SELAMAT DATANG DI "TEOLOGI KAUMAWAM"

Salam dalam Kasih Tuhan Yesus Kristus. Terimakasih telah mampir di blog yg sederhana ini. Kami sangat berterimakasih bila saudara berkenan memberi tanggapan atas tulisan yang saudara baca di blog ini. Karena dengan tanggapan itu kami akan dapat belajar dan berbagi, sebab untuk itulah blog ini dibuat agar hidup kita tetap terpelihara dalam persekutuan. Semua tulisan dalam blog ini dapat dikutip dengan tetap mencantumkan sumbernya. Kiranya Tuhan Yesus memberkati kita. Pax Vobiscum, Erianto Hasibuan

Minggu, 02 Januari 2011

Satu dalam Kepelbagaian

Oleh : P. Erianto Hasibuan, M. Div

Pengantar

Saat kembali ke Medan beberapa saat yang lalu, penulis menemui salah seorang anggota gereja yang merupakan pendiri sebuah Gereja. Si Bapak menceritakan bagaimana “perpecahan” yang terjadi di antara anggota jemaat dan majelis jemaat. Program kerja majelis tidak lagi berjalan dengan baik, karena jika kelompok yang satu duduk di sebuah kepanitian, kelompok yang lain tidak lagi berkenan untuk ambil bagian.

Kisah jemaat tersebut adalah akumulasi dari sebuah persoalan kecil yang tidak pernah diselesaikan dengan tuntas, sehingga menjadi akar pahit bagi persoalan-persoalan lain yang muncul. Di tempat lain mungkin tidak seekstrim persoalan di atas, tetapi boleh jadi pembiaran atas pelbagai aktivitas mulai terasa bahkan mulai mengkawatirkan berbagai pihak, walau hanya dihati belaka.

Konflik mungkin belum hadir secara kasat mata, tetapi konflik batin mulai terasa di antara anggota jemaat. Pembiaran hal demikian hanya masalah waktu untuk menjadi disharmoni diantara sesama jemaat.

Keprihatinan Paulus

Dalam Alkitab, kita temukan bahwa Paulus memberikan perhatian yang besar terhadap perpecahan di dalam jemaat. Setidaknya ada dua surat yang dikirimkan Paulus yaitu surat Roma dan Surat kepada jemaat Korintus yang mengangkat persoalan perpecahan di dalam jemaat, dengan pola yang berbeda.

Pertama, dalam Surat Paulus kepada jemaat Roma, keprihatinan Paulus didasari pada kejadiaan yang ada di lingkungan Yunani-Romawi. Dalam masyarakat Roma ada cerita mengenai pemberontakan kaum plebeii (rakyat kecil) yang merasa tertekan oleh kaum patricii, golongan atas. Mereka meninggalkan kota Roma dan hendak mendirikan kota yang baru. Lalu seorang wakil dari golongan patricii mendatangi mereka dan menceritakan kepada mereka kisah anggota tubuh (tangan dan kaki) yang tidak mau lagi capai mencari makanan bagi perut, sebab mereka tidak kebagian. Laparlah perut. Tetapi sesudah beberapa lama, waktu semua anggota tubuh termasuk tangan dan kaki, ikut menderita. Maka sadarlah tangan dan kaki maka mereka kembali menunaikan tugasnya.

Perumpamaan tersebut dikutip Paulus untuk menggambarkan keprihatinannya atas ketidak peduliaan jemaat Roma terhadap satu dengan lainnya. (Rom. 12 :4-5). Karunia yang dimiliki seolah hanya untuk dimiliki sendiri, kalaupun seseorang mengambil peran di dalam jemaat karena karunia yang dimilikinya, peran itu tidak lagi dilakukan dengan sepenuh hati (Rom.12 :6-8).

Kondisi jemaat Roma yang terdiri dari Yahudi dan non Yahudi, sangat memungkinkan terbentuknya pengelompokkan berdasarkan kebangsaan (baca etnis) maupun berdasarkan keadaan ekonomi, hal ini dimungkinkan mengingat kota Roma adalah kota kosmopolitan yang dihuni para saudagar kaya dan juga buruh serta budak yang miskin.

Kondisi masyarakat yang majemuk, semula diharapkan menjadi kekuatan dalam persekutuan di jemaat, pada kenyataannya yang terjadi adalah hal yang sebaliknya, setidaknya menurut pandangan Paulus. Karunia seseorang tidak dijadikan sebagai berkat yang mempersatukan bagi jemaat, tetapi menghadirkan dinding pemisah.

Kedua, surat Paulus kepada jemaat di Korintus yang didasari adanya perselisihan di dalam jemaat karena adanya keberpihakan terhadap aliran-aliran yang mereka kagumi, seperti Apolos dan Paulus (1Kor.3 :4-5). Mereka menonjolkan aliran masing-masing, para pengikut Apolos merasa memiliki keunggulan dibandingkan dengan pengikut Paulus. Mereka larut pada “dogma” masing-masing sehingga gagal untuk memahami bahwa kabar yang dibawa Apolos dan Paulus adalah kabar yang sama yang disampaikan oleh Yesus Kristus.

Demikian halnya dengan ketidak mampuan mereka untuk berbagi satu sama lain (1Kor.11: 21), perjamuan malam yang seyogianya untuk memperlihatkan kesetaraan dan kesehatian mereka, serta melatih mereka untuk berbagi satu sama lain, pada kenyataannya hanya menjadi ajang untuk mempertontonkan kemampuan masing-masing individu dan kelompoknya, menurut Paulus hal ini menjadi cerminan kegagalan mereka untuk memahami kesatuan dalam kepelbagaian (1Kor.12 :12-26).

Hakekat Pelayanan

Paulus menyadari adanya rupa-rupa pelayanan (1Kor. 12 :5) yang bersumber pada satu Tuhan. Paulus tidak melihat pelayanan seperti memperlihatkan kemurahan, menolong orang lain dalam kesusahan atau sekedar memperlihatkan rasa simpatik adalah pelayanan yang lebih rendah dibanding dengan karunia-karunia karismatis yang jelas lebih “rohani”. Itulah yang dilupakan orang-orang korintus, yang mengejar karunia-karunia tanpa pelayanan kasih kepada orang lain (bnd. 1Kor. 13).

Aktivitas warga jemaat dalam komisi pelawatan saat menghibur orang sakit, ataupun menguatkan mereka yang berduka, tidaklah lebih rendah nilainya dibandingkan kotbah seorang pengkotbah di atas mimbar. Itulah kira-kira yang diingatkan Paulus kepada kita saat ini.

Allah dalam memperlengkapi umat-Nya dengan karunia-Nya tidaklah dimaksudkan diberikan untuk dinikmati secara pribadi, melainkan untuk kepentingan bersama. Seperti suatu tindakan mungkin sah, tetapi tidak baik bila tidak berhasil melayani orang lain (1kor.6 :12; 10 :23), demikian halnya dengan memiliki karunia roh tidak banyak artinya (kecuali, mungkin untuk kebanggaan pribadi) bila tidak digunakan untuk kepentingan orang lain.

Dalam konteks pelayanan, Paulus tidak berbicara tentang jemaat sebagai sebuah oraganisasi, melainkan organisme. Ia bukanlah sebuah sturuktur eksternal, melainkan orang-orang yang terjalin bersama, dengan masing-masing anggotanya melayani keseluruhan tubuh itu dengan memenuhi fungsi yang telah ditetapkan kepadanya. Lebih jauh, jemaat itu bukanlah semata-mata seperti sebuah tubuh; ia adalah tubuh Kristus (1Kor.12 :4-11).

Sebagaimana Paulus menggambarkan dalam Roma 12 :4-5 contoh tubuh manusia itu meng-gambarkan kepelbagaian rohani di dalam satu Tubuh Kristus. Orang-orang Korintus tahu benar tentang kepelbagaian ini, jadi maksud utamanya bukanlah kepelbagaian karunia dan anggota melainkan keesaan jemaat. Itu sebabnya Paulus memulai dengan pernyataan sentral : Tubuh manusia itu satu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh; tidak ada satu bagian atau organ pun yang dapat berada atau berfungsi di dalam dirinya sendiri, yang dapat mengklaim bahwa ia adalah sesuatu yang terpisah dari kesatuan organisme yang hidup keseluruhannya. Demikian pula Kristus di dalam Tubuh-Nya yaitu jemaat.

Singkatatnya Paulus tidak melihat anggota jemaat terpisah satu sama lain, dengan pandangan yang sama, Ia melihat setiap anggota memiliki peran dalam membangun sebuah jemaat dengan talenta yang dimilikinya. Tangan tidaklah lebih berharga dibandingkan dengan mata atau mulut, demikian halnya dengan kaki. Penerima tamu dengan sapaannya yang menghangatkan tidaklah kurang penting dibandingkan dengan pemimpin pujian atau lektor bahkan pengkotbah sekalipun. Masing-masing pelayan memiliki keunikan fungsi masing-masing untuk mendukung keutuhan pelayanan bagi kemuliaan nama Tuhan.

Merubah Pola Pikir

Bukan Paulus namanya jika tidak memberikan jalan keluar terhadap persoalan yang menjadi keprihatinannya. Demikian halnya dengan persoalan yang ada di jemaat Roma dan Korintus. Pertikaian yang terjadi menurut Paulus adalah buah dari kegagalan mereka dalam memahami makna pelayanan dan peran setiap anggota jemaat di dalam sebuah jemaat.

Paulus dengan tegas memberikan cara untuk dapat mengambil peran yang semestinya sebagai pengikut Tuhan, yaitu dengan cara berubah (metamorphousthai-Yun) melalui pembaharuan pemikiran (nous-Yun) LAI menerjemahkan budi (mind –NIV) lebih tegas CEV menerjemahkan but let God change the way you think (Rom.12: 2b).

Kata metamorphousthai dengan akar kata morphe berarti suatu bentuk atau unsur pokok yang tidak berubah, pengertian ini berbeda dengan schema yang merupakan bentuk luar yang selalu berubah-ubah. Dalam hal ini Roma 12 :2 “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Berarti untuk tidak sama dengan dunia yang penampilan luarnya selalu berubah (schema), kita harus mengalami perubahan (morphe) hingga unsur pokok pemikiran tidak berubah. Dalam kondisi ini kita dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Dengan bahasa yang lebih sederhana dapat disampaikan, bahwa untuk mengerti kehendak Allah, dan memahami peran di dalam jemaat diperlukan pembaharuan pola pikir secara permanen di dalam roh kudus. Pola pikir yang berubah dimaksud Paulus bukan yang tergantung pada situasi. Artinya saat posisi yang menguntungkan dalam pelayanan (misalnya ditempatkan pada posisi yang dikehendaki) dengan senang hati mengambil peran, namun saat sebaliknya sulit untuk memberikan dukungan. Atau saat pihak yang kita sukai mengambil peran kita sudi melibatkan diri, namun jika tidak, kita hanya sebagai penonton. Jika itu yang terjadi, kita masih sama dengan dunia yang senantiasa mengalami perubahan pada sisi luar semata (schema), tetapi Paulus menginginkan kita berubah secara total (morphe).

Gereja masa kini

Andai Paulus akan menuliskan suratnya kepada jemaat kita saat ini, apakah ia akan menuliskan sebuah keprihatinan atau pujian kebanggaan seperti kepada jemaat di Filipi ?

Kehidupan jemaat di dalam gereja modern saat ini kadang menjadi antiklimaks, dengan alasan kesatuan dan damai sejahtera, perbedaan pendapat seolah menjadi kealpaan demi menciptakan damai sejahtera. Kecenderungan yang terjadi bahwa perbedaan pendapat menjadi “tabu” kritik menjadi “haram” hingga segala ide diputuskan “nyaris” dengan kata bulat sesuai hirarkhi jabatan gerejawi. Hakiki hal ini tidaklah salah jika apa yang diputuskan menjadi milik bersama. Namun yang kerap disayangkan keputusan seolah menjadi milik si penggagas, sementara para “follower” (partisipan) cukup menjadi penonton akibat lemahnya pembedahan konsep sebelum diputus atau ketiadaan rasa memiliki terhadap keputusan yang diambil.

Benarkah gereja harus berjalan tanpa perbedaan pendapat dan daya kritis? Mari melihat hubungan Paulus dan Petrus. Petrus adalah pemimpin jemaat mula-mula bersama Yakobus saudara Yesus, sedang Paulus bukan termasuk dari keduabelas murid Yesus yang setia menemaninya di kala Yesus hidup. Namum saat Petrus berlaku “munafik” terhadap kalangan kristen non Yahudi, secara tegas Paulus mengkritik. Yang terjadi kemudian adalah pembaruan dalam pola pikir Yakobus terhadap keselamatan bagi kaum non Yahudi. Pada sisi lain, hubungan Petrus dengan Paulus tidak mengalami kerenggangan.

Tentu tidak seluruh perselisihan di antara para Rasul membawa “happy ending” lihat saja hubungan Paulus dan Barnabas, mereka akhirnya berpisah dalam pelayanan karena berbeda pendapat perihal Yohanes yang disebut Markus (Kis.15: 37-41), tetapi mereka tetap tidak berubah dalam panggilannya untuk memberitakan kabar baik.

Menurut penulis kondisi tersebut tercipta setidaknya di dasari pada dua hal, pertama Paulus, Petrus maupun Barnabas memiliki tujuan yang sama, yaitu melayani Tuhan dengan memberitakan kabar baik. Paulus, Petrus dan Barnabas, dapat dipastikan memiliki kepentingan pribadi yang berbeda, tetapi kepentingan pribadi mereka tidak melampaui tujuan bersama sebagai hamba Tuhan, yaitu melayani Tuhan. Kedua mereka terbuka terhadap pembaharuan. Petrus terbuka untuk dikoreksi walaupun oleh seorang pengikut Kristus yang lebih junior, Paulus bersedia menerima perbedaan pendapat dengan Barnabas, walau Barnabaslah yang pertama kali mengenalkan Paulus kepada para murid, (Kis.4 :36) dan teman sepelayanannya.

Tidak jarang symptom (gejala) dari perpecahan di dalam jemaat diawali dari lemahnya pemahaman akan tujuan yang sama dari setiap warga jemaat. Kepentingan kelompok misalnya melampaui tujuan, sentimen pribadi melampaui panggilan tugas pelayanan. Perbedaan pandangan belum menjadi sebuah proses untuk menghasilkan hal yang lebih baik. Respon yang memadai terhadap symptom diharapkan akan mencegah munculnya ketidakpedulian terhadap aktivitas geraja bahkan konflik yang terbuka.

Harapan

Kesatuan dalam kepelbagaian bukanlah suatu proses instan yang dapat dicapai dalam waktu singkat, ini adalah proses yang berkelanjutan yang dimulai dari proses kepekaan setiap jemaat akan perannya di dalam sebuah jemaat.

Bagaikan anak kecil yang kerap diingatkan untuk memberi salam kepada orang yang ditemuinya, pada saatnya ia akan melakukan hal tersebut tanpa harus diingatkan. Demikian halnya dengan jemaat, kepekaan akan hadir bila hal itu kerap diperbincangkan. Media terdepan dalam sebuah gereja adalah kotbah.

Kebiasaan memperbincangkan kehidupan jemaat sebagai sebuah ilustrasi yang relevan dengan topik kotbah menurut penulis dapat mendorong kepekaan dan kepedulian diantara sesama jemaat. Setidaknya ajakan untuk berbagi kasih kepada jemaat dalam arti luas, yang kerap disampaikan dalam doa, tentu pada waktunya akan membuahkan kepekaan satu sama lain.

Jika Paulus seorang penganiaya jemaat dapat merubah pola pikirnya menjadi pelayan jemaat Tuhan, maka bukan hal yang sulit bagi kita sebagai anggota jemaat yang memiliki Alkitab untuk dapat merubah pola pikir untuk ambil peran.

Akhirnya, biarlah kita berharap jika Paulus akan menuliskan suratnya kepada kita, yang tertulis sebagai kata pembukanya adalah “Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu. Dan setiap kali aku berdoa untuk kamu semua, aku selalu berdoa dengan sukacita. Aku mengucap syukur kepada Allahku karena persekutuanmu dalam Berita Injil mulai dari hari pertama sampai sekarang ini. (Flp. 1 :3-5)

Bacaan :

1. Dave Hagelberg, Tafsiran Surat Roma dari Bahasa Yunani, Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 2004.

2. Th van den End, Tafsiran Alkitab : Surat Roma, BPK Gunung Mulia, Jakarta :2003.

3. Hasan Susanto, Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru (PBIK), LAI, Jakarta : 2004

4. R.A. Jaffray, Tafsiran Surat Roma, Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 2007.

5. V.C. Pfitzner, Kesatuan dalam Kepelbagaian : Tafsiran atas surat 1 Korintus, BPK Gunung Mulia, Jakarta :2004.

6. William Barclay, Pemahaman Alkitab setiap hari Surat Roma, BPK Gunung Mulia, Jakarta :2003.

7. William Barclay, Pemahaman Alkitab setiap hari Surat 1 & 2 Korintus, BPK Gunung Mulia, Jakarta :2008.
Tulisan ini dimuat dalam Buletin Mercusuar Edisi 19/Desember 2010.

Kamis, 09 Desember 2010

Teladan Sang Penyemangat

Malam ini seharusnya aku mengerjakan pekerjaan yang terpending dan sudah harus diserahkan esok pagi, tetapi pikiran ku tak dapat diajak kompromi. Ia menerawang jauh melewati batas waktu yg telah kulalui. Rencana memang sudah diniatkan untuk menulis lebih serius tentang seseorang yang memberi makna dalam hidup ini, tetapi malam ini jemari dan pikiran seolah senada untuk enggan menunda bergerak bersahaja.

Pdt. Ruben Bangun, M.Th adalah sosok seorang Pdt. yang sebagian orang mengenal agak “eksentrik”, beliau spesialis PB (Perjanjian Baru). Awal perkenalan kami adalah saat mengikuti perkuliahan di STT Abdi Sabda. Kedekatan ini berlanjut karena pada akhirnya perkulihan berubah menjadi “privat”. Semula kami ada tiga orang yang mengambil mata kuliah yang sama PB 1, tetapi karena seorang teman meninggal dunia, dan tak lama yang satu menghilang tanpa jejak, maka tinggal seorang diri mencoba bertahan.

Saat berkunjung ke rumah beliau, begitu terkejut melihat koleksi buku yang luar biasa banyaknya, laiknya sebuah perpustakaan mini. Sang pendeta selalu meminjamkan ku buku-buku yang tidak hanya bidang biblika tetapi buku politik bahkan budaya. Saat tidak lagi mendapatkan mata kuliah dari beliau, kami masih tetap kerap berjalan bersama sambil berdiskusi tetntang berbagai hal.

Saat seluruh perkuliahan tetah diselesaikan dan tinggal menulis tesis, aq dipindah tugas dan membuat segala sesuatunya terbengkalai. Pak Bangun tidak pernah ragu sedikitpun untuk memberikan dorongan dan semangat, agar aq tetap melanjutkan dan menyelesaikan tugas akhir. Asa ini kadang “nyaris” terputus melihat jarak dan waktu yang kadang tak terjangkau. Semangat tidak hanya disampaikan beliau, tetapi contoh yang faktual. Pak Bangun mengalami penyakit diabet parah, kemana pun beliau pergi selalu membawa suntikan insulin untuk menurunkan kadar gula darahnya. Namun dengan keterbatasan fisik, beliau tak pernah berhenti untuk melaksanakan tugasnya bahkan setelah menjadi Pdt. emeritus beliau tidak pernah berhenti mengajar. Tidak hanya sekedar mengajar, membeli dan membaca buku tetap dilakukannya. T

Walau beliau tidak pernah membandingkan keadaannya dengan permasalahan yang ku hadapi, tetapi hati ini seolah terbakar untuk tidak menyerah. Pada akhirnya aq memang menyelesaikan tugas akhir ku, tetapi beliau tidak lagi ada pada saat itu. Beliau telah pergi dengan tenang tanpa aq dapat bersua untuk yg terakhir.

Pdt. R. Bangun telah memberiku teladan untuk tidak menyerah, memberiku contoh disiplin yang mengagumkan. Walau kami hanya berdua, tetapi kami tidak pernah melanggar jam perkuliahan laiknya sebuah kelas. Walau kami dekat secara pribadi, namun tidak pernah ada kompromi masalah date line tugas dan kesempurnaan sebuah tugas.

Engkau bukan saja Dosen bagiku, tetapi Bapak, Pendeta, penyemangat dan teladan ku …. Terimakasi Pak Bangun. (has09122010-BKS)




Senin, 11 Oktober 2010

Mujizat

Oleh : P. Erianto Hasibuan, M. Div.

Luk. 17 : 11-19

Jika anda menginginkan kesembuhan, kata apa yang biasanya anda harapkan diucapkan oleh orang yang anda percaya dapat menyembuhkan anda? Saya kira di dalam kalimatnya seharusnya mengandung kata “sembuh”.

Tidak demikian dengan kesepuluh orang yang berpenyakit kusta, saat mereka berteriak "Yesus, Guru, kasihanilah kami!" mereka sudah melanggar aturan, karena menurut orang Yahudi, mereka yang berpenyakit kusta harus berteriak dengan mengatakan “najis”, sebagai peringatan orang disekitarnya untuk menjauh dari mereka. Secara psikologi, ini juga menggambarkan bagaimana terkucilnya mereka, tetapi kehadiran Yesus mampu membuat mereka merasa diterima. Dengan perjuangan seberat itu, sudah selayaknyalah mereka menerima jawaban yang menyejukkan dari Yesus, yang mereka percaya dapat menolong. Tetapi jawaban Yesus ngak nyambung sama sekali “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam”.

Seharusnya kesepuluh orang berpenyakit kusta ini akan menggerutu, seperti kita yang kerap menggerutu bila yang kita harapkan tak terpenuhi. Tetapi mereka tanpa protes menurut saja. Melangkah melaksanakan permintaan Yesus untuk pergi kepada imam.

Mereka yang berpenyakit kusta pergi ke imam artinya untuk membuktikan bahwa mereka telah sembuh dan tahir. Hanya imam yang dapat menyatakan mereka tahir. Padahal saat melangkah ke arah imam, mereka belum sembuh, tetapi langkah iman mereka yang telah menyembuhkan mereka dan mujizat pun terjadi. Jika anda ingin ada mujizat dalam hidup anda, segeralah ambil langkah, bukan langkah untuk memperdebatkannya, tetapi langkah untuk bertindak melampaui hasil, bukankah penulis ibrani menuliskan: Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.(Ibr. 11:1). Selamat melangkah … (has10102010)

Bacaan :

Luk. 17 : 11-19

17:11 Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea.

17:12 Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh

17:13 dan berteriak: "Yesus, Guru, kasihanilah kami!"

17:14 Lalu Ia memandang mereka dan berkata: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam." Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir.

17:15 Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring,

17:16 lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria.

17:17 Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?

17:18 Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?"

17:19 Lalu Ia berkata kepada orang itu: "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau."

Kamis, 30 September 2010

Keluarga yang Diberkati

Oleh : P. Erianto Hasibuan, M.Div

Mazmur : 127 : 1-5

127:1 Nyanyian ziarah Salomo. Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga. 127:2 Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah -- sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur. 127:3 Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah kandungan adalah suatu upah. 127:4 Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda. 127:5 Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu. Ia tidak akan mendapat malu, apabila ia berbicara dengan musuh-musuh di pintu gerbang.

Kitab Mazmur secara keseluruhan di bagi ke dalam 5 kitab, yang meliputi Kitab 1 : Mzm.1-41 : Manusia dan ciptaan; Kitab 2 : Mzm. 24-72 : Pembebasan dan Penebusan; Kitab 3 : 73-89: Penyemmbahan dan tempatnya; Kitab 4: 90-106: Gurun dan jalan-jalan Allah; Kitab 5: 10-150: Firman Allah dan Pujian.

Dengan demikian Mzm. 127 termasuk pada kitab 5 yang membahas Firman Allah dan Pujian. Firman Allah di sini berarti termasuk dalam pengajaran. Pengajaran yang menjadi penekanan pada Mzm. 127 adalah kekawatiran yang menjadi pokok persoalan di dalam kehidupan manusia. Menurut pemazmur ada 4 hal pokok yang menjadi sumber kekawatiran, yaitu :
1. Pembangunan rumah sendiri (1a)
2. Keamanan umum atau nasional (1b)
3. Kemakmuran pribadi (2)
4. Keturunan (anak) (3)

Pemazmur pada dasarnya mengkritik orang yang mengandalkan kepada kekuatannya sendiri, kritik ini bukan berarti pemazmur menyetujui kemalasan dan kelalaian, karena Alkitab sama sekali tidak pernah menjanjikan hadiah apapun bagi kemalasan dan kelalaian (Mzm. 128:2 Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu!)

Kekawatiran pertama yang menjadi topik bahasan kita adalah Pembangunan rumah, tugas pokok kita adalah membangun rumah Allah di bumi, rumah Allah yang termasuk juga rumah tangga kita. Lihat seberapa banyak rumah tangga yang oleng bahkan tenggelam. Atau rumah tangga yang pada akhirnya tidak menghasilkan anak panah yg ditangan pahlawan, tetapi anak panah yang tidak tentu arah.

Membangun dengan Pola Tuhan

Bagaikan seorang “enjiner” yang akan membangun rumah, memerlukan arsitektur bangunan sebagai guidence untuk membangun sesuai dengan gambaran yang digariskan agar bangunan sesuai dengan yang digambarkan.

Demikian halnya dengan seorang kepala rumah tangga dalam membangun rumah tangganya, ia harus memahami POLA YANG BENAR membangun rumah tangga sesuai dengan pola TUHAN. Ilustrasi berikut akan menolong kita untuk memahaminya :

Di kamp tawanan tempat sekumpulan tentara Amerikan ditahan sebagai tawanan perang, diceritakan bahwa karena tidak memiliki uang, mereka terpaksa main barter jika ada seorang tentara memiliki barang yang diingini tentara lain.

Tetapi suatu hari datang sebuah paket yang berisi beberapa permainan monopoli. Para tentara itu gembira, bukan karena permainan tersebut, tetapi karena uang mainan itu. Mereka segera membaginya, masing-masing menerima jumlah yang sama yakni lembaran $500, $100, $50, $10, $5 dan $1. Hal itu membuat berbelanja jadi gampang. Tetapi seorang tentara kapitalis sangat tangkas dalam membeli dan menjual dengan harga mahal. Dalam waktu yang tidak lama ia telah mengumpulkan hampir semua uang di kamp tersebut.

Pada saat itu, para tawanan itu diterbangkan ke Los Angeles. Salah satu hal pertama yang dilakukan oleh teman kapitalis ini adalah pergi ke Bank untuk membuka rekening. Setelah mengisi formulir, ia menyerahkan $325.413. Si Teller mengambil selembar uang itu dan melihat bahwa uang itu adalah uang mainan monopoli kemudian memanggil manajer. Adalah jelas bagi si Teller bahwa tentara itu menderita gangguan jiwa.

Inti dari cerita ini adalah bahwa uang monopoli itu mungkin baik kalau digunakan dalam permainan atau di kamp tahanan, tetapi itu tidak dapat digunakan di dunia perdagangan. Demikian halnya dengan POLA KEBENRAN TUHAN. Banyak orang bahkan di Gereja sekalipun bermain dengan Pola Kebenaran yang mereka yakini sendiri, tetapi tidak sesuai dengan Kebenaran Tuhan. Mereka merasa mereka benar karena mereka unggul dalam banyak hal dari orang lain.

Contoh nyata dalam Alkitab akan hal ini adalah Orang Yahudi, menurut penilaian Rasul Paulus yang juga orang Yahudi. Roma. 10: 2-3 Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka, bahwa mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar. 10:3 Sebab, oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah.

Kesia-siaan yang dimaksud Pemazmur adalah kesia-siaan karena apa yang dilakukan tidak dilandaskan akan pemahaman yang benar akan Kebenaran Allah. Kita gagal dalam membangun rumah tangga bukan karena kkita tidak mampu atau kita terlalu egois untuk berbagi, tetapi karena kita tidak memiliki pemahaman yang benar akan rumah tangga yang berkenan pada Allah.

Pola yang diinginkan Tuhan adalah Tuhan akan memberkati mereka yang hidup bukan dengan penuh kekawatiran, tetapi ketenangan, yang digambarkan dengan Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur (2) TIDUR adalah perlambang ketenangan (Mat. 6:25)

Materi ini disampaikan pada Ibadah Oikumene di Pd. Gede Bekasi 22 Agustus 2010.

Rabu, 29 September 2010

Benarkah Sorga itu ada?

Oleh : P. Erianto Hasibuan

PENGANTAR
Dalam sebuah pembicaraan saat perjalanan pulang ke rumah dari tempat kerja, seorang teman menceritakan bagaimana ia mulai mengalami pergeseran nilai. Sebagai penganut Khatolik yang taat, baginya tidak ke Gereja adalah “dosa” itu yang ditanamkan oleh keluarga padanya sejak usia dini, namun sejak menikah menjadi berbeda. Hal itu tidak lepas dari “doktrin” yang diberikan sang suami, bahwa ke gereja atau tidak bukan hal yang esensi, tetapi bagaimana berbuat baik terhadap sesama itulah yang esensi. “Toh, kita tidak tahu sorga itu ada atau tidak” ucapnya menirukan sang suami. Yang menarik bagi penulis, bahwa si suami adalah aktivis gereja bahkan pernah sebagai ketua muda/mudi se Indonesia. Bertolak dari diskusi kecil itu, penulis memutuskan untuk mendasari tulisan kali ini atas diskusi kecil itu, dengan judul yang sedikit “menggoda” Benarkah Sorga itu ada ?.

Sejarah Gereja

Era Abraham hingga Musa Pra Perjanjian Sinai, Ritual menjadi media utama umat berhubungan dengan Allah. Ritual pokok yang mereka lakukan adalah memberikan korban bakaran kepada Allah. Belum ada pengajaran pada masa itu.

Era Musa pasca perjanjian Sinai (turunnya Hukum Taurat) Ritual masih menjadi sentral, yang berpusat pada tabut perjanjian sebagai simbol kehadiran Allah. Pembacaan Hukum Taurat telah di lakukan, sebatas ritual dan bukan kajian.

Era Salomo, umat Israel telah memiliki Bait Allah. Upacara telah di pusatkan di Bait Allah. Ritual masih menjadi pokok disertai dengan pemberian korban bakaran. Bait Allah menjadi simbol Kehadiran Allah, dan setiap umat Yahudi dewasa wajib melakukan ziarah ke Bait Allah saat perayaan Paskah.

Pasca pembuangan ke Babel, Bait Allah tidak lagi menjadi sentral karena umat yang berada di pembuangan tidak dapat melakukan ziarah ke Bait Allah karena alasan jarak dan politis. Sinagoge mulai didirikan, tabut perjanjian tidak lagi tersedia, sekalipun ritual tetap dilakukan tetapi pengajaran akan hukum taurat dan kitab para nabi menjadi kebutuhan kaum Yahudi di pembuangan.

Sinagoge kian berkembang sejalan dengan kembalinya para umat dari pembuangan. Sekalipun umat yang kembali dari pembuangan membangun kembali Bait Allah, namun fungsinya laiknya Sinagoge. Pada masa Yesus, Sinagoge (Bait Allah) adalah sentral bagi umat Yahudi dalam mendengarkan pengajaran Taurat dan kitab para nabi, setiap orang yang memiliki kemampuan untuk memberikan pengajaran, diberikan kesempatan untuk mengajar dan berdiskusi di Sinagoge, termasuk Yesus pada masanya.

Ritual dan korban persembahan tetap dilakukan, namun bukan lagi sebagai sentral. Penyimpangan fungsi Bait Allah pada masa Yesus sangat nyata, tempat yang seharusnya digunakan untuk mendiskusikan Taurat Allah dan Kitab para Nabi, serta bersekutu kepada Allah telah menjadi ajang mencari keuntungan. Yesus menghardik mereka yang mengambil keuntungan dari keberadaan Sinagoge (Bait Allah). Sinagoge adalah model buat gereja yang ada saat ini. Ritual tetap dilakukan sejalan dengan pengajaran melalui Kotbah untuk memberikan pertumbuhan iman jemaat.



Masihkah Gereja diperlukan ?

Dalam kehidupan modern dan demokratis saat ini, apapun dapat digagas dan diperdebatkan. Termasuk eksistensi Gereja. Pertanyaan ini umumnya muncul dari mereka yang merasa kecewa dari pelayanan yang diberikan Gereja. Pelayanan Gereja secara umum masih berpusat pada “sang” Pelayan yaitu Pendeta (Hamba Tuhan). Kotbah yang monoton, perkunjungan yang tidak seperti yang diharapkan, belum lagi konflik internal, umunya dijadikan alasan untuk mereduksi peran gereja.

Pendegradasian peran Gereja secara sederhana sesungguhnya sangat tergantung pada sudut pandang jemaat terhadap Gereja. Andai kita mengikuti pendapat Bapa Gereja St. Agustinus yang menyamakan Gereja dengan Kerajaan Allah, maka konflik yang terjadi di tubuh Gereja akan dijadikan pembenaran untuk tidak lagi perlu ke Gereja karena hilangnya peran gereja sebagai Kerajaan Allah. Pertanyaan sederhana akan muncul. “Lho koq di dalam Kerajaan Allah masih ada konflik?”

Para Pelayan Firman masih belum dapat terlepas dari pengajaran “seolah” Gereja adalah sarana untuk menuju ke Kerajaan Sorga. Mereka yang rajin ke Gereja seolah diidentikkan dengan mereka yang akan masuk ke dalam Kerajaan sorga, sementara tidak jarang mereka yang rajin ke gereja bahkan aktif dalam kegiatan di gereja, menjadi trouble maker (pembuat masalah) di lingkungan di mana ia berada. Kondisi tersebut akan memperkuat pendapat yang membenarkan bahwa yang penting adalah berbuat baik, ke gereja “tidak terlalu penting” toh kita juga tidak tahu sorga itu ada atau tidak.

Gereja jalan menuju Sorga atau Menghadirkan Sorga

Jika kepada kita ditanya “ Apakah Gereja ada untuk membawa kita ke Kerajaan Sorga? atau Gereja ada untuk menghadirkan Kerajaan Sorga di dunia?” Andai jawaban kita masih berbeda satu sama lain, artinya kita masih butuh waktu untuk menyamakan persepsi. Kita masih ada pada fase rekonsiliasi belum pada tahapan aktualisasi.

Jika jawaban kita yang pertama, maka itu artinya kita masih ada di era pra Sinagoge, dimana Gereja adalah tempat yang sakral yang dapat memberikan akses kepada kita untuk menuju ke sorga. Impikasinya, seremoni atau ritus ibadah dianggap mahapenting, atau satu-satunya yang penting, maka persoalan-persoalan etika atau moral (sosial, politik, budaya, seks dll) tidak mendapat perhatian serius. Misalnya: seorang warga jemaat bisa sangat terganggu “imannya” melihat seorang Pendeta.atau Penatua yang kebetulan flu, batuk-batuk atau membuang ingus saat memimpin ibadah, namun bisa tidak terusik sama sekali mendengar kabar penggusuran orang-orang miskin tanpa ganti rugi, ketidak adilan yang terjadi, atau melihat koleganya melakukan korupsi.

Mengingat sedemikian sakralnya sebuah ibadah, kadang kita begitu berambisi untuk tetap dapat mengikuti setiap liturgi secara langsung, hingga tempat duduk keluarga kita yang belum dapat dipastikan untuk hadir di gereja sekalipun telah kita sediakan, di bagian yang sangat strategis tentunya, walau hingga akhir ibadah tempat itu tetap kosong, karena keluarga yang telah kita sediakan tempatnya tidak kunjung hadir. Sementara kita tidak merasa tergangu sekalipun telah menyusahkan jemaat lain yang kewalahan mencari tempat duduk.

Pandangan ini boleh jadi terpengaruh oleh pendapat Albert Schweitzer, yang melihat Kerajaan sebagai tempat berkat masa depan yang terjadi pada kedatangan kedua bagi umat Allah (1Kor.15:50; Mat.8:11; 2Pet.1:11; Mat.25:34). Para pengikut Yesus masuk ke dalam Kerajaan ketika ia kembali. Kerajaan yang akan datang akan mengakhiri orde lama kemanusiaan dan memulai kehidupan baru dalam tatanan Sorgawi. Dengan demikian, Kerajaan sama sekali masa depan dan supranatural. Artinya Albert Schweitzer mengakui bahwa Kerajaan Allah tidak bersifat imanen (sekarang) tetapi transenden (masa depan) yang kehadirannya tidak diciptakan manusia, tetapi dari Allah (supranatural).

Risiko terbesar dari pandangan ini telah disampaikan dalam Injil Matius 7 : 21 “ Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.”

Jawaban yang kedua menunjukkan kita memahami makna kehadiran Yesus ke dunia, bagaimana Yesus mengembalikan fungsi Bait Allah yang pada masa itu telah berubah menjadi “sarang penyamun”, ke fungsi semula sebagai tempat belajar, di mana Yesus tiap-tiap hari mengajar di Bait Allah (Luk.19:46). Fungsi ritual tetap ada, namun sentralnya adalah bagaimana Firman Tuhan di sampaikan saat ini, sehingga persis seperti apa yang di sampaikan Paulus kepada jemaat di Filipi :” Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.(Flp.4:9)

Pandangan ini ditegaskan kembali oleh pendapat C.H. Dodd bahwa Kerajaan Allah (baca sorga) itu dinyatakan sepenuhnya dalam pelayanan Yesus. Kerajaan Allah adalah sebuah dunia tempat di mana terdapat kebenaran, kedamaian, dan sukacita. Ini adalah manfaat bagi mereka yang tinggal menyerahkan hidup kepada aturan Roh. KERAJAAN SORGA SEBAGAI REALITAS SEKARANG INI didasarkan pada bagian-bagian seperti Roh Allah yang bekerja nyata dalam kehidupan manusia (Mat.12:28); unsur Kerajaan Allah (Sorga) berupa KEBENARAN, DAMAI SEJAHHTERA DAN SUKACITA oleh Roh Kudus nyata dalam kehidup-an sehari-hari (Rm.14:17), dan Allah menjadi hakim yang memberi kedamaian bagi segala bangsa dengan mengedepankan perdamaian dan kesejahteraan bagi segala bangsa (Yes.2.4).

Eksistensi Sorga

Istilah Sorga sesungguhnya berkaitan dengan Kerajaan Allah ( η βασιλεια του θεου - hê basileia tou theou), dalam Injil Sinoptik hanya Matius yang menggunakan istilah Kerajaan Sorga ( η βασιλεια του ουρανου - hê basileia tou ouranou) Konsep Kerajaan Allah juga mempunyai aspek yang berhubungan dengan masa kini dan masa yang akan datang. Kerajaan itu merupakan suatu kenyataan yang sekarang di dalam dunia ini, sebagaimana Tuhan Yesus berkata "Kerajaan Allah ada di antara kamu" (Luk.17:21), maka berkat-berkat Kerajaan Allah (di antaranya adalah : Pengampunan, Keselamatan, dan Kehidupan kekal) menjadi milik yang dapat dinikmati oleh orang-orang yang percaya, yang dapat dinikmati tidak hanya pada masa yang akan datang, melainkan juga pada masa sekarang ini. Aspek kekinian yang nyata adalah saat Yesus mengajak umat untuk ber-tobat karena waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. (Mrk.1:15)

Tuhan Yesus mengajarkan bahwa dengan kedatangan DiriNya sendiri, Kerajaan Allah itu sebenarnya sudah datang, dan juga jelas bahwa Ia memandang ke masa yang akan datang pula, saat kuasa Allah yang berdaulat penuh itu pada akhirnya tampak dengan nyata. Murid-muridNya harus berdoa begini "Datanglah KerajaanMu" dan memperlihatkan dengan waspada agar melihat "Kerajaan Allah (telah) datang dengan kuasa" (Mrk.9:1, Mat.25:1). Mujizat-mujizat yang mereka lihat dilakukan oleh Tuhan Yesus, yang mereka sendiri juga lakukan dengan kekuatan Tuhan Yesus adalah tanda yang jelas bahwa Kerajaan itu sudah ada. Tetapi peperangan dengan Iblis masih berlangsung terus dengan seru hingga kemurtadan masih terjadi (1Tim.4:1), perilaku yang tidak sejalan dengan ajaran Yesus masih terjadi (2Tim.3:1-5) sekalipun tidak ada keraguan sedikitpun tentang hasil akhirnya : Baik pada masa sekarang maupun pada masa yang akan datang, Allah yang memerintah sebagai Raja menuntut manusia untuk menyerahkan dirinya dengan penuh ketaatan. Manusia tidak dipanggil untuk membangun atau mendirikan sendiri Kerajaan itu, melainkan hanya mencarinya dan memasukinya : Matius 6:33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

Dengan pengakuan bahwa sebenarnya Kerajaan Allah itu sudah datang, sebagaimana yang diakui oleh para teolog penting seperti G.E Ladd (1974), E. Stauffer (1955), O. Cullmann (1951), W.G. Kummel (1957) dan H. Ridderbos (1962) yang mengakui aspek ganda (aspek kekinian dan keakanan) Kerajaan Allah, dengan tidak menghilangkan bukti yang ada. Sesungguhnya kita tidak lagi perlu meragukan kehadiran eksistensi Kerajaan Allah (baca : sorga) di bumi saat ini.

Refleksi

Bila kita tidak lagi meragukan eksistensi Kerajaan Allah (baca: sorga), pilihan selanjutnya bahwa Gereja ada untuk menghadirkan Sorga di dunia. Kehadiran sorga di dunia ditandai dengan hadirnya unsur-unsur Kerajaan Allah yaitu kebenaran, damai sejahtera dan sukacita (Rm. 14:17) di dunia saat ini melalui interaksi para warga gereja di manapun mereka di tempatkan.

Bagaimana gereja merealisasikannya, sebagaimana yang dinyatakan Paulus dalam Roma 14:17 ”Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.” Artinya Kerajaan Allah (baca : sorga) bukanlah suatu tempat atau wilayah, tetapi SUASANA dimana hadir KEBENARAN, DAMAI SEJAHTERA dan SUKA CITA. GEREJA memiliki PERAN SENTRAL melalui PENGAJARAN BERKELANJUTAN yang mengarahkan warga gereja untuk memiliki karakter yang menggambarkan kehadiran Kerajaan Allah di bumi. Dengan cara ini, eksistensi gereja tidak lagi mengalami set back ke era pra pembuangan (diaspora), dimana Bait Allah berfungsi sentral sebagai wahana ritual semata, atau menjadikan mimbar sebagai wahana hiburan untuk mendengarkan ”KOMEDI” TANPA MAKNA, atau sekedar CERITA PELEPAS RINDU. Bukankah penyimpangan fungsi Bait Allah tersebut secara nyata telah dikembalikan oleh Yesus dengan menghardik para ”penyamun” dan mengembalikan fungsinya sebagai tempat untuk mengajar setiap hari ? Setiap kali kita mengalih fungsikan Bait Allah (baca : mimbar) selain fungsi pengajaran maka secara tidak langsung kita telah mengijinkan ”PARA PENYAMUN” hadir kembali di Bait Allah, sesuatu yang telah di bersihkan oleh Yesus lebih dari 2.000 tahun yang lalu.

Sekali lagi bukan penulis (Erianto) tapi FIRMAN TUHAN yang menegaskan bahwa SORGA ITU ADA, dan telah ada saat ini, tugas Gereja bukan membawa umat ke dalam Kerajaan Sorga, tetapi menghadirkan suasana Kerajaan Sorga di bumi saat ini. Mari mulai untuk mengkonsumsi makanan keras tidak hanya sekedar susu (1Kor.3:2). SELAMAT ULANG TAHUN GKI. PAX VOBISCUM.

Tulisan ini di muat dalam Buletin Mercusar edisi Khusus September 2010.



Bacaaan :

1. Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru I, diterjemahkan oleh : Lisda Tirtapraja Gamadhi, dkk. BPK Gunung Mulia, cet. 11, Jakarta: 2006

2. Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru 2, diterjemahkan oleh : Jan. S. Aritonang, BPK Gunung Mulia, cet. 9, Jakarta : 2006

3. George Eldon Ladd, Teologi Perjanjian Baru I, diterjemahkan oleh : Urbanus Selan, dkk., Yayasan Kalam Hidup, Bandung: 2002

4. Hasan Susanto, Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru (PBIK), LAI, Jakarta : 2004

5. Myles Mounroe, Rediscovering The Kingdom, diterjemahkan oleh : Sri Wandaningsih, Immanuel Publishing House, Jakarta : 2006.

6. What's All This Kingdom Stuff: An Introduction to Kingdom of God Theology Sumber: http://www.sbl.org/wbs/kingdom di akses (21 Des 2009)

7. Artikel Penuntun Kerajaan Allah, Sumber : http://www.sarapanpagi.org di akses (21 Maret2010)

Rabu, 18 Agustus 2010

Harga diri yang hilang

P. Erianto Hasibuan
Siapa yang tidak kenal dengan Imam Eli, seorang Imam di Silo yang semula mengira Hana (ibu Samuel) sedang mabuk karena mulutnya komat-kamit tanpa suara saat berdoa. Sekalipun demikian, Eli yang memberi keyakinan kepada Hana bahwa TUHAN akan mengabulkan Doa Hana.
Eli berhasil mendidik Samuel sebagai nazir di dalam asuhannya. Namun siapa yang menyangka bahwa Imam yang begitu dihormati tersebut ternyata gagal menanamkan kedisiplinan kepada anak-anak dan keluarganya. Ia tidak mampu menanamkan kedisipkinan kepada anak dan keluarganya. Bahkan hal yang paling mendasar sekalipun ia gagal menamkannya, yaitu penyalah gunaan wewenang. Kedua anak Eli telah menyalah gunakan wewenangnya sebagai anak Imam, mereka tidak hanya memanipulasi pengajaran kepada umat, saat umat mempertanyakan bahwa daging persembahan seharusnya dibakar terlebih dahulu lemaknya, baru dagingnya diambil, tetapi mereka bahkan berani mengambil HAK TUHAN, yaitu persembahan bakaran.
Pada akhirnya Eli kehilangan kedua anaknya Hofni dan Pineas yang mati pada hari yang sama. Eli sesungguhnya berharap kedua anaknya akan menggantikannya, dapat diduga bahwa Eli begitu mencintai anaknya, hingga ia tidak mampu menanamkan kedisiplinan kepada kedua anaknya. Tuhan memang tidak menghendaki kita menghormati apapun termasuk anak-anak kita melebihi hormat kepada TUHAN.
Republik ini belum lama merayakan hari kemerdekaan, pada saat yang sama pemimpin negeri ini, telah gagal menanamkan teladan kepada rakyatnya dalam hal memisahkan tugas kenegaraan dengan kepentingan keluarga. Pemberian souvenir yang menyangkut anak dan isteri tentu menggambarkan kecintaan sang pemimpin kepada anak dan isterinya yang dibarengi harapan laiknya Imam Eli, namun kehormatan yang diharapkan dapat berbuah hilangnya harga diri pada saat sang pemimpin tidak lagi mampu menyatakan tidak atas keinginan orang-orang terdekatnya. Semoga apa yang dialami Imam Eli tidak lagi terulang pada siapapun. (has18082010)

Minggu, 18 Juli 2010

Pemungut Cukai haruskah dibenci?

Oleh : P. Erianto Hasibuan
Istilah pemungut cukai (Yunani : telones) dalam PB adalah pengumpul cukai atau bea demi kepentingan Roma, yang ditugasi oleh kontraktor. Pola pengumpulan cukai atau bea (pajak) di era PB tidaklah sama dengan apa yang diterapkan di negara kita saat ini. Para pemungut (kontraktor) diberi target tertentu oleh penguasa (Roma) dan mereka dapat secara bebas memungutnya dari masyarakat, karena masyarakat umum juga tidak memahami dengan baik perhitungan tarif yang digunakan. Selisih antara target yang ditetapkan pemerintah Roma dengan yang berhasil meraka pungut akan menjadi keuntungan bagi para pemungut cukai. Jadi tidak heran jika para kontraktor (pemugut cukai) menjadi kaya, sebagaimana Zakheus, kepala pemungut cukai, seorang yang kaya (Luk.19:2).
Dalam melakukan pemungutan di wilayah kerjanya, para kontraktor juga dapat mempekerjakan para sub kontraktor pribumi yang membantu mereka dalam memungut pajak. Dapat dibayangkan bagaimana para pemungut cukai dapat memperkaya diri dengan menerapkan beban pajak semau mereka, sebagaimana yang diakui sendiri oleh Zakheus dalam Luk. 19:8… sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang…, jadi wajar jika Cicero menganggap jabatan pemungut pajak rendah, karena kebencian yang diakibatkannya.
Orang Yahudi fanatik (seperti kaum Zelot) sangat membenci kelompok ini, bahkan menganggap para pemungut cukai adalah najis, karena mereka senantiasa berhubungan dengan kafir dan bekerja pada hari sabat. Kenajisan ini, dan ajaran para nabi bahwa murid mereka tidak boleh makan bersama orang-orang demikian, menjelaskan sikap yang nampak pada ungkapan pemungut cukai dan pendosa. (Mat.9:10 dab,11:19;Mrk.2:15 dab; Luk.5:30,7:34,15:1).
Intlektualitas Vs Kehendak Allah.
Masih ingat dengan nama Don Wolf ?, seorang ilmuawan dari Oregon Regional Primate Centre di Beaverton yang mempublikasikan hasil cloning terhadap kera, sebagaimana yang dipulikasikan pada majalah New Scientist terbitan Inggeris. Dr. Richard Seed bahkan mengatakan bahwa manusia klona yang pertama akan lahir sebelum tahun 2001, pada bulan September 1998 dia mengumumkan rencananya untuk mengklona dirinya dan isterinya bersedia mengandung klona tersebut. Menurut Dr. Ian Wilmut, jika memang penelitian dilanjutkan pada manusia, hanya dalam waktu dua tahun teknik yang mereka kembangkan bisa diterapkan untuk membuat klona manusia dari sel tubuh manusia, bukan dari sel embrio. Artinya mungkin saja seorang meminta anaknya yang karena meninggal dalam kecelakaan lalu-lintas, diklona dari sel rambut atau sel kulitnya.
Kita tentu telah mengetahui bagaimana kelanjutan cerita, dari penemuan yang spektakuler tersebut. Penolakan besar-besaran terjadi dari sebagaian besar kalangan karena ada hal esensi yang dilangar dari sang peneliti yang “amat cerdas” tersebut, yaitu kehendak Allah memberikan anak adalah melalui hasil hubungan antara suami dan isteri, sedang klona adalah perbuatan yang menentang kehendak Allah.
Demikian halnya di negeri ini, para KORUPOR umumnya adalah dari mereka yang memiliki kekuasaan dan terdidik, bahkan “hot news” belakangan ini mengagetkan berbagai kalangan dengan “Skandal Perpajakan”. Keterlibatan para pegawai pajak, pamen dan pati (maaf tidak dimaksudkan mendahului putusan pengadilan) yang adalah mereka “kalangan terpilih”, menjadi keprihatinan tersendiri setidaknya bagi penulis. Jika disimak lebih lanjut kasus “mafia peradilan” yang belakangan ini banyak diberitakan, pihak yang terlibat sudah melibatkan secara signifikan kalangan teman seiman.
Kemampuan intlektual yang tidak diikuti dengan pemahaman kehendak Allah, akan sangat rentan menghasilkan generasi yang kurang memiliki pertimbangan etis teologis sebagaimana yang diperlihatkan Don Wolf dan Dr. Richard Seed, mereka memang tidak merugikan orang lain, sebagaimana yang dilakukan oleh para Koruptor di negeri ini, tetapi mereka alpa atas batasan hak Ilahi yang esensi, demikian halnya para Koruptor.
Salah Siapa ?
Persoalannya adalah, mengapa dengan kemampuan intlektual mereka yang di atas rata-rata tidak membawa berkat bagi orang disekitarnya, tetapi merugikan banyak orang, bahkan Negara?. Adakah kesalahan tersebut semata-mata berada ditangan mereka ataukah kita yang merupakan bagian dari lingkungan di mana mereka berada juga berperan ?.
Aspek pendidikan dan lingkungan saat ini, yang cenderung mengutamakan hal-hal yang sangat kuantitatif, bisa jadi memberi kontribusi besar. Lihat saja misalnya lembaga pendidikan yang ada di negeri ini, dengan tegas mendikotomi kalangan berduit dan kalangan “kere” bahkan sejak play grup sekalipun sudah terdikotomi sedemikan rupa, hingga masuk ke PTN (Perguruan Tinggi Negeri). Bukan rahasia lagi adanya jalur masuk yang “dipengaruhi” oleh kekuatan “sumbangan” dari para orang tua si anak didik.
Lingkungan tempat tinggal juga tidak kalah sengitnya, bahkan dikotomi tersebut sangat nyata, hanya dengan menyebut kompleks tertentu yang dikenal sebagai perumahan “mewah” seseorang serta merta dapat diperlakukan secara istimewa.
Singkat cerita, keunggulan seseorang cenderung dilihat dari apa yang mereka gunakan (merek produk juga bagian dari pencitraan target market-nya), di mana mereka tinggal, apa profesi mereka, dst. Sesungguhnya tidak ada yang salah dengan kesuksesan yang diraih seseorang dengan kerja keras, sehingga ia mendapatkan berbagai fasilitas yang membuat mereka menjadi unggul dan dihormati di masyarakat. Namun, sudut pandang yang mendominasi faktor apa yang dimiliki oleh seseorang, akan mereduksi pandangan yang lebih mulia dengan melihat apa yang dilakukan seseorang. Materi memang penting, namun seyogianya tidak berada di atas nilai-nilai etis teologis yang seharusnya.
Peristiwa seorang siswa “mencontek” saat ujian adalah symptom dari apa yang kerap diharapkan orang tua dan pendidik sebagai lingkungan. Siswa yang ingin “dihormati” oleh lingkungannya dengan cara instan akan menempuh cara apapun untuk mendapatkan hasil ujian yanga baik, bahkan yang sangat memprihatinkan, orang tua sendiri ikut serta mencarikan “joki” atau “bocoran” jawaban soal bagi anaknya yang akan ujian.
Mengapa peristiwa ini terjadi ? sudah barang tentu adalah keinginan untuk mendapatkan hasil yang “cemerlang” dengan cara instan dan tetap mendapatkan penghormatan dari lingkungannya (masyarakat), celakanya lagi lingkungan juga merespon hal demikian secara positif, dan menganggap hal yang wajar dan lumrah.
Artinya peristiwa para Koruptor, sesungguhnya tidak berdiri sendiri, kita sebagai bagian dari masyarakat yang memberikian apresiasi secara berlebih terhadap materi (hedoisme) juga berperan untuk menciptakan para “koruptor-koruptor” baru. Bayangkan jika gereja dalam melakukan aktivitasnya juga mendapatkan kontribusi pembiayaan secara signifikan dari mereka yang mendapatkan penghasilan dengan cara yang demikian, masikah kita dapat mengatakan bahwa gereja adalah tempat bagi orang-orang yang dipilih ?
Dasar Firman Tuhan
Bayangkan jika anda bagian dari keluarga salah satu Koruptor, dan telah menikmati berbagai fasilitas dan bantuan dari mereka. Apa yang anda akan lakukan, saat mengetahui bahwa orang yang selama ini anda sanjung-sanjung dan banggakan, karena berbagai bantuan dan fasilitas yang diberikannya ternyata memperoleh penghasilannya dengan cara yang tidak semestinya ?. Akankah anda ikut serta menghinanya dan memungkiri segala pemberian yang telah anda terima? Sekaligus mengucilkan mereka?, atau anda justru membelanya sebagai balas jasa dari apa yang telah anda terima selama ini? Atau jika anda adalah tetangga dari mereka, yang selama ini memandang mereka seolah sebagai “problem solver” dari berbagai persoalan dilingkungan, utamanya yang berkaitan dengan keuangan. Bagaimana sikap anda?
Cara pandang Kaum Yahudi terhadap para pemungut cukai sangat jelas, mereka adalah pendosa, yang dipandang rendah oleh masyarakat. Sekalipun pandangan umum di antara orang Yahudi pada zaman PB ialah bahwa menjadi kaya merupakan tanda dari anugerah khusus Allah dan bahwa menjadi miskin merupakan tanda ketidak setiaan pada pihak orang yang bersangkutan dan ketidak senangan pada pihak Allah (APHB : hlm. 1674)
Sekalipun para pemungut cukai adalah orang kaya, namun kaum Yahudi menolak pandangan mereka sendiri perihal kekayaan secara khusus terhadap para pemungut cukai seperti Zakheus. Dengan demikian jelas bahwa para pemungut cukai, sekalipun mereka kaya tetapi mereka adalah kalangan yang ditolak oleh masyarakat.
Yesus bukan tidak mengetahui bahwa Zakheus adalah seorang pemungut cukai, tetapi sapaan yang diberikan pada Zakheus dan ajakan untuk menumpang dirumahnya, dalam bahasa Yunani digunakan kata μείναι (meinai) untuk kata menumpang KJV menggunakan kata abide yang berarti tinggal. Bagaimana mungkin Yesus sebagai seorang Yahudi dapat tinggal di rumah Zakheus yang adalah seorang pemungut cukai, sementara untuk makan bersama saja bagi orang Yahudi sudah merupakan larangan keras, konon lagi untuk tingga di rumah pemungut cukai?
Yesus tidak memandang Zakheus sebagai seorang pemungut cukai semata, tetapi Zakheus sebagai orang yang terhilang dan memerlukan keselamatan. Karena untuk itulah Yesus datang dan memberitakan Injil, maka Yesus berkenan untuk tidak hanya sekedar makan bersama Zakheus, tetapi tinggal di rumahnya, yang artinya adalah membebaskan Zakheus dari penolakan.
Firman Tuhan dengan jelas memberikan pandangan yang bertentangan dengan pemahaman yang ada di masyarakat. Yesus di pandang aneh dan menjadi “musuh bersama” para kaum Farisi, Saduki dan kalangan Yahudi lainnya karena tindakan tersebut, namun tindakan Yesus yang penuh risiko telah memberikan pemahaman baru bagi kita secara konkret, akan arti sebuah sapaan yang menyelamatkan jiwa Zakheus, yang adalah perlambang dari kalangan yang terhilang.
Peran Gereja dan Keluarga
Gereja sebagai sebagai organisasi tempat para jemaat (ekklesia) berkumpul seogianya memberikan peran penting dalam membebaskan Zakheus- Zakheus masa kini dan mencegah kehadiran Zakheus- Zakheus baru yang tak kunjung bertobat.
Pembebasan dapat dilakukan dengan menyapa mereka bukan sebagai “anak yang hilang” tetapi bagaikan domba yang hilang atau dirham yang hilang (Luk.15:1-10), artinya ada usaha proaktif dari Geraja untuk menolong mereka kembali dalam persekutuan yang aktif. Upaya ini memang memerlukan usaha yang tidak sedikit, tidak cukup hanya KOMISI PELAWAT yang melakukan pelawatan, tetapi sudah mengarah pada aktivitas PASTORAL KONSELING. Berbeda dengan konsep “anak yang hilang” dimana gereja lebih bersifat pasif, tetapi dalam hal ini GEREJA yang PROAKTIF untuk menemukan para Zakheus.
Hambatan pokok dalam upaya ini umumnya ada pada keterbatasan tenaga yang tersedia, pengalaman penulis sebelumnya menunjukkan, bahkan angota jemaat yang telah lebih dari setahun tidak ikut bersekutu, gereja kadang tidak mengetahui, konon lagi mencari yang terhilang? Namun upaya sistematis kearah perbaikan bukan hal yang mustahil jika setiap pekerja gereja dan elemen yang ada di dalamnya memahami tugas panggilan pokoknya dengan baik. (dengan kata lain, para pekerja gereja mau mendengar, mau melihat, rajin berpikir dan belajar sertaberupaya memetakan dan memenuhi kebutuhan unat – red)
Upaya pencegahan sesungguhnya adalah hal terbaik untuk melahirkan para kaum intlektual kristen yang cerdas dan berkarakter Kristus. Kotbah-kotbah mingguan dan PA memang sangat membantu jemaat untuk membimbing kepada prilaku sesuai kehendak Allah. Namun dalam kehidupan yang sangat dinamis saat ini, menurut penulis upaya konvensional tersebut tidak lagi cukup.
Gereja selaiknya dapat memformulasikan program secara klasikal dan periodikal kepada para anggota jemaat yang akan memasuki fase tertentu dalam kehidupan dan pekerjaan. Seperti halnya dengan pra nikah, mengapa tidak dilakukan kepada para karyawan dan pengusaha yang akan mengemban tugas dan tanggung jawab yang lebih besar?.
Aspek teknis dan organisasi sudah barang tentu disiapkan oleh perusahaan atau dunia usaha masing-masing, namun aspek keimanan senantiasa luput, padahal aspek ini yang sangat penting dalam memberikan pertahanan terakhir, bagi setiap individu dalam menghadapi berbagai godaan dalam tugas dan tanggung jawab yang lebih besar.
Keluarga adalah inti dari lingkungan, sebagai anggota jemaat kita juga adalah anggota keluarga. Semakin kerap kita menilai kesuksesan seseorang dari materi yang dimiliki, semakin kita berperan untuk menciptakan Zakheus-Zakheus baru (tanpa pertobatan). Peran anggota keluarga dapat berbeda-beda, dari yang tidak mendorong kepada hedoisme hingga yang menolak ketidak wajaran. Misalnya, seorang isteri yang mengetahui gaji suaminya per bulan delapan angka rendah selayaknya mempertanyakan sumber dananya saat sang suami membeli rumah seharga sepuluh angka rendah (Rp. 1 M).
Harapan
Keprihatinan atas kondisi bangsa ini yang dipenuhi dengan kasus Korupsi, tidaklah cukup jika tidak diikuti dengan upaya untuk memperbaikinya. Yesus telah memberikan contoh bagi kita secara konkret bagaimana Zakheus disapa hingga ia bertobat.
Gereja dan keluarga memiliki peran sentral untuk mencegah lahirnya Koruptor-koruptor baru dari kalangan umat Kristen. Keberanian diperlukan, sebagaimana Yesus berani untuk tidak populer demi keselamatan jiwa Zakheus, Gereja dan Keluarga selaiknya juga memiliki keberanian untuk mengambil langkah proaktif baik dalam mengembalikan Zakheus- Zakheus yang ada ke dalam persekutuan dan mencegah lahirnya koruptor-koruptor baru. SELAMAT BERBUAT.

Bacaaan :
-, Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpapahan, Gandum Mas, Malang: 2006.
KJV : King James Version
Tulisan ini di muat di Bulletin Mercuasuar, edisi 17 Juni 2010. hlm. 59-63.