SELAMAT DATANG DI "TEOLOGI KAUMAWAM"

Salam dalam Kasih Tuhan Yesus Kristus. Terimakasih telah mampir di blog yg sederhana ini. Kami sangat berterimakasih bila saudara berkenan memberi tanggapan atas tulisan yang saudara baca di blog ini. Karena dengan tanggapan itu kami akan dapat belajar dan berbagi, sebab untuk itulah blog ini dibuat agar hidup kita tetap terpelihara dalam persekutuan. Semua tulisan dalam blog ini dapat dikutip dengan tetap mencantumkan sumbernya. Kiranya Tuhan Yesus memberkati kita. Pax Vobiscum, Erianto Hasibuan

Sabtu, 16 Juli 2011

Sabar dan Berpengharapan dalam menjalani kehidupan

Bacaan I : Yesaya 44: 6-8 ; Antar Bacaan Mazmur 86 : 11- 17
Bacaan II : Roma 8: 12-25 Bacaan III: Matius 13: 24-30-, 36-43
Anggota Jemaat terdorong untuk sabar dan berpengharapan dalam kehidupan sehari-hari yang terkadang diwarnai kejahatan.

PENDAHULUAN
Seekor burung kutilang yang sedang terbang sangat tinggi, melihat sesuatu sedang bergerak di bawah di sebuah kebun. Karena ingin tahu, ia terbang menurun agar bisa melihat dengan jelas. Dia melihat bahwa itu adalah sebuah kereta yang ditarik oleh seekor kucing yang berteriak-teriak terus, “Cacing segar dijual. Cacing segar dijual”.
Merasa tertarik, burung itu hinggap di jalan, tetapi di jarak yang cukup aman. Dia bertanya dengan apa cacing itu bisa dibeli?. Tiga ekor cacing bisa dibeli dengan satu bulu sayapmu, “kata kucing itu. Burung itu memikirkan tawaran kucing itu, lalu memberi satu bulunya dan menyantap cacing yang nikmat itu.
Kemudian dia terbang, berputar-putar lagi … tetapi bayangan cacing yang lezat itu membuatnya turun kembali ke kereta itu. Kali ini, ia membeli sebanyak dua kali lipat dari pembelian pertama. Hal yang sama terjadi beberapa kali lagi ….
Tetapi kucing itu terus memperhatikannya. Ketika kekuatan sayap terbangnya sudah tidak ada, burung itu tidak mampu lagi terbang ketika kucing itu menerkamnya … dan ia binasa di kebun itu .. dimana godaan telah terlalu kuat baginya. (Tonne)

Kita dapat saja menertawakan burung kutilang dalam ilustrasi di atas, dengan menagatakan “siapa suruh berinteraksi dengan pemangsa!”. Tetapi bagaimana dengan umat Allah, bangsa Israel juga melakukan hal yang sejalan, sekalipun mereka telah mendengar “Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain daripadaKu. (Yes. 44: 6b), tetapi mereka masih saja membuat patung untuk menggantikan keberadaan “Allah”.
Patung (berhala) mungkin tidak kita buat dalam kehidupan kita saat ini, tetapi permainan PS, Game On line, FB, Twiter dsb, boleh jadi telah menjadi berhala baru bagi kita, sehingga kita tidak lagi dapat berlaku adil. Adil dalam arti luas, seperti tidak dapat lagi memberikan waktu kita untuk membantu orang tua, saudara, bahkan berdoa bagi kedua orang tua dan saudara kita.
Mari mencoba memeriksa diri, kalau kita mengalami kesulitan, apakah kita sedang sakit, atau kita sedang cemas karena mau ujian, atau karena “dia” yang kita sedang nantikan tidak kunjung hadir sesuai dengan janjinya, apa yang kita lakukan pertama? Adakah hati kita berseru “ Tuhan Lindungilah dia” atau atau kita langsung bersungut-sungut ?
Kehidupan umat Yehuda (Kerajaan Selatan) di era Yesaya mengalami kemerosotan rohani dan moral, tidak hanya dimasyarakatnya tetapi juga di pemerintahan. Yesaya memperingatkan Raja Yehuda Ahas, untuk tidak meminta bantuan Asyur dalam melawan Israel dan Aram. Demikian juga, setelah kejatuhan Israel Tahun 722 SM, Yesaya memperingatkan Raja Hizkia, agar jangan mengadakan persekutuan dengan bangsa asing melawan Asyur. Yesaya menasihati kedua raja itu, untuk percaya kepada Tuhan saja sebagai perlindungan mereka.
Sementara pendapat khalayak ramai, termasuk para nabi palsu melakukan hal sebaliknya. Tetapi Yesaya dengan tegas tetap menyuarakan untuk tetap mengandalkan Tuhan saja. Saat ini dalam kehidupan para remaja juga banyak tawaran-tawaran, seperti cara pintas untuk lulus UAN dengan mecari soal bocoran, atau seperti nyontek massal di SDN2 Gadel Surabaya yang dilaporkan Ny. Siami.
Demikian halnya dengan bimbingan intensif yang ditawarkan untuk memasuki perguruan tinggi negeri, atau supaya ranking di kelas. Kadang adik-adik dibuai dengan nilai tinggi, sehingga yang dilakukan adalah mempelajari soal ujian, hingga kadang melupakan pelajaran sesungguhnya.
Untuk mendapatkan hasil yang baik dan akurat memang diperlukan kesabaran, kesabaran adalah sikap tenang, tidak terburu nafsu, dan tekun dalam menghadapi segala macam situasi. Kesabaran juga merupakan sikap untuk tetap berpegang teguh pada keyakinan. Sebagai pelajar, seyogiayanya yang dilakukan untuk mendaptkan hasil yang baik, adalah berlatih dan belajar secara berkelanjutan, dimulai dari saat awal semester, bukan mengandalkan pada kursus singkat yang mengandalkan pada hasil namun lalai pada proses.
Kesabaran ditunjukkan oleh pemazmur, ditengtah-tengah kesulitannya dengan rendah hati telah memohon kepada Tuhan untuk mengajarkan jalan-jalan kebenaranNya, supaya ia dapat takut kepada Allah dengan segenap hatinya. Mzm : 86: 11 : Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu, ya TUHAN, supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu; bulatkanlah hatiku untuk takut akan nama-Mu.

LALANG DIANTARA GANDUM
Perumpamaan tentang lalang diantara gandum menunjukkan bagaimana Yesus berbicara tentang seorang tuan tanah, yang diganggu oleh seorang musuh dengan cara yang jelek sekali. Setelah benih gandum yang baik ditaburkan di ladang tuan tanah itu, maka datanglah musuhnya “waktu semua orang tidur” (yaitu pada malam buta), lalu dengan diam-diam menaburkan benih lalang diantara gandum itu.
Yang ditaburkan tuan tanah itu adalah benih yang baik, karena ia juga mengharpkan hasil yang baik. Sebagaimana harapan sipemilik benih, kita sebagai benih yang baik juga menginginkan hidup dengan baik seturut dengan renacana dan kehendak Allah, namun keinginan tersebut kadang berseberangan dengan kenyataan yang kita alami.
Paulus menggambarkannya bagaikan peperangan yang terus menerus terhadap segala yang membatasi karya Allah di dalam hidup kita, karena dosa senantiasa ingin berkuasa atas kita. Iblis senantiasa mengarahkan kita kepada hidup dengan hawa nafsu dan “tabiat berdosa“ (Gal. 5: 16-21 : (19) Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, 5:20 penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, 5:21 kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. … barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.
Sebagaimana perumpamaan yang disampaikan Yesus, ketika gandum dan lalang kedua-duanya mulai berbuah (berbulir) maka hamba-hamba tuan ladang itu dengan heran memperhatikan banyaknya lalang di ladang itu. Saat mereka hendak mencabutnya, tetapi tuan ladang itu melarangnya, sebab gandum akan ikut tercabut, karena akar lalang dan gandum sudah saling mengkait. (29)
Orang Yahudi menyebut lalang itu dengan nama gandum haram oleh karena kemiripannya. Demikian halnya yang dialami Yesaya di eranya, tidak ada perbedaan secara fisik antara nabi palsu yang memberitakan kabar yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Situasi saat itu memang sangat memungkinkan mereka untuk menang melawan Israel dan Aram bila mereka dibantu oleh Asyur, tetapi Yesaya tetap memberitakan apa yang Tuhan perintahkan. Demikian halnya saat sebelum kejatuhan Israel, para nabi memberitakan bahwa mereka akan menang dan kejayaan Israel akan dikembalikan. Itu adalah berita yang menyenangkan bagi telinga semua orang, siapa yang tidak suka dengan berita kemenagan. Tetapi Yesaya tetap pada pendiriannya untuk memberitakan suara Tuhan.
Untuk dapat terus memberitakan dan melakukan kebenaran Tuhan kita sebagai orang percaya, harus memiliki ketekunan dengan sabar dalam berpengharapan kepada Tuhan dan memutuskan untuk ikut tuntutan tabiat ilahi yang didalamnya kita ikut ambil bagian. Paulus pada akhirnya memberikan jalan keluar untuk hidup seturut dengan kehendak Allah yaitu dengan menjadi Anak Allah melalui hidup yang dipimpin Roh Allah. (Rom. 8 :14 Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah) Roh kudus berdiam di dalam anak Allah supaya memimpinnya berpikir, berbicara dan bertindak sesuai Firman Allah. Dan ini juga menjadi jaminan keselamatan, karena Anak adalah pewaris tahta.
Perlu dipahami, sekalipun kita telah memutuskan untuk mengikuti tuntutan Roh Tuhan, tetapi bukan berarti kita memiliki hak untuk menghakimi mereka yang belum hidup dalam tuntunan Roh Tuhan. Sebagaimana Tuhan memang membiarkan Gandum dan Lalang tumbuh bersama, tetapi bukan berarti Tuhan tidak menghukum mereka, tetapi ada saatnya Tuhan akan membinasakan mereka, pada saat musim menuai tiba, seperti yang dikatakan pada Ay.30 Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku."
Perumpamaan ini dengan jelas menunjukkan kepada kita, bahwa penghakiman adalah milik Tuhan, artinya sekalipun adik-adik melihat temannya bertindak tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, kita tidak memiliki hak untuk menghakimi mereka. Sabar bukan berarti tidak melakukan tindakan apapun, sabar berarti tetap pada pendirian dan membantu teman (sesama) yang melakukan tidak sesuai dengan kehendak Tuhan untuk kembali pada jalannya.

SIMPULAN
Sabar adalah sikap tenang, tidak terburu nafsu, dan tekun dalam menghadapi segala macam situasi. Artinya tidak seperti burung kutilang yang melupakan siapa yang dihadapinya hanya karena pikirannya telah dikuasai oleh keinginan nafsunya untuk memenuhi perutnya dengan cacing yang nikmat dan menjadikan makanan menjadi berhala yang pada akhirnya membinasakannya. Tetapi untuk hidup dipimpin oleh Roh Allah, dan berpengharapan pada Nya menjadi anak Allah, sehingga dalam menjalankan hidup ini kita tidak menghakimi mereka yang hidup menurut keinginan daging, tetapi memberikan hak penghakiman pada Allah.

Oleh : Pnt. P. Erianto Hasibuan, M. Div Disampaikan pada Ibadah Kebaktian Remaja Minggu, 17 Juli 2011 – GKI KP

Minggu, 10 Juli 2011

Mencari kehendak Allah

Nats : Roma 12 : 1-2

Nats ini tidaklah asing bagi kita, karena termasuk salah satu ayat yang kerap digunakan sebagai ayat landasan dalam pengumpulan persembahan, utamanya ayat 1. Masyarakat Roma yang dihadapi oleh Paulus sebagai tujuan suratnya, adalah masyarakat yang hidup penuh dengan kebebasan yang tak lagi berkenan dengan berbagai pengekangan.
 
PERSEMBAHAN YANG HIDUP

Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. (Roma 12 : 1)

Tulisan Paulus ini, bagi kita tidak aneh. Tetapi tidak demikian bagi orang Yunani pada masa itu. Bagi orang Yunani yang perlu dipersoalkan adalah roh; tubuh hanyalah penjara, Sesuatu yang dipandang rendah dan memalukan.  Dengan demikian kata-kata Paulus ini adalah kemustahilan bagi orang Yunani.  Tetapi bagi orang Kristen sejati, tidak pernah berpendapat demikian. Orang Kristen percaya bahwa tubuh adalah milik Allah, sebagaimana juga jiwanya, ia dapat melayani Allah baik dengan pikirannya, rohnya maupun dengan tubuhnya.

Tubuh itu adalah bait Roh Kudus dan alat yang dipakai oleh Roh Kudus. Sebagai contoh, suatu gedung gereja yang dibangun sebagai tempat beribadah kepada Allah. Tetapi itu harus dirancang oleh pikiran seorang arsitek, dibangun oleh tangan-tangan terampil para tukang dan pekerja; hanya kemudian, bangunan itu menjadi tempat ibadah dimana orang berkumpul untuk beribadah.  Gereja itu adalah hasil pikiran, tubuh dan roh manusia.

Oleh karena itu, kata Paulus : “ambillah tubuhmu; kerjakanlah semua tugas –tugas yang harus kamu kerjakan setiap hari;  sebagai pengusaha, karyawan, pelayan, ibu rumah tangga,  persembahkanlah itu sebagai korban yang hidup bagi Allah.
 
KEHENDAK ALLAH

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. (Roma 12 : 2)

Hidup beribadah sebagaimana ayat 1 menurut Paulus, menuntut perubahan hidup yang radikal. Kita tidak boleh menjadi sama dengan dunia ini, tetapi sebaliknya harus berubah.  Kata yang digunakan untuk menjadi serupa dengan dunia ini adalah Suschematizesthai,  akar katanya schema, yang artinya pola, rupa.

Suschematizesthai merupakan bentuk imperatif (perintah) dalam bentuk kini.  Dengan demikian dalam arti positif, bentuk imperative itu mengandung arti “terus menerus”. Sehingga menurut Van Den End Roma 12: 2 dapat diterjemahkan menjadi “Jangan lagi biarkan dirimu menjadi serupa dengan pola dunia ini, tetapi biarlah rupamu diubah terus menerus.  Menjadi serupa dengan dunia ini, yang dimaksudkan adalah dunia yang dikuasai dosa dan ketidaksempurnaan.  Jadi kata-kata Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini tidak boleh ditafsirkan seakan-akan orang percaya diajak menjauhi dunia, dalam arti kenyataan jasmani lalu melakukan askese (bertapa).

Schema, yang artinya bentuk luar yang selalu berubah-ubah, dari tahun ke tahun dan dari hari ke hari. Schema seseorang tidak sama ketika ia berumur tujuh belas dan tujuh puluh tahun. Tidak sama ketika ia berpakaian pergi bekerja dan pergi ke sebuah pesta jamuan makan. Schema itu terus menerus berubah. Oleh karena itu Paulus berkata : Janganlah menyesuaikan kehidupan mu kepada kebiasaan kebiasaan dunia; jangan menjadi seperti bunglon yang warnanya berubah-ubah, menurut lingkungannya.

Kata yang dipakai untuk berubah adalah metamorphoustai.  Akar katanya morphe, yang artinya suatu bentuk atau unsur pokok yang tidak berubah-ubah. Orang yang mempunyai schema  tidak sama pada umur tujuh belas dan tujuh puluh tahun, tetapi ia mempunyai morphe yang sama. Bentuk luarnya berubah, tetapi dalam dirinya, ia adalah pribadi yang sama. Oleh karena itu menurut Paulus, untuk dapat beribadah dan melayani Allah, kita harus melalui suatu perubahan, bukan bentuk luar kita, tetapi kepribadian kita yang di dalam diri kita.

Tujuan perubahan itu ialah sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah. Kata yang digunakan adalah dokimazein berarti memeriksa menguji atau test in order to approve; determine by searching and testing (Max Zerwick S.J A Gramatical Analysis of The Greek New Testament, Editrice Pontificio Instituto Biblico, Roma 1996). Tidak hanya sekedar mengetahui apa yang berkenan kepada kehendak Allah, tetapi lebih dari itu dapat membuktikan (mengalami) apa yang menjadi kehendak Allah.

Mencari kehendak Allah bukanlah hal yang mudah, mengingat Pertama, dalam kehidupan sehari-hari seorang Kristen sering diperhadapkan pada berbagai situasi yang sulit baginya untuk menentukan sikap. Utamanya menyangkut perkembangan teknologi yang cepat diberbagai bidang. Semuanya ini memerlukan pertimbangan matang untuk menentukan mana kehendak Allah. Kedua, kita diajak mengusahakan “budi” dalam kita mencari kehendak Allah, karena Alkitab bukanlah kitab hukum. Alkitab tidak menyajikan kepada kita seperangkat peraturan menunjuk jalan kepada orang Kristen sekaligus mengikat mereka.  Sebab Injil tidak merupakan hukum yang baru, tetapi justru memberi kita kebebasan sebagai anak-anak Allah.

Bukan Pendeta, atau Penatua yang harus menentukan “manakah kehendak Allah”, lalu menurunkan keputusannya ke jemaat.  Anggota-anggota jemaat tidak boleh hanya menunggu petunjuk “dari atas”. Setiap orang percaya dipanggil dan diperbolehkan mempertimbangkan sendiri kehendak Allah.  Hanya saja yang perlu diingat, bahwa orang Kristen bukanlah terdiri dari individu-individu yang hidup sendiri-sendiri, tetapi mereka merupakan satu tubuh di dalam Kristus.  Maka dalam mencari kehendak Allah umat Kristen juga perlu untuk berkumpul, dan saling meminta nasihat.

Untuk itulah pada hari ini kita melakukan Persidangan Majelis Jemaat yang Diperluas (PMJD) yaitu untuk menerjemahkan tiga kata yang dipakai oleh Paulus untuk merinci kehendak Allah : Apakah yang baik, yang berkenan bagi Allah dan yang sempurna.

(Disampaikan pada pembukaan PMJD 10 Juli 2011- GKI KP Bekasi)

Kamis, 30 Juni 2011

Selasa, 21 Juni 2011

DIPANGGIL UNTUK MENERIMA BERKAT

Nats      : 1 Pet. 3 : 8-12


Pendahuluan :
             Seorang Kristen datang ke tukang cukur langganannya untuk bercukur rambut dan jenggotnya. Mereka mengobrol dan sampai ke hal tentang Tuhan. Tukang cukur itu berkata: “Saya tidak percaya Tuhan itu ada seperti yang Anda percayai.”  “Mengapa kamu berpikir demikian?” Tanya orang Kristen itu. “Ah, itu sangat mudah; Anda cukup pergi keluar dan melihat bahwa Tuhan tidak ada. Bila Tuhan ada, mengapa banyak orang sakit? Mengapa banyak anak terlantar dan cacat? Bila Tuhan ada, maka tak ada penderitaan dan kepedihan. Akankah terjadi pembunuhan dan bahkan perang? Saya tak dapat membayangkan bahwa Tuhan yang penuh kasih akan membiarkan semuanya itu terjadi.”
            Orang Kristen itu tidak ingin berdebat dan tak dapat menemukan jawab yang tepat terhadap logika si tukang cukur. Tukang cukur itu selesai melakukan pekerjaannya dan orang Kristen itu pergi keluar dan di depan ia melihat seorang laki-laki duduk di pinggir jalan. Rambut dan jenggotnya panjang yang tentu memerlukan perhatian dari si tukang cukur (orang itu tampak kusam dan kotor).
Orang Kristen itu berbalik dan kembali ke tukang cukur itu dan berkata: “Tahukah kamu? Tukang cukur jelas tidak ada!”  “Mengapa kamu mengatakan tukang cukur tidak ada?” seru tukang cukur itu. “ Ini, saya di sini dan saya adalah tukang cukur. Saya baru saja mencukur rambut Anda!!!”
 “Tidak!” jawab orang Kristen itu. “Tukang cukur tidak ada; kalau mereka ada, maka tak ada orang dengan rambut panjang dan jenggot lebat seperti orang di luar itu, yang duduk di tepi jalan.” “Oh, tukang cukur sungguh ada! Yang terjadi adalah orang harus datang dulu pada saya. Ia harus mencari saya!”
 “Anda memang benar!” tegas orang Kristen itu. “Dan inilah persoalannya. Tuhan memang ada, yang terjadi adalah orang tidak pergi padaNya dan mencariNya. Oleh karena itu banyak kepedihan dan penderitaan di dunia.”
Ilustrasi ini menggambarkan kepada kita bagaimana keraguan banyak orang terhadap keberadaan Tuhan pada saat mereka mengalami penderitaan atau bahkan saat mereka menyaksikannya. Surat 1 Petrus ditulis untuk memberi nasehat kepada kelompok-kelompok orang Kristen yang terserak-serak, termasuk didalamnya adalah mereka yang baru menjadi Kristen. Nasehat tersebut dimaksudkan agar mereka memiliki pedoman praktis hidup sesuai Iman Kristen, demikian pula nasehat cara bagaimana mereka menghadapi pencobaan dan penderitaan.
Panggilan untuk Menerima Berkat
Dalam meyampaikan nasehat melalui suratnya, pesan Petrus telah dituliskan dengan apik oleh Silvanus dengan mengatakan bahwa orang Kristen dipanggil untuk menerima berkat (9). Berkat yang dijanjikan adalah Damai Sejahtera dengan senantiasa mengusahakan : (ayat 8-9)
1.   Seia Sekata/Saling mengerti (homoprones =  yang berpikiran sama)
Tuhan Yesus telah memberikan contoh dengan merekrut muridnya Matius dan Simon Orang Zelot. Berdasarkan pikiran manusia pada masa itu, mustahil untuk mempersatukan pemungut cukai dengan orang Zelot, karena pemungut cukai adalah penghianat bangsa yang bekerja bagi kaum penjajah, sedang kaum Zelot nasionalis sejati yang rela melakukan apapun demi Nasionalisme.  Sekalipun di dalam persekutuan (Gereja) terdiri dari berbagai latar belakang yang berbeda yang menghasilkan sudut pandang yang berbeda, tetapi Petrus menasehatkan untuk  homoprones berpikiran yang sama didalam Yesus Kristus. Dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu. (Kol. 3:11)
2.   Saling mengasihi seperti bersaudara (philadelphoi= yang mengasihi saudara/seiman)
Disuatu tempat saat sarana transportasi belum semaju saat ini, ada seorang pemuda yang setiap hari pergi ke sekolah selalu menggendong pria lain. Lalu seorang mengamati pemuda ini, dan bertanya kepadanya. ”Apakah anda setiap hari menggendong pria ini?” Tentu saja saut pria tersebut. ”Tentulah pria itu menjadi beban bagi anda?” tanya orang asing itu sambil memperhatikan pria lain yang ada di pundaknya. ”Bukan, dia bukan beban bagi saya, tetapi dia adalah saudara saya” jawab pria itu. Jika kita memandang orang lain sebagai Saudara kita, maka dia tidak akan pernah menjadi beban bagi kita. Begitulah selayaknya kita mengasihi sesama, mengasihi mereka sebagai layaknya seorang saudara. Bukankah Paulus berkata : Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. (Rom. 12:10)
3.   Bermurah hati (eusplangkhnoi = yang berbelas kasihan)
Bukankah Paulus sendiri telah memberi contoh bahwa ia terus bekerja agar ia dapat membantu orang yang lemah? Karena Yesus sendiri berkata ”Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima” (Kis.20:35 b).
4.   Rendah hati (tapeinophrones = rendah hati)
      Adakah artinya kita untuk memegahkan diri ? Bukankah Paulus mengajarkan kepada kita justru pada anggota tubuh yang menurut pandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. (1Kor.12:23-24) tujuannya supaya jangan terjadi perpecahaan didalam tubuh (1Kor.12:25).
5.   Tidak membalaskan yang jahat dengan yang jahat tetapi tetap memberkati. (euloguntes = mengucap syukur dan pujian/memberkati)
Bukankah Tuhan Yesus mengatakan ”jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosa pun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun berbuat demikian. (Luk.6:32-33). Artinya Yesus justru memanggil kita untuk menjadi orang-orang yang istimewa, yaitu bila kita mampu meminta berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu. (Luk. 6:28)
Menjaga Lidah
Berkat Damai sejahtera akan menghsilkan hari-hari yang baik apabila kita dapat menjaga lidah. Sebegitu pentingnya lidah ini hingga Petrus memberikan perhatian khusus, sebab Lidah dapat berfungsi ganda yaitu sebagai berkat dan juga kutuk. Yakobus menggambarkan bagaimana buasnya lidah tersebut dalamYak.3:8-9 ”tetapi tidak seorang pun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan. Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah.” Pengakuan Yakobus yang menyatakan bahwa tidak seorang pun yang berkuasa menjinakkan lidah merupakan bukti bagaimana buasnya Lidah ini, bahkan dapat menghanguskan apapun, dan menyakitkan hingga merusak sendi bahkan hingga ke sum-sum. Sampai-sampai orang Batak tidak ketinggalan untuk membuat teka-teki (huling-huling ansa) untuk ini :”Ibana na sumio alai ibana sai tonu” Meskipun dia selalu terlindung tetapi dia selalu basah. Itulah Lidah.
Bagaimana kita dapat meredam kebuasan lidah ini ? Pemazmur mengajari kita untuk selalu menyerahkannya pada pemeliharaan Tuhan melalui doa untuk menjinakkan lidah dengan berkata :” Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku! Mzm.141:3
Penutup :
Kadang kala kita berlaku layaknya si tukang cukur yang meniadakan keberadaan Tuhan karena melihat begitu banyak penderitaan, tetapi kita lupa bahwa kita harus datang kepada Nya untuk memenuhi panggilan-Nya.  Petrus saat ini memanggil kita untuk menerima Berkat Tuhan yaitu Damai Sejahtera melalui Seia Sekata,  Saling mengasihi seperti bersaudara. Bermurah hati, Rendah hati, Tidak membalaskan yang jahat dengan yang jahat tetapi tetap memberkati. 
Bahkan lebih dari itu, kita juga dijanjikan untuk mendapatkan hari-hari baik apabila kita dapat menjaga lidah kita dari yang jahat, sehingga kita menjadi orang benar dimata Allah, karena Mata Allah tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong. 
Dengan demikian kita dapat memahami sekalipun kejahatan ada disana sini dan penderitaan silih berganti, tetapi Allah tidak pernah tinggal diam terhadap mereka yang benar dimata Tuhan. Untuk itu senantiasalah menjaga lidah dengan berdoa seperti pemazmur berdoa.  Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku.
Kiranya Tuhan menolong kita untuk tetap menjadi orang-orang yang istimewa, yang dapat menjadi berkat bagi orang lain sekalipun orang tersebut menjadi masalah bagi kita. Amin.
Disampaikan pada Ibadah Komisi Dewasa GKI-KP 28 Juni 2011.

Minggu, 29 Mei 2011

Acara Diskusi Sabda "Yang Terhilang"

Bacaan : Lukas 15 :11-32

Tujuan : Untuk mendiskusikan bagaimana kita bersikap terhadap mereka yang terhilang.

Pengantar

Jika anda mengetahui keluarga, teman atau tetangga kita jatuh kedalam dosa, apakah respon anda? Sebagian mungkin akan menjawab, saya akan berdoa buatnya agar cepat sadar dan bertobat, yang lain mengatakan saya akan mencari tahu mengapa dia sampai pada situasi tersebut, atau ada yang akan menjawab, saya akan menolongnya untuk kembali kepada jalan yang benar, atau mungkin saja ada yang menjawab, biarkan saja, toh dia sudah dewasa jadi tak perlu dicampuri karena dia sudah tahu apa yang seharusnya dilakukannya.
Lalu jika anda yang secara sadar atau tidak sadar ada dalam situasi tersebut, apa yang anda harapkan dilakukan orang sekitar anda terhadap anda?

Domba, Dirham dan Anak yang hilang

Di dalam injil Lukas pasal 15, terdapat 3 perumpamaan yang secara berturut-turut disampaikan, yaitu domba yang hilang (1-7); dirham yang hilang (8-10) hingga puncaknya pada anak yang hilang (11-32).

Berdasarkan ketiga perumpamaan tersebut, dapat digambarkan bagaimana upaya yang dilakukan untuk mendapatkan kembali seseorang yang hilang. Perumpamaan domba yang hilang dengan jelas menunjukkan upaya sang gembala yang meninggalkan kumpulan sembilanpuluh sembilan dombanya untuk mencari seekor domba yang terhilang. Inisiatif berasal dari sang gembala karena dengan kebodohannya seekor domba tak mampu kembali ke kawanannya jika telah terpisah.

Perumpamaan tentang Dirham menggambarkan upaya si pemilik dirham untuk berusaha mendapatkan kembali dirham nya yang hilang, karena dirham itu begitu berarti baginya, baik sebagai perhiasan maupun sebagai alat tukar. Dirham yang hilang di sini dapat menggambarkan seseorang yang jatuh dalam dosa karena terpengaruh atau karena tekanan pihak lain, bukan karena kemauannya sendiri. Untuk mendapatkan dirhamnya kembali, si pemilik akan menyalakan pelita untuk menerangi rumahnya dan membersihkannya.

Pada akhirnya, adalah anak yang hilang, menggambarkan bahwa inisiatif bukan berasal dari si Bapa, tetapi dari si anak yang hilang untuk menyadari keadaannya. Anak yang hilang menggambarkan pemberontakan yang datang atas kesadaran sendiri, bukan karena ketidaktahuan atau tekanan pihak lain. Pertobatan anak yang hilang, hadir saat ia tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan dasarnya, yaitu makan. Pada saat itu ia menyadari keadaannya hingga ia mengambil inisiatif untuk kembali ke rumah bapanya walau sebagai orang upahan sekalipun.

Bapa yang mengasihi Vs Anak sulung

Kembali ke Lukas 15 :11-32 perumpamaan tentang anak yang hilang, si Bapa sama sekali tidak mempertanyakan apapun tentang kesalahan si anak, yang ia lakukan adalah mengembalikan posisi si anak “ Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. (22) Jubah adalah pertanda penghormatan si bapa terhadap langkah yang di ambil anaknya, si bapa mengampuni anaknya tanpa tuduhan-tuduhan. Adalah buruk, ketika seseorang diampuni, tetapi senantiasa disertai dengan kata dan ancaman mengenai dosa yang ditanggungkan kepadanya.

Cincin adalah tanda kedudukan yang tinggi dan kekuasaan yang diberikan, sekalipun si anak telah terlebih dahulu meminta bagian warisannya, tetapi si bapa tetap memperlakukannya sebagai anak yang memiliki hak waris. Sepatu menunjukkan bahwa si bapa tidak menganggap ia sebagai orang upahan (misthios) sebagaimana harapan si anak, tetapi menjadi orang merdeka yaitu sebagai anak (huios).

Si anak sulung yang selama ini tinggal bersama sang bapa, ternyata tidak melihat hubungannya sebagai hubungan anak dan bapa, tetapi lebih kepada hubungan yang penuh dengan kewajiban laiknya hubungan majikan dan buruh, seperti pengakuannya sendiri : “Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku(29). Demikian pula pandangannya akan hubungannya dengan sang adik, ia tidak memandang sebagai saudara tetapi ia mengatakan: Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, … (30). Ia termasuk pada jenis orang yang mempunyai watak membenarkan diri, yang suka untuk menjatuhkan orang yang sudah jatuh untuk jatuh seterusnya.

Yang lebih memprihatinkan adalah, cara si anak sulung memandang hubungannya dengan sang bapa sebagai hubungan yang penuh dengan kewajiban, bukan hubungan atas dasar kasih, sebagaimana pandangan bapanya : Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu (31).

Perumpamaan ini dengan jelas memperlihatkan kepada kita sebuah kebenaran, bahwa lebih mudah untuk mengaku kepada Allah dari pada kepada manusia, bahwa Allah lebih berbelas-kasih dalam penghakimannya daripada kebanyakan manusia, bahwa Allah dapat mengampuni dimana manusia menolak untuk mengampuni.
Pertanyaan Panduan Diskusi :
1. Menurut anda sebagai atasan, dapatkah karakter bapa ini di implementasikan dalam pekerjaan sehari-hari ?
2. Sebagai bawahan, bila anda mendapatkan karakter si sulung apakah tindakan yang akan anda lakukan ?

Disampaikan pada Acara PA Bapekris PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Gedung Menara BTN lt. 12  Jumat, 28 Mei 2011.

Senin, 18 April 2011

Benarkah TUHAN mengijinkan Perceraian ? (Jilid 2)

Pengantar
Masih ingat dengan tulisan di Mercusuar edisi Juni 2009 ? dengan judul “Benarkah TUHAN mengijinkan Perceraian?” Sekedar mengingatkan, pada tulisan itu dikisahkan bagaimana keluarga muda “Jati” yang “nyaris” bercerai karena persoalan ketidaksetiaan sang suami. Suara mayorotas dari pihak keluarga isteri dan suami pada saat itu adalah perceraian. Bahkan langkah tersebut seolah direstui oleh gereja di mana mereka tercatat sebagai jemaat.

Sekalipun pilihan untuk tetap mempertahankan kelangsungan pernikahan seolah menjadi kemustahilan, tetapi penulis masih tetap mendorong langkah tersebut. Pada tulisan awal difokuskan pada kajian teologis untuk meyakinkan pembaca bahwa perceraian bukanlah langkah yang dapat diterima secara alkitabiah, namun bagaimana implementasi hal tersebut pada pasangan muda Jati masih menjadi tanda tanya besar, sehingga wajar jika mungkin ada pembaca yang beropini bahwa kondisi dalam tulisan tersebut hanyalah sebuah gambaran untuk meyakinkan pembacanya, tetapi dalam kehidupan nyata niscaya sulit untuk terlaksana.

Tulisan ini dimaksudkan untuk menyajikan bagaimana kajian teologis tersebut coba diimplementasikan dalam sebuah langkah pastoral dan penerimaannya bagi mereka yang mengalaminya.

Pertobatan Palsu

Kata pertobatan kerap kita dengar dari mereka yang melakukan kesalahan dan bermaksud berbalik ke jalan Tuhan, sejatinya pengertian tobat adalah sesal atau menyesal akan dosanya dan berniat tetap hendak memperbaiki hidupnya atau pulang kepada Tuhan (dengan meninggalkan kejahatannya). Perdefenisi di atas, mereka yang bertobat seyogianya adalah mereka yang telah sungguh-sungguh menyadari kesalahannya dan bermaksud memperbaiki diri, namun pada prakteknya tidaklah sesederhana dimaksud.

Seseorang yang menyatakan dirinya bertobat, dapat saja dilakukan bukan karena dorongan hatinya karena kesadaran akan kesalahanya dan bermaksud memperbaiki diri, namun “tobat” yang dilakukan sekedar untuk meyakinkan orang-orang sekitar agar bersedia memenuhi keinginannya. Tobat seperti ini kerap membuat orang sekitarnya bertambah kecewa, karena yang bersangkutan melakukan lagi kesalahan yang sama.

Demikian yang terjadi dengan kasus keluarga Jati, si suami saat tidak mampu lagi berkelit dari kesalahannya, ia “mengaku” salah dan berjanji dihadapan keluarga dan majelis jemaat (bukan pengakuan dosa di gereja) “seolah” mengakui kesalahannya dan akan kembali kepada keluarganya. Namun hal ini tidak berlangsung lama, ia kembali kepada kesalahan yang sama. Pada situasi ini, penulis memang mengalami kendala untuk meyakinkan si isteri dan keluarga untuk dapat mengampuni kembali. Semula penulis menyampaikan kepada si isteri, bahwa suaminya melakukan hal tersebut bisa saja tidak semata karena keinginan hatinya, namun ada faktor psikologis (sejenis traumatis masa kecil) yang mendorongnya untuk melakukan hal tersebut. Untuk itu penulis meminta kepada sang isteri agar dapat memaklumi dan menerima si suami meskipun telah penuh dengan “lumpur” dosa.

Dengan berulangnya kesalahan yang sama, sulit bagi penulis untuk meyakinkan lebih lanjut, namun penulis tetap meyakinkan bahwa saat itu adalah fase penantian. Sebagaimana perumpamaan anak yang hilang dalam Luk. 15 :11-32, pada fase tersebut si bapa tidak lagi mencari anaknya, tetapi menantikan saja.

Memasuki fase penantian kerap banyak orang yang kehilangan kesabarannya, lalu mengambil langkah yang tidak sejalan dengan kehendak Tuhan. Dengan argumentasi bahwa mereka telah pernah memaafkan, namun masih mengulangi kesalahan yang sama, akhirnya fase ini tidak dapat dilalui dengan baik.

Bapa yang mengasihi

Perumpamaan tentang anak yang hilang dalam Luk. 15 :11-32 menurut William Barclay lebih baik kalau perumpamaan ini disebut “Perumpamaan mengenai Bapa yang mengasihi”, demikian halnya dengan B.J Boland melihat bahwa yang menjadi pokok inti dari perumpamaan ini bukanlah “si anak hilang” tetapi “si Bapa yang penuh kasih”

Terlepas dari kesesuaian perikop dari perumpamaan di atas, umumnya umat kristen telah terbiasa dengan perumpamaan di maksud. Bahkan beberapa pakar teologia menyebutkan perumpamaan tersebut sebagai injil di dalam injil. Di dalam injil Lukas ayat 15, terdapat 3 perumpamaan yang secara berturut-turut disampaikan, yaitu domba yang hilang (1-7); dirham yang hilang (8-10) hingga puncaknya pada anak yang hilang (11-32).

Berdasarkan ketiga perumpamaan tersebut, dapat digambarkan bagaimana upaya yang dilakukan untuk mendapatkan kembali seseorang yang hilang. Perumpamaan domba yang hilang dengan jelas menunjukkan upaya sang gembala yang meninggalkan kumpulan sembilanpuluh sembilan dombanya untuk mencari seekor domba yang terhilang. Inisiatif berasal dari sang gembala karena dengan kebodohannya seekor domba tak mampu kembali ke kawanannya jika telah terpisah.

Perumpamaan tentang dirham menggambarkan upaya si pemilik dirham untuk berusaha mendapatkan kembali dirham nya yang hilang, karena dirham itu begitu berarti baginya, baik sebagai perhiasan maupun sebagai alat tukar. Dirham yang hilang di sini dapat menggambarkan seseorang yang jatuh dalam dosa karena terpengaruh atau karena tekanan pihak lain, bukan karena kemauannya sendiri. Untuk mendapatkan dirhamnya kembali, si pemilik akan menyalakan pelita untuk menerangi rumahnya dan membersihkannya.

Pada akhirnya adalah anak yang hilang, menggambarkan bahwa inisiatif bukan berasal dari si Bapa, tetapi dari si anak yang hilang untuk menyadari keadaannya. Anak yang hilang menggambarkan pemberontakan yang datang atas kesadaran sendiri. Kesadaran anak yang hilang hadir saat ia tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan dasarnya, yaitu makan. Pada saat itu ia menyadari keadaannya hingga ia mengambil inisiatif untuk kembali ke rumah bapanya walau sebagai orang upahan sekalipun.

Sang suami pada kasus keluarga jati, sesungguhnya mengalami hal yang proporsional dengan kasus anak yang hilang. Setelah ia “seolah” bertobat namun kembali berbuat apa yang tidak seharusnya. Dalam periode tersebut upaya untuk bercerai tetap menjadi pilihan, namun penulis tetap meyakinkan untuk tidak menempuh langkah tersebut.

Akhir dari masa penantian tersebut kini hadir, sebuah peristiwa yang memprihatinkan menghantarkan si suami ke dalam penjara setelah mengalami penyiksaan sebelumnya. Selama di penjara ia kehilangan tente dan nenek yang dikasihinya. Seirama sepenarian dengan kasus anak yang hilang, pada masa paling sulit ia kembali kepada sang isteri. Keluarga bereaksi untuk tidak menerima karena beranggapan bahwa langkah tersebut adalah sandiwara semata untuk menggapai sesuatu dan bukan pertobatan yang sesungguhnya.

Pihak gereja sulit untuk menerima, bahkan ketika ybs meminta untuk mengaku dosa dan menjalani pengembalaan khusus. Pro kontra mulai terjadi, sebagian sudi menerima pengakuan dosa dan pengembalaan khusus, sebagian meminta pembuktian terlebih dahulu setidaknya satu hingga dua tahun ke depan setelah ada bukti kesungguhan.

Syukurlah, sekalipun masih diiringi dengan kecurigaan keluarga dapat menerima dan gereja bersedia menerima pengakuan dosa dan pengembalaan khusus. Ritual pengakuan dosa sesungguhnya adalah simbol yang menyatakan kepada Tuhan dan jemaat-Nya bahwa ybs dengan sungguh-sungguh ingin kembali kepada Nya. Tahapan yang utama adalah masa pengembalaan khusus untuk memulihkan hubungan ybs dengan Tuuhan dan sesama.

Pemulihan

Kembali ke Lukas 15 :11-32 perumpamaan tentang anak yang hilang, si Bapa sama sekali tidak mempertanyakan apaun tentang kesalahan si anak, yang ia lakukan adalah mengembalikan posisi si anak “ Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. (22) Jubah adalah pertanda penghormatan si bapa terhadap langkah yang di ambil anaknya, si bapa mengampuni anaknya tanpa tuduhan-tuduhan. Adalah buruk, ketika seseorang diampuni, tetapi senantiasa disertai dengan kata dan ancaman mengenai dosa yang ditanggungkan kepadanya.

Barclalay menggambarkan pengampunan tersebut secara apik dengan mengutip kisah Lincoln, saat kepadanya ditanyakan bagaimanakah ia memperlakukan kaum selatan (A.S bagian selatan) ketika mereka dikalahkan dan kemudian kembali kepada kesatuan Amerika Serikat. Penanya itu mengharapkan bahwa Lincoln akan mengambil sikap pembalasan dendam, tetapi ia menjawab, “saya akan memperlakukan mereka seakan-akan mereka selama ini tidak pernah memberontak.

Cincin adalah tanda kedudukan yang tinggi dan kekuasaan yang diberikan, sekalipun si anak telah terlebih dahulu memintak bagian warisannya, tetapi si bapa tetap memperlakukannya sebagai anak yang memiliki hak waris. Sepatu menunjukkan bahwa si bapa tidak menganggap ia sebagai orang upahan (misthios) sebagaimana harapan si anak, tetapi menjadi orang merdeka yaitu sebagai anak (huios).

Tahapan pemulihan dari sebuah pertobatan tidak jarang digagalkan dari prilaku orang disekitar. Dari satu sisi, mereka yang bertobat sesungguhnya telah berbeban berat akibat konsekuensi dari dosa dan kesalahannya, pada sisi lain orang disekitarnya penuh dengan kecurigaan hingga tidak dapat menunjukkan rasa penerimaan.

Si anak sulung yang selama ini tinggal bersama sang bapa, ternyata tidak melihat hubungannya sebagai hubunga anak dan bapa, tetapi lebih kepada hubungan yang penuh dengan kewajiban laiknya hubungan majikan dan buruh, sebgaiamana pengakuannya sendiri : “Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku(29). Demikian pandangannya akan hubungannya dengan sang adik, ia tidak memandang sebagai saudara tetapi ia mengatakan: Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, … (30). Ia termasuk pada jenis orang yang mempunyai watak membenarkan diri yang suka untuk menjatuhkan orang yang sudah jatuh untuk seterusnya.

Yang lebih memprihatinkan adalah cara si anak sulung memandang hubungannya dengan sang bapa sebagai hubungan yang penuh dengan kewajiban, bukan hubungan atas dasar kasih, sebagaimana pandangan bapanya : Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu (31).

Perumpamaan ini dengan jelas memperlihatkan kepada kita sebuah kebenaran, bahwa lebih mudah untuk mengaku kepada Allah dari pada kepada manusia, bahwa Allah lebih berbelas-kasih dalam penghakimannya daripada kebanyakan manusia, bahwa Allah dapat mengampuni dimana manusia menolak untuk mengampuni.

Pemulihan si suami dari keluarga jati dalam kisah di atas, adalah penerimaan dari orang-orang disekitarnya. Pertumbuhan rasa penerimaan itu bahkan lebih cepat dibanding pertumbuhan si suami dalam pengembalaan khusus.

Keluarga “jati” saat ini menjadi keluarga yang utuh dan bahagia, mereka bersatu kembali, hubungan keluarga dipulihkan. Keluarga ini tidak hanya hidup untuk dirinya sendiri, mereka (suami, isteri dan satu anak) telah menjadi berkat bagi banyak keluarga. Mereka dipakai Allah untuk membuktikan, kasih Allah sanggup memulihkan sebuah keluarga, sekalipun menurut pandangan manusia mustahil untuk dipulihkan, tetapi dalam rencana Allah segala sesuatu akan mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (Rom. 8:28).

Harapan

Disekitar kita akan ada dan selalu ada mereka yang karena ketidak tahuan, atau karena lingkungan bahkan karena kehendaknya sendiri menjadi terhilang. Kita dihadirkan ke dunia bukan sebagai “hakim” untuk membuat daftar kesalahan mereka. Kehadiran kita selayaknya bagaikan sang bapa, yang menyambut dengan sukacita kehadiran anak yang hilang, tanpa mempertanyakan kesalahan, namun memulihkan hubungan.

Bila kita telah memutuskan sebagai pengikut Kristus, itu berarti kita juga telah memutuskan sebagai pemaaf yang tak pernah berpikir ulang untuk berbalik sebagai penghakim. Hubungan kita dengan bapa adalah hubungan kasih, bukan hubungan yang sarat dengan kewajiban, dengan demikian kita selayaknya juga mendasari hubungan kita dengan sesama atas dasar kasih. Jangan pernah undur (no turning back) dari pribadi si bapa menjadi pribadi si anak sulung.
(http:\\teologiawam.blogspot.com)
Tulisan ini di publikasikan di Buletin Mercusuar Edisi 20 Maret 2011.

Bacaan :
B.J Booland dan P.S Naipospos, Tafsiran Alkitab Kitab Injil Lukas, BPK Gunung Mulia, Jakarta :2003.

William Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari Injil Lukas, diterjemahkan oleh A.A Yewangoe, BPK Gunung Mulia, Jakarta :2005.

Sabtu, 16 April 2011

Hamba, bukan sebatas nama

Oleh : P. Erianto Hasibuan, M. Div.

HARI Minggu ini dalam kalender gerejawi desebut dengan hari Minggu Palmarum. Minggu Palmarum menjadi penting karena lima hari setelahnya adalah Hari Raya Jumat Agung. Lima hari sebelum Jumat Agung (Penyaliban), Tuhan Yesus dieluelukan dengan penuh antusias oleh penduduk kota Yerusalem. Mereka berharap, Yesus dapat mereka angkat menjadi Raja Israel, sebuah harapan bangsa yang telah lama terjajah.

Mereka mengumandangkan mazmur pujian kepada Allah, seperti yang diajarkan oleh nenek moyang mereka ketika berziarah ke Bait Allah di Kota Jerusalem. Mazmur pujian itu berlatar belakang kemenangan nenek moyang mereka dalam peperangan pada masa lalu. Pujian mereka benar-benar menyanjung dan menghormati Tuhan Yesus dengan kutipan Mazmur 118:26. “Hosana!” yang berarti “Selamat sekarang”. Lalu seruan mereka berlanjut, “Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!” Nyata sekali bahwa kedatangan-Nya ke Jerusalem pada dasarnya adalah dengan tujuan baik, nama Tuhan disertakan dan diharapkan membawa berkat. Tetapi yang disayangkan, mereka tidak memperhatikan makna rohani dan lebih mementingkan pada gerakan politik untuk melawan pemerintah penjajahan Romawi.

Terabaikannya makna rohani atas pujian penduduk kota Israel, dibuktikan pada lima hari kemudian, saat harapan mereka tidak menjadi kenyataan, penduduk yang sama kembali berseru tetapi bukan lagi dengan seruan Hosana! tetapi menjadi, “Salibkan Dia!”

Hamba dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI) berarti budak, sedang dalam bahasa Yunani digunakan doulos yang berarti hamba atau orang yang bergantung pada. Jika kita mengaku bahwa kita adalah hamba Tuhan (yang dimaksud sudah barang tentu kita semua, bukan hanya terbatas pada mereka yang terlibat dalam jabatan-jabatan pelayanan) maka kita adalah orang yang bergantung pada Tuhan. Yesus telah memberikan teladan bagi kita, bagaimana Ia sebagai hamba yang bergantung pada Allah Bapa. Dia yang adalah Sang Pencipta rela mengambil rupa ciptaan (manusia) bahkan mengambil rupa yang paling hina yaitu hamba (Flp. 2:6-8). Hingga kematiannya pun disejajarkan dengan seorang penjahat (disalibkan).

Pujian yang dikumandangkan penduduk Yerusalem, tidak menggoyahkan pendiriannya sebagai hamba Allah yang mengemban tugas untuk menyelamatkan umat manusia, sekalipun itu penuh dengan derita di kayu salib. Itulah panggilan sejati, hamba buknan hanya sebatas nama yang diemban kala menyenangkan namun dilupakan kala penderita, hingga orang sekitar tidak dapat melihat dengan jelas makna hamba dalam kehidupan keseharian.

Minggu ini, anak-anak kita menerima Sakramen Pengakuan Iman/Sidi, selama sembilan bulan mereka telah dipersiapkan secara intensif oleh gereja sebagai katekisan, dan sepanjang usia mereka orang tua mereka telah membimbing mereka. Pengakuan Iman ini merupakan peristiwa penting yang mengantar mereka menjadi warga gereja yang dewasa. Kedewasaan tidak datang secara instan, tetapi memerlukan proses, jika lalai dalam proses maka para katekisan hanya akan mengkonsumsi “susu” sebagaiman kekecewaan Paulus pada jemaat di Korintus (1 Kor.3 :2)

Jadi, mari menjadi jemaat yang dewasa, bukan hanya sekedar sebutan pasca pengakuan Iman, tetapi dewasa karena kita mengetahui apa yang berkenan pada-Nya dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah. (Kol. 1:10)

Akhirnya, jika Yesus sendiri telah memberikan teladan bagi kita, bahwa Ia telah menjadi hamba dalam arti yang sesungguhnya, adakah kita lebih terhormat daripada Nya untuk mengambil kemuliaan bagi diri kita sendiri dengan menjadi majikan bagi hati kita ? (has10042011)
Tulisan ini merupakan renungan yang disampaikan di Warta Jemaat GKI KP Minggu 17 April 2011.