dalat melihat bahwa Eirene Kristus dapat menjadi milik kita jika kita memiliki Iman yang timbul dari pendengaran akan Firman Kristus, dengan Iman itu kita dapat mewujudnyatakan ayat 17. Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.
PENUTUP
Akhirnya bagaimana Pengantin yang baru ini kita hantarkan untuk menjalani kehidupan rumah tangganya yang baru dengan Damai Sejahtera dan juga pengantin lama seperti kita ini untuk melanjutkan kehidupan yang penuh damai sejahtera, Nats kita pada malam ini mengajarkan 2 hal :
1. KENAKANLAH KASIH AGAPE SEBAGAI PENGIKAT
Ingat akan buah duku, jangan biarkan ada ruang diantara kita yang memungkinkan kuasa kegelapan merusak hubungan kita, tetapi biarlah perpindahan kita dari kuasa kegelapan (skotos) kedalam kerajaan anaknya memperrat hubungan kita, menjadi anak-anak terang (huios photos)
2. HADIRKANLAH DAMAI SEJAHTERA (EIRENE) KRISTUS SEBAGAI WASIT
Ingat pertandingan sepak bola tanpa wasit akan kacau, demikian juga hati kita tanpa wasit akan kacau. Bagaimana Cara menghadirkan Eirene Kristus sebagai wasit, yaitu dengan : Alkitab harus selalu dibaca, dipelajari, direnungkan, dan didoakan sehingga diam didalam kita dengan segala kekayaannya. Pada akhirnya kita dapat mengatakan apapun yang kulakukan kulakukan didalam Iman didalam nama Tuhan Yesus Kristus.
Kiranya Eirene (Syalom) Natal hadir di hati kita pribadi lepas pribadi, keluarga lepas keluarga, blok lepas blok hingga akhirnya hadir di seluruh jemaat dimana kita bersekutu.

Gereja yang membutuhkan anda atau anda yang membutuhkan gereja ?

Oleh : P. Erianto Hasibuan [1]

Pengantar :
Kedatangan Pak Pdt. Ferry H bersama pemuda ke rumah pada Jum’at lalu (110507) membuat saya tidak sempat berfikir panjang untuk menyanggupi, kecuali dengan pertimbangan bahwa tidak baik menolak permintaan untuk melayani. Yang lebih membuat saya mengerutkan kening adalah karena saya diberikan cek kosong, alias tema suka-suka. Dengan situasi tersebut maka menjanjikan sebuah tulisan pun saya tidak berani. Untuk itu tulisan singkat kali ini semoga dimaklumi segala kekurangannya, sekalipun sesungguhnya penulis berkeinginan menyajikan yang terbaik.
Sebagai Gereja dengan azas Calvin, sudah seyogianya dalam membicarakan peranan kaum muda kita bercermin saja pada Yohanes Calvin, seorang yang sangat berdisiplin tinggi dan pada usia muda (26 Thn) menerbitkan edisi pertama Institutio : Pengajaran Agama Kristen, tahun 1535. Buku yang selanjutnya menjadi dasar pengajaran dan doktrin kaum Reformasi Calvin, termasuk GKI SUMUT. Calvin muda adalah seorang yang idealis, yang dengan nyata menolak ajakan Pdt. Willem Farel untuk menolongnya melayani jemaat di Jenewa. Penolakan Calvin didasarkan pada pendiriannya bahwa ia hanya mempunyai bakat dibidang karang mengarang saja, sehingga tidak berguna dalam praktek. Tetapi sejarah membuktikan, bahwa keteguhan hati Pdt. Willem Farel telah meluluhkan hati “keras” seorang Calvin bahkan ternyata ia telah berhasil dalam memimpin jemaat di Jenewa, bahkan ia mampu menciptakan sistim pemerintahan Kristokrasi yang sangat berdisiplin tinggi di Jenewa serta mengutamakan kehidupan yang dikuasai oleh Firman Tuhan, sekalipun disana sini masih terdapat kritikan terhadapnya.
Semula Calvin bisa jadi merasa, bahwa gereja lah yang membutuhkannya (setidaknya melalui pengakuannya bahwa ia tidak berbakat di lapangan), tetapi dalam perjalanan selanjutnya, sekalipun ia sempat diasingkan tetapi pada akhirnya dia kembali ke jemaatnya. Pada titik ini mungkin dapat kita katakan bahwa justru Calvin yang membutuhkan gereja.
Bagaimana dengan kaum muda saat ini, apakah anda merasa bahwa Gereja yang membutuhkan anda atau justru anda yang membutuhkan Gereja ?
Sebagai bahan referensi dalam mendiskusikan hal tersebut, berikut disajikan sebagaian dari bukunya Rick Warren, yang berjudul The Purpose Driven Life [2], yang mengemukakan bahwa ada 6 alasan mengapa anda membutuhkan Gereja dan keluarga gereja, yaitu :
1. Sebuah keluarga gereja menunjukkan bahwa anda adalah sungguh- sungguh orang percaya.
Saya tidak bisa menyatakan diri sebagai pengikut Kristus jika saya tidak terikat pada satu kelompok murid tertentu. Yesus berfirman,
"Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." (Yohanes 13:35)

Bila kita bersatu di dalam kasih sebagai sebuah keluarga gereja dari latar belakang, ras dan status sosial yang berbeda, hal tersebut merupakan kesaksian yang sangat kuat bagi dunia (Galatia 3:28; lihat juga Yohanes 17:21). Anda bukanlah tubuh Kristus secara sendirian. Anda membutuhkan orang lain untuk menyatakannnya. Bersama-sama, bukan terpisah, kita merupakan tubuh-Nya (1Korintus 12:27).
2. Sebuah keluarga gereja mengeluarkan Anda dari keterasingan yang mementingkan diri sendiri.
Gereja lokal merupakan ruang kelas untuk belajar bagaimana bergaul dengan baik di dalam keluarga Allah. Gereja merupakan laboratorium untuk menerapkan kasih yang penuh perhatian dan tidak mementingkan diri sendiri. Sebagai anggota yang aktif anda belajar untuk memperhatikan orang lain dan ikut merasakan pengalaman orang lain:
"Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita." (1Korintus 12:26)

Hanya di dalam hubungan yang terus menerus dengan orang-orang percaya yang biasa dan yang tidak sempurna, kita bisa mengenal persekutuan yang sesungguhnya dan mengalami kebenaran Perjanjian Baru tentang saling berhubungan dan saling bergantung (Efesus 4:16; Roma 12:4-5; Kolose 2:19; 1Korintus 12:25).
Persekutuan yang Alkitabiah berarti menimbulkan satu ikatan satu dengan yang lain seperti kita terikat dengan Yesus Kristus. Allah mengharapkan agar kita memberikan hidup kita satu kepada yang lain. Banyak orang Kristen yang mengetahui Yohanes 3:16 tidak menyadari akan 1Yohanes 3:16:
"Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita."
Inilah jenis kasih yang berkorban yang Allah ingin anda tunjukkan kepada orang-orang percaya lainnya, yaitu suatu kesediaan untuk mengasihi mereka dengan cara yang sama seperti Yesus mengasihi anda.
3. Sebuah keluarga gereja membantu anda mengembangkan otot-otot rohani.Anda tidak akan pernah bertumbuh menuju kedewasaan hanya dengan menghadiri ibadah dan menjadi penonton yang pasif. Hanya keikutsertaan dalam kehidupan penuh dari gereja lokallah yang akan membangun otot rohani. Alkitab berkata, Efesus 4:16b
"Setiap anggota tubuh melakukan pekerjaannya masing-masing dan itu membuat seluruh tubuh bertumbuh dan menjadi kuat dengan kasih (VMD) Ketika masing-masing bagian melakukan pekerjaan khususnya, ia akan menolong bagian lainnya untuk bertumbuh, sehingga seluruh tubuh sehat dan bertumbuh dan penuh dengan kasih." (NLT))
Lebih dari lima puluh kali di dalam Perjanjian Baru frasa "saling" atau "seorang akan yang lain" digunakan. Kita diperintahkan untuk mengasihi seorang akan yang lain, saling mendoakan, saling menguatkan, saling menasihati, memberi salam seorang kepada yang lain, melayani seorang akan yang lain, mengajar seorang akan yang lain, saling menerima, saling hormat, bertolong-tolongan menanggung beban, saling mengampuni, merendahkan diri seorang kepada yang lain, dan mengerjakan banyak tugas bersama lainnya. Inilah keanggotaan menurut Alkitab! Inilah "tanggung jawab keluarga" anda yang Allah harapkan untuk anda penuhi melalui persekutuan lokal. Bersama siapa anda melakukan hal-hal ini?
Mungkin terasa lebih mudah untuk menjadi suci ketika tidak ada orang lain di sekeliling yang akan menganggu kesenangan- kesenangan anda, tetapi itu adalah kesucian yang palsu dan tidak teruji. Keterasingan menghasilkan kebohongan; mudah untuk membodohi diri kita sendiri dengan mengira bahwa kita menjadi dewasa jika tidak ada seorang pun yang menantang kita. Kedewasaan yang sejati muncul dalam hubungan.
Kita tidak hanya membutuhkan Alkitab untuk bertumbuh; kita memerlukan orang-orang percaya lainnya. Kita bertumbuh lebih cepat dan kuat dengan saling belajar dan saling bertanggung jawab. Ketika orang lain membagikan apa yang Allah ajarkan pada mereka, saya juga belajar dan bertumbuh.
4. Tubuh Kristus membutuhkan anda
Allah memiliki peran yang unik untuk anda mainkan di dalam keluarga-Nya. Inilah yang disebut "pelayanan" anda, dan Allah telah memberi anda karunia untuk tugas ini:
"Karunia rohani diberikan kepada setiap kita sebagai alat untuk menolong seluruh gereja." (1Korintus 12:7)
Persekutuan lokal anda adalah tempat yang Allah rancang bagi anda untuk menemukan, mengembangkan dan memakai karunia-karunia anda. Anda juga mungkin memiliki pelayanan yang lebih luas, tetapi hal tersebut hanya merupakan tambahan untuk pelayanan anda dalam tubuh lokal. Yesus tidak berjanji untuk membangun pelayanan anda; Dia berjanji untuk membangun Gereja-Nya.

5. Anda akan ambil bagian dalam misi Kristus di dunia.
Pada saat Yesus hidup di bumi, Allah bekerja melalui tubuh jasmani Kristus; sekarang Dia menggunakan tubuh rohani-Nya. Gereja adalah alat Allah di bumi. Kita bukan hanya harus meneladani kasih Allah dengan saling mengasihi; kita harus membawa kasih Allah bersama-sama bagi seluruh dunia ini. Ini merupakan hak istimewa yang luar biasa yang telah diberikan kepada kita semua. Sebagai anggota Tubuh Kristus, kita merupakan tangan-Nya, kaki-Nya, mata-Nya, dan hati-Nya. Dia bekerja melalui kita di dunia. Kita masing-masing memiliki bagian untuk dilakukan. Paulus memberi tahu kita,
"Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalam-Nya." (Efesus 2:10)
6. Sebuah keluarga gereja akan membantu menjaga anda dari kemunduran.Tidak seorang pun dari kita kebal terhadap pencobaan. Dalam situasi yang tepat, saya dan anda bisa berbuat dosa apa saja. Allah mengetahui hal ini, sehingga Dia memberi kita tanggung jawab sebagai individu untuk saling menjaga agar tetap berada di jalur (1Korintus 10:12; Yeremia 17:9; 1Timotius 1:19). Alkitab berkata,
"Tetapi nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari ... supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi tegar hatinya karena tipu daya dosa." (Ibrani 3:13)
"Uruslah urusanmu sendiri" bukanlah frasa kristiani. Kita dipanggil dan diperintahkan untuk terlibat dalam kehidupan orang percaya lainnya. Jika Anda mengetahui seseorang sedang menyimpang secara rohani sekarang, menjadi tanggung jawab Anda untuk pergi kepada mereka dan membawa mereka kembali ke dalam persekutuan. Yakobus memberi tahu kita, (Yak. 5:19)
"Saudara-saudara, seandainya salah satu dari kamu tidak lagi setia kepada kebenaran, biarlah orang lain membuatnya insyaf dan kembali kepada kebenaran (VMD) Jika kamu mengetahui orang-orang yang telah menyimpang dari kebenaran Allah, janganlah menolak mereka. Pergilah kepada mereka. Bawalah mereka kembali." (Msg)
Manfaat lain dari gereja lokal adalah bahwa gereja lokal tersebut juga menyediakan perlindungan rohani dari pemimpin-pemimpin yang saleh. Allah memberi para gembala tanggung jawab untuk menjaga, melindungi, mempertahankan dan memperhatikan kesejahteraan rohani dari kawanan domba-Nya (Kisah Para Rasul 20:28-29; 1Petrus 5:1-4; Ibrani 13:7,Ibrani 13:17). Kita diberi tahu,
"Sebab mereka selalu memperhatikan jiwamu, dan mereka harus bertanggung jawab kepada Allah." (Ibrani 13:17 (BIS))
Iblis menyukai orang-orang percaya yang mundur, yang memisahkan diri dari kehidupan Tubuh, terpisah dari keluarga Allah, dan tidak lagi di bawah tanggung jawab pemimpin-pemimpin rohani, karena Iblis tahu mereka tidak memiliki pertahanan dan tidak berdaya melawan taktiknya.
Pandangan Sekular :
Sekedar memberikan pandangan lebih lanjut berikut disajikan secara singkat pandangan David Clarence McClelland (191727 Maret 1998) mengatakan bahwa kebutuhan individu diperoleh dari waktu ke waktu dan dibentuk melalui pengalaman hidup seseorang. Sebagian besar dari kebutuhan ini dapat dikelompokkan menjadi prestasi, afiliasi dan kekuasaan. Keefektifan seseorang dalam melaksanakan tugas dan fungsinya dipengaruhi oleh ketiga kebutuhan tersebut. Teori McClelland kadang-kadang di katakan sebagai teori tiga kebutuhan atau sebagai teori kebutuhan yang dipelajari (learned needs theory).
Sesuai dengan namanya teori kebutuhan yang dipelajari, maka teori ini pada awalnya didasari pada kenyataan bahwa para sarjana yang memiliki prestasi tinggi di kampus tidak selamanya dapat menunjukkan prestasi yang tinggi didalam pekerjaan. Atas dasar tersebut dilakukan penelitian terhadap para pekerja yang sukses, dan mengapa mereka dapat sukses dalam pekerjaannya. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan maka diperoleh karakteristik yang ditunjukkan oleh individu dengan kinerja yang menonjol. Karakteristik tersebut mungkin juga dimiliki oleh mereka yang tidak berprestasi menonjol, tetapi pada mereka yang berprestasi menonjol, karakteristik tersebut lebih sering ditunjukkan dan diberbagai situasi dengan hasil yang lebih baik. Hal tersebut dikenal dengan istilah Kompetensi.

Penutup :
Tulisan singkat di atas diharapkan dapat menggiring kita untuk mendiskusikan lebih lanjut bagaimana pandangan kita mengenai hubungan Kaum muda dengan Gereja. Yang pokok yang diharapkan penulis dari diskusi ini adalah bagaimana kaum muda memahami keberadaannya di tempat ini, apakah keberadaannya di tempat ini akan membawa manfaat baginya secara rohani demikian juga kaitannya dengan pencapaian cita-citanya untuk di masa depan.
Berdasarkan hal di atas mari kita diskusikan menurut pandangan anda, apakah anda merasa bahwa Gereja yang membutuhkan anda atau justru anda yang membutuhkan Gereja ? Jawaban tentunya disertai dengan argumentasi yang mendukung baik melalui Firman Tuhan maupun menurut pandangan Sekular.

Referensi :
Berkhof, H (disadur untuk Indonesia oleh I.H.Enklaar) Sejarah gereja, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2004.
Curtis, A. Kenneth, The 100 Most Important Events in Christian History, Ing H. Revell, Michigan, 1991. Edisi Terjemahan oleh BPK Genung Mulia, Jakarta, 2006
Gibson, James L. Organizations : behavior, structure, processes, 9thed. Richard D. Irwin, 1997.
Warren, Rick, The Purpose Driven Life, EdisiTerjemahan oleh Gandum Mas, Malang, 2004.
[1] Disampaikan pada acara Reatreat Komisi Pemuda GKI Sumut Tanjung Rejo di Taman Dewi pada 13 Mei 2007.
[2] Warren, Rick, The Purpose Driven Life, EdisiTerjemahan oleh Gandum Mas, Malang, 2004. hal. 148-151.