SELAMAT DATANG DI "TEOLOGI KAUMAWAM"

Salam dalam Kasih Tuhan Yesus Kristus. Terimakasih telah mampir di blog yg sederhana ini. Kami sangat berterimakasih bila saudara berkenan memberi tanggapan atas tulisan yang saudara baca di blog ini. Karena dengan tanggapan itu kami akan dapat belajar dan berbagi, sebab untuk itulah blog ini dibuat agar hidup kita tetap terpelihara dalam persekutuan. Semua tulisan dalam blog ini dapat dikutip dengan tetap mencantumkan sumbernya. Kiranya Tuhan Yesus memberkati kita. Pax Vobiscum, Erianto Hasibuan

Sabtu, 24 Oktober 2009

Membangun Jiwa membentuk Karakter

Oleh : P. Erianto Hasibuan

Jika menyebut nama Dr. Azhari, Noordin M Top dan Amrozi dipastikan persepsi pembaca akan mengarah ke satu kata yang maknanya sama, Terorisme. Namun jika menyebut nama Mangampin Sibuea, David Koresh, sebagian dari pembaca boleh jadi memiliki persepsi yang sama, dan sebagaian telah melupakan peristiwa yang menarik perhatian publik. Mangampin Sibuea adalah seorang pendeta yang kemudian mendirikan sekte sendiri dengan penafsirannya mencoba menghitung saat kiamat, sementara David Koresh adalah pemimpin Branch David yang bersama para pengikutnya mengakhiri hidup mereka sendiri.

Begitu dasyatnya sebuah pemahaman dan kepercayaan, dapat membentuk kepribadian yang berbeda dari pribadi yang lazim. Kepercaayaan yang mengarah kepada fanatisme sempit tentu diawali dari pemahaman dan berkembang menjadi kepercayaan dan keyakinan ybs. Seberapa besar pengaruhnya? Fakta telah menjelaskan lebih dari kata-kata, apa yang dilakukan Amrozi dkk dengan Bom Bali, David Koresh dan pengikutnya yang bersama-sama membakar diri.

Dalam banyak kesempatan, kerap diperdebatkan mana yang benar dalam membangun sebuah bangsa pertama membangun fisik lalu pembangunan karakter (character building), atau sebaliknya. Sekalipun para "pakar" seolah koor untuk menyetujui bahwa pembangunan karakter (character building) yang utama, tetapi pada akhirnya hasil pekerjaan pihak "eksekutif" (termasuk pengurus organisasi, CEO perusahaan) diukur dengan ukuran material berupa output yang riil. Lalu siapa yang peduli dengan hal-hal yang bersifat abstrak yang menyangkut kejiwaan, jika hampir mustahil untuk mengukurnya ?

Budaya Instan.

Cara mudah menilai kemana arah kebijakan suatu organisasi adalah dengan memperhatikan komposisi anggaran belanjanya, termasuk sebuah negara, bahkan gereja sekalipun. Jika komposisi masih didominasi pada bidang-bidang fisik, seperti membangun gedung dan sarana lainnya tanpa mempertimbangkan aspek manusia yang terlibat didalamnya, maka sulit untuk mengatakan bahwa organisasi tersebut memiliki visi jangka panjang.

Pembangunan fisik merupakan pekerjaan yang dapat dengan mudah dinilai bahkan dengan kasat mata sekalipun, pertanggung jawaban anggaran dapat dilakukan dengan cepat. Namun pembangunan jiwa (karakter) sangat abstrak dan penilaiannya membutuhkan waktu panjang. Tidak banyak orang yang memiliki keberanian untuk melakukannya, utamanya menyangkut aspek pertanggung jawaban.

Coba lihat para petinju kita, hanya sedikit dari mereka yang mau berlelah-lelah mengawali karirnya dari amatir, penyanyi tenar dengan instan dapat dicetak melalui "idol" dan sejenisnya, mahasiswa cukup baca diktat, text book terlalu tebal dan bertele-tele. Outputnya, begitu banyak petinju kita yang meninggal di atas ring, penyanyi yang eksistensinya tidak berakar hingga mudah hilang dari pasaran, para sarjana yang dipertanyakan kualitasnya dst.

Membangun Jiwa

Pada abad ke 16, Inggris dan Spanyol adalah dua negara besar, tetapi kemudian Inggris semakin besar sedangkan Spanyol semakin lemah. Seorang psikolog sosial David McClelland melakukan penelitian dan McClelland menemukan dongeng dan cerita anak Inggris abad ke-16 mengandung 'virus' yang menyebabkan pembaca atau pendengar terjangkit penyakit The need for Achievement (Kebutuhan Berprestasi) yang kemudian terkenal sebagai n-Ach. Sedangkan cerita dan dongeng Spanyol justru meninabobokan rakyatnya.

Dalam artikel The Need for Achievement, ia
mengungkapkan kalau dongeng dan cerita anak memiliki fungsi lain selain daripada sekedar membawa pesan moral. Ia menemukan bahwa dongeng sebelum tidur mempengaruhi nasib sebuah bangsa.

Bagaimana virus n-Ach dapat mempengaruhi nasib suatu bangsa? Lebih lanjut David McClelland dengan bantuan ahli yang netral, menemukan puisi, drama, pidato penguburan, kisah epik di Inggris ternyata menunjukkan optimisme yang tinggi, keberanian untuk mengubah nasib, dan sikap tidak cepat menyerah. Cerita-cerita seperti ini dianggap memiliki nilai n-Ach tinggi. Lalu ia juga menemukan pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi selalu didahului oleh The Need for Achievement yang tinggi dalam karya sastra masa itu.

Selanjutnya, ia mengumpulkan 1.300 dongeng dan cerita anak dari berbagai negara era tahun 1925 dan 1950, dan mendapati cerita atau dongeng yang mengandung nilai n-Ach tinggi selalu diikuti pertumbuhan ekonomi yang tinggi di negara itu dalam kurun waktu 25 tahun kemudian.

Waktu 25 tahun bagi bangsa yang terbiasa dengan budaya instan adalah kemustahilan, tidak demikian halnya bagi bangsa yang terbiasa memiliki "mimpi/visi". Dua puluh lima tahun bukanlah halangan untuk merubah karakter suatu bangsa, karena seluruh organisasi di negara tersebut dapat mengatakan: "dalam 10 tahun kedepan kami akan berubah", setiap rumah tangga dapat berubah dalam waktu 3 tahun dan bukan tidak mungkin bagi individu untuk merubah diri dalam 2 tahun. Masih sangat cukup waktu bagi suatu bangsa untuk mengkonsolidasikan dan mensinergikan perubabahan dan membentuk karakter baru.

Dasar Firman Tuhan

Jika David McClelland dengan teori The need for Achievement, bagaimana dengan Firman Tuhan dalam Alkitab. Adakah "Virus" n-Ach terdapat dalam Alkitab ?.

Abraham yang ketika itu masih sebagai Abram, saat dipanggil Allah, yang diberikan adalah sebuah "Janji/Visi" bahwa Allah akan memberikan suatu negeri kepada keturanannya (Kej. 12:7) janji yang sama diberikan kepada Musa saat ia hendak diutus Tuhan memimpin orang Israel keluar dari tanah Mesir "Aku akan memberikannya kepadamu untuk menjadi milikmu" (Kel 6:7), demikian halnya dengan janji Allah untuk memberikan keluarga yang teguh bagi Salomo seperti yang diberkan Allah kepada Daud (I Raj.11:38).

Janji yang diberikan tidak lalu menjadi kenyataaan tanpa upaya apapun. Abram selanjutnya mengalami proses pembentukan agar menjadi Abraham, Musa harus meninggalkan kenikmatan Istana. Janji yang dari Allah sekalipun harus dicapai dengan penuh kerja keras dan pengorbanan yang tidak kecil. Cerita perjuangan yang penuh heroik tersebut tidak hanya menjadi sebuah sejarah yang mati bagi generasi berikutnya, tetapi melekat bagi setiap perintah yang diberikan Allah kepada umat Israel. Llihat saja kata pembuka dari Dasa Titah " Akulah TUHAN, Allahmu yang membawa engkau keluar dari Tanah Mesir, dari tanah perbudakan". (Kel.5:6) pesan ini dimaksudkan agar umat Israel mengingat bagaimana besarnya kasih Allah kepada leluhur mereka dan kasih yang sama juga tetap menyertai mereka.

Pada bagian selanjutnya mereka diwajibkan tidak hanya sekedar berpengang pada perintah yang telah diberikan Allah kepada mereka, tetapi lebih dari itu "haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. (Ul. 6: 6-7) Perintah yang sama juga disampaikan kepada Yosua (1:8).

Dalam Perjanjian Baru, kita melihat bagaimana Paulus sebagai seorang yang visioner dengan goal setting yang jelas, mengumpamakan pelayanannya sebagai sebuah pertandingan yang harus dikejar dengan berlari demi mencapai tujuan dan mendapatkan hadiah (Flp 3: 13-14), visi yang sama juga ditanamkannya kepada muridnya Timotius (I Tim. 4:10)

Sesungguhnya jika ditelaah lebih lanjut, di dalam Firman Tuhan begitu banyak kandungan "virus" n Ach. Namun kerap kita tidak menyadari keberadaannya, atau sebagaian telah menyadarinya tetapi belum terbiasa untuk mebicarakannya, jangankan siang dan malam bahkan sekali seminggu juga masih penuh dengan kealpaan.

Peran Gereja dan Keluarga

Pdt. Dr. Andar Ismail dalam tulisannya di harian Suara Pembaruan 9 Juni 2009 yang berjudul Gereja yang Membaca dana Menulis, mengungkapkan hasil survey yang pernah dilakukan oleh Pdt. Dr. Andar Ismail dan Pdt. Dr. Eka Darmaputra kepada para pendeta di Jakarta tentang sebuah buku tafsiran tulisan seorang pakar biblika terbitan BPK Gunung Mulia. Buku itu sudah dua tahun tersedia, tidak terlalu tebal dan tidak terlalu mahal. Ternyata, kebanyakan pendeta tidak tahu tentang buku itu. Sebagian kecil pendeta tahu, namun belum membeli. Sebagian kecil lagi sudah membeli, namun belum membacanya. Ternyata, jumlah pendeta yang sudah membaca buku itu hanya sedikit.

Pada bagian lain dalam tulisannya, diceritakan bagaimana dimasa mudanya kedua pendeta ini pada akhir tahun1960-an, ketika Pdt. Eka baru menjadi pendeta di Jatinegara dan Pdt. Andar di Samanhudi, tiap Senin mereka berdua bertemu untuk melatih diri membaca dan menulis. Mereka sengaja memilih buku teologi yang sulit lalu mereka saling uji apakah betul sudah mengerti isinya. Konsep teologis yang berat dan susah mereka ubah menjadi yang ringan dan mudah. Tujuannya agar kemudian mereka menghasilkan tulisan yang bisa menumbuhkan dan mendewasakan iman umat. Umat dan pendeta perlu membaca buku bermutu supaya penghayatan iman tidak kerdil dan wawasan iman tidak sempit. Pada akhir tulisannya Pdt. Andar menyatakan bahwa hakikat gereja adalah komunitas yang belajar dan mengajar. Gereja adalah komunitas yang membaca dan menulis.

Jika gereja adalah komunitas yang membaca dan menulis, maka pribadi lepas pribadi yang menjadi warga gereja selayaknya juga adalah pribadi yang membaca dan menulis, dengan demikian umat tidak lagi senantiasa mencari hal-hal yang instan, karena disetiap rumah tangga, anak menyaksikan orang tuanya yang lebih banyak meluangkan waktu membaca daripada menonton sinetron, lebih sering mendengar orang tuanya membicarakan Firman Tuhan daripada "ngerumpuii" para tetangga.

Dalam hal sunagoge berarti rumah belajar, maka Gereja yang kita kenal saat ini sebagai kelanjutan tradisi tersebut selayaknya adalah rumah belajar. Sebagai rumah belajar dapat dipastikan aktivitas yang dilakukan lebih kepada pembangunan karakter dengan menularkan "virus" n-Ach kepada jemaatnya dengan mengajak jemaatnya untuk memiliki mimpi/visi sebagai umat pemenang. Memberi Visi bukan berarti memberi semacam "bius" yang meninabobokkan jemaatnya untuk beranggapan bahwa segala sesuatu masalah akan selesai bila kita berdoa kepada Tuhan yang penuh dengan berkat. Dan juga tidak untuk mengatakan bahwa mujizat adalah kemustahilan. Tetapi yang dimaksud adalah adanya sebuah proses yang akan dilalui dengan berbagai upaya untuk mewujudkan sebuah visi menjadi kenyataan. Upaya yang dilakukan akan serasa indah jika dilakukan dengan penuh suka cita karena dilakukan demi kemuliaan nama Tuhan.

Harapan

Membangun karakter bukanlah pekerjaan mudah dan singkat, namun bukan kemustahilan untuk melakukannya. Jika tidak dimulai sejak dini, yang terjadi adalah penyesalan yang berkepanjangan. Tidak jarang kita menyaksikan seseorang yang sukses dibidang pendidikan namun kurang berhasil dalam meniti karir atau bahkan sulit baginya untuk mendapatkan pekerjaan. IQ yang semula menjadi ukuran utama, saat ini telah dikenal berbagai ukuran lain seperti EQ dan SQ. Kedua ukuran terakhir adalah ukuran-ukuran yang cenderung kepada karakter seseorang. Karakter dipegaruhi banyak hal, namun biarlah Gereja dan Keluarga dapat memberikan kontribusi berarti dalam membentuk "karakter pemengang", caranya mulailah menularkan "virus" n-Ach dengan tidak lupa membagi cerita kepada anak-anak yang masih belia, melailah bercerita dari SEKARANG !. (has300809) Tulisan ini dimuat pada Bulletin Mercu Suar Edisi 14 Oktober 2009.


 

Minggu, 04 Oktober 2009

JANJI

Oleh : P. Erianto Hasibuan
Wednesday, September 23, 2009 at 2:04am
Semasa kecil aku selalu dijanjikan oleh Mamaku bahwa hanya dengan sekolah dapat membuat hidupku lebih baik. Janji itu semula tidak kumengerti dengan baik, tapi yang bergema dibenakku hanya satu, aku ingin menjadi lebih baik. Lingkungan kecilku bukanlah lingkungan yang baik untuk menumbuhkan semangat bersekolah. Rekan seusiaku hanya menikmati sekolah hingga SLTP, sesudahnya mereka lebih menikmati bermain dan bekerja atau berdagang. Tidak ada hal yang istimewa untuk membuatku bertahan, sekalipun kerap aku ditertawakan rekan sebayaku karena masih terus bersekolah, kecuali janji Mama kepadaku. Setelah 44 tahun Sang Khalik memberiku izin untuk menikmati kehidupan, banyak pasang surut yang kualami, kekecewaan, kebahagiaan dan kegagalan dan keberhasilan silih berganti. Bahkan kerap yang paling getir sekalipun, kala orang disekitar belum dapat memahami pemikiranku atau aku yang belum dapat memahami pemikiran lingkunganku. Jika masa kecilku aku berbeda karena “janji” yang selalu didengungkan oleh Mama dan Ompungku (maaf aku tidak pernah mengenal Ayahku secara fisik) dan aku mempercayainya, saat ini aku masih dapat tersenyum juga karena JANJI, tapi bukan lagi sekedar janji sementara, tetapi pada janji yang melampaui segala abad, sebagaimana Abraham percaya kepada JANJI ALLAH dan hal itu diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran. (Kej. 15:5-6). JANJI itu yang memberikan kegairahan baru bagiku, sekalipun aku mulai mendalaminya sejak Tahun 2005, ternyata semakin “jauh” bagi ku untuk memahaminya, jadi janganlah tanyakan kepadaku apa makna JANJI itu, karena kulakukan dan kulakukan adalah untuk tetap mempercayai JANJI itu, walau fakta berseberangan dengan Janji, bukankah “Orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya” (Hab.2:4b; Gal.3:11b). Jadi saudaraku, jangan pernah berhenti memberi Janji, karena dengannya banyak orang akan dapat menghadapi masa kini dengan tersenyum, melupakan masa lalu dan berharap pada masa depan. Tanpanya yang terjadi adalah hilangnya kegairahan hidup hingga keputusasaan, bahkan hilangnya kendali diri. Hari ini, kala aku menerima berkat penyertaan satu tahun lagi, yang akan ku lakukan tidak hanya berpegang terhadap Janji itu, tetapi meneruskan janji itu kepada orang sekitarku, pertama-tama adalah anak isteriku, lalu lingkungan dimana aku berada. Marilah menjadi pemegang Janji dan pemberi Janji, karena jika kita setia maka kita akan dihormati oleh PEMILIK JANJI (Yoh.12:26b). (has23092009 02.04)

Minggu, 16 Agustus 2009

Benarkah TUHAN mengijinkan Perceraian ?

Oleh : P. Erianto Hasibuan

Beberapa waktu yang lalu kepada penulis ditanyakan, apakah dalam pernikahan Kristen diijinkan adanya perceraian ?. Semula penulis menjawab dengan ringan tidak, tetapi setelah dikejar, bagaimana dengan yang tertulis di Mat. 19 : 1-12 ? bukankah dikatakan dengan alasan perzinahan perceraian diizinkan ?. Penulis sambil menghela nafas, menanyakan lebih lanjut kepada si penanya apa gerangan yang sedang terjadi .

Ketidak setiaan Pasangan.

Berawal dari tugas sang suami yang berbeda kota dengan sang isteri, keluarga muda ini sebut saja keluarga Jati, ternyata telah lama memendam luka satu sama lain. Sang isteri telah berkali-kali dihianati oleh sang suami, dalam skala kecil maupun skala besar. Tetapi karena riwayat pernikahan pasangan Jati tidak mendapatkan restu yang baik dari keluarga, sang isteri tidak ingin keburukan pasangannya diketahui oleh keluarga besarnya. Hal hasil seluruh sakit hati dipendamnya sendiri, sementara sang suami yang mengetahui kondisi tersebut "seolah" memanfaatkan situasi untuk terus menerus menorehkan luka di hati pasangannya.

Puncaknya, saat kelakuan sang suami di "pergoki" oleh seseorang yang mengenal dengan baik keluarga sang isteri. Pemergokan ini sebetulnya bukan yang pertama kali, tetapi karena yang memergoki seorang majelis gereja, dan "teman kencannya" juga rekan dari keluarga sang majelis akhirnya kasusnya tak lagi dapat dipendam, bak durian matang yang tetap mengeluarkan bau tak sedap bagi yang bukan pencinta durian, tetapi aroma yang menyegarkan bagi mereka yang menikmatinya.

Kepedihan hati sang isteri yang sekian lama terpendam, lalu tumpah bagaikan "banjir bandang" tak terbendung. Keputusan pun dilontarkan untuk "BERCERAI". Keluarga dari pihak isteri seolah "koor" untuk mendukung, sementara keluarga dari pihak sang suami, sepertinya telah bosan dengan prilaku yang berkisar pada ketidaksetiaan terhadap pasangan dan pekerjaan. Kebosanan itu berbuntut pada kepasrahan untuk tidak lagi sudi ikut campur tangan terhadap masalah tersebut.

Sebagai keluarga yang terbiasa hidup secara religious, walau mungkin lebih kepada seremonial dan organisasi. Pihak keluarga meminta pendapat kepada Pdt. Jemaat. Dengan lugas dan bersahaja sang Pdt menunjukkan ayat referensi pada Mat. 19 : 1-12 sebagai referensi bahwa dengan alasan perzinahan, perceraian dimungkinkan, termasuk bila pasangan tidak lagi seiman.

Makna Pasangan

Pada era yang serba instant saat ini, hampir seluruh lini kehidupan telah dirasuki dengan paradigma instant. Mulai dari mie, susu, bahkan cari pasangan instant (lewat rubrik jodoh misalnya), demikian halnya dengan pemaknaan sebuah pernikahan. Pernikahan "nyaris" diartikan sebagai legitimasi hubungan "jasmani" antara dua individu yang berlainan jenis. (defenisi ini tidak lagi berlaku bagi Negara yg telah melegalisasi pernikahan sejenis). Bagaimana tidak, sebuah pernikahan yang bersifat temporer menjadi hal yang biasa. Sekalipun hal itu tidak lebih dari sebuah "legitimasi kehidupan free sex" atau dengan bahasa yang lebih halus pendegradasian nilai sebuah pernikahan yang sakral menjadi sekedar wadah untuk berhubungan badan secara legal.

Pendegradasian yang lebih halus masih kerap terjadi pada sebuah pernikahan yang berakhir dengan alasan ketiadaan keturunan, bahkan dietnis tertentu ketiadaan anak laki-laki dapat menjadi pemicu terjadinya perceraian.

Mengapa demikian ?, karena tidak banyak orang yang mau bersusah-susah untuk meng-hayati makna berpasangan sebagaimana yang semula diajarkan oleh Allah. Jika kita menilik pada penciptaan, Allah pada mulanya menciptakan segala sesuatu dengan sungguh amat baik. (Kej. 1:31) termasuk didalamnya adalah manusia laki-laki dan perempuan. Perempuan diciptakan karena menurut Allah TIDAK BAIK, kalau manusia itu seorang diri saja (Kej. 2: 18). Lalu dijadikan penolong yang sepadan dengan dia. Ternyata binatang hutan dan burung yang dibentuk Allah dari tanah tidaklah dapat menjadi penolong yang sepadan, hingga akhirnya Allah membangun seorang perempuan dari rusuk sang pria untuk menjadi penolong yang sepadan. Perempuan itu kemudian dibawa kepada manusia itu (laki-laki) dan mereka menjadi satu daging (Kej.2:24).

Sejak semula konsep berpasangan adalah sebagai PENOLONG, menjadi satu daging (sarx) hendaklah tidak terdegradasi pengertiaannya sebatas hubungan badan. Menjadi satu daging dalam hal ini adalah hubungan yang tidak terpisahkan karena sudah menjadi satu, tidak hanya sebatas yang tidak terlihat (hati dan perasaan) tetapi melingkupi yang terlihat secara kasat mata, yaitu kedagingan. Lebih lanjut, selayaknyalah bahwa orang yang berpasangan, secara kedagingan orang dapat melihat bahwa keduanya menjadi penolong satu sama lain, sekalipun kita belum diberitahu bahwa mereka berpasangan, tetapi prilaku mereka menunjukkan hal tersebut.

Makna pernikahan ini telah dipertegas kembali oleh Paulus dengan menguraikan peran para pihak (suami dan isteri), tuntutan terhadap isteri hanya satu yaitu tunduk terhadap suami seperti kepada Tuhan. (Ef.5 :22), sementara kepada Suami tuntutannya adalah sebagai kepala isteri seperti Kristus adalah kepala jemaat (Ef.5:23) dan lebih jauh Suami harus mengasihi isterinya sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya (26) pada akhirnya Paulus menyimpulkan bahwa suami isteri akan menjadi satu daging (31), kesimpulan ini kembali mempertegas akan makna pernikahan sejak semula yaitu menjadi satu daging (Kej.2:24).

Perceraian

Sudah menjadi tontonan yang "biasa" bagi masyarakat dewasa ini, bagaimana para selebriti secara luas diberitakan dalam berbagai media memberi keterangan dalam proses perceraian mereka. Alasan yang selalu diberikan para pihak utamanya adalah, perceraian tersebut adalah kehendak sang Khalik dan merupakan cara yang terbaik buat kebaikan anak-anak mereka.

Bagi sebagian masyarakat yang memiliki keterbatasan pemahaman, hal ini sedikit banyak akan mempengaruhi, utamanya para anak dan remaja yang dalam proses pendewasaan, mereka akan melihat bahwa argumentasi tersebut adalah argumentasi yang sarat dengan kebenaran, utamanya bila dalam pemberitaan tidak diikuti pembahasan secara proporsional, untuk mengkaji lebih lanjut bahwa apa yang disampaikan para news maker tersebut sesungguhnya jauh dari kebenaran.

Saat kepada Yesus sendiri ditanyakan oleh para Parisi tentang perceraian, semangatnya adalah untuk mencobai Yesus. Dengan tegas Yesus mengatakan bahwa Musa mengijinkan memberikan surat cerai (Ul. 24 : 1-5) hanyalah karena ketegaran hati umat Yahudi. Sedang sejak semula tidaklah demikian (Mat. 19:8). Dengan tegas penulis surat Maleakhi mengatakan "Aku membenci perceraian, firman Tuhan" (Mal. 2 :16).

Perzinahan kerap menjadi dasar bagi umat untuk membenarkan adanya perceraian, bahkan pekerja gereja sekalipun (Pdt, Pnt dst) kerap tergelincir dalam hal ini dengan menggunakan Mat. 19: 9. Jika kita mengkaji lebih lanjut, injil Matius menjadikan Injil Markus sebagai sumbernya, dengan demikian menurut penulis kata-kata "kecuali karena zinah" adalah kata tambahan ybs, sedang dalam Injil Markus kata itu tidak ada. Penulis injil Markus menulis lebih tegas dengan membawa kita ke konteks penciptaan, "pada awal dunia Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, .. Demikianlah mereka tidak lagi dua melainkan menjadi satu, karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia." (Mark. 10 : 6-9)

Pengampunan

Perceraian menurut penulis, adalah gambaran nyata bagaimana kita belum dapat memahami dengan baik konsep PENGAMPUNAN dan KASIH. Perumpamaan tentang anak yang hilang pada Luk. 15 : 11-32 adalah kisah bagaimana besarnya Kasih seorang Bapa kepada anaknya. Begitu banyak dosa yang dilakukan si anak bungsu kepada bapanya, pertama ia meminta warisan pada saat bapanya masih hidup. Bukankah ini sama artinya dengan mengharapkan agar bapanya segera meninggal ?, lalu menghabur-hamburkan segala yang dimilikinya dengan bermewah-mewah, dan dapat dipastikan ia juga menggunakan uang itu untuk berzinah. Tetapi pada saat si anak menyadari keadaannya dan ia mau mengambil langkah kembali dan merendahkan diri, si bapa sama sekali tidak memperhitungkan kesalahannya, yang ada adalah sukacita menyambut kembalinya si anak yang hilang. Lalu bagaimana dengan kita ? Sudah sejauh itukah kesalahan para pasangan kita ?.

Pada bagian lain, saat Petrus bertanya kepada Yesus, Tuhan berapa kali aku harus mengampuni, tujuh kali ? Yesus menjawab "tujuh puluh kali tujuh kali" (Mat.18:22). Ini bukan soal angka empat ratus sembilan puluh kali, tetapi angka tujuh adalah simbol kesempurnaan, artinya tiada batas bagi kita untuk mengampuni. Mengapa demikian ? karena kasih tidak berkesudahan, nubuat akan berakhir, bahasa roh akan berhenti pengetahuan akan lenyap sebagaimana dikatakan Paulus dalam 1 Kor. 13 : 8.

Harapan

Atas dasar pemahaman tersebut, penulis meyakinkan kepada keluarga Jati dan keluarga besarnya, bahwa perceraian yang telah mereka gagas, bukalah solusi yang Alkitabiah, sebab bagaimana mungkin kita dapat membenarkan PERCERAIAN, sementara kita diajar untuk MENGASIHI SESAMA ?, bukankah Yohanes menuliskan secara tegas " Seseorang yang mengatakan bahwa ia mengasihi Allah tetapi pada saat yang sama membenci saudaranya adalah seorang pendusta (1 Yoh.4 :20) Dapatkah seseorang yang akan menceraikan pasangannya mengatakan, bahwa tindakan tersebut didasarkan pada rasa kasihnya ? bukankah itu merupakan buah dari kebenciannya terhadap pasangannya ?. Lalu masikah anda dapat mengatakan bahwa PERCERAIAN ini adalah HAL TERBAIK yang dikehendaki SANG KHALIK untuk kami ? Seberapa lama dan seberapa dalam anda akan menjadi PENDUSTA ?

Dengan jelas dapat kita simpulkan bahwa PERCERAIAN pada dasarnya adalah kehendak manusia semata. Kehendak Allah dari umat manusia adalah untuk saling mengasihi dan senantiasa bersekutu. Untuk hal itu TUHAN bersabda "Aku membenci perceraian" (Mal. 2 :16). Kesalahan yang dilakukan pasangan bukan sesuatu yang dapat dibenarkan, tetapi PENGAMPUNAN yang kita miliki seyogiayanya melampaui kesalahan-kesalahan dari pasagan kita. Semoga kita masih memiliki rasa pengampunan setidaknya 70 X 7. (Tulisan ini dimuat dalam Buletin Mercu Suar Juni 2009)


 

Selasa, 21 Juli 2009

Keseimbangan Roh dan Daging

Oleh : P. Erianto Hasibuan *)

Nats : Mat. 26 : 41

Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah."


 

Peserta diminta untuk membentuk lingkaran, dan memainkan ice breaking KESEIMBANGAN. Setiap cerita yang akan disampaikan ada kata-kata PETRUS, peserta diminta untuk melakukan dua hal sekaligus, pertama tangan kanan akan menangkap jari peserta disebelahnya, sekaligus tangan kiri harus menghindarkan diri dari tangkapan sebelahnya,

Dari permainan ini banyak peserta yang melakukan tindakan sekalipun dalam cerita belum ada kata PETRUS, demikian halnya masih ada peserta yang tidak bereaksi apapun saat mendengar kata Petrus. Peserta yang jarinya tertangkap juga tidak sedikit bahkan lebih dari 3X dari 5X kata Petrus dalam cerita.

Permainan ini menunjukkan bagi kita, 3 Hal penting :

PERTAMA,     MEMAHAMI perintah, perintah yang disampaikan dalam permainan tersebut sesungguhnya sanagat sederhana, menangkap jari rekan sebelah kiri dan sekaligus melepaskan jari telunjuk sebelah kanan dari tangkapan, pada saat mendengar kata-kata "Petrus". Perintah ini bahkan lebih sederhana dari perintah Yesus pada murid-muridnya (Petrus dan kedua anak Zebedeus, Yakobus dan Yohanes) : "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku." (Mat. 26 :38b), hasilnya ? mereka bukannya berjaga-jaga tapi malah ketiduran, dan ini terjadi selama 3X Tuhan Yesus berdoa. Dalam kehidupan sehari-hari kita kerap tidak memahami apa yang diinginkan orang lain dari kita, jika kata-kata saja tidak dapat kita pahami, bagaimana dengan bahasa tubuh atau mimik seseorang tanpa bahasa ? Banyak hubungan yang menjadi tawar karena kesullitan untuk memahami maksud satu sama lain, jangankan dalam keluarga besar dalam hubungan suami isteri sekalipun kerap ada terjadi saling tidak memahami. Paguyuban ini, bisa jadi sebagai langkah awal untuk saling memahami satu sama lain sehingga hubungan yg lebih erat dapat dijalin. Sekalipun ada pepatah yang mengatakan "pohon kelapa yang ditanam berdekatan akan sangat mungkin dahannya saling bergesekan" itu benar, tetapi alangkah indahnya jika gesekan itu tidak untuk menjatuhkan dahan yang satu oleh yang lainnya, tetapi justru untuk menopang dahan yang lemah. Artinya semakin tinggi frekuensi berkomunikasi, sangat mungkin terjadi ketidak sepahaman satu sama lain, tetapi ketidak sepahaman tersebut selayaknya menjadi penguat satu sama lain, caranya. Ada sebuah kisah berikut : Ini sebuah kisah tentang dua orang sahabat karib yang sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan, mereka bertengkar dan salah seorang menampar temannya. Orang yang kena tampar merasa sakit hati, tapi dengan tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir: "Hari ini, sahabat terbaikku menampar pipiku." Mereka terus berjalan sampai akhirnya menemukan sebuah oasis. Mereka memutuskan untuk mandi. Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, mencoba berenang namun nyaris tenggelam, tapi dia berhasil diselamatkan oleh sahabatnya. Ketika dia siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis di sebuah batu: "Hari ini, sahabat terbaikku menyelamatkan nyawaku."
Orang yang menolong dan menampar sahabatnya, bertanya "Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir dan sekarang menuliskan ini di batu?" Sambil tersenyum temannya menjawab, "Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan itu. Dan bila sesuatu yang luar biasa baik terjadi, kita harus memahatnya di atas batu hati kita, agar takkan pernah bisa hilang tertiup angin."

KEDUA,     MELAKSANAKAN perintah, boleh jadi kita memahami perintah tersebut pada saat awal disampaikan, tetapi dalam pelaksanaannya begitu banyak rintangan yang harus kita hadapi, misalnya ah…sebelah saya kan mertua saya, masah sih saya mempermalukannya ? atau udalah kan ini cuma permainan ndak apa-apalah. Demikian halnya dengan ketiga murid Yesus, boleh jadi mereka memahami dengan baik perintah sederhana tersebut, tetapi kelelahan yang mereka alami seharian membuat mata mereka begitu berat, sehingga mereka tidak sanggup lagi melawan kantuknya. (Dan ketika Ia kembali pula, Ia mendapati mereka sedang tidur, sebab mata mereka sudah berat Mat. 26 : 43)

    Inilah yang kerap kita hadapi, besar sesunguhnya hasrat kita untuk melaksanakan perintah Tuhan, bahkan di doa kita selalu kita meminta agar kita dan keluarga kita dapat memiliki prilaku yang segambar dengan Tuhan Yesus, tetapi pada kenyataannya ? adik-adik misalnya untuk dapat ikut tes di Perusahaan Besar dan BUMN saja IPK harus diatas dua koma tujuh lima, bahkan untuk program officer develpoment harus diatas tiga, nah ini membuat godaan melakukan kecurangan. Habis gimana kadang sudah belajar serius eh..eh.. yang keluar ujian malah yang lain.. Mereka yang berkarir juga demikian, belum lama kita membaca di berbagai harian, bagaimana seorang perwira keepolisian yang memiliki karier diatas normal, sebagai akibat kedekatannya dengan para pengusaha dan saat ini dituduhkan berkonspirasi untuk menghilangkan nyawa orang lain.

KETIGA,     KESEIMBANGAN, dalam game tadi kita diminta untuk melakukan dua hal sekaligus, konsentarasi kita tidak boleh pecah hanya kepada salah satu sisi tangan saja, sebab jika demikian yang terjadi adalah kegagalan untuk melaksanakan perintah dengan baik. Ketiga murid Yesus juga mengalami hal yang sama, mereka tidak dapat mengatur stamina mereka dengan baik, sehingga pada saat mereka diminta untuk berjaga-jaga, bahkan hanya satu jam saja (40b), kelelahan tubuh mereka mengalahkan niatan mereka untuk setia terhadap perintah gurunya. Kondisi ini dimengerti dengan baik oleh sang guru, hingga saatnya Yesus mengatakan :"Tidurlah sekarang dan istirahatlah.(45 b).

Roh dan Daging

Keseimbangan perhatian terhadap roh dan daging (baca : tubuh) menjadi perhatian kita, karena pada era borderless (tanpa batas) saat ini kita seolah mundur ke era abad pertama masehi saat berkembangnya ajaran Gnostik, pemahaman yang kiliru akan kasih karunia dan pemahaman keselamatan, membuat mereka tidak lagi menjaga kesucian tubuhnya. Kita diingatkan oleh Matius, bahwa sejak awal Yesus telah memperingatkan kita, bahwa daging (sarks) lemah. Para teolog sistematika membagi struktur manusia menjadi empat yaitu Nyawa/jiwa, roh, daging dan tubuh. Roh didefenisikan sebagai kemampuan manusia untuk bekerjasama dengan Allah, dan Daging didefenisikan sebagai kemampuan manusia untuk bekerjasama dengan iblis (Indra, 2003 p. 90).

Kemampuan manusia bekerjasama dengan iblis (daging) diingatkan Yesus adalah lemah, sedang Roh adalah penurut, artinya diperlukan keseimbangan akan hal keduanya dengan lebih menitkberatkan pada pertolongan roh agar kita dimampukan untuk mengelolah tubuh ini tetap menjadi persembahan yang hidup bagi Allah. Bukakah Paulus meminta kita untuk
mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup. (Roma : 12:1 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.)

REFLEKSI

Kita kerap mendengarkan kata-kata klise "ah sudalah…toh kita masih hidup didunia, tipu-tipu dikit bolelah…atau istilah berbohong untuk kebaikan… atau banyak istilah lain yang sejenis, pada dasarnya hal itu menunjukkan bagaimana sulitnya menjaga keseimbangan antara kebutuhan daging dan roh, atau berarti pula ketidak pahaman kita akan ajaran, karena kita masih lebih berkonsentrasi pada hal-hal yang bersifat kedagingan dan melewatkan kemapuan kita untuk berkomunikaasi dengan Allah. Saat ini kita diingatkan, untuk menjaga keseimbangan keduanya, kemampuan kita untuk bekerja sama dengan Allah selayaknya mengendalikan aktivitas kedagingan kita. Sehingga seperti game yang kita lakukan, kita dapat membebaskan jari kita dari genggaman lawan laiknya kita membebaskan diri kita dari ketergantungan yang bersifat hedonisme dan disisi lain kita dapat menangkap sesama kita untuk masuk dalam keluarga Tuhan. Amin.

(Disampaikan pada acara renungan pertemuan keluarga besar Yoharam Sueharno di Baturaden, 18-20 Juli 2009).

Minggu, 24 Mei 2009

Menjadi Pemenang pada tahun 2009, Mungkinkah ?

Oleh : P. Erianto Hasibuan

Siapa yang memiliki suatu alasan (why) untuk hidup akan sanggup mengatasi persoalan hidup dengan cara (how) apa pun. Nietzsche


 

Sejumlah prediksi dan ramalan yang disajikan sejak akhir Desember 2008 hingga memasuki tahun 2009, didominasi dengan gambaran yang "menakutkan" paling tidak membuat "nyali" ciut untuk memasuki tahun 2009. Bahkan para pengkotbah sekalipun tidak luput untuk memberikan gambaran suram, sekalipun pada akhirnya akan menunjukkan gambaran yang penuh harapan.

Prediksi dan ramalan tersebut sesungguhnya bukanlah isapan jempol belaka, karena fakta trimester tiga tahun 2008 angka-angka indikator ekonomi nasional dan internasional menunjukkan arah ke krisis global. Dimulai dari runtuhnya para raksasa ekonomi Amerika, hingga anjloknya pasar modal hampir diseluruh dunia. Ketidak mampuan para debitor housing di Amerika Serikat untuk membayar angsuran karena kenaikan suku bunga, telah berdampak pada hilangnya kepercayaan investor terhadap secondary mortgage yang dimilikinya. Selanjutnya hanya tinggal menuggu waktu dari efek domino tersebut. Lembaga keuangan yang menjamin surat berharga tidak lagi mampu menyelesaikan kewajibannya. Sederhananya memang kondisi itu hanya terjadi di Amerika Serikat, seharusnya hanya negara itu yang mengalami krisis. Tetapi karena surat berharga yang diterbitkan negara paman sam tersebut laku keras, sehingga banyak dimiliki oleh negera-negara lain, termasuk Indonesia, maka kita tidak dapat lepas dari dampakk tersebut.

Untuk Indonesia, prediksi ekonomi yang pesimis pada tahun 2009 masih ditambah lagi dengan kekawatiran akan pelaksanaan Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden pada tahun yang sama. Bayang-bayang peristiwa kerusuhan Mei 1998 seolah lahir kembali dalam ingatan.


 

Realita Kehidupan

Untuk menyajikan persoalan hidup yang lebih nyata, penulis menyajikan dua peristiwa yang pernah terjadi beberapa tahun yang lalu.

Minggu 11 Maret 2007 di Malang ditemukan jenazah Mercy Junaina (31) bersama keempat anaknya. Sang ibu Mercy meracuni anaknya sendiri dengan Potasium yang dimasukkan dalam kapsul, dan akhirnya meracuni dirinya sendiri.
Berdasarkan berita yang ada di detik.com diuraikan bahwa penyebab tragedi ini dipicu oleh permasalahan keuangan, karena usaha bengkel suami Mercy mengalami kebangkrutan sementara salah satu anaknya mengalami gagal ginjal sehingga harus melakukan cuci darah seminggu sekali.

Kasus yang lain terjadi di Medan, yaitu Melawati br. Simanjuntak (34) seorang PNS isteri dari seorang Bintara Polri pada Senin 16 April 2007 bunuh diri dengan cara menembakkan senjata api milik suaminya ke perutnya sendiri. Menurut Kabid Humas PoldaSU, penyebabnya diduga karena ybs depresi akibat sakit yang diderita selama ini tidak kunjung sembuh. Berdasarkan informasi dari teman sekerjanya, diceritakan bahwa ybs sehari-hari dalam bekerja juga sering mengalami depresi.


 

Belajar dari Musa

Saat musa memimpin umat Israel keluar dari tanah Mesir menuju tanah perjanjian, kerap ia seolah berjalan sendiri menentang kekerasan hati dan ketidak percayaan umat Israel. Peristiwa di Pi-Hahirot di tepi Laut Teberau (Kel. 14 : 1-14). Saat bangsa Israel berkemah mereka di serang oleh 600 kereta kuda tentara Mesir.

Bangsa Israel ternyata tidak lebih baik dari Mercy dan Melawati. Mereka putus asa, melihat didepan terhampar lautan yang tak mungkin terseberangi, sementara dibelakang tentara Mesir yang bergerak dengan gemuruh dan membuat "nyali" mereka ciut. Mereka melupakan janji Tuhan, dan memilih menyerah dengan kematian sebagai jalan keluar terbaik. (Kel. 14:11).

Andai saat itu Musa tidak bersama dengan mereka, maka bangsa itu hanya akan tinggal meratap dan menunggu "dihabisi" oleh tentara Mesir. Tetapi kehadiran Musa telah merubah segalanya,


"    Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya." (Kel. 14:13)


 

Fakta yang dilihat oleh Musa dan Bangsa Israel tidak berbeda, tetapi cara mereka melihat yang berbeda. Bangsa Israel fokus pada persoalan yang ada, yaitu jalan buntu didepan karena ada laut yang terbentang luas, sementara tentara Israel terus bergerak mendekat mereka. Persoalan ini membuat mereka melupakan janji Tuhan, dan bahkan ingin kembali ke masa lalu sebagai budak di Mesir. Musa melihat hal yang sama, tetapi ia mengingat janji Tuhan bahwa mereka bekemah di Pi-Hahirot agar Tuhan dapat menyatakan kemuliaan-Nya kepada Firaun dan seluruh pasukannya. (Kel.14:1-4)

Andai disisi Mercy Junaina dan Melawati br. Simanjuntak saat itu ada seseorang yang memiliki pandangan seperti Musa, maka mereka tidak akan melihat bahwa kematian adalah jalan keluar bagi persoalan yang sedang mereka hadapi.

Jika kita lihat lebih jauh, buah dari pengaruh Musa. Dia tidak hanya membuat bangsa Israel memiliki pengharapan dan mampu bangkit untuk menyeberangi laut Teberau, bahkan memampukan Miryam nabiah itu yang sebelumnya memiliki mental menyerah seperti bangsa itu, memimpin kaumnya menyanyikan lagu kemenangan (Kel. 15 : 20-19)


 

Refleksi

Musa telah memberi teladan bagi kita, tidak hanya memberikan semangat sebagai pemenang bagi bangsa Israel, tetapi lebih dari itu mengubah mentalitas "budak" menjadi mentalitas pemimpin. Miryam saudara perempuan Musa tidak dibesarkan di Istana seperti masa kecil Musa, tetapi ia hidup seperti bangsa Israel hidup di Mesir sebagai budak. Artinya ia memiliki mentalitas seperti bangsa Israel kebanyakan, tetapi dengan pengaruh Musa, ia dapat menjadi pemimpin bagi kaumnya dan menyanyikan nyanyian kemenangan bagi Tuhan.

Menghadapi tahun 2009, masalah pasti akan datang silih berganti, besar kecil. Tidak ada yang dapat memastikan bagaimana cara menghadapinya, karena persoalan bukan hanya sebatas persoalan ekonomi, tetapi hubungan personal antar sesama juga dapat menjadi persoalan yang kadang menerpa bak kereta kuda tentara Mesir yang terus bergerak. Seperti yang dihadapi Mercy, usaha bengkel suaminya yang bangkrut bagaikan laut Taberau yang tak terseberangi, sementara biaya cuci darah anaknya seminggu sekali harus berjalan terus, bagaikan gerakan kereta kuda tentara Mesir yang tak terbendung.

Siap menjadi pemenang pada tahun 2009 ? Terserah anda. Jika anda menghadapi tahun 2009 laiknya bangsa Israel, maka anda hanya dapat menyelematkan diri anda sendiri dan tidak lebih hanya sebagai penonton yang baik. Tetapi jika anda bertindak seperti Musa, yang dapat hadir pada saat orang lain butuh untuk dikuatkan, maka anda tidak hanya sekedar menjadi pemenang, tetapi menghadirkan pemenang-pemenang baru.

Ada benarnya apa yang dikatakan Nietzsche : Siapa yang memiliki suatu alasan untuk hidup akan sanggup mengatasi persoalan hidup dengan cara apapun. Tepatlah apa yang dikatakan Paulus, alasan kita untuk hidup adalah menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada Tuhan Yesus dan mendapat hidup yang kekal. (1Tim. 1:16). Dengan cara memiliki cara pandang Musa, yang selalu setia pada Janji Tuhan. SELAMAT MENJALANI TAHUN 2009, SELAMAT MENJADI PEMENANG.

Tulisan ini dimuat pada: Bulletin Mercusuar edisi 12 Maret 2009. (GKI Kemang Pratama – Bekasi)

Selasa, 10 Maret 2009

Rumah ku dari TUHAN ku

Mazmur 127:1 – 5

Kita umumnya memperoleh pendidikan, motivasi dan asuhan yang berawal dari keluarga, yaitu di dalam rumah. Dari rumah kita memperoleh pengajaran dalam bidang apapun, dengan maksud agar kita dapat berhasil dan menjadi orang yang sukses, sukses di sini dapat diartikan dengan istilah “unggul” . Dalam tulisan Om Anto (Harmanto Edy Djatmiko) di Majalah Swa 22 Januari 2009, dengan judul “Mencetak Manusia Unggul” dalam kalimat pembuka dikatakan “Lingkungan keluarga merupakan wahana utama untuk menempa karakter anak-anak menjadi manusia unggul.”
Bagi orang tua, memiliki anak yang unggul adalah kebanggaan luar biasa, sekalipun tidak jarang orang tua yang berambisi untuk menjadikan anak-anaknya untuk menutupi kegagalannya pada masa lalu, atau menjadikan fotocopy atas kesusksesan dirinya tanpa memperhatikan kehendak si anak sendiri.
Kesuksesan si anak yang menjadi kebanggaan orang tua, kerap menjadi sikap bermegah diri. Dalam pemahaman ini orang merasa bahwa semua keberhasilan yang dicapai dalam studi, pekerjaan dan karier, atau membangun rumah-tangga ditentukan oleh usaha, prestasi dan kemampuan dirinya. Dalam keadaan demikian pemazmur mengingatkan kita: ” Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga” (Mzm. 127:1). Firman Tuhan ini pada dasarnya mengingatkan kita, jikalau manusia berusaha sendiri tanpa mengingat pertolongan, campur-tangan dan berkat dari Tuhan; maka segala kerja yang dilakukan hanyalah seperti bayangan yang suatu saat akan lenyap. Karena itu di Mzm. 127:1 menyatakan setiap upaya manusia membangun rumah-tangga, bahkan upaya untuk mengerahkan kekuatan militer secara luar biasa untuk menjaga keamanan kota tidak pernah terwujud secara kekal jikalau manusia mengabaikan Allah.
Beberapa peristiwa penting diberbagai belahan dunia telah membuktikan hal itu, seperti kisah tenggelamnya kapal pesiar Titanic yang anti tenggelam, porak porandanya kota Kobe di Jepang segera setelah mereka memproklamirkan bahwa mereka telah berhasil membangun gedung-gedung “canggih” yang tahan gempa. Dengan perkataan lain, usaha dan kemampuan manusia tidak dapat menjamin keberlangsungan dari apa yang dikerjakannya termasuk rumah megah bukan menjadi jaminan kebahagiaan didalam rumah tangga, tapi bukan berarti didalam rumah yang megah tidak ada kebahagiaan.
Kita mungkin mengatakan, kami melakukan doa bersama saat hendak memulai pemabangunan rumah ini, bahkan saat dalam merencanakan untuk membangun (membeli) rumah ini kami telah menggumulinya dalam doa. Apakah itu belum cukup ? Bahkan saat ini saat memasuki rumah ini kami melakukan ibadah (renungan) dan sebelumnya (mungkin) telah mengundang pelayan Tuihan untuk berdoa. Tetapi mengapa pada kenyataannya keindahan fisik rumah tersebut tidak diikuti dengan keindahan isi hati penghuninya ?
Persoalannya adalah apakah arti firman Tuhan ” Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga” menjadi tindakan iman yang kita nyatakan setiap hari?. Kehadiran Tuhan dalam rumah-tangga bukan suatu kehadiran formalitas dalam ritual kebaktian. Tetapi seharusnya dalam kehidupann rumah-tangga kita, Tuhan perlu dihadirkan oleh semua pihak sebagai Allah yang kepadaNya kita berbakti dan melaksanakan kehendakNya dengan setia.
Kehadiran dan penyertaan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari perlu direspon oleh pasangan suami-isteri dengan melaksanakan tanggungjawab dan kewajibannya dengan setia. Makna berkat Allah tidak boleh dipahami secara pasif, tetapi sebaliknya harus dipahami secara pro-aktif. Suami dan isteri wajib melakukan tugas-tugasnya agar rumah-tangga mereka dapat kokoh bertahan mengarungi samudera kehidupan ini. Itu sebabnya di ayat 2, pemazmur berkata: ”Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah--sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur”. Perhatikanlah bahwa Allah memberikan berkatNya kepada yang dicintai pada waktu mereka tidur. Maksud firman Tuhan ini adalah bahwa Allah mengaruniakan berkatNya kepada mereka yang terlelap tidur setelah mereka bekerja dengan susah-payah. Jadi Allah tidak akan memberikan berkat dan rezeki kepada mereka yang gemar tidur dengan lelap, tetapi rumah tangga mereka tidak dilandasi oleh kerja dan usaha yang memadai. Landasan rumah tangga tidaklah cukup dengan cinta yang romantis belaka, tetapi perlu dilandasi oleh cinta yang diwujudkan dalam sikap tanggungjawab secara moril dan finansial.
Kata yang dicintai Nya pada ayat 2 mengingatkan kita pada perkataan Paulus pada Roma 8 :28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.
Karena itu marilah kita hayati pemahaman iman yang menyatakan, ” Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya” secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Khususnya sikap iman kita yang mau menerima apa yang menjadi kehendak Tuhan walaupun seringkali kehendak Tuhan itu tidak sesuai dengan harapan dan cita-cita kita. Kiranya Saudaraku Sari dan Mulyo dapat mengimani bahwa “Rumahku dari Tuhan ku”. Semoga.
*) Disampaikan pada acara ibadah Keluarga pada pertemuan keluarga Yoram Suharso dalam rangka memasuki rumah baru Kel. Mulyo dan Sari di Villa Nusa Indah 5 pada Sabtu 7 Maret 2009.

Rabu, 03 Desember 2008

Guru yang terlalu cepat menghukum

Akhir bulan November yang lalu, saya dikagetkan oleh sebuah hasil ujian anak bungsu ku yang masih duduk di kelas 1 SD. Selembar hasil ujian materi lokal bahasa Sunda tertulis nila dengan warna merah 100, tetapi dibawahnya dibarengi dengan asesoris NYONTEK. Tersentak aku melihatnya setelah isteriku mempertontonkannya kepada ku. Bawah sadarku sepontan bertanya, apakah aku sudah gagal dalam mendidik anakku ? ataukah aku terlalu keras mendidik mereka, hingga muncul karakter takut gagal hingga menghalalkan segala cara ?.

Sejenak aku bertanya kepada anak ku Yohana Romauli Sayekti Hasibuan (Uli) apakah ia benar melakukan pencontekan, ternyata dia menolak untuk dikatakan menyontek, tetapi memang dia berkomunikasi dengan temannya saat ujian karena si teman meminjam penghapus (eraser) darinnya. Belum terlalu yakin, aku meminta isteriku untuk melakukan uji ulang atas materi pelajaran yang sama, dan ternyata ia memang dapat menjawab pertanyaan sesuai dengan nilai yang ada.

Sesaat saya merenung, apakah hal ini saya diamkan saja atau saya bicarakan dengan sang guru. Tetapi setelah saya menerima penjelasan dari anak saya bahwa posisi sang guru ada di depan dan anak saya ada di belakang, serta banyak teman temannya yang juga mendapatkan tulisan yang sama, maka saya putuskan untuk menemui sang guru keesokan harinya untuk mengklarifikasi.

Pada awalnya sang ibu guru yang manis dan belia, bertahan bahwa ia melihat anak saya menyontek. Tetapi setelah aku pertanyakan dimana posisi si ibu guru dan dimana posisi anak ku, serta menceritakan track record anak ku, ia mulai melunak, utamanya saat aku memintanya untuk melakukan uji ulang untuk membuktikan kebenaran apakah Uli menyontek atau tidak. Dan aku meminta surat resmi dari sekolah bagaimana hasil penilaian mereka, apakah Uli benar menyontek atau tidak. Singkat cerita anak ku di tes ulang dan ia mendapat nilai 98, kesalahan satu soal yang dilakukannya adalah kesalahan dalam sebuah pemenggalan kata dalam penulisan jawabannya. Dan sehari setelah ujian ulang, kami mendapat surat permohonan maaf secara resmi dari sekolah atas kekilafan si ibu dalam membuat penilaian.

Lebih baik salah memberi hadiah dari pada salah dalam menghukum.

Saya menuliskan ini, karena memang sejak semula tekad yang ada di benak saya untuk kedua anak saya adalah mendidik mereka untuk menjadi anak yang JUJUR (ANTI BOHONG), sehingga nilai rendah sekalipun yang mereka peroleh atau kegagalan untuk meraih juara dalam pertandingan, selalu saya apresiasi sepanjang mereka tidak melakukan kecurangan, saya hanya tinggal mendoronga upaya mereka karena prosesnya sudah benar. Saya berharap kelak mereka menjadi orang dewasa yang senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran. Berbekal itu saya percaya, sekalipun mereka aneh tetapi mereka menjadi orang yang aneh karena mereka dapat menunjukkan secercah harapan bahwa mentalitas anak bangsa ini pada dasarnya adalah baik.

Andai saya mendiamkan peristiwa di atas, maka pada saatnya setelah ia mengerti apa yang dimaksud dengan meyontek, hal itu akan dapat memberikan efek negatif pada dirinya dimata dirinya sendiri atau dimata temannya. Karakter yang akan ia bangun kelak akan ternodai oleh kenangan pahit nyontek (sama dengan mencuri menurut saya) yang secara formal ia lakukan, sekalipun fakta tidak pernah ia lakukan. Efek ini akan terbalik jika seorang guru memberi nilai 100 kepada seorang murid, sekalipun sesungguhnya anak itu hanya mendapat nilai 70. Si anak boleh jadi akan menjadi lebih percaya diri karena ia merasa ternyata ia dapat melakukan dengan sempurna.

Saya mempunyai pengalaman lain akan hal ini, kakak saya diwaktu SD selalu dicemooh oleh gurunya, bahwa ia tidak pintar dan tidak dapat bernyanyi. Pada akhirnya kakak saya menjadi minder dan prestasinya disekolah tidak terlalu baik, bahkan ia tidak berani menyanyi. Pada saat ia telah dewasa, bahkan ia dapat ikut kelompok vokal yang dikelola oleh tetangga kami seorang pelatih musik. Kelompok ini bahkan sering manggung diberbagai acara. Tetapi usaha si Om untuk membangkitkan semangatnya bahwa ia memiliki suara yang tidak kalah dengan orang lain cukup melelahkan.

Alangkah baiknya bagi kita untuk lamban dalam menghukum dan cepat dalam menghargai, utamanya bagi seorang guru SD, bukankan menurut Sigmund Freud bahwa masa kecil si anak akan sangat mempengaruhi kepribadian nya ke depan ? artinya, akan lebih baik jika kita memberikan masa kecil yang indah bagi si anak daripada masa kecil yang penuh dengan hukuman atau hal yang negatif. Ini yang juga saya sampaikan kepada si ibu guru, bahwa LEBIH BAIK SALAH DALAM MEMBERI HADIAH DARIPADA SALAH DALAM MENGHUKUM. SEMOGA !