SELAMAT DATANG DI "TEOLOGI KAUMAWAM"

Salam dalam Kasih Tuhan Yesus Kristus. Terimakasih telah mampir di blog yg sederhana ini. Kami sangat berterimakasih bila saudara berkenan memberi tanggapan atas tulisan yang saudara baca di blog ini. Karena dengan tanggapan itu kami akan dapat belajar dan berbagi, sebab untuk itulah blog ini dibuat agar hidup kita tetap terpelihara dalam persekutuan. Semua tulisan dalam blog ini dapat dikutip dengan tetap mencantumkan sumbernya. Kiranya Tuhan Yesus memberkati kita. Pax Vobiscum, Erianto Hasibuan

Selasa, 27 Mei 2008

TETAP PERCAYAKAN HIDUPMU HANYA PADA ALLAH

Oleh : P. Erianto Hasibuan

MINGGU EXAUDI = DENGARLAH AKU YA TUHAN

Nats : Daniel 3 : 20-29 BACAAN : Wahyu 3 : 7b-11

PENDAHULUAN :
Cerita Daniel dan ketiga sahabatnya Hanaya, Misael dan Azarya adalah cerita yang sangat populer dan telah akrab ditelinga kita sejak kita masih kanak-kanak, utamanya bagi mereka yang aktif di sekolah minggu. Jadi apa lagi yang menarik dari kisah Daniel dan sahabat-sahabatnya ini yang akan kita bicarakan saat ini ?. Pada minggu Exaudi yaitu Dengarlah aku ya Tuhan, kita dibimbing dengan epistola dari Wahyu 3 : 7b-11 yang membicarakan jemaat Filadelfia. Filadelfia merupakan suatu jemaat yang setia yang mematuhi firman Kristus dan tidak menyangkal Dia. Mereka telah menerima pertentangan dari dunia dan menolak untuk menyesuaikan diri dengan kecenderungan jahat dari jemaat-jemaat lainnya. Oleh karena kesetiaan mereka yang teguh maka Allah berjanji untuk melepaskan mereka dari masa kesengsaraan. Jika kita ingat latar belakang penulisan Wahyu oleh Yohanes dilatarbelakangi oleh penganiayaan yang dilakukan oleh Domitianus yang memuja dirinya sendiri. Tetapi ditengah kondisi tersebut ternyata masih ada jemaat yang masih berani tampil beda untuk tetap setia hanya memuji Allah didalam Kristus.
Cerita Daniel dan ketiga sahabatnya, dilatarbelakangi oleh jatuhnya kerajaan Yehuda dibawah pemerintahan Yoyakim kepada Nebukadnezar, raja Babel. (Dan 1:1 dab). Kerajaan Babel sebagai kerajaan penakluk, telah menjadi besar dan pada akhirnya mereka kekurangan tenaga terpelajar dari bangsanya sendiri untuk dapat menjalankan pemerintahan, karena itu Nebukadnezar memilih pemuda-pemuda tampan, sehat dan terpelajar dan membawa mereka ke Babel untuk mengajarkan kebudayaan dan bahasa Babel kepada mereka sehingga dapat dipakai untuk melayani kerajaan. Supaya diterima sebagai pegawai kerajaan Daniel dan kawan-kawan memerlukan kewarganegaraan Babel, untuk itu mereka diberi nama Babel, Daniel (Beltsazar) dan ketiga sahabatnya Hanaya (Sadrakh), Misael (Mesakh) dan Azarya (Abednego).

DUA KONTRADIKSI

1. Nebukadnezar Contoh Pemimpin yang buruk
Jika kita perhatian Nats kita Daniel 3 : 20-29, kita akan melihat 2 kontradiksi dalam kisah ini, yang pertama adalah Raja Babel Nebukadnezar, ia adalah contoh pemimpin yang tidak konsisten (labil), mari kita lihat ke pasal sebelumnya. Dalam Daniel 2, setelah tiada seorangpun dari para orang berilmu, ahli jampi, ahli sihir dan Kasdim yang dapat menjelaskan arti mimpi tersebut kecuali Daniel, maka Nebukadnezar mengakui bahwa Allah yang disembah Daniel adalah Allah yang mengatasi segala allah. (Daniel 2 :47-48). Tetapi dengan berlalunya waktu dan dengan semakin berlimpahnya kemakmuran atas negeri yang dikuasainya, serta merta ia membuat peraturan yang mengarah kepada kepuasan pribadinya sendiri yang pada akhirnya bermuara pada pengkultusan individu sebagaimana yang dilakukan oleh Domitianus pada latar belakang kitab Wahyu. Ketidak konsistenan Nebukadnezar terlihat dengan peraturan yang dibuatnya untuk menyembah patung yang dibuatnya. Mengapa Nebukadnezar begitu cepat berubah kepada penyembahan berhala (patung) sementara ia telah mengakui kebesaran Allah yang disembah Daniel ?. Jawabannya adalah karena ia hanya mengakui bahwa Allah yang disembah Daniel adalah Allah yang lebih besar dari berbagai allah lain. Artinya ia tetap mengakui keberadaan allah lain. Bukannya mengakui adanya Allah yang Esa. Pengakuan Nebukadnezar ini juga kerap kita lakukan secara sadar atau tidak sadar. Saat kita mendapatkan manfaat dari penyembahan kita kepada Allah misalnya doa kita dijawab (dikabulkan) kita mengakui kebesaran Tuhan, tetapi pada saat doa kita tidak kunjung dijawab (menurut versi kita) maka kita meminta pertolongan kepada allah lain, ke orang pintar atau dukun misalnya. Bukankah ini juga menunjukkan ketidak konsistenan kita kepada Allah ? Bukankah seharusnya kita mengakui hanya ada satu Allah didalam Yesus Kristus yang kita sembah walau bagaimana konsisi kita.
Nebukadnezar adalah contoh pemimpin yang emosional (spgr-toba), pada saat ia mendengar laporan dari para Kasdim bahwa orang Yahudi tidak menyembah patung tersebut pada saat sangkakala, seruling, kecap, rebab, gambus dan berbagai bunyi-bunyian dikumandangkan, ia menjadi begitu marahnya hingga meminta api dipanaskan 7 kali lebih panas, akibat ulahnya tersebut bahkan telah menghabisi nyawa prajuritnya yang mengangkat Sadrakh, Mesakh dan Abednego ke dalam perapian. Emosi Nebukadnezar didorong oleh ambisi pribadinya hingga ia tidak mampu berfikir secara rasional dan mengingat kembali bahwa sebagaian dari kejayaannya tidak terlepas dari jasa para gubernurnya yaitu Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Emosi/Panas hati ini juga yang membuat Kain tega membunuh saudaranya sendiri Habil (Kej. 4: 6-7) karena hati yang panas inilah merupakan pintu masuk bagi kebencian, dan bila tidak dapat dikuasasi akan menjadi tindakan kekerasan bahkan pembunuhan. Kita kadang juga diperhadapkan pada hal yang sama, karena ketidak sukaan kita terhadap seseorang telah menghasilkan emosi sehingga apapun yang dikatakan orang tersebut kita tidak dapat menerima dan bahkan menentangnya seolah menjadi sebuah ketidak benaran, sekalipun didalamnya ada kebenaran, bahkan kita melupakan hal-hal baik yang pernah ada diantara kita dengannya. Tidak jarang orang melukiskan kebenciannya dengan mengatakan “ dang diahu dang diho tumagonan tu begu” (tidak untuk ku tidak juga untuk mu lebih baik untuk hantu)

2. Sadrakh, Mesakh dan Abednego Contoh ketaatan yang sempurna
Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego adalah orang Yahudi yang dibawa oleh Aspenas atas perintah Nebukadnezar ke Babel, tidak hanya dibawa ke Babel tetapi keempat orang ini juga dijadikan sebagai orang Babel dengan mengganti nama mereka dari nama Yahudi Beltsazar (Daniel) dan ketiga sahabatnya Hanaya (Sadrakh), Misael (Mesakh) dan Azarya (Abednego), nama yang semula artinya adalah untuk memuji Allah Isreel mis. Daniel Allah adalah hakimku menjadi Beltsazar Bel dewa tertinggi Babel melindungi hidupnya demikian juga dengan Hanaya Tuhan menunjukkan kasih karunia menjadi Sadrakh Hamba Aku yaitu dewa bulan tidak hanya itu mereka juga diberikan pendidikan secara Kasdim dan makanan dari makanan raja (Dan. 1 : 3-7). Mereka dididik selama 3 tahun. Tetapi sekalipun diberi kenikmatan di Babel, tetapi Daniel dan ketiga sahabatnya tetap tidak mau menajiskan diri dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum oleh raja. Dalam hal ini Daniel dan ketiga sahabatnya tetap mempertahankan kesucian hidupnya untuk tidak memakan makanan yang telah dipersembahkan kepada berhala/dewa. Ketaatan mereka yang menjadikan mereka berani tampil beda dari sekian banyak para pelajar lainnya telah mengkawatirkan pengurus istana bahwa mereka nanti kelihatan tidak sehat dan pintar. Tetapi Daniel dengan ketaatan yang penuh telah sanggup untuk meminta diadakan perlombaan selama sepuluh hari, mereka tidak mengkonsumsi makanan raja dan anggur tetapi hanya memakan sayur. Setelah sepuluh hari ternyata mereka kelihatan lebih gemuk dari semua orang muda yang memakan santapan raja (Dan 1: 15), bahkan kepada keempat orang tersebut Allah telah memberikan pengetahuan dan kepandaian tentang berbagai-bagai tulisan dan hikmat, dan Daniel juga mempunyai pengertian tentang berbagai-bagai penglihatan dan mimpi. (Dan 1:17) Kemampuan ini yang nantinya digunakan oleh Daniel untuk menyingkapkan misteri dari mimpi raja yang tidak mampu disingkapkan seluaruh orang pintar di Babel.
Kemampuan yang dimiliki oleh Daniel telah mengantarkan mereka menduduki posisi kunci di kerajaan Babel. Ketiga sahabatnya atas saran Daniel telah ditempatkan menjadi gubernur di berbagai wilayah di Babel. Ketaatan mereka telah menghasilkan berkat dan suka cita yang besar bagi mereka. Tetapi ternyata ketaatan dan kesetiaan tidak selalu mendatangkan berkat dan pujian (kesenangan), tetapi juga membutuhkan pengorbanan.
Nebukadnezar yang telah terbuai dengan kekuasaan dan ambisinya, membuat sebuah patung emas yang besar, dan pada saat peresmian ia mengundang seluruh petinggi negeri termasuk para gubernur, hingga ketiga sahabat Daniel hadir, tidak dijelaskan mengapa Daniel tidak ada pada kesempatan tersebut. Pada saat mereka harus menyembah kepada patung tersebut, ketiga sahabat Daniel ini ternyata tetap konsisten terhadap iman percayanya, kepercayaannya tidak luntur oleh kemilau jabatan yang diembannya. Mereka pasti sadar betul bahwa ketidak taatan mereka terhadap Nebukadnezar bukan hanya akan menghilangkan jabatan mereka, tetapi bahkan nyawa mereka. Siapa sih sesungguhnya yang sudi kehilangan jabatan yang begitu mengah?, apa sih susahnya hanya sekedar menyembah kepada patung, toh belum tentu itu artinya berkhianat kepada yang kita percayai atau Allah yang kita sembah? Itu mungkin pikiran kita. Tetapi Sadrakh, Mesakh dan Abednego memiliki kesetiaan dan ketaatan yang didasari pada iman yang teguh kepada Allah, mereka berani tampil beda dan siap untuk berjalan bersama Allah dalam situasi apapun. Tidak sekedar hanya dikala senang. Perhatiakan bagaimana mereka bertiga menghadapi arogansi seorang Nebukadnezar : “ Dan 3:15 Sekarang, jika kamu bersedia, demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, sujudlah menyembah patung yang kubuat itu! Tetapi jika kamu tidak menyembah, kamu akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala. Dan dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?"
Nebukadnezar telah beranggapan bahwa dirinya bahkan lebih kuat dari para dewa. Tetapi dengan penuh ketenangan sebagai buah dari kepercayaannya kepada Allah mereka merespon “ Dan 3:16 Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: "Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. 3:17 Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; 3:18 tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu."
Ini adalah jawaban penuh iman yang menyatakan sesungguhnya Nebukadnezar bukanlah penentu nasib mereka, dan kepercayaan mereka kepada Allah tidak tergantung pada hukuman yang diberikan raja kepada mereka. Sekalipun mereka harus dihukum mereka tetap tidak akan menyembah patung buatan tangan manusia tersebut.
Ternyata kepercayaan mereka yang bulat kepada Allah telah menghasilkan mujizat yang luar biasa, Allah telah meluputkan mereka dari panas api yang membara, bahkan Nebukadnezar sendiri menyaksikan ada seorang yang bagaikan anak dewa (3:25), apa hasil mujizat tersebut?, hasilnya adalah Nama Allah ditinggikan di Babel, untuk kedua kalinya setelah penyingkapan mimpi oleh Daniel, kembali Nebukadnezar mengakui kebesaran Allah dengan mengatakan “terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego (3:28) Pada akhirnya Nebukadnezar menitahkan (3:29) bahwa setiap orang dari bangsa, suku bangsa atau bahasa mana pun ia, yang mengucapkan penghinaan terhadap Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego, akan dipenggal-penggal dan rumahnya akan dirobohkan menjadi timbunan puing, karena tidak ada allah lain yang dapat melepaskan secara demikian itu."
3:30 Lalu raja memberikan kedudukan tinggi kepada Sadrakh, Mesakh dan Abednego di wilayah Babel.


Simpulan
Nebukadnezar saat mendengar ada yang tidak mengindahkan titahnya dipenuhi dengan rasa amarah, karena ia merasa paling berkuasa, tetapi ada orang yang tidak taat kepada titahnya, ia khawatir kehilangan rasa kemasyurannya hingga dengan serta merta ingin menghabisi mereka yang tidak mengakui kekuasaannya. Sadrakh, Mesakh dan Abednego, sama sekali tidak khawatir akan kehilangan apapun bahkan nyawanya sehingga ia tetap taat kepada Allah. Logika manusia mereka akan kehilangan segalanya bahkan nyawanya saat mereka tetap bertahan untuk tidak menyembah berhala tersebut dan diamsukkan kedalam api, tetapi benarlah yang dikatakan Matius dalam Mat. 10:39 Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.
Nebukadnezar akhirnya kehilangan kewibawaannya saat ia melihat bahwa ketiga orang tersebut tidak mati, bahkan prajurutnya yang mati kepanasan saat mencampakkan ketiga orang tersebut kedalam perapian. Tetapi Sadrakh, Mesakh dan Abednego tidak hanya memperoleh nyawanya kembali tetapi kemuliaan Allah di Babel dengan dikeluarkannya perintah Raja bahwa setiap orang dari bangsa, suku bangsa atau bahasa mana pun ia, yang mengucapkan penghinaan terhadap Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego, akan dipenggal-penggal dan rumahnya akan dirobohkan menjadi timbunan puing, Lebih dari itu mereka diberikan kedudukan tinggi kepada Sadrakh, Mesakh dan Abednego di wilayah Babel.




Disampaikan pada Kotbah Minggu 6 April 2008 Pkl. 10.15 GEREJA POUK MARANATHA MEDAN – SUMUT.

PUJILAH KASIH SETIA TUHAN

Oleh : P. Erianto Hasibuan

MINGGU MISERICORDIAS DOMINI = KASIH SETIA TUHAN

Nats : Mazmur 33 : 4-9 BACAAN : Rom. 8 : 17-26

PENDAHULUAN :
Setiap kali Mancester United bertanding dan disiarkan di televisi itu merupakan hal yg menyenangkan bagi saya, sekalipun membosankan bagi isteri saya. Seandainya saya tidak berkesempatan menontonnya karena ada hal lain, saya tetap akan akses ke website MU untuk mencari tahu hasil pertandingannya, dan bila tim itu menang dengan senang hati saya akan membaca beritanya via internet sekalipun itu akan menambah pengeluaran untuk membayar pulsa.
Kepuasan saya akan semakin lengkap bila saya menceritakan hasil pertandingan tsb kepada siapapun yg saya temui termasuk isteri saya sekalipun dia tidak suka bola. Ketertarikan kita terhadap sesuatu dapat dipengaruhi banyak faktor, seperti Adam Malik (Alm), sejak kecil saya mengidolakan tokoh ini karena dia orang Siantar dan bersekolah di SD yang sama dengan saya sekalipun beda generasi. Isteri saya misalnya dia gemar mengikuti berita Mayang Sari bukan karena dia mau meniru kelakuannya, tetapi karena Mayang teman sekampungnya di Purwokerto.
Di Bandung kita mendengar ada konser yang hingga membawa korban nyawa karena para pencinta (fans) grup band tersebut begitu mengidolakannya sehingga anak-akan muda tidak mau kehilangan kesempatan untuk melihat idolanya secara langsung.
Anda tentu juga memiliki tokoh ”pujaan” yang dengan penuh pengorbanan terus mengikuti perkembangan tokoh tersebut, untuk dapat mengenal tokoh tersebut dari seluruh aspek kehidupannya yang tujuannya agar anda dapat meniru atau bertingkah seolah tokoh pujaan anda tsb.

Pengenalan Kepada Firman :
Mazmur 33 adalah Pujian bangsa Israel yang biasanya dilantunkan pada perayaan hari besar. Pengakuan bahwa Firman TUHAN itu benar, segala sesuatu dikerjakanNya dengan kesetiaan (4) adalah hasil dari pengalaman bangsa Israel secara kolektif dengan Allah sejak leluhur mereka keluar dari Mesir. Bumi Penuh dengan kasih setia TUHAN (5) tidak ada yg terluput lingkungan dimana mereka tinggal diakui bahwa kasih setia Tuhan ada dimana saja. Bangsa Israel semula hidup sebagai pengembara selama 40 tahun, dipadang yg tandus mereka dipelihara dengan tiang awan pada siang hari dan tiang api pada malam hari agar mereka dapat jalan siang dan malam.(Kel. 13:21). Saat di Kanaan mereka diberi curah hujan agar tanah mereka menghasilkan dan siapa sumber semua kasih setia tersebut adalah TUHAN. Inilah yang dikumandangkan oleh bangsa Israel, sebagai wujud ketaatan dan pengenalan mereka terhadap TUHAN yang mereka sembah.
Dengan baik pemazmur juga mengenal Allah yang mencipta dengan FIRMAN NYA, inilah yang kemudian dinyatakan oleh Yohanes bahwa Firman itu adalah Allah (Yoh 1:1b). Jauh sebelum Injil dituliskan, orang Israel telah mengenal Firman yang bukan hanya sebagai pencipta tetapi juga pemelihara ciptaanNya (Mzm.147 :15-18; 148:8). Di era PB kalangan Yunani berfikir bahwa Yohanes sedang membicarakan asas rasional dari alam semesta. Mereka paham benar bahwa Firman lah yang mencipta Langit dan Bumi, sehingga pada saat Yohanes menuliskan bahwa Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan dan tanpa Dia tidak ada suatu apapun yang telah jadi ... (Yoh 1:3) mereka dapat memahaminya. Tetapi pada saat Yohanes menuliskan bahwa Firman itu telah menjadi manusia (daging/sarx) dan diam diantara kita, (Yoh. 1:14) mereka terkejut dan sulit untuk memahaminya, dan bahkan tidak dapat memahaminya, buktinya mereka menyalibkan Dia yang adalah Firman itu.
Bagaimana pemahaman kita tentang Firman? Dapatkah kita memahami bahwa : Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dgn Allah (en arkhe en ho logos, kai ho logos en pros ton Teon) Yoh. 1:1 dan Padamulanya Allah menciptakan Langit dan Bumi (beresit bara elohim et hasmayim weet haares) Kej 1: 1.
Apakah kita hanya dapat meneriman itu sebatas alam ini masih bersahabat dengan kita, dan meragukannya pada saat alam ini tidak lagi bersahabat dengan kita. Jika demikian dimanakah pengharapan kita kepada TUHAN ? Bukankah Paulus mengatakan didalam Rom. 8 : 24 b ...Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi. 25. Tetapi jika kita mengharapkan apa yg tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun. (Epistola).
Orang Israel sekalipun kerap memberontak kepada Allah dan dikenal sebagai bangsa yang tegar tengkuk, tetapi disisi lain, Pemazmur menggambarkan bagaimana bangsa ini mengakui bahwa oleh Firman TUHAN langit telah dijadikan oleh nafas (Ruach=roh) dr mulut-Nya segala tentaranya (7). Inilah pengakuan mereka yang menggambarkan adanya pengharapan mereka akan campur tangan Allah dalam setiap kehidupan mereka sekalipun yang sedang mereka hadapi adalah ketidak nyamanan, tetapi mereka tetap berpengharapan karena ” Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada (9) adalah pengakuan yang menegaskan kembali bahwa Padamulanya Allah menciptakan Langit dan Bumi (Kej. 1:1) dan Yoh 1: 1 Padamulanya adalah Firman.

Pujilah Kasih Setia Tuhan
Sulit sekali bagi saya untuk mengatakan yang buruk tentang klub sepak bola MU, karena saya penggemarnya, sekalipun secara rasional saya memahami ada beberapa kelemahan yang dimiliki mereka. Konon lagi dengan ALLAH yang SEMPURNA, selayaknya kita menjadikan FIRMAN itu menjadi Idola kita, sehingga kita senantiasi terdorong untuk mengetahui lebih jauh lagi sehingga kita dapat berprilaku sebagaimana Firman itu menggariskannya.
Pengenalan akan Firman itu tidak dapat kita lakukandengan cara mengasingkan diri dan bertapa, tetapi pengenalan tersebut akan disempurnakan melalui perbuatan kita yang segambar dengan Tuhan Yesus sebagai tokoh sentral dalam Firman itu, karena memang Dia sendirilah Firman itu.
Pengenalan yang benar akan Allah akan membuat kita senantiasa memuji TUHAN karena kita semakin merasakan begitu besarnya Kasih Setia Tuhan (MISERI CORDIAS DOMINI)

Disampaikan pada Kotbah Minggu 6 April 2008 Pkl. 10.15 GEREJA POUK MARANATHA MEDAN – SUMUT.

Selasa, 04 Maret 2008

GEREJA BAGI ORANG LAIN

Oleh : P. Erianto Hasibuan

MINGGU LETARE = TAMPAKLAH

Nats : Kis. 3 : 1-10 BACAAN : Mzm. 126 : 1-6


PENDAHULUAN :
Tom adalah salah seorang yang tidur nyenyak dipagi hari. Dia tidak akan pernah bangun untuk pergi ke sekolah sebelum ibunya memanggil dan menjaganya sampai terbangun. Beberapa waktu kemudian, dia keluar dari sekolah dan magang di sebuah kota. la tinggal di sebuah rumah kost. Hadiah perpisahan dari ayahnya adalah sebuah jam weker. Tom berkata, ”Bagus; sekarang saya akan bisa bangun.”
Di kamarnya yang baru, dia meletakkan jam wekernya itu di atas meja, tapi pada malam pertama dia lupa menyetelnya. Ia tahu bahwa la lupa menyetel wekernya itu, namun karena la sudah berada di atas tempat tidur, ia malas untuk bangun dan menyetel wekernya itu. Pagi hari berikutnya, dia terlambat bangun dan terlambat satu jam di tempat kerja. Hal yang sama terjadi pada malam berikutnya, dan seterusnya. Setelah dia datang terlambat pada beberapa pagi hari, majikannya berkata, "Hal ini tidak bisa terus-menerus terjadi. Jika ini terjadi lagi, saya akan menulis surat kepada ayahmu dan memberi tahu dia bahwa kamu tidak cocok untuk pekerjaan ini."
Tom tidak ingin hal ini terjadi, maka malam itu dia teringat untuk menyetel wekernya. Pada pagi berikutnya, weker itu membangunkannya, tapi dia berpikir untuk tidur lima menit lagi; dia pun tertidur lagi, dan untungnya, terbangun tepat pada waktunya untuk segera bergegas berangkat kerja tanpa sempat sarapan pagi.
”Saya sungguh bodoh,” pikirnya. "Saya memiliki jam weker, tapi la tidak berguna kalau saya tidak menggunakannya.”
Maka dia bertekad untuk menyetel Jam itu setiap malam sebelum melepaskan pakaian untuk tidur, dan setiap pagi bangun ketika jam itu membangunkannya. Dia tetap setia dengan hal ini, dan hasilnya segalanya lancar.
Hal ini serupa dengan rahmat yang tidak akan berguna jika kemauan bebas kita tidak bekerja sama dengannya.
Bacaan kita dalam Epistola Mzm 126 menyatakan bahwa Tuhan telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersuka cita (Mzm 126 :3), apakah kita saat ini, kita masih dapat bersuka cita atas perkara-perkara yang dilakukan Allah kepada kita?, ataukah kita sudah melupakan Rahmat yang diberikan Allah kepada kita seperti halnya dengan Tom ?

GEREJA UNTUK SIAPA ?
Bila kita perhatikan Nats kita Kis. 3 : 1-10, ini mengisahkan bagaimana kehidupan para Murid Pasca kenaikan Tuhan Yesus, Jika kita melihat kebelakang, pada saat Tuhan Yesus mengutus kedua belas muridnya dan bagaimana mereka gagal menyembuhkan seorang anak yang sakit ayan versi Matius : 17 :14-21; mengusir roh dari seorang anak yang bisu versi Mrk.9 : 14-29 dan Luk 9 : 37-43a. Dalam Injil Matius dijelaskan mengapa para murid tidak dapat megusir setan tersebut, jawab Yesus adalah ” karena mereka (para murid) kurang percaya” (Mat. 17 :20).
Pada saat itu mereka masih bersama-sama dengan Yesus, tetapi justru mereka gagal untuk melakukan tugas mereka, pada saat Yesus telah naik ke Surga dan Ia mencurahkan Roh Kudus kepada mereka, mereka menyadari kuasa Roh Kudus yang dicurahkan kepada mereka, sehingga Mujizat dapat terjadi karena Iman mereka ” Demi nama Yesus Kristus orang Nazareth itu” (Kis.3:6b)
Iman Petrus diawali dengan kesadarannya, bahwa ”Emas dan perak tidak ada padanya” (Kis.3 :6a) tetapi justru ia memiliki hal yang lebih berharga yang dibutuhkan oleh si lumpuh. Bagaimana dengan kita yang dipilih Tuhan menjadi warga gereja, pengurus gereja, masihkah kita menyadari bahwa kita memiliki hal yang lebih berharga dari Emas dan Perak ?. Apakah yang dibutuhkan setiap orang yang datang ke Gereja ?, mereka sepertinya hanya membutuhkan belas kasihan agar dapat bertahan hidup seperti halnya si lumpuh, tetapi sesungguhnya yang ia butuhkan adalah kekuatan yang dapat melepaskan dia dari kelemahan yang seolah terlihat permanen baginya dan tidak akan tersembuhkan. Sebagaimana masyarakat mengenalnya sebagai seorang yang biasanya duduk meminta sedekah di Gerbang Indah ? (Kis.310 b)
Jika kita telaah lebih lanjut dari bacaan ini, dikatakan yang naik kedalam Bait Allah adalah Petrus dan Yohanes, tetapi yang menyapa adalah Petrus, mengapa bukan Yohanes?, apakah karena Petrus pemimpin mereka ? bisa jadi, tapi yang kita ketahui, Petrus memiliki karakter yang ekspresif dan responsif, karakter Petrus ini sesungguhnya sesuai dengan karakter kita orang Batak, yang reaktif dan responsif. Karakter ini ternyata tidaklah selalu negatif seperti yang selalu digambarkan orang, tetapi dapat juga digunakan kepada hal yang positif seperti yang dilakukan Petrus. Tapi jangan kita reaktif karena hal-hal yang membuat orang yang kuat menjadi lemah, atau orang yang sedikit lemah justru menjadi seperti orang lumpuh yang tak berdaya. Seperti contoh, jika kita melihat orang yang tidak biasanya duduk di tempat yang biasa kita duduki atau kelompok koor kita duduk, apakah kita menyapanya dengan ramah sehingga ia menjadi dikuatkan dan nyaman di lingkungan tersebut atau sebaliknya justru kita memandang dengan sinis, sehingga ia minggu depan tidak akan berani datang ke gereja ini, atau kalaupun datang ia akan duduk di bagian belakang paling pojok agar tak seorang pun dapat memandang dia dengan sinis, dan dapat keluar dengan cepat tanpa harus bersalaman dan bertegur sapa dengan yang lain.
Petrus menyembuhkan pengemis yang ada di pintu gerbaing Bait Allah, tentu ia bukan bagian dari jemaat di Bait Allah itu, ia hanya ada di pintu gerbang untuk mengharapkan sedekah untuk bertahan hidup, tetapi Petrus berkenan menyembuhkannya, artinya Petrus tidak membatasi diri kepada lingkungan Gereja, tetapi dia memberi contoh bahwa kehadiran Kristus, yang diwakili oleh Gereja Tuhan dan jemaatnya juga harus dapat dirasakan oleh orang lain yang diluar gereja. Kehadiran gereja yang dapat dirasakan oleh orang lain tentu tidak hanya diukur oleh kemampuan materi gereja tersebut, sebab Petrus juga mengatakan Emas dan Perak tidak ada padaku, tetapi justru yang diberikan adalah hal yang lebih berharga dari itu, yaitu hal-hal yang dapat menolong orang lain terbebas dari kelemahannya (kelumpuhannya), sebagai contoh kecil, jika warga gereja memiliki talenta dibidang musik atau vokal, dapatkah orang disekitar kita merasakan talenta kita tersebut ? atau justru mereka merasakan talenta itu sebagai pengganggu ketenangan mereka ?.
Di berbagai tempat sering terjadi perusakan Gereja, dan kita langsung bereaksi bahwa kebebasan beragama tidak dijamin di negara ini, tapi pernakah kita merenungkan bagaimana kehadiran Gereja bagi orang lain ?, apakah Gereja mereka rasakan hanya sebagai pengganggu ? misalnya ada disuatu tempat Gereja didaerah pemukiman penduduk yang mayoritas non Kristen, dari kalangan sederhana. Setiap minggu bahkan 2 hingga 3 kali seminggu, jalanan mereka menjadi macet karena banyaknya mobil mewah parkir disekitar tempat tinggal mereka, bahkan tidak jarang menghalangi jalan mereka, sehigga becak mereka tidak dapat keluar. Yang mereka rasakan hanyalah kehadiran gereja sebagai pembuat masalah, dan menggangu aktivitas mereka, belum lagi warganya yang sombong dan eksklusif. Apakah demikian fungsi gereja ? Jemaat mula-mula digambarkan sebagai ”Mereka disukai semua orang” (Kis. 2 :47 b).

PENUTUP
Jika jemaat mula-mula dikatakan Mereka disukai semua orang, maka pada saat ini kita juga diajak untuk dapat menjadikan Gereja kita menjadi tempat bagi siapapun termasuk orang lain, bagaimana hal ini dapat di wujudkan, apabila setiap orang yang ada didalam gereja, pengurus gereja, dan keluarganya, dan warga jemaat dan keluarganya disukai oleh semua orang.
Bagaimana kita dapat disukai semua orang ?
1. Sadarilah bahwa anda memiliki rahmat (talenta) yang harus digunakan, seperti Tom dan Jam bekernya, jika Jam bekker hanya dibiarkan tanpa distel maka ia tidak akan berfungsi. Talenta anda harus digunakan dengan nyata kepada siapa saja, sehingga Talenta itu dapat memberi kekuatan bagi orang lain secara nyata, sehingga seperti minggu kita sat ini Letare yang artinya tampaklah.
2. Sebagai etnis Batak yang responsif dan reaktif, kita dapat menggunakannya seperti Petrus, yaitu untuk membebaskan orang dari kelumpuhannya, sehingga ia dapat dengan bebas memuji Allah dan masuk kedalam bait Allah (Kis.3:8), kuatkanlah yang lemah dan bebaskanlah yang tebelenggu.

Akhirnya, Gereja kita dapat menjadi gereja bagi orang lain, karena Kritus juga hadir bagi siapa saja, melampaui batas-batas keanggotaan gereja, kewarga negaraan dan bahkan melampaui etnis. Mari kita wujudkan Gereja untuk semua orang karena warganya disukai oleh semua orang. Kiranya Tuhan menolong kita menjadikan Letare (nyatlah/tampaklah) ditegah-tengah kehidupan kita. Amin !

Disampaikan pada Kotbah Minggu 2 Maret 2008 Pkl. 10.15 GEREJA POUK MARANATHA MEDAN – SUMUT.

Minggu, 03 Februari 2008

YEHOVAH NISSI (TUHANLAH PANJI-PANJIKU)

Oleh : P. Erianto Hasibuan

MINGGU ESTOMIHI = QUINQUAGESIMA

Nats : Kel. 17 : 8-16 Epistola: MAT. 7 : 24-27


PENDAHULUAN :
Didalam berbagai diskusi dan mungkin juga didalam benak kita semua, kerap kali muncul pertanyaan, begitu kejamkah Allah ? sehingga Ia tega untuk menghapuskan ciptaannya yaitu orang Amalek, bahkan akan menghapuskan orang Amalek dari ingatan manusia ? (14).
Siapa sesungguhnya orang Amalek itu dan apa kesalahan mereka hingga mereka mendapat ganjaran yang begutu luar biasa. Amalek dilahirkan oleh Timna yang adalah gundik Elifas anak Esau. (Kej. 36:12) Jadi Amalek adalah Cucu Esau, Saudara kembar Yakub. Esau melambangkan orang yang tidak dipilih Allah, sedang Yakub melambangkan orang yang dipilih Allah. Mengapa Esau tidak dipilih ? menurut penulis Ibrani karena ia memiliki nafsu yang rendah yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan.(Ibr. 12 : 17).
Alkitab memberikan gambaran kepada kita sifat orang Amalek, yaitu :
1. Jahat (Orang berdosa) (1 Sam 5:18 tumpaslah orang-orang berdosa itu, yakni orang Amalek)
2. Suka Menindas Hak.10:12 suku Amalek dan suku Maon yang menindas kamu, ketika kamu berseru kepada-Ku?
3. Suka berperang (Perampok) Ul. 25 : 17-18 "Ingatlah apa yang dilakukan orang Amalek kepadamu pada waktu perjalananmu keluar dari Mesir; 25:18 bahwa engkau didatangi mereka di jalan dan semua orang lemah pada barisan belakangmu dihantam mereka, sedang engkau lelah dan lesu. Mereka tidak takut akan Allah.
Sekalipun orang Amalek adalah Turunan Ishak dan saudara kembar Yakub, tetapi hal tersebut tidak menjamin mereka mendapat tempat dalam kasih karunia Allah bahkan Bileam bernubuat buat mereka "Yang pertama di antara bangsa-bangsa ialah Amalek, tetapi akhirnya ia akan sampai kepada kebinasaan." (Bil.24:20).

El Shaddai
Pada minggu Esto mihi atau Quinquagesima minggu ke tujuh sebelum Paskah, bacaan kita dari Kel. 17 : 8-16 didahului dengan Kel. 17 :1-7 yang bercerita bagaimana orang Israel sudah mulai meragukan kehadiran Allah pada saat mereka bersungut-sungut kepada Musa karena kehausan mereka. Kehausan tersebut seolah menghilangkan seluruh fakta mujizat yang pernah dibuat Allah kepada mereka, sejak mereka keluar dari Mesir hingga tiba di Masa dan di Meriba. Puncak ketidak percayaan mereka adalah ketika mereka mempertanyakan "Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?" (Kel. 17 :7b). Mereka tidak lagi dapat mengatakan EL SHADDAI atau ALLAH MAHA KUASA, ALLAH PEMELIHARA DAN SUMBER KEKUATAN.
Ditengah-tengah kegalauan dan ketawaran hati tersebut, mereka berhadapan dengan orang Amalek, bangsa pengembara yang hidupnya adalah dengan berperang dan merampok untuk menguasai pihak lain. Bagaimana mungkin orang yang sudah meragukan kehadiran Allah ditengah-tengah mereka mampu berperang melawan musuh ? Secara mental dan semangat dapat dipastikan mereka memiliki semangat yang patah dan mental sebagai orang-orang yang kalah. Sementara disisi sana, orang Amalek memandang mereka hanyalah segerombolan para budak yang sedang kebingungan tidak tentu arah. Orang Amalek memandang orang Israel adalah segerombolan budak yang mudah untuk dikalahkan, karena mereka tentu tidak mengerti bagaimana caranya berperang dan angkat senjata. Bagaimana Musa memimpin bangsa dengan mental seperti itu ?

YEHOVAH NISSI
Musa menepis keraguan orang Israel dengan memberikan jaminan bahwa jika mereka berperang dia akan berdiri di puncak bukit dengan memegang tongkat Allah. (9). Musa membangkitkan kembali ingatan orang Israel kepada tongkatnya yang adalah lambang kehadiran Allah ditengah-tengah mereka. Tongkat itu pasti mengingatkan mereka kepada peristiwa penyeberangan di Laut Teberau dan juga peristiwa di Masa dan Meriba. Tongkat yang mengingatkan mereka akan adanya PENGHARAPAN akan KEMENANGAN bila Allah ada dipihak mereka.
Yosua memimpin pasukannya berperang melawan Amalek, bukan lagi dengan keputus asaan tetapi dengan PENGHARAPAN dan KEYAKINAN bahwa Allah menjadi kekuatan mereka yang diperlambang oleh Musa, Harun dan Hur yang ada di puncak bukit.
Kehadiran Allah itu nyata, saat Musa mengangkat tangannya maka pasukan Yosua lebih kuat, tetapi bila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah Amalek. Karena peperangan terjadi terus menerus maka Musa penat hingga perlu ditopang oleh Harun dan Hur.
Kita tidak dapat memahami sepenuhnya cara kerja Allah, tetapi bacaan kita mengajarkan kepada kita pada saat tangan Musa ada di atas, Israel lebih kuat, tetapi bila ia menurunkan tangannya Amalek lebih kuat. Tangan Musa dan tongkat yang di atas melambangkan kehadiran Allah. Saat Allah menguasai kita (ada melampaui keinginan kita) maka kita lebih kuat dari lawan kita. Lawan kita adalah Amalek, yang melambangkan orang yang Jahat (Orang berdosa), Suka Menindas, Suka berperang (Perampok).
Semua kita pada dasarnya senantiasa digoda oleh keinginan kita untuk menjadi orang Jahat (berdosa), berkeinginan untuk menindas orang lain, utamanya untuk menunjukkan bahwa kita melebihi orang lain. Dimana kita memiliki kekuasaan disitu kita berpeluang untuk menindas orang lain, Sebagai pendidik yang berhak memberi penilaian kepada para murid, kita tergoda untuk menindas para murid sesuai keinginan kita, hingga kita lupa bahwa sesungguhnya tugas kita hanyalah memindahkan nilai yang telah dihasilkan oleh para siswa. Suka berperang disini bukan berperang dalam arti untuk mempertahankan hak, atau kehormatan bangsa, tetapi berperang untuk merampok, untuk menguasai milik orang lain. Pada saat kita mengetahui orang lain lemah atau tak berdaya, bukannya kita tergerak untuk memberi belas kasihan, tetapi kita tergoda untuk merampoknya. Suatu kali saya pernah terlibat pembicaraan dengan seseorang, kami memiliki profesi yang sama, saya seorang bankir dan iapun seorang bankir bedanya saya bekerja untuk perusahaan, ia bekerja untuk dirinya sendiri. Saat saya belajar bagaimana sistem perhitungan bunga yang dilakukannya kepada peminjamnya, lalu saya heran dan bertanya, apa ada bisnis yang mampu menghasilkan keuntungan lebih besar dari beban biaya dan bunga yang bapak lakukan ? Dengan enteng dia menjawab, memang rata-rata yang meminjam dari aku bangkrutnya Pak. Hasibuan. Kita kadang berlaku seolah sebagai penolong yang baik, tetapi sesungguhnya kita sedang melancarkan suatu strategi untuk merampok.

Orang Israel telah memberikan contoh, pada saat mereka meninggikan Allah, mereka mampu mengalahkan orang Amalek, tetapi pada saat Allah tidak ditinggikan, mereka kalah. Demikian halnya dengan kita, saat kita bermaksud untuk berubah dan bertobat dari sifat-sifat kita yang buruk, Jahat, Penindas dan Perampok sangat tergantung pada dimana posisi Allah kita tempatkan, apakah kita menempatkannya untuk mengikuti kehendak kita, atau kita menempatkannya di atas kehendak kita. Bila kita meletakkan kehendak kita dibawah kehendak Tuhan, maka kita akan seperti seorang yang bijaksana yang mendirikan rumahnya di atas batu (Mat. 7 : 24b). Sehingga kita tetap kukuh sekalipun datang hujan yang mengakibatkan banjir, artinya sekalipun persoalan hidup kita seolah sambung menyambung tiada henti bagaikan hujan, hingga membanjiri seluruh aspek kehidupan kita, baik ekonomi, kesehatan, karir, hubungan keluarga, bahkan kepercayaan kita. Tetapi bila Allah tetap di atas, kita akan dapat mengatakan YEHOVAH NISSI (Tuhanlah Panji-panjiku).
Untuk dapat mengatakan YEHOVAH NISSI (Tuhanlah Panji-panjiku) maka 2 hal yang perlu kita lakukan, yaitu :
1. Kita harus mengakui kehadiran Allah didalam kehidupan kita.
Bagaimana kehadiran Allah digambarkan dengan mudah, berikut ada sebuah ilustrasi.
Suatu kali seorang atheis meminta seorang anak perempuan kecil untuk mengucapkan beberapa kata tertentu setiap malam sebelum tidur. Dia menuliskan kata-kata itu agar anak itu tidak lupa : ” God is nowhere ” (Tuhan itu tidak ada).
Anak kecil itu mempelajari tulisan itu dan mngejanya huruf demi huruf, demikian : G-o-d God i-s is n-o-w now he-re here. Anak itu berkata, “Mudah sekali! Saya akan memulai doa saya dengan berkata, “God is now here”. (Tuhan sekarang ada di sini)
Artinya, walau persoalan hidup kita seolah memaksa kita untuk mengatakan God is nowhere ” (Tuhan itu tidak ada), tetapi tetaplah katakan “God is now here”. (Tuhan sekarang ada di sini).
2. Tetaplah Bersyukur, layaknya Musa mendirikan Mezbah setelah mereka mengalahkan orang Amalek. Jangan pernah melupakan apa yang pernah dilakukan Allah padamu, saat engkau meminta pertolongan pada Tuhan atas persoalan ataupun pertobatanmu, dan pada saatnya engkau telah dibebaskan dari itu, akuilah bahwa Allah yang bekerja dan Bersyukurlah, Ucapkanlah terima kasih.
Dengan demikian kita dapat mengatakan YEHOVAH NISSI (Tuhanlah Panji-panjiku)

PENUTUP
Kehidupan kita sehari-hari, lingkungan kita, mungkin kerap membuat kita sulit merasakan kehadiran Tuhan, tabiat kita yang tidak baik bahkan mungkin persoalan hidup yang tidak kunjung selesai, kesulitan ekonomi yang tidak pernah berhenti, sakit penyakit yang tidak pernah sembuh, pasangan hidup yang tidak kunjung sesuai, banyak berpacaran tetapi tidak juga menemukan yang cocock, pekerjaan yang tak kunjung hadir, ada pekerjaan tetapi jauh dari yang diharapkan, berkali-kali mengikuti tes tetapi tak kunjung diterima, rangking dikelas yang tidak kunjung membaik, dll. Semua itu mengajak kita untuk menyatakan "Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?" bahkan pada akhirnya kita tergoda untuk mengatakan Tuhan itu tidak ada. Tetapi hari ini, Firman Tuhan menyapa kita dengan kabar Baik, “God is now here”. (Tuhan sekarang ada di sini), ”Yehovah Nissi”, Tuhanlah Panji-panjiku. Aku tidak lagi sama seperti sebelumnya, karena saat ini aku yakin Tuhan sekarang ada di sini. Amin.

Disampaikan pada Kotbah Minggu 3 Feb 2008 Pkl. 10.15 GEREJA POUK MARANATHA

Senin, 14 Januari 2008

Batak Back To 17Th Century ?


Beberapa waktu yang lalu saya menerima SMS dari salah seorang Pdt. Yang menyatakan keprihatinan beliau atas rencana pembentukan oraganisasi Batak Islam disetiap Propinsi. Sang Pdt. Mengkawatirkan bahwa hal itu akan menjadi pertanda merosotnya perkembangan kekristenan dikalangan etnis Batak, sehingga beliau melalui lembaga yang dipimpinnya akan mengadakan kegiatan yang menguatkan para etnis Batak agar tidak memungkiri imannya dan bila memungkinkan untuk membawa jiwa-jiwa baru. Saya sebagai orang Batak sesungguhnya merasa malu dengan sang Pdt. Karena beliau sendiri bukanlah orang Batak, dan bahkan ybs. Berasal dari Non Kristen.
Dibalik kekawatiran sang Pdt. Tersebut, saya sendiri sebenarnya sudah mengamati gejala yang terjadi dikalangan etnis Batak. Dan yang menjadi keprihatinan pokok saya sesungguhnya adalah kembalinya kelompok-kelompok etnis Batak yang menyerukan ”Pemurnian Adat Batak”. Sesungguhnya saya tidak keberatan sama sekali dengan Adat Batak, tetapi kampanya ”Pemurnian Adat Batak” yang terjadi menurut pengamatan saya adalah mengembalikan seluruh ritual yang pernah dilakukan oleh para leluhur sebelumnya. Dengan demikian itu sama artinya dengan mengembalikan karakter awal para leluhur, sebelum hadirnya para misionaris.

Leluhur Pra Misionaris
Saya bukanlah ahli sejarah, tetapi dari beberapa buku yang saya baca misalnya Hesselgrave, David J and Rommen, Edward, Contextualization : Meanings, Methods, and Models, Baker Book House, 1989 ; Muller, Kruger, Dr. Th. Sejarah Gereja Di Indonesia. Badan Penerbitan Kristen-Jakarta, 1966 ; Pasaribu, Patar. M, DR. Ingwer Ludwig Nommensen Apostel di Tanah Batak, Univ. HKBP Nomensen, Medan, 2005 dan Schreiner, Lothar, Adat und Evangelium. Zur bedeutung der altvolkischen Lebensordnungen fur Kirche und Mission unter der Batak in Nordsumatra, Gutterslocher Verlagshaus Ger Mohn, 1972. Memberikan gambaran bagaimana para leluhur hidup dengan penuh kecemasan dan amarah yang selalu dihantui dengan perang antar sesama. Bahkan hanya sekedar urusan utang piutang dengan mudah kepala melayang, bahkan ritual demi ritual juga dilakukan dengan mengorbankan manusia sebagai sesajen. Pembantaian demi pembantaian dilakukan oleh seorang raja (kepala desa) terhadap raja lainnya.
Tidak dapat dipungkiri, kehidupan beradap para leluhur tercipta setelah Misionaris memasuki tanah Batak. Sebelumnya para leluhur adalah bangsa yang buas. Saya sebagai orang Baqtak tidak akan pernah malu sebagai orang Batak yang memiliki leluhur yang demikian, tetapi justru bersyukur karena dengan demikian Kasih Allah nyata bagi para leluhur dan turunannya hingga kini telah diubahkan menjadi bangsa yang beradap dan dapat hidup damao dengan siapapun tanpa didasari rasa takut,tetapi rasa kedamaian.

Adat Batak Vs Injil
Suara yang kerap didengungkan adalah, Adat Batak telah dirusak oleh hadirnya para Misionaris, sehingga ada kelompok yang saat ini gencar untuk mengembalikan kembali Adat Batak kepada bentuk yang Asali.
Pendapat kelompok ini sah-sah saja, tetapi yang perlu dihayati adalah, para Misionaris sendiri, utamanya Nommensen tidak berniat merusak atau merubah Adat (Budaya) Batak, yang mereka lakukan adalah, memberikan makna baru dari setiap Adat (budaya) Batak sehingga karakter bermusuhan dan menghancurkan satu sama lain tidak lagi ada didalamnya, hingga para leluhur dapat hidup berdampingan dengan damai. Ritual-ritual yang bersifat kekafiran (dari sudut pandang Iman Kristen) sudah barang tentu tidak lagi dilakukan, hingga untuk sementara diperlukan tempat ”pengasingan” yang disebut Huta Damai bagi para leluhur yang mengikut Kristus.
Sasaran kelompok ini umumnya adalah kalangan uneducated people sekalipun ada juga sebagian kecil kalangan educated people. Kalangan pertama tentu lebih mudah dipengaruhi mengingat mereka lebih banyak memahami mitologi-mitologi turun temurun dibanding pemahaman akan Iman Kristen. Untuk itu adalah tudas kita bersama untuk saling menguatkan. Utamanya adalah menumbuhkan budaya suka bertanya dan tidak malu (gengsi) bertanya dikalangan etnis Batak.
Tentu kita tidak berharap bahwa dimasa yang akan datang etnis Batak akan kembali dikunjungi para Misionaris yang prihatin karena prilaku ”KANIBAL” para leluhur hadir kembali di generasi berikutnya. Sekalipun pada awalnya kelompok ini kelihatannya santun dan hening, tetapi Sejarah telah membuktikan bahwa para leluhur dengan ajaran dan ritual yang dilakukannya pada masa lalu, tidak dapat menghadirkan DAMAI diantara mereka. Sementara Injil telah memberi kita DAMAI SEJAHTERA, SYALOM, PAX VOBISCUM.

Kamis, 13 Desember 2007

BERSUKACITALAH

Oleh : P. Erianto Hasibuan

Nats : Mat. 2 : 10

PENDAHULUAN :
Jika kepada kita saat ini ditanyakan, apa yang membuat anda bersuka cita, tentu dengan lancar kita dapat mengatakan beragam jawaban, bagi seorang anak kecil misalnya, dia bersuka cita pada saat natal dia diberikan baju baru, sepatu baru dan hadiah natal yang disukainya, bagi remaja yang sudah memiliki teman dekat, mungkin pada saat teman dekatnya tersebut memberinya hadiah ulang tahun, pada saat orang tuanya membelikan sepeda motor baginya, bagi orang dewasa mungkin pada saat dia dinyatakan lulus dari meja hijau, diwisuda, dan menikah, bagi orang tua mungkin pada saat kelahiran anak, pada saat anaknya diterima bekerja, dst. Tetapi bila ditanya kepada kita, ”apa yang membuat anda sangat bersuka cita?”, tentu kita tidak bisa menjawabnya dengan spontan, kita akan berfikir sejenak untuk membayangkan berbagai peristiwa menyenangkan yang kita sebutkan sebelumnya dan memilih satu peristiwa yang membuat kita sangat bersuka cita. Dan dipastikan bahwa peristiwa itu adalah peristiwa yang paling istimewa didalam hidup kita pribadi lepas pribadi.
Setiap orang pasti pernah merasakan sukacita, bahkan sangat bersukacita, tidak perduli apakah ia kaya atau miskin, berpendidikan atau biasa-biasa saja. Mengapa demikian ? Karena pada dasarnya manusia diciptakan menurut gambar (Tselem) dan rupa (demut) Allah yang sesungguhnya tidak ada perbedaan apakah ia kaya atau miskin, semua memiliki hati yang sama, yang membedakan adalah dengan apa hati itu diisi, dengan sukacita atau dengan kemarahan atau ketakutan.

Orang Majus dari Timur
Didalam kitab Injil, hanya dua penulis yaitu Matius dan Lukas yang menceritakan peristiwa kelahiran Yesus. Matius menceritakan orang Majus dari Timur yang menyembah Yesus, sedang Lukas menceritakan bagaimana para gembala memperoleh suka cita besar setelah menemui bayi Yesus.
Siapakah orang Majus dari Timur ini ? Majus merupakan terjemahan dari Magos (Yun. Orang berilmu dan menjadi imam) dalam tradisi Kristen dikemudian hari menganggap orang majus ini sebagai raja-raja (berdasarkan Mzm.72:10 kiranya raja-raja dari Tarsis dan pulau-pulau membawa persembahan-persembahan; kiranya raja-raja dari Syeba dan Seba menyampaikan upeti!).
Berdasarkan keterangan ini, dapat kita simpulkan bahwa mereka adalah orang-orang terhormat dan terpandang yang hidup dengan segala kemewahan dan pengetahuan-nya. Sekalipun Alkitab tidak menjelaskan, tetapi dapat kita perkiraan tentu bukan hanya mereka (diperkirakan 3 orang berdasarkan persembahannya yaitu emas, kemenyan dan mur atay sebagaian ahli mengatakan 12 orang) yang menjadi orang Majus, tetapi berapa pun mereka yang datang, 3 atau 12 orang dapat dipastikan tidak semua orang Majus datang mengikuti petunjuk bintang tersebut untuk menyembah raja (mesias) yang baru lahir. Sekalipun orang-orang majus yang lain juga menemukan tanda yang sama.
Lukas menceritakan datangnya para gembala, gembala menunjukkan orang-orang biasa yang berbeda jauh dengan orang majus. Kedua tulisan ini menunjukkan bahwa kedatangan Yesus kedunia memberikan sukacita bukan hanya kepada kalangan terdidik dan berpengaruh, tetapi juga dari kalangan ”biasa” seorang gembala yang didalam masyarakat dijamannya dianggap sebelah mata. Tetapi mereka semuanya mengalami sukacita yang sama. (Luk. 2: 20 Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.)

Bersukacitalah
Mat. 2 : 10 Ketika melihat bintang itu, mereka sangat bersukacita. Mengapa para orang majus sangat bersuka cita (ekharesan kharan megalen sporda =bersuka cita dengan suka cita yang sangat besar) karena mereka pasti sudah menggerahkan segala daya upayanya untuk mencari tahu arti dari tanda bintang itu sebagaimana pengetahuan yang mereka miliki, tetapi itu tidak cukup, mereka harus mencari tahu berbagai makna dibalik tanda itu. Didepan saya katakan bahwa bukan hanya mereka yang melihat tanda itu, tetapi hanya mereka yang memiliki motivasi besar dan usaha nyata untuk mencari tahu lebih dalam dan lebih dalam lagi, higga mereka rela meninggalkan segala kemewahan dan kenikmatan hidup yang mereka miliki hanya untuk menyerahkan persembahan bagi sang Raja yang baru lahir.
Coba kita periksa kembali jawaban kita tadi, pribadi lepas pribadi, apa yang membuat kita bersuka cita dan bahkan sangat bersuka cita, umumnya adalah saat kita memperoleh sesuatu, tetapi orang Majus bersuka cita dengan suka cita yang sangat besar pada saat mereka melihat bintang itu atau tanda itu, yaitu tanda bahwa mereka akan mendapat kesempatan untuk memberi (mempersembahkan) bukan mendapatkan sesuatu dalam arti materi.
Mari kita lihat bagaimana Suka cita ini digambarkan dalam bahasa daerah:
TOBA : mansai las situtu ma rohanasida. KARO : La tanggung riahna ukurna ngidahsa SIMALUNGUN: malas tumang ma uhur ni sidea. PAK-PAK : Soh mo lolona kalak idi
ANGKOLA: Jop situtu ma roha ni halahi JAWA : padha bungah banget.
NIAS : Ba omuso sibai dodora (dedera).
Hari ini, kita memang tidak menemukan bayi Yesus, sebagaimana orang Majus dan Gembala, atau bintang sebagai petunjuk, tetapi hari ini kita akan menemukan Sukacita yang sama jika kita memang merindukan lahirnya Yesus Kristus dihati kita pribadi lepas pribadi, apakah anda percaya sukacita yang sama dapat hadir bagi anda pada saat ini, sekalipun anda tidak melihat bayi Yesus?
Saya percaya, karena seperti yang dituliskan Paulus dalam didalam Rom. 14 : 17 Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. Suka Cita disini digunakan kata yang sama yaitu kara dalam Mat. 2:10 Artinya Siapapun anda yang hadir pada saat ini dapat mengalami sukacita yang sama karena ada ROH KUDUS. Suka cita itu akan menjadi Suka cita yang sangat besar bila kita mau menggunakan apa yang kita miliki untuk MENCARI DIA dan MENGENAL KASIHNYA dengan BENAR.
Jangan anda pikir Kebahagian atau sukacita hanya milik orang-orang tertentu saja, atau anda kawatir bahwa kebahagiaan yang anda peroleh saat ini akan segera sirna seperti pasangan muda berikut ini :
Sepasang suami isteri yang masih muda merasa bahwa mereka hidup berkecukupan dan sangat berbahagia, kecuali ada dua hal yang sangat mengganggu pikiran mereka yaitu: apakah kebahagiaan ini akan berlangsung terus atau mereka juga akan mengalami rintangan atau masalah-masalah hidup.
Pada suatu hari terdengar berita bahwa ada seorang tua yang bijaksana datang ke kota mereka. Orang tua ini sangat arif dan dapat membantu atau mencarikan jalan keluar dari masalah apapun. Pasangan muda ini segera bersepakat untuk mendatangi orang tua tadi dan menyampaikan alasan kecemasan mereka.
Setelah mendengar permasalahannya, si orang tua itu memberikan nasihatnya, "Pergilah kalian keliling dunia. Cari pasangan yang menurut kalian paling bahagia, bila kalian dapati, mintalah baju dari pasangan yang laki-laki, kalian simpan terus dan mudah-mudahan kalian akan selalu bahagia."
Pasangan muda itu memulai perjalanan mereka mengelilingi dunia untuk menemukan pasangan yang paling bahagia. Di salah satu tempat mereka mendengar bahwa gubernur di kota itu dan isterinya adalah pasangan yang paling bahagia. Kemudian pasangan muda itu pergi ke istana gubernur, menghadap dan bertanya, "Apakah tuanku pasangan yang paling berbahagia?" Gubernur dan isterinya menjawab secara bersamaan, "Ya, kami merasa sangat berbahagia kecuali satu hal, kami tidak mempunyai anak."
Pasangan muda itu menyimpulkan bahwa gubernur dan isterinya bukanlah pasangan yang paling bahagia. Kemudian mereka meneruskan perjalanannya hingga sampai di kota dan mendengar ada pasangan bahagia di kota itu. Mereka pergi ke rumah pasangan tersebut dan bertanya, "Apakah kalian pasangan yang paling bahagia?" Jawabya, "Ya, dalam beberapa hal kami memang merasa sangat bahagia kecuali anak kami teralu banyak, sehingga hidup menjadi agak repot." "Ah, tentu bukan yang ini pikir pasangan muda itu sambil meneruskan perjalanannya. Mereka terus berjalan melalui banyak negara, kota-kota besar, kota kecil, desa dan setiap kali menanyakan hal yang sama tetapi tidak pernah dapat menemukan pasangan yang dimaksud.
Suatu hari, pasangan muda itu melintasi padang rumput, di situ mereka berjumpa dengan penggembala kambing yang sedang meniup seruling, sedangkan anak dan isterinya sedang menyiapkan makan siang di tikar sambil bersenandung mengikuti alunan serulingnya. Pasangan muda itu mendekati mereka dan bertanya, "Apakah kalian pasangan yang paling bahagia?" Si gembala dan isterinya menjawab bersamaan, "Tidak ada yang paling susah kecuali raja." Mendengar jawaban tersebut pasangan muda itu menjadi yakin bahwa mereka telah menemukan pasangan yang paling bahagia di dunia, kemudian mereka meminta baju yang dipakai si gembala untuk disimpan sesuai dengan pesan si orang tua bijaksana di negerinya. Si Penggembala menjawab, "Kalau baju yang aku pakai ini kuberikan padamu, lalu aku memakai apa? karena ini satu-satunya baju yang aku punya."
Segera pasangan muda itupun sadar bahwa sangatlah sulit untuk mendapatkan kebahagiaan yang sempurna di dunia ini. Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke negerinya dan menemui kembali orang tua yang bijaksana itu. Mereka juga mengeluh bahwa petunjuk dari orang tua tadi sangatlah sulit untuk dijalankan. Orang tua itu kemudian bertanya, "Jadi kesimpulannya bagaimana? Perjalanan kalian percuma saja atau ada manfaatnya?" Si suami berkata, "Sepulang dari perjalanan ini, aku baru menyadari bahwa tidak ada kebahagiaan yang sempurna di dunia ini." Si isteri menyambung, "Teryata kalau mau bahagia kita harus puas dan mensyukuri apa yang kita miliki dan belajar bersabar dalam segala hal." Kemudian pasangan muda tersebut mengucapkan terima kasih kepada si orang tua dan pulang kembali ke rumah mereka.

PENUTUP :
Anda tidak perlu menghabiskan uang untuk keliling dunia seperti pasangan muda dalam cerita tadi, Hari Ini anda dapat memiliki KEBAHAGIAAN bila didalam hidup anda ada SUKA CITA. Cerita kita sudah membuktikan dunia tidak dapat memberikan KEBAHAGIAAN YANG SEMPURNA tetapi YESUS TELAH MEMBERI ROH KUDUS agar kita dapat memiliki SUKACITA yang Sangat besar dan menghadirkan Kerajaan Allah di dunia ini melalui KEBENARAN, DAMAI SEJAHTERA DAN SUKACITA oleh ROH KUDUS. AMIN.
Disampaikan pada Kebaktian NATAL di Gereja POUK Maranatha pada acara natal STM PARDOMUAN HELVETIA PSR VI-XI MEDAN 09 DES 2007

PENGHARAPAN AKAN HARI TUHAN

Oleh : P. Erianto Hasibuan
BACAAN : YAK.5:7-11
Nats : 1 TES 5 : 1-11

PENDAHULUAN :
Pada suatu kali seorang hamba Tuhan kembali dengan kereta api setelah dia menyelesaikan pelayanannya di sebuah kota. Tetapi kereta api yang ditumpanginya berjalan sangat lambat. Akibatnya, dia menyadari bahwa dia akan terlambat untuk memimpin upacara pernikahan yang harus dilakukannya. Ketika akhirnya dia turun dari kereta api, dia hanya mempunyai waktu lima menit untuk bisa segera sampai di gereja. Sambil melompat masuk ke dalam sebuah taksi yang terdekat, dia berteriak, ”Pak Sopir, tolong antarkan saya dari tempat ini secepat mungkin”, Pak Sopir tadi memenuhi permintaan penumpangnya dengan sebaik mungkin, dia mengemudikan taksinya dengan kecepatan yang sangat tinggi di tengah-tengah lalu lintas yang ramai sekali. Akhirnya, setelah beberapa menit, hamba Tuhan tadi bertanya, "Apakah kita sudah hampir sampai di tujuan?" ”Hampir sampai di tujuan mana, Pak?” tanya sopir taksi. ”Bapak sejak tadi tidak mengatakan kepada saya ke mana, Bapak akan pergi”.
Tidakkah kita juga sering berbuat demikian? Kita menghabiskan waktu kita dengan melakukan kesibukan ke sana kemari, tetapi tanpa pengertian yang jelas tentang ke manakah tujuan kita atau mengapa kita melakukan hal itu.
Pada minggu ini, kita memasuki Advent yang pertama, apa tujuan kita untuk memasuki masa advent? Advent, berasal dari bahasa Latin : adventus yang berarti kedatangan (coming) atau tiba (arrival) yaitu kedatangan Yesus. Kedatangan Yesus dapat dilihat dari 2 sisi, yaitu :
(1) Advent yang pertama adalah Kedatangan-Nya ketika Ia dilahirkan oleh seorang perawan di Betlehem.
(2) Advent yang kedua adalah kedatangan-Nya yang kedua, ketika Ia datang pada akhir zaman.
Advent juga dipahami sebagai tahun gerejawi yaitu empat minggu sebelum hari Natal.
Apa tujuan kita untuk memasuki masa Advent ini, itulah yang akan dijawab oleh nats kita pada minggu ini.
Paulus hanya tinggal selama lebih kurang 3 minggu di Tesalonika, Ia hanya mengajar selama 3 kali pada hari sabat di rumah ibadat (Kis. 17:2), tetapi dampaknya begitu luar biasa, dan karena dampak yang besar tersebut membuat dia harus segera diseludupkan ke Berea akibat massa yang mengamuk karena di hasut oleh orang Yahudi. (Kis. 17 : 1-15).
Jemaat yang baru di Tesalonka ini telah mencemaskan Paulus, sehigga ia mengirimkan Timotius yang bergabung dengannya di Athena ke Tesalonika, untuk mencari informasi yang dapat menenangkan hatinya. (1Tes.3:1, 2,5; 2:17). Berita yang dibawa Timotius memang berita yang baik, mereka tetap berdiri teguh dalam iman (1Tes.2:14; 3:4-5; 4:9-10). Namun ada sejumlah berita yang merisaukan, tetapi pada saat ini kita hanya melihat 2 pokok sesuai dengan nats kotbah kita :
1. Pemberitaan tentang kedatangan Yesus yang kedua kali (the second coming) telah menimbulkan situasi yang tidak sehat yakni, orang telah berhenti bekerja, menantikan kedatangan Yesus dengan luapan emosi yang tak terkendali.
2. Mereka risau tentang apa yang akan terjadi terhadap mereka yang telah mati sebelum kedatangan Yesus.

Pengharapan Hari Tuhan (PAROUSIA)
Hari Tuhan adalah kedatangan Yesus yang kedua kali atau lebih dikenal dengan istilah teologis PAROUSIA (bhs Yun.) yaitu Yesus yang telah naik ke Sorga bersama dengan Bapa Nya, kembali ke bumi.
Menjawab keraguan jemaat Tesalonika Paulus menulis bahwa zaman dan kapan tidak perlu dibicarakan, karena yang pasti Hari Tuhan itu Ada dan kedatangannya akan seperti pencuri di Malam hari (1-2).
Tetapi Paulus juga mengatakan, bahwa kedatangan Tuhan (PAROUSIA) bagaikan pencuri hanya bagi mereka yang hidup didalm kegelapan (Skotei/ Skotos=kegelapan) yang lebih lanjut artinya adalah orang yang digelapkan dosa yang tidak percaya kepada Tuhan. (4) Sementara bagi anak-anak terang (Yun. Photos / uioi photos=sons of light) yaitu orang-orang yang sudah mengetahui kebenaran (enlightened sons) kedatangan itu tidak seperti pencuri (5). Sekalipun memang tetap kita tidak mengetahui kapan. Tetapi yang penting adalah supaya jangan kita tidak tidur seperti orang lain, tetapi mari kita waspada/berjaga-jaga (gregoreo) dan menguasai diri/sadar (nepho) kata yang sama digunakan dalam 2 Tim.4:5. Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!
Jadi karena kita adalah orang-orang siang, baiklah kita menguasai diri/sadar (nepho), dengan menggunakan tutup danda iman (pistis) dan kasih (agape) kasih yang paling tinggi, yang tidak tergantung pada objeknya, dan berketopangkan (bertopi baja /Yun. perikephalaia) keselamatan. (8)
Dengan demikian kita akan melihat ayat 1-8, berbicara akan KETIDAK PASTIAN KEDATANGAN HARI TUHAN, yang meminta kita untuk WASPADA/BERJAGA-JAGA, tetapi sebagai orang-orang siang yang sudah mengetahui kebenaran (uioi photos) kita juga memiliki PENGHARAPAN AKAN KESELAMATAN.

Tujuan Hari Tuhan
Kita hidup bukan tanpa tujuan, sebagaimana hamba Tuhan yang meminta supir mengantarkannya pergi dari tempat itu secepat mungkin, tetapi tidak menyebutkan tujuannya. Allah mengajak kita menjadi anak-anak terang (Photos / uioi photos=sons of light) yang sudah mengetahui kebenaran TUJUANnya adalah UNTUK BEROLEH KESELAMATAN oleh YESUS KRISTUS, bukan untuk menerima murka. (9).
Paulus mengajak jemaat Tesalonika dan juga kita untuk tidak perlu merisaukan, bagaimana keadaan kita, apakah kita hidup atau mati, yang penting adalah kita BERSAMA-SAMA DENGAN DIA (10). Ini sekaligus menjawab keraguan jemaat Tesalonika tentang apa yang akan terjadi terhadap mereka yang telah mati sebelum kedatangan Yesus.
Pada ayat ini, Paulus hendak menekankan kepada kita, bahwa kita tidak perlu merisaukan kapan Hari Tuhan datang, yang pasti HARI TUHAN PASTI DATANG dan yang mengetahui saatnya hanyalah Bapa Mrk. 13:32 Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa saja." Jadi jangan pernah berfikir untuk mencari tahu, yang perlu kita lakukan didalam hidup ini adalah BERSAMA-SAMA DENGAN KRISTUS, entah kita sedang bekerja, berjaga-jaga atau apa saja, sehingga kedatanganNya akan ,menjadi JALAN KESELAMATAN bagi kita. HIDUP BERSAMA-SAMA DENGAN KRISTUS adalah menjadi dasar kita untuk SALING MEMBANGUN. (11).


Penutup :
Jadi masa adven mengajak kita untuk memiliki PENGHARAPAN akan Hari Tuhan, yaitu hari yang membuat kita selalu menguasai diri/sadar (nepho), dengan menggunakan tutup danda iman (pistis) dan kasih (agape) dan berketopangkan (bertopi baja /Yun. perikephalaia) keselamatan.
Adven juga mengajak kita untuk memiliki PENGHARAPAN, bahwa NATAL juga akan MELAHIRKAN YESUS didalam HATI kita pribadi, lepas pribadi, sehingga bagaimanapun keadaan dunia dan lingkungan ini, tetapi Suara Yesus yang LAHIR dihatiku melalui ROH KUDUS, akan senantiasa membuatku memiliki memiliki PENGHARAPAN bahwa sepanjang aku BERSAMA-SAMA DENGAN DIA aku akan beroleh KESELAMATAN.
Hidup bersama-sama dengan Kristus, juga menjadi dasar kita untuk senatiasa SALING MEMBANGUN dengan menasehati ssesama kita.

Disampaikan pada Kotbah Minggu di Gereja POUK MARANATHA MEDAN 2 DES 2008