SELAMAT DATANG DI "TEOLOGI KAUMAWAM"

Salam dalam Kasih Tuhan Yesus Kristus. Terimakasih telah mampir di blog yg sederhana ini. Kami sangat berterimakasih bila saudara berkenan memberi tanggapan atas tulisan yang saudara baca di blog ini. Karena dengan tanggapan itu kami akan dapat belajar dan berbagi, sebab untuk itulah blog ini dibuat agar hidup kita tetap terpelihara dalam persekutuan. Semua tulisan dalam blog ini dapat dikutip dengan tetap mencantumkan sumbernya. Kiranya Tuhan Yesus memberkati kita. Pax Vobiscum, Erianto Hasibuan

Jumat, 27 Juni 2008

MENDIDIK ANAK SUPAYA BERHIKMAT

Oleh : P. Erianto Hasibuan

MINGGU VI SETELAH TRINITAS
Nats : Amsal 4 :1-9 BACAAN : Rom. 11 : 33-36


Pembuka :
Tidak seperti sebelumnya, jadwal kotbah saya adalah minggu pertama setelah kehadiran saya untuk pertama kali di sini pada Minggu 06 Mei 2006, dan saat ini adalah pelayanan saya yang terakhir secara rutin di tempat ini sehubungan dengan kepindahan kami sekeluarga ke BEKASI karena pindah tugas.

PENDAHULUAN :
Kitab Amsal merupakan bagian dari kitab syair dan hikmat yang begitu tersohor, Amsal merupakan hikmat para bijak yang terilhamkan. Istilah Ibrani mashal yang diterjemahkan “amsal”, bisa berarti “ucapan” orang bijak, “perumpamaan” atau “peribahasa berhikmat”.
Tujuan kitab Amsal dengan jelas dinyatakan dalam Amsal 1:2-7, yaitu :
1. Untuk mengetahui hikmat dan didikan, untuk mengerti kata-kata yang bermakna (2)
2. Untuk menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan dan kejujuran, (3)
3. Untuk memberikan kecerdasan kepada orang yang tak berpengalaman, dan pengetahuan serta kebijaksanaan kepada orang muda (4)
4. Untuk menambah ilmu dan sebagai bahan pertimbangan bagi orang yang berpengertian (5)
5. Untuk mengerti amsal dan ibarat, perkataan dan teka-teki orang bijak. (6)
6. Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.(7)
Nats, yang dituliskan oleh Salomo dalam Amsal 4 :1-9, merupakan refleksi dari pengalaman Salomo begitu pentingnya untuk mendengarkan didikan seorang Ayah. Salomo merasakan sendiri bagaimana ayahnya Daud telah mendidik dia di Jalan Allah, bahkan pada saat menjelang akhir hayatnya Daud masih memberikan pesan yang indah : (1 Raj. 2 :3-4)
“Lakukanlah kewajibanmu dengan setia terhadap TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya, dan dengan tetap mengikuti segala ketetapan, perintah, peraturan dan ketentuan-Nya, seperti yang tertulis dalam hukum Musa, supaya engkau beruntung dalam segala yang kaulakukan dan dalam segala yang kautuju, dan supaya TUHAN menepati janji yang diucapkan-Nya tentang aku, yakni: Jika anak-anakmu laki-laki tetap hidup di hadapan-Ku dengan setia, dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa, maka keturunanmu takkan terputus dari takhta kerajaan Israel”.

Pengalaman Salomo atas didikan Ayahnya ini yang membuat dia pada saat Allah menampakkan diri kepanya dan berfirman “Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepada mu”. (2Taw.1:7b) maka ia tidak meminta seperti yang orang lain pikirkan, tetapi ia meminta seperti yang Allah kehendaki II Taw.1:10 :
“ Berilah sekarang kepadaku hikmat dan pengertian, supaya aku dapat keluar dan masuk sebagai pemimpin bangsa ini, sebab siapakah yang dapat menghakimi umat-Mu yang besar ini?"
Sebagai jawaban dari Doanya (I.Raja-raja 4:29-30):
“ Dan Allah memberikan kepada Salomo hikmat dan pengertian yang amat besar, serta akal yang luas seperti dataran pasir di tepi laut, sehingga hikmat Salomo melebihi hikmat segala bani Timur dan melebihi segala hikmat orang Mesir”.

Didikan seorang Ayah (1-4)
Salomo telah belajar tentang jalan-jalan Allah dari ayahnya dan kini ia meneruskan pengarahan itu kepada anak-anaknya. Allah ingin agar kesalehan dan pengabdian sungguh-sungguh kepada jalan-jalan-Nya diajarkan terutama melalui pengajaran orang tua dan teladan di rumah, dan bukan dengan mengalihkan tanggung jawab secara menyeluruh kepada program pendidikan gerejani. Sejak semula Alkitab telah mengajarkan kepada kita bahwa tanggung jawab itu ada pada orang tua Ul. 6:7.
“ haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun”.

Saat ini begitu banyaknya tawaran pendidikan full day school terutama bagi anak-anak SD bahkan pada pendidikan yang berbasis pada agama. Bagi orang tua yang suami isteri bekerja dan memiliki dana yang cukup sekolah jenis ini sangat cocok, karena mereka dapat berangkat kerja bersama dengan anaknya dan pulang kerja kembali orangtua menjemput dari sekolah bersamaan. Sangat efisien dan efektif menurut ukuran manusia modern dan sibuk. Sampai di rumah, masing-masing telah lelah seharian di sekolah dan di pekerjaan. Orang tua merasa tugasnya sudah selesai dengan menyediakan sarana dan biaya pendidikan yang memadai, merekapun perlu waktu untuk beristirahat dan berdua (suami isteri) sedang si anak biarlah asyik dengan Pr nya atau PS nya. Pada saatnya si anak bertingkah tidak sesuai dengan yang diharapkan orang tua, maka sekolah atau gereja yang menjadi sasaran, biasanya nadanya demikian “ Kurang apa lagi Papa dan Mama, kan sudah disekolahkan disekolah yang faforit dan bergengsi lengkap dengan ekstra kurikuler dan keagamaan, hari minggu ikut sekolah minggu di gereja yang guru sekolah minggunya mendapat pendidikan rutin dengan materi yang standard, lalu kenapa koq jadi begini ?”
Saya tidak sedang mengatakan bahwa full day school itu tidak baik, tetapi jangan hal itu mengantikan peran orang tua dalam mendidik anak-anak.
Inilah kealpaan kita sebagai orang tua, kita melupakan apa yang telah diperintahkan Allah kepada bangsa Israel, itu juga perintah untuk kita pada saat ini (Ul. 6:7), berapa kali dalam sehari, seminggu bahkan sebulan kita membicarakan Firman Tuhan kepada anak-anak kita.
Bagaimana seharusnya hubungan prang tua dengan anak, agar didikannya dapat diterima si anak dengan baik ? Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Kolose telah membantu kita (Kol. 3 : 21) “Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya”. Demikian juga untuk anak (Kol. 3 : 20) “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan”.
Jadi yang terutama bertanggung jawab dalam memberikan didikan Alkitabiah kepada anak-anak adalah Keluarga, bukan gereja atau sekolah minggu ataupun sekolah formal. Lembaga-lembaga tersebut hanya membantu didikan orang tua.

Perolehlah Hikmat dan Pengertian (5-9)

Hikmat bukanlah sesuatu yang mudah untuk didapatkan, karena hanya diberikan kepada mereka yang mau berusaha untuk mendapatkannya. Hikmat disalurkan melalui dua jalur :
1. Pendidikan.
Melalui pendidikan seorang akan mengalami perubahan rohani yang mencakup hal berbalik dari kejahatan menuju kepada pengenalan akan Allah. Hubungan pribadi dengan Allah menjadi langkah pertama dalam memperoleh hikmat sejati. Orang percaya harus takut akan Tuhan dan membenci kejahatan. (Ams. 8:13) Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat.
Ams. 9: 10 Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.

2. Pengabdian
Hikmat adalah untuk orang yang mengerti nilainya dan karena itu mencarinya dengan tekun Ams. 8:17 “Aku mengasihi orang yang mengasihi aku, dan orang yang tekun mencari aku akan mendapatkan daku”. Orang yang bijaksana belajar dari ajaran Ams. 9:9 “berilah orang bijak nasihat, maka ia akan menjadi lebih bijak, ajarilah orang benar, maka pengetahuannya akan bertambah”. dan didikan Allah Ams. 3:11 Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya.
Yesus Kristus adalah perwujudan unggul dari Hikmat Allah (I Kor. 1:30) Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.
Segala harta hikmat ada didalam Yesus Kristus (Kol. 2 : 2-3)
supaya hati mereka terhibur dan mereka bersatu dalam kasih, sehingga mereka memperoleh segala kekayaan dan keyakinan pengertian, dan mengenal rahasia Allah, yaitu Kristus, sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan.

Selama setahun lebih saya telah melayani di Gereja POUK Maranatha ini, setiap minggu pertama setiap bulannya. Apapun yang saya sampaikan kepada Ibu Bpk. Sekalian tidak akan ada artinya bila ibu/bpk. dan saudara sekalian tidak mengerti nilai dari Firman Allah yang saya sampaikan. Tetapi dengan kita mengerti nilainya kita akan bertumbuh dan memiliki Hikmat Tuhan hingga pada gilirannya memiliki kerinduan untuk membicarakan/mengajarkannya siang dan malam sebagaimana perintah Tuhan dalam Ul. 6:7.
Isteri saya sejak muda berkecimpung di aktivitas Gereja, di komisi pemuda gereja dan komisi sekolah minggu. Meskin cukup lama menjadi guru sekolah minggu, sementara saya tidak pernah aktif dikegiatan gereja dimasa kecil dan muda saya, selain berjemaat, tetapi saat saya tanyakan apakah dia sudah pernah membaca Alkitab dari Kejadian hingga Wahyu, dia menjawab belum pernah. Seiring dengan perkuliahan saya di Teologia, saya selalu membicarakan hal-hal yang mencakup firman Tuhan kepadanya, terutama bila saya mendapatkan bacaan harian yang menarik, saya selalu menceritakan kepadanya, entah dia suka atau tidak. Tetapi sesuai dengan pengakuannya sendiri kepada saya, dia sama sekali tidak tertarik, bahkan sekalipun saya pernah menjanjikan kepadanya bahwa jika ia berhasil menyelesaikan pembacaan dari Kejadian sampai dengan Wahyu saya akan beri dia hadiah senilai Rp. 5 juta. Entah karena hadiah itu atau bukan, yang jelas apa yang menurutnya selama ini membosankan karena saya selalu menceritakan Firman Tuhan kepadanya setiap kali ada kesempatan, itulah yang sekarang dilakukannya kepada saya. Setiap saya kembali dari kantor dia selalu dengan antusias menceritakan nats-nats yang dibacanya dan mendiskusikannya dengan saya.
Saat ini isteri saya telah mengerti nilainya hikmat Allah, hingga ia tidak mau lagi melalukan hari tanpa membaca Firman Tuhan. Anak saya yang bungsu (6 thn) belum mengerti dengan jelas akan hal itu, tetapi dia sudah memulai membuka Alkitab setiap hari. Anak saya yang besar (10 thn) belum melakukannya, tetapi saya percaya pada saatnya dia akan melakukannya sekalipun saya tidak perlu memaksa dia, karena setiap hari itulah yang dia lihat. Bagaimana dengan anda ? Ingat kata Ki Hajar Dewantara, Ing Ngarso Sung Tulodo. (di depan /pemimpin memberi contoh).
Untuk dapat mengulang-ulang apa yang sudah saya sampaikan dalam setiap Kotbah, saya telah mempublikasikan catatan setiap kotbah di http://teologiawam.blogspot.com dengan media ini diharapkan dapat menolong kita untuk mengingat kembali hal-hal yang pernah saya sampaikan dalam kotbah minggu.
Simpulan :
Sebagai orang tua (ayah/ibu) dan keluarga adalah orang yang paling bertanggung jawab untuk memperkenalkan dan mengajarkan Hikmat Allah kepada anak-anak kita dengan mengajarkannya berulang-ulang dan terus menerus. Untuk dapat mengajarkan dengan benar, maka terlebih dahulu kita harus memperoleh hikmat dan pengertian melalui pendidikan yang memalingkan kita dari kejahatan menuju pengenalan yang benar akan Allah dan Pengabdian yang secara tekun mencarinya karena kita mengetahui nilainya.
Pada akhirnya kita akan memohon kepada Tuhan kita Yesus Kristus supaya Ia memberikan kepada kita Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar. Biarlah kiranya doa Paulus kepada jemaat di Efesus, sebagai langkah awal kita untuk mendidik anak kita kepada pengenalan yang benar akan Hikamat Allah, seperti yang ada pada Efesus 1 : 17 :
“dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar”. Amin.

Disampaikan pada Kotbah Minggu 29 Juni 2008 Pkl. 10.15 GEREJA POUK MARANATHA MEDAN – SUMUT. (KOTBAH PERPISAHAN))

Minggu, 01 Juni 2008

PENGUTUSAN MENJADI MURID

Oleh : P. Erianto Hasibuan

MINGGU II SETELAH TRINITAS
Nats : Luk. 10 :1-12 BACAAN : Kel. 3 : 10-12

PENDAHULUAN :
Ketika masih kanak-kanak, saya punya hobby menonton film action ala Hongkong. Bintang film hongkong seperti Fu Shen, Chen Kuan Tai, Bruce Lee, Ti Lung dsb. Adalah nama-nama yang begitu akrab ditelinga saya dan mungkin ditelinga generasi se usia saya. Film mereka umumnya menceritakan hubungan guru dan murid. Thema-nya tidak jauh dari balas dendam. Ini memang tidak mendidik, tapi terlepas dari thema tersebut yang selalu saya nantikan dalam film tersebut adalah adengan saat si murid sedang latihan keras dalam menuntut ilmu kungfu dari gurunya. Si murid pada akhirnya akan menjadi miniatur dari gurunya, cara ia berkelahi, jurus yang dimiliki, bahkan hingga gaya bicaranya pun diikuti oleh muridnya. Kemampuan seorang murid akan mencapai puncaknya pada saat sang guru meninggal, karena dianiaya oleh kelompok lain. Jika pada saat gurunya hidup ia masih mau melalaikan jadwal latihannya atau berlatih sesukanya, tetapi pada saat gurunya telah almarhum, ia berlatih sangat keras dan melakukan seluruh yang pernah diajarkan gurunya kepadanya, semua ini didasari oleh motivasi balas dendam.
Nats kita pada saat ini berbicara mengenai pengutusan murid. Yesus memang masih hidup secara manusiawi pada saat itu. Tetapi bagi kita yang hidup saat ini Yesus adalah seorang guru yang telah membuktikan KASIHNYA kepada kita, bahwa IA mau dianiaya dan mati demi untuk menebus kita, agar kita diselamatkan dari hukuman yang kekal.
Saat ini, SANG GURU memanggil kita untuk di utus menjadi murid, bagaimana tanggapan kita atas panggilan tersebut ?
Siapa yang di utus ?
Ayat 1 Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain,..
Angka 70 adalah angka simbolis Yahudi yang menunjukkan tua-tua yang dipilih untuk membantu Musa (Bi. 11:16); Juga angka anggota Sanhendrin, dewan tertinggi Yahudi. Juga dipercaya sebagai jumlah dari bangsa-bangsa di dunia (Kej.10), yang menunjukkan pandangan yang bersifat universitalitas.
Dengan demikian ayat ini menunjukkan bahwa Yesus mengutus mereka ke segala bangsa, dan tidak terbatas pada bangsa tertentu. Mereka yang di utus bukanlah para RASUL tetapi murid yang lain, yang boleh jadi adalah orang-orang biasa (Kis. 11:20)
Yesus saat ini juga memilih setiap kita untuk di utus menjadi murid. Menjadi utusan berarti Mewakili Tuhan. Karena kita akan mewakili Tuhan maka apa yang kita sampaikan adalah maksud Tuhan semata, artinya untuk menjadi utusan kita harus mengenal dengan baik siapa yang kita wakili dan apa yang hendak Ia sampaikan melalui kita. Dengan demikian kita tidak hanya sebagai penyampai pesan dalam kata-kata, tetapi prilaku dan gaya hidup kita juga menggambarkan siapa yang mengutus kita. Seperti halnya seorang murid yang menjadi miniatur sang guru.

Mengapa kita di utus sebagai murid ?
Karena :
Ayat 2 . "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.

Melalui ayat ini, juga ayat pararel (Mat.9:37) Yesus memperingatkan semua orang percaya bahwa orang yang terhilang mempunyai jiwa abadi yang sangat berharga dan harus tinggal di sorga atau neraka, dan banyak dari mereka dapat diselamatkan apabila ada yang memberitakan injil kepada mereka.

Ayat 2b Mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu
Ayat. 3 Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.

Ayat ini mengingatkan kita untuk tidak melupakan salah satu prinsip rohani Allah sendiri. Sebelum Allah bertindak biasanya IA memanggil umatnya untuk berdoa. Hanya setelah umatnya berdoa, barulah Allah melakukan pekerjaanNya. Jadi bagaimana Allah mengirimkan pekerja-pekerjaNya bila kita sendiri tidak pernah berdoa ?.
Jadi murid diperlukan untuk mengembalikan orang-orang yang terhilang, hingga pada saatnya jiwanya yang abadi akan tinggal di sorga. Tetapi panggilan untuk Pergi bukanlah pekerjaan yang mudah, karena para murid susungguhnya pergi ketengah-tengah serigala. Mengapa Lukas menuliskan hal tersebut ?. Pada saat Lukas menuliskan Injilnya sekitar tahun 60-63 M. Saat itu pemimpin Roma adalah Kaisar Nero (54-68). Nero pasca membunuh ibunya Agrippina thn 59M, ia menjadi raja yang tak terkendali. Kebenciannya terhadap pengikut Kristus telah dimulai dengan penganiayaan, sekalipun belum sedasyat pasca kebakaran besar di Roma thn 64 M. Pada masa itu, ia menuduh orang Kristen yang melakukan pembakaran tersebut untuk mengalihkan tuduhan terhadap dirinya yang berambisi membangun Gedung Emasnya, yaitu sebuah Istana megah yang dibangun di atas bukit Esquilline seluas 50 Ha.
Bagaimana sikap seorang murid yang diutus ketengah serigala ? Penulis Injil Matius memberikan jalan keluar Mat. 10:16 "Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Ayat yang baik ini, cenderung banyak disalah artikan oleh banyak kalangan dengan memberi arti negatif kepada kata cerdik. Dalam bahasa aslinya (Yun) kata itu berasal dari phronimos (fronimos) yang digunakan sebanyak 14 kali, antara lain digunakan dalam Mat. 7:24; 24:25; 25:2,4,8,9;Luk.12:42; 1Kor.10:15; 2Kor.11:19 yang diterjemahkan dengan bijaksana. Dengan demikian phronimos sesungguhnya berarti positif, sehingga dapat saja Mat. 10:16 diterjemahkan menjadi bijaksana seperti ular dan tulus seperti merpati. (Terjemahan ini mungkin sulit bagi pembaca karena pemahaman bahwa ular adalah si “pendosa” yang menggoda Hawa untuk jatuh kedalam dosa. Jadi bagimana mungkin si “pendosa” yang terhukum disebut dengan bijaksana).
Dengan demikian seorang murid yang akan di utus ketengah-tengah serigala haruslah murid yang bijaksana dan tulus. Jadi serigala tidak ditaklukkan dengan kekerasan tetapi dengan bijaksana dan tulus, yang juga merupakan perwujudan dari buah-buah Roh yang ajarkan Sang Guru Agung kepada kita.

Fokus Pada Panggilan
Ayat 4 Seorang murid yang akan memberitakan Firman Tuhan haruslah fokus pada tugas panggilannya, sehingga ia tidak boeh dibebani hal-hal yang bersifat :
1. Materialitas (4a)
Murid harus dapat berjalan dengan cepat ketempat tujuannya, tanpa harus dibebani dengan perkara-perkara makan dan minum serta peralatan lainnya. Situasi saat itu transportasi bukan seperti saat ini, setiap murid dalam kebiasaan orang Yahudi selalu membawa keranjang dipundaknya yang dapat diisi dengan berbagai keperluan termasuk makanan. Ingat, mengapa saat Tuhan Yesus memberi makan lima ribu orang ada sisa 12 bakul, karena kedua belas murid Yesus masing-masing membawa satu bakul. Perjalanan yang cukup jauh, umumnya ditempuh dengan jalan kaki. Berjalan kaki dengan bekal macam-macam akan memperlambat ruang gerak para murid. Dalam hal ini Tuhan Yesus mengajarkan agar para murid tidak dibebani oleh hal-hal yang bersifat material, yang dapat mengganggu tugas panggilannya.
Bukankah hal ini juga kerap kita alami saat ini. Kita merespon panggilan Tuhan, bahkan mungkin kita mengatakan “ini aku Tuhan, utuslah aku” Tapi pada saat yang hampir bersamaan kita mengkawatirkan akan bagaimana dengan barang daganganku bila aku harus ke gereja pada hari minggu, padahal justru hari minggulah jualanku laku. Sebagai pelayan memang kita sering mudah terpikat dengan hal-hal yang material, ah lebih baik melayani si A karena kalau ketempatnya pasti ada sesuatu, tapi kalau si B pasti kosongan. dst.

2. Hal-hal kecil yang menggangu tugas panggilan (4b)
Janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Nats ini bukanlah pengajaran untuk tidak ramah, tetapi kita jangan diganggu dengan hal-hal yang kecil. Memberi salam berarti berhenti berjalan dan bertegur sapa sesaat untuk meluangkan waktu berbicara akan hal-hal yang tidak begitu penting. Hal-hal kecil jangan sampai mengganggu hal besar yang akan dituju. Pada etnis Batak banyak ditemukan kumpulan (arisan) yang didasari pada ikatan marga. Kumpulan ini Pada saat pendirian kumpulan itu tujuannya adalah untuk mempererat persekutuan dan memuji nama Tuhan, sehingga setiap pertemuan selalu dimulai dengan ibadah singkat dan kotbah. Tetapi tujuan mulia ini pada akhirnya akan menjadi rutinitas yang kalau perlu lebih dipersingkat lagi karena peserta membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk bermain joker, atau hal-hal yang tidak begitu penting.

Tugas seorang utusan
Ayat 5-12 Tugas seorang utusan tidaklah selalu direspon dengan positif. Dalam hal utusan diterima beritakanlah bahwa Kerajaan Allah sudah dekat padamu (9) dan sembukanlah orang-orang sakit yang ada disitu. Artinya keadaan orang yang menerima pemberitaan akan dipulihkan (diubahkan). Bagaimana dengan penolakan, bila itu yang terjadi pemberitaan tetap harus dilakukan, karena pemberitaan tidak tergantung pada si penerima. Tetapi dalam hal ini tidak terjadi penyembuhan terhadap orang sakit ditempat itu, tetapi yang terjadi adalah pemberitaan akan hukuman (12).
Dengan demikian Kabar baik yang disampaikan yaitu Kerajaan Allah sudah dekat padamu bagi yang menerima akan disembuhkan tetapi bagi yang menolak akan mendapatkan hukuman bahkan yang lebih berat dari Sodom.

Simpulan
Bagaikan seorang murid pada cerita kungfu yang berlatih siang malam untuk dapat mewarisi ilmu yang dimiliki oleh gurunya yang telah mati teraniaya, agar ia dapat membalaskan dendam sang guru. Kita yang saat ini sebagai murid Yesus, yang telah mati teraniaya demi pembebasan kita dari hukuman abadi, sudah seyogianya juga berlatih siang malam untuk menjadi segambar dengan sang guru yaitu Yesus Kristus, sehingga kita dapat menjadi utusan yang mewakilinya untuk membawa jiwa-jiwa yang abadi untuk tinggal di sorga, karena Tuaian memang banyak tetapi pekerja sedikit. Sekalipun sebagai pekerja kita diutus ketengah-tengah serigala, tetapi dengan menjadi murid yang bijaksana dan tulus kita dapat menjadi pekerja yang baik karena kita tetap fokus kepada panggilan untuk memberitakan kabar baik yaitu Kerajaan Allah sudah dekat padamu.


Disampaikan pada Kotbah Minggu 1 Juni 2008 Pkl. 10.15 GEREJA POUK MARANATHA MEDAN – SUMUT.

Dipanggil untuk melayani

Nats : Roma 8 : 28

Mengapa Orang Kristen Harus Melayani?
Menjadi pelayan bukanlah pekerjaan yang paling digemari di dunia. Ada yang melakukannya karena terpaksa, karena hanya itulah yang dapat mereka lakukan. Ada yang melakukannya sebagai suatu profesi sehingga mereka menjadi ahli dalam melayani, seperti halnya di Inggris. Tetapi pada umumnya orang dari kebudayaan mana pun, tidak suka melayani orang lain. Namun mengapa orang-orang Kristen dipanggil untuk melayani.
Pernahkah anda berfikir, mengapa Allah tidak segera saja mengambil orang-orang yang telah diselamtkannya dari dunia ini dan membawanya kedalam sorga. Mengapa mereka masih tetap dibiarkan didunia ini. Bukankah itu artinya kita diminta untuk bekerja untuk mewujud nyatakan rencana Allah di dunia ini. (Ingat perumpamaan gandum dan ilalang Mat.13:24-30)
Apakah setiap orang Kristen dipanggil untuk melayani? Bagaimana mengetahui panggilan Tuhan?
Mungkin kita berfikir bahwa yang dipanggil untuk melayani adalah para pekerja gereja, seperti Pdt, Pastor, Teolog, maupun mereka yang bergelut di lembaga penginjilan. Jadi bagaimana dengan kita sebagai jemaat biasa ?
Bacaan kita Roma 8 :28 "Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah".
Ayat tersebut di atas memberitahu kita dua hal:
1. Orang-orang yang mengasihi Tuhan adalah mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana-Nya.
2. Tuhan berjanji bahwa Ia turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka.
Dalam Perjanjian Baru, istilah "dipanggil" (Kletos) dan "panggilan" (Klesis) timbul 22 kali. Semuanya menyatakan panggilan Tuhan kepada umat-Nya untuk sesuatu maksud yang rohani. Panggilan-panggilan ini tidak melulu panggilan untuk menjadi seorang pendeta atau missionari, melainkan seluruh jemaat dipanggil oleh Tuhan dimana "kletos" + kata depan "ek" = "ekklesia." Istilah "ekklesia" timbul dalam Perjanjian Baru sebanyak 115 kali, yang berarti "the called-out ones" dan diterjemahkan sebagai "gereja."
Suatu gereja yang didirikan oleh Tuhan pasti terdiri atas individu-individu yang dipanggil oleh Tuhan. Mereka dipanggil ke luar dari keduniawian dan masuk ke dalam Kristus. Segala aktivitas dan cara hidup dalam gereja seharusnya :
tidak "serupa dengan dunia" (Rom 12:2), melainkan "berpadanan dengan panggilan itu" (Ef 4:1).
Ada 2 Jenis panggilan,
Pelayan Tuhan secara "Full time." (Rom 1:1) Paulus mengatakan bahwa ia "dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah"
Pelayanan umum yang harus dilakukan setiap orang Kristen (Rom 1:6; 1Kor 7:22) Paulus mengatakan bahwa anggota-anggota di jemaat Roma dan Korintus juga dipanggil oleh Kristus dalam pelayanan-Nya. Tiada seorang pun yang boleh berdalih bahwa ia tidak dipanggil oleh Tuhan dalam pelayanan. Semua anak Tuhan adalah pelayan Tuhan.
Secara praktis, banyak orang Kristen mempunyai alasan yang masuk akal untuk tidak terjun ke dalam pelayanan. Misalnya: "Aku tidak mempunyai talenta: Aku tidak berpendidikan tinggi; Aku lemah dan bodoh" dan lain-lain. Sebaiknya orang-orang tipe ini membaca 1Korintus 1:26-28 Sesungguhnya tidak ada yang mampu tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, meniadakan apa yang berarti ...". Ayat-ayat ini bukan berarti semua orang yang dipakai oleh Tuhan adalah yang bodoh-bodoh, memakai kita. Bahkan Tuhan berjanji akan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia (Rom 8:28).
Dalam masyarakat modern yang berkompetisi tinggi, perusahaan-perusahaan dan organisasi-organisasi dunia hanya mau memakai orang-orang yang "pandai, cakap, kuat dan mulia." Tetapi Tuhan memanggil segala macam orang yang "mengasihi Dia" (Rom 8:28) dan "yang kudus" (Ef 4:12), untuk diperlengkapi bagi pekerjaan pelayanan. Istilah "diperlengkapi" (katartismos Ef 4:12), boleh diterjemahkan "dipersenjatai" atau "disempurnakan." Syukur kepada Tuhan bahwa karena kerelaan melayani Tuhan, maka kita yang lemah dan bodoh "diperlengkapi" menjadi orang-orang yang pandai dan kuat. Seorang tokoh iman yang bernama A.W. Tozer mengatakan: "Tuhan hanya dapat memakai orang yang selalu bersukacita dan tidak menolak didikan atau ajaran Tuhan."
Ada banyak orang yang melayani Tuhan secara "temprary." Artinya, kalau ia "senang hati, lancar, banyak berkat, dipuni" maka ia mau melayani Than. Tetapi kalau keadaan memburuk, maka ia tidak lagi berminat untuk melayani. Ini adalah sifat manusia yang egois. Ingatlah bahwa "Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya" (Rom 11:29). Panggilan Tuhan bersifat "permanen", bukan "sementara."
Yang terakhir, bagaimana kita mengetahui panggilan Tuhan atas diri kita masing-masing?
1. "Berusahalah sungguh-sungguh" (2Pet 1:10a) untuk mengetahui panggilan Tuhan.
2. "Jika kamu melakukannya (taat), kamu tidak pernah tersandung" (2Pet 1:10b).
3. Mintalah (berdoa) ... supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apa yang terkandung dalam panggilan-Nya (Ef 1:17-18).
4. Semakin kita mengasihi Tuhan, semakin kita meyakini panggilan Tuhan. Menurut Roma 8:28 "mereka yang mengasihi Dia" identik dengan "mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." Maka ketaatan terhadap perintah Tuhan dan dorongan kasih kepada-Nya itulah yang mendasari pelayanan kita.
Setelah kita mengerti panggilan Tuhan, marilah kita siap untuk terjun ke dalam pelayanan dengan segenap hati dan pengucapan syukur. Sebagaimana ada sebuah poster yang mengatakan: "Uncle Sam needs you" demikian pula "we (our chruch) need you" Gereja membutuhkan orang Kristen yang mengasihi Tuhan dan rela melayani-Nya.

Disampaikan pada ibadah Kamis pagi di RSU Methodist Medan, 22 Mei 2008.

Selasa, 27 Mei 2008

TETAP PERCAYAKAN HIDUPMU HANYA PADA ALLAH

Oleh : P. Erianto Hasibuan

MINGGU EXAUDI = DENGARLAH AKU YA TUHAN

Nats : Daniel 3 : 20-29 BACAAN : Wahyu 3 : 7b-11

PENDAHULUAN :
Cerita Daniel dan ketiga sahabatnya Hanaya, Misael dan Azarya adalah cerita yang sangat populer dan telah akrab ditelinga kita sejak kita masih kanak-kanak, utamanya bagi mereka yang aktif di sekolah minggu. Jadi apa lagi yang menarik dari kisah Daniel dan sahabat-sahabatnya ini yang akan kita bicarakan saat ini ?. Pada minggu Exaudi yaitu Dengarlah aku ya Tuhan, kita dibimbing dengan epistola dari Wahyu 3 : 7b-11 yang membicarakan jemaat Filadelfia. Filadelfia merupakan suatu jemaat yang setia yang mematuhi firman Kristus dan tidak menyangkal Dia. Mereka telah menerima pertentangan dari dunia dan menolak untuk menyesuaikan diri dengan kecenderungan jahat dari jemaat-jemaat lainnya. Oleh karena kesetiaan mereka yang teguh maka Allah berjanji untuk melepaskan mereka dari masa kesengsaraan. Jika kita ingat latar belakang penulisan Wahyu oleh Yohanes dilatarbelakangi oleh penganiayaan yang dilakukan oleh Domitianus yang memuja dirinya sendiri. Tetapi ditengah kondisi tersebut ternyata masih ada jemaat yang masih berani tampil beda untuk tetap setia hanya memuji Allah didalam Kristus.
Cerita Daniel dan ketiga sahabatnya, dilatarbelakangi oleh jatuhnya kerajaan Yehuda dibawah pemerintahan Yoyakim kepada Nebukadnezar, raja Babel. (Dan 1:1 dab). Kerajaan Babel sebagai kerajaan penakluk, telah menjadi besar dan pada akhirnya mereka kekurangan tenaga terpelajar dari bangsanya sendiri untuk dapat menjalankan pemerintahan, karena itu Nebukadnezar memilih pemuda-pemuda tampan, sehat dan terpelajar dan membawa mereka ke Babel untuk mengajarkan kebudayaan dan bahasa Babel kepada mereka sehingga dapat dipakai untuk melayani kerajaan. Supaya diterima sebagai pegawai kerajaan Daniel dan kawan-kawan memerlukan kewarganegaraan Babel, untuk itu mereka diberi nama Babel, Daniel (Beltsazar) dan ketiga sahabatnya Hanaya (Sadrakh), Misael (Mesakh) dan Azarya (Abednego).

DUA KONTRADIKSI

1. Nebukadnezar Contoh Pemimpin yang buruk
Jika kita perhatian Nats kita Daniel 3 : 20-29, kita akan melihat 2 kontradiksi dalam kisah ini, yang pertama adalah Raja Babel Nebukadnezar, ia adalah contoh pemimpin yang tidak konsisten (labil), mari kita lihat ke pasal sebelumnya. Dalam Daniel 2, setelah tiada seorangpun dari para orang berilmu, ahli jampi, ahli sihir dan Kasdim yang dapat menjelaskan arti mimpi tersebut kecuali Daniel, maka Nebukadnezar mengakui bahwa Allah yang disembah Daniel adalah Allah yang mengatasi segala allah. (Daniel 2 :47-48). Tetapi dengan berlalunya waktu dan dengan semakin berlimpahnya kemakmuran atas negeri yang dikuasainya, serta merta ia membuat peraturan yang mengarah kepada kepuasan pribadinya sendiri yang pada akhirnya bermuara pada pengkultusan individu sebagaimana yang dilakukan oleh Domitianus pada latar belakang kitab Wahyu. Ketidak konsistenan Nebukadnezar terlihat dengan peraturan yang dibuatnya untuk menyembah patung yang dibuatnya. Mengapa Nebukadnezar begitu cepat berubah kepada penyembahan berhala (patung) sementara ia telah mengakui kebesaran Allah yang disembah Daniel ?. Jawabannya adalah karena ia hanya mengakui bahwa Allah yang disembah Daniel adalah Allah yang lebih besar dari berbagai allah lain. Artinya ia tetap mengakui keberadaan allah lain. Bukannya mengakui adanya Allah yang Esa. Pengakuan Nebukadnezar ini juga kerap kita lakukan secara sadar atau tidak sadar. Saat kita mendapatkan manfaat dari penyembahan kita kepada Allah misalnya doa kita dijawab (dikabulkan) kita mengakui kebesaran Tuhan, tetapi pada saat doa kita tidak kunjung dijawab (menurut versi kita) maka kita meminta pertolongan kepada allah lain, ke orang pintar atau dukun misalnya. Bukankah ini juga menunjukkan ketidak konsistenan kita kepada Allah ? Bukankah seharusnya kita mengakui hanya ada satu Allah didalam Yesus Kristus yang kita sembah walau bagaimana konsisi kita.
Nebukadnezar adalah contoh pemimpin yang emosional (spgr-toba), pada saat ia mendengar laporan dari para Kasdim bahwa orang Yahudi tidak menyembah patung tersebut pada saat sangkakala, seruling, kecap, rebab, gambus dan berbagai bunyi-bunyian dikumandangkan, ia menjadi begitu marahnya hingga meminta api dipanaskan 7 kali lebih panas, akibat ulahnya tersebut bahkan telah menghabisi nyawa prajuritnya yang mengangkat Sadrakh, Mesakh dan Abednego ke dalam perapian. Emosi Nebukadnezar didorong oleh ambisi pribadinya hingga ia tidak mampu berfikir secara rasional dan mengingat kembali bahwa sebagaian dari kejayaannya tidak terlepas dari jasa para gubernurnya yaitu Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Emosi/Panas hati ini juga yang membuat Kain tega membunuh saudaranya sendiri Habil (Kej. 4: 6-7) karena hati yang panas inilah merupakan pintu masuk bagi kebencian, dan bila tidak dapat dikuasasi akan menjadi tindakan kekerasan bahkan pembunuhan. Kita kadang juga diperhadapkan pada hal yang sama, karena ketidak sukaan kita terhadap seseorang telah menghasilkan emosi sehingga apapun yang dikatakan orang tersebut kita tidak dapat menerima dan bahkan menentangnya seolah menjadi sebuah ketidak benaran, sekalipun didalamnya ada kebenaran, bahkan kita melupakan hal-hal baik yang pernah ada diantara kita dengannya. Tidak jarang orang melukiskan kebenciannya dengan mengatakan “ dang diahu dang diho tumagonan tu begu” (tidak untuk ku tidak juga untuk mu lebih baik untuk hantu)

2. Sadrakh, Mesakh dan Abednego Contoh ketaatan yang sempurna
Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego adalah orang Yahudi yang dibawa oleh Aspenas atas perintah Nebukadnezar ke Babel, tidak hanya dibawa ke Babel tetapi keempat orang ini juga dijadikan sebagai orang Babel dengan mengganti nama mereka dari nama Yahudi Beltsazar (Daniel) dan ketiga sahabatnya Hanaya (Sadrakh), Misael (Mesakh) dan Azarya (Abednego), nama yang semula artinya adalah untuk memuji Allah Isreel mis. Daniel Allah adalah hakimku menjadi Beltsazar Bel dewa tertinggi Babel melindungi hidupnya demikian juga dengan Hanaya Tuhan menunjukkan kasih karunia menjadi Sadrakh Hamba Aku yaitu dewa bulan tidak hanya itu mereka juga diberikan pendidikan secara Kasdim dan makanan dari makanan raja (Dan. 1 : 3-7). Mereka dididik selama 3 tahun. Tetapi sekalipun diberi kenikmatan di Babel, tetapi Daniel dan ketiga sahabatnya tetap tidak mau menajiskan diri dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum oleh raja. Dalam hal ini Daniel dan ketiga sahabatnya tetap mempertahankan kesucian hidupnya untuk tidak memakan makanan yang telah dipersembahkan kepada berhala/dewa. Ketaatan mereka yang menjadikan mereka berani tampil beda dari sekian banyak para pelajar lainnya telah mengkawatirkan pengurus istana bahwa mereka nanti kelihatan tidak sehat dan pintar. Tetapi Daniel dengan ketaatan yang penuh telah sanggup untuk meminta diadakan perlombaan selama sepuluh hari, mereka tidak mengkonsumsi makanan raja dan anggur tetapi hanya memakan sayur. Setelah sepuluh hari ternyata mereka kelihatan lebih gemuk dari semua orang muda yang memakan santapan raja (Dan 1: 15), bahkan kepada keempat orang tersebut Allah telah memberikan pengetahuan dan kepandaian tentang berbagai-bagai tulisan dan hikmat, dan Daniel juga mempunyai pengertian tentang berbagai-bagai penglihatan dan mimpi. (Dan 1:17) Kemampuan ini yang nantinya digunakan oleh Daniel untuk menyingkapkan misteri dari mimpi raja yang tidak mampu disingkapkan seluaruh orang pintar di Babel.
Kemampuan yang dimiliki oleh Daniel telah mengantarkan mereka menduduki posisi kunci di kerajaan Babel. Ketiga sahabatnya atas saran Daniel telah ditempatkan menjadi gubernur di berbagai wilayah di Babel. Ketaatan mereka telah menghasilkan berkat dan suka cita yang besar bagi mereka. Tetapi ternyata ketaatan dan kesetiaan tidak selalu mendatangkan berkat dan pujian (kesenangan), tetapi juga membutuhkan pengorbanan.
Nebukadnezar yang telah terbuai dengan kekuasaan dan ambisinya, membuat sebuah patung emas yang besar, dan pada saat peresmian ia mengundang seluruh petinggi negeri termasuk para gubernur, hingga ketiga sahabat Daniel hadir, tidak dijelaskan mengapa Daniel tidak ada pada kesempatan tersebut. Pada saat mereka harus menyembah kepada patung tersebut, ketiga sahabat Daniel ini ternyata tetap konsisten terhadap iman percayanya, kepercayaannya tidak luntur oleh kemilau jabatan yang diembannya. Mereka pasti sadar betul bahwa ketidak taatan mereka terhadap Nebukadnezar bukan hanya akan menghilangkan jabatan mereka, tetapi bahkan nyawa mereka. Siapa sih sesungguhnya yang sudi kehilangan jabatan yang begitu mengah?, apa sih susahnya hanya sekedar menyembah kepada patung, toh belum tentu itu artinya berkhianat kepada yang kita percayai atau Allah yang kita sembah? Itu mungkin pikiran kita. Tetapi Sadrakh, Mesakh dan Abednego memiliki kesetiaan dan ketaatan yang didasari pada iman yang teguh kepada Allah, mereka berani tampil beda dan siap untuk berjalan bersama Allah dalam situasi apapun. Tidak sekedar hanya dikala senang. Perhatiakan bagaimana mereka bertiga menghadapi arogansi seorang Nebukadnezar : “ Dan 3:15 Sekarang, jika kamu bersedia, demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, sujudlah menyembah patung yang kubuat itu! Tetapi jika kamu tidak menyembah, kamu akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala. Dan dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?"
Nebukadnezar telah beranggapan bahwa dirinya bahkan lebih kuat dari para dewa. Tetapi dengan penuh ketenangan sebagai buah dari kepercayaannya kepada Allah mereka merespon “ Dan 3:16 Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: "Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. 3:17 Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; 3:18 tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu."
Ini adalah jawaban penuh iman yang menyatakan sesungguhnya Nebukadnezar bukanlah penentu nasib mereka, dan kepercayaan mereka kepada Allah tidak tergantung pada hukuman yang diberikan raja kepada mereka. Sekalipun mereka harus dihukum mereka tetap tidak akan menyembah patung buatan tangan manusia tersebut.
Ternyata kepercayaan mereka yang bulat kepada Allah telah menghasilkan mujizat yang luar biasa, Allah telah meluputkan mereka dari panas api yang membara, bahkan Nebukadnezar sendiri menyaksikan ada seorang yang bagaikan anak dewa (3:25), apa hasil mujizat tersebut?, hasilnya adalah Nama Allah ditinggikan di Babel, untuk kedua kalinya setelah penyingkapan mimpi oleh Daniel, kembali Nebukadnezar mengakui kebesaran Allah dengan mengatakan “terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego (3:28) Pada akhirnya Nebukadnezar menitahkan (3:29) bahwa setiap orang dari bangsa, suku bangsa atau bahasa mana pun ia, yang mengucapkan penghinaan terhadap Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego, akan dipenggal-penggal dan rumahnya akan dirobohkan menjadi timbunan puing, karena tidak ada allah lain yang dapat melepaskan secara demikian itu."
3:30 Lalu raja memberikan kedudukan tinggi kepada Sadrakh, Mesakh dan Abednego di wilayah Babel.


Simpulan
Nebukadnezar saat mendengar ada yang tidak mengindahkan titahnya dipenuhi dengan rasa amarah, karena ia merasa paling berkuasa, tetapi ada orang yang tidak taat kepada titahnya, ia khawatir kehilangan rasa kemasyurannya hingga dengan serta merta ingin menghabisi mereka yang tidak mengakui kekuasaannya. Sadrakh, Mesakh dan Abednego, sama sekali tidak khawatir akan kehilangan apapun bahkan nyawanya sehingga ia tetap taat kepada Allah. Logika manusia mereka akan kehilangan segalanya bahkan nyawanya saat mereka tetap bertahan untuk tidak menyembah berhala tersebut dan diamsukkan kedalam api, tetapi benarlah yang dikatakan Matius dalam Mat. 10:39 Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.
Nebukadnezar akhirnya kehilangan kewibawaannya saat ia melihat bahwa ketiga orang tersebut tidak mati, bahkan prajurutnya yang mati kepanasan saat mencampakkan ketiga orang tersebut kedalam perapian. Tetapi Sadrakh, Mesakh dan Abednego tidak hanya memperoleh nyawanya kembali tetapi kemuliaan Allah di Babel dengan dikeluarkannya perintah Raja bahwa setiap orang dari bangsa, suku bangsa atau bahasa mana pun ia, yang mengucapkan penghinaan terhadap Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego, akan dipenggal-penggal dan rumahnya akan dirobohkan menjadi timbunan puing, Lebih dari itu mereka diberikan kedudukan tinggi kepada Sadrakh, Mesakh dan Abednego di wilayah Babel.




Disampaikan pada Kotbah Minggu 6 April 2008 Pkl. 10.15 GEREJA POUK MARANATHA MEDAN – SUMUT.

PUJILAH KASIH SETIA TUHAN

Oleh : P. Erianto Hasibuan

MINGGU MISERICORDIAS DOMINI = KASIH SETIA TUHAN

Nats : Mazmur 33 : 4-9 BACAAN : Rom. 8 : 17-26

PENDAHULUAN :
Setiap kali Mancester United bertanding dan disiarkan di televisi itu merupakan hal yg menyenangkan bagi saya, sekalipun membosankan bagi isteri saya. Seandainya saya tidak berkesempatan menontonnya karena ada hal lain, saya tetap akan akses ke website MU untuk mencari tahu hasil pertandingannya, dan bila tim itu menang dengan senang hati saya akan membaca beritanya via internet sekalipun itu akan menambah pengeluaran untuk membayar pulsa.
Kepuasan saya akan semakin lengkap bila saya menceritakan hasil pertandingan tsb kepada siapapun yg saya temui termasuk isteri saya sekalipun dia tidak suka bola. Ketertarikan kita terhadap sesuatu dapat dipengaruhi banyak faktor, seperti Adam Malik (Alm), sejak kecil saya mengidolakan tokoh ini karena dia orang Siantar dan bersekolah di SD yang sama dengan saya sekalipun beda generasi. Isteri saya misalnya dia gemar mengikuti berita Mayang Sari bukan karena dia mau meniru kelakuannya, tetapi karena Mayang teman sekampungnya di Purwokerto.
Di Bandung kita mendengar ada konser yang hingga membawa korban nyawa karena para pencinta (fans) grup band tersebut begitu mengidolakannya sehingga anak-akan muda tidak mau kehilangan kesempatan untuk melihat idolanya secara langsung.
Anda tentu juga memiliki tokoh ”pujaan” yang dengan penuh pengorbanan terus mengikuti perkembangan tokoh tersebut, untuk dapat mengenal tokoh tersebut dari seluruh aspek kehidupannya yang tujuannya agar anda dapat meniru atau bertingkah seolah tokoh pujaan anda tsb.

Pengenalan Kepada Firman :
Mazmur 33 adalah Pujian bangsa Israel yang biasanya dilantunkan pada perayaan hari besar. Pengakuan bahwa Firman TUHAN itu benar, segala sesuatu dikerjakanNya dengan kesetiaan (4) adalah hasil dari pengalaman bangsa Israel secara kolektif dengan Allah sejak leluhur mereka keluar dari Mesir. Bumi Penuh dengan kasih setia TUHAN (5) tidak ada yg terluput lingkungan dimana mereka tinggal diakui bahwa kasih setia Tuhan ada dimana saja. Bangsa Israel semula hidup sebagai pengembara selama 40 tahun, dipadang yg tandus mereka dipelihara dengan tiang awan pada siang hari dan tiang api pada malam hari agar mereka dapat jalan siang dan malam.(Kel. 13:21). Saat di Kanaan mereka diberi curah hujan agar tanah mereka menghasilkan dan siapa sumber semua kasih setia tersebut adalah TUHAN. Inilah yang dikumandangkan oleh bangsa Israel, sebagai wujud ketaatan dan pengenalan mereka terhadap TUHAN yang mereka sembah.
Dengan baik pemazmur juga mengenal Allah yang mencipta dengan FIRMAN NYA, inilah yang kemudian dinyatakan oleh Yohanes bahwa Firman itu adalah Allah (Yoh 1:1b). Jauh sebelum Injil dituliskan, orang Israel telah mengenal Firman yang bukan hanya sebagai pencipta tetapi juga pemelihara ciptaanNya (Mzm.147 :15-18; 148:8). Di era PB kalangan Yunani berfikir bahwa Yohanes sedang membicarakan asas rasional dari alam semesta. Mereka paham benar bahwa Firman lah yang mencipta Langit dan Bumi, sehingga pada saat Yohanes menuliskan bahwa Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan dan tanpa Dia tidak ada suatu apapun yang telah jadi ... (Yoh 1:3) mereka dapat memahaminya. Tetapi pada saat Yohanes menuliskan bahwa Firman itu telah menjadi manusia (daging/sarx) dan diam diantara kita, (Yoh. 1:14) mereka terkejut dan sulit untuk memahaminya, dan bahkan tidak dapat memahaminya, buktinya mereka menyalibkan Dia yang adalah Firman itu.
Bagaimana pemahaman kita tentang Firman? Dapatkah kita memahami bahwa : Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dgn Allah (en arkhe en ho logos, kai ho logos en pros ton Teon) Yoh. 1:1 dan Padamulanya Allah menciptakan Langit dan Bumi (beresit bara elohim et hasmayim weet haares) Kej 1: 1.
Apakah kita hanya dapat meneriman itu sebatas alam ini masih bersahabat dengan kita, dan meragukannya pada saat alam ini tidak lagi bersahabat dengan kita. Jika demikian dimanakah pengharapan kita kepada TUHAN ? Bukankah Paulus mengatakan didalam Rom. 8 : 24 b ...Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi. 25. Tetapi jika kita mengharapkan apa yg tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun. (Epistola).
Orang Israel sekalipun kerap memberontak kepada Allah dan dikenal sebagai bangsa yang tegar tengkuk, tetapi disisi lain, Pemazmur menggambarkan bagaimana bangsa ini mengakui bahwa oleh Firman TUHAN langit telah dijadikan oleh nafas (Ruach=roh) dr mulut-Nya segala tentaranya (7). Inilah pengakuan mereka yang menggambarkan adanya pengharapan mereka akan campur tangan Allah dalam setiap kehidupan mereka sekalipun yang sedang mereka hadapi adalah ketidak nyamanan, tetapi mereka tetap berpengharapan karena ” Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada (9) adalah pengakuan yang menegaskan kembali bahwa Padamulanya Allah menciptakan Langit dan Bumi (Kej. 1:1) dan Yoh 1: 1 Padamulanya adalah Firman.

Pujilah Kasih Setia Tuhan
Sulit sekali bagi saya untuk mengatakan yang buruk tentang klub sepak bola MU, karena saya penggemarnya, sekalipun secara rasional saya memahami ada beberapa kelemahan yang dimiliki mereka. Konon lagi dengan ALLAH yang SEMPURNA, selayaknya kita menjadikan FIRMAN itu menjadi Idola kita, sehingga kita senantiasi terdorong untuk mengetahui lebih jauh lagi sehingga kita dapat berprilaku sebagaimana Firman itu menggariskannya.
Pengenalan akan Firman itu tidak dapat kita lakukandengan cara mengasingkan diri dan bertapa, tetapi pengenalan tersebut akan disempurnakan melalui perbuatan kita yang segambar dengan Tuhan Yesus sebagai tokoh sentral dalam Firman itu, karena memang Dia sendirilah Firman itu.
Pengenalan yang benar akan Allah akan membuat kita senantiasa memuji TUHAN karena kita semakin merasakan begitu besarnya Kasih Setia Tuhan (MISERI CORDIAS DOMINI)

Disampaikan pada Kotbah Minggu 6 April 2008 Pkl. 10.15 GEREJA POUK MARANATHA MEDAN – SUMUT.

Selasa, 04 Maret 2008

GEREJA BAGI ORANG LAIN

Oleh : P. Erianto Hasibuan

MINGGU LETARE = TAMPAKLAH

Nats : Kis. 3 : 1-10 BACAAN : Mzm. 126 : 1-6


PENDAHULUAN :
Tom adalah salah seorang yang tidur nyenyak dipagi hari. Dia tidak akan pernah bangun untuk pergi ke sekolah sebelum ibunya memanggil dan menjaganya sampai terbangun. Beberapa waktu kemudian, dia keluar dari sekolah dan magang di sebuah kota. la tinggal di sebuah rumah kost. Hadiah perpisahan dari ayahnya adalah sebuah jam weker. Tom berkata, ”Bagus; sekarang saya akan bisa bangun.”
Di kamarnya yang baru, dia meletakkan jam wekernya itu di atas meja, tapi pada malam pertama dia lupa menyetelnya. Ia tahu bahwa la lupa menyetel wekernya itu, namun karena la sudah berada di atas tempat tidur, ia malas untuk bangun dan menyetel wekernya itu. Pagi hari berikutnya, dia terlambat bangun dan terlambat satu jam di tempat kerja. Hal yang sama terjadi pada malam berikutnya, dan seterusnya. Setelah dia datang terlambat pada beberapa pagi hari, majikannya berkata, "Hal ini tidak bisa terus-menerus terjadi. Jika ini terjadi lagi, saya akan menulis surat kepada ayahmu dan memberi tahu dia bahwa kamu tidak cocok untuk pekerjaan ini."
Tom tidak ingin hal ini terjadi, maka malam itu dia teringat untuk menyetel wekernya. Pada pagi berikutnya, weker itu membangunkannya, tapi dia berpikir untuk tidur lima menit lagi; dia pun tertidur lagi, dan untungnya, terbangun tepat pada waktunya untuk segera bergegas berangkat kerja tanpa sempat sarapan pagi.
”Saya sungguh bodoh,” pikirnya. "Saya memiliki jam weker, tapi la tidak berguna kalau saya tidak menggunakannya.”
Maka dia bertekad untuk menyetel Jam itu setiap malam sebelum melepaskan pakaian untuk tidur, dan setiap pagi bangun ketika jam itu membangunkannya. Dia tetap setia dengan hal ini, dan hasilnya segalanya lancar.
Hal ini serupa dengan rahmat yang tidak akan berguna jika kemauan bebas kita tidak bekerja sama dengannya.
Bacaan kita dalam Epistola Mzm 126 menyatakan bahwa Tuhan telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersuka cita (Mzm 126 :3), apakah kita saat ini, kita masih dapat bersuka cita atas perkara-perkara yang dilakukan Allah kepada kita?, ataukah kita sudah melupakan Rahmat yang diberikan Allah kepada kita seperti halnya dengan Tom ?

GEREJA UNTUK SIAPA ?
Bila kita perhatikan Nats kita Kis. 3 : 1-10, ini mengisahkan bagaimana kehidupan para Murid Pasca kenaikan Tuhan Yesus, Jika kita melihat kebelakang, pada saat Tuhan Yesus mengutus kedua belas muridnya dan bagaimana mereka gagal menyembuhkan seorang anak yang sakit ayan versi Matius : 17 :14-21; mengusir roh dari seorang anak yang bisu versi Mrk.9 : 14-29 dan Luk 9 : 37-43a. Dalam Injil Matius dijelaskan mengapa para murid tidak dapat megusir setan tersebut, jawab Yesus adalah ” karena mereka (para murid) kurang percaya” (Mat. 17 :20).
Pada saat itu mereka masih bersama-sama dengan Yesus, tetapi justru mereka gagal untuk melakukan tugas mereka, pada saat Yesus telah naik ke Surga dan Ia mencurahkan Roh Kudus kepada mereka, mereka menyadari kuasa Roh Kudus yang dicurahkan kepada mereka, sehingga Mujizat dapat terjadi karena Iman mereka ” Demi nama Yesus Kristus orang Nazareth itu” (Kis.3:6b)
Iman Petrus diawali dengan kesadarannya, bahwa ”Emas dan perak tidak ada padanya” (Kis.3 :6a) tetapi justru ia memiliki hal yang lebih berharga yang dibutuhkan oleh si lumpuh. Bagaimana dengan kita yang dipilih Tuhan menjadi warga gereja, pengurus gereja, masihkah kita menyadari bahwa kita memiliki hal yang lebih berharga dari Emas dan Perak ?. Apakah yang dibutuhkan setiap orang yang datang ke Gereja ?, mereka sepertinya hanya membutuhkan belas kasihan agar dapat bertahan hidup seperti halnya si lumpuh, tetapi sesungguhnya yang ia butuhkan adalah kekuatan yang dapat melepaskan dia dari kelemahan yang seolah terlihat permanen baginya dan tidak akan tersembuhkan. Sebagaimana masyarakat mengenalnya sebagai seorang yang biasanya duduk meminta sedekah di Gerbang Indah ? (Kis.310 b)
Jika kita telaah lebih lanjut dari bacaan ini, dikatakan yang naik kedalam Bait Allah adalah Petrus dan Yohanes, tetapi yang menyapa adalah Petrus, mengapa bukan Yohanes?, apakah karena Petrus pemimpin mereka ? bisa jadi, tapi yang kita ketahui, Petrus memiliki karakter yang ekspresif dan responsif, karakter Petrus ini sesungguhnya sesuai dengan karakter kita orang Batak, yang reaktif dan responsif. Karakter ini ternyata tidaklah selalu negatif seperti yang selalu digambarkan orang, tetapi dapat juga digunakan kepada hal yang positif seperti yang dilakukan Petrus. Tapi jangan kita reaktif karena hal-hal yang membuat orang yang kuat menjadi lemah, atau orang yang sedikit lemah justru menjadi seperti orang lumpuh yang tak berdaya. Seperti contoh, jika kita melihat orang yang tidak biasanya duduk di tempat yang biasa kita duduki atau kelompok koor kita duduk, apakah kita menyapanya dengan ramah sehingga ia menjadi dikuatkan dan nyaman di lingkungan tersebut atau sebaliknya justru kita memandang dengan sinis, sehingga ia minggu depan tidak akan berani datang ke gereja ini, atau kalaupun datang ia akan duduk di bagian belakang paling pojok agar tak seorang pun dapat memandang dia dengan sinis, dan dapat keluar dengan cepat tanpa harus bersalaman dan bertegur sapa dengan yang lain.
Petrus menyembuhkan pengemis yang ada di pintu gerbaing Bait Allah, tentu ia bukan bagian dari jemaat di Bait Allah itu, ia hanya ada di pintu gerbang untuk mengharapkan sedekah untuk bertahan hidup, tetapi Petrus berkenan menyembuhkannya, artinya Petrus tidak membatasi diri kepada lingkungan Gereja, tetapi dia memberi contoh bahwa kehadiran Kristus, yang diwakili oleh Gereja Tuhan dan jemaatnya juga harus dapat dirasakan oleh orang lain yang diluar gereja. Kehadiran gereja yang dapat dirasakan oleh orang lain tentu tidak hanya diukur oleh kemampuan materi gereja tersebut, sebab Petrus juga mengatakan Emas dan Perak tidak ada padaku, tetapi justru yang diberikan adalah hal yang lebih berharga dari itu, yaitu hal-hal yang dapat menolong orang lain terbebas dari kelemahannya (kelumpuhannya), sebagai contoh kecil, jika warga gereja memiliki talenta dibidang musik atau vokal, dapatkah orang disekitar kita merasakan talenta kita tersebut ? atau justru mereka merasakan talenta itu sebagai pengganggu ketenangan mereka ?.
Di berbagai tempat sering terjadi perusakan Gereja, dan kita langsung bereaksi bahwa kebebasan beragama tidak dijamin di negara ini, tapi pernakah kita merenungkan bagaimana kehadiran Gereja bagi orang lain ?, apakah Gereja mereka rasakan hanya sebagai pengganggu ? misalnya ada disuatu tempat Gereja didaerah pemukiman penduduk yang mayoritas non Kristen, dari kalangan sederhana. Setiap minggu bahkan 2 hingga 3 kali seminggu, jalanan mereka menjadi macet karena banyaknya mobil mewah parkir disekitar tempat tinggal mereka, bahkan tidak jarang menghalangi jalan mereka, sehigga becak mereka tidak dapat keluar. Yang mereka rasakan hanyalah kehadiran gereja sebagai pembuat masalah, dan menggangu aktivitas mereka, belum lagi warganya yang sombong dan eksklusif. Apakah demikian fungsi gereja ? Jemaat mula-mula digambarkan sebagai ”Mereka disukai semua orang” (Kis. 2 :47 b).

PENUTUP
Jika jemaat mula-mula dikatakan Mereka disukai semua orang, maka pada saat ini kita juga diajak untuk dapat menjadikan Gereja kita menjadi tempat bagi siapapun termasuk orang lain, bagaimana hal ini dapat di wujudkan, apabila setiap orang yang ada didalam gereja, pengurus gereja, dan keluarganya, dan warga jemaat dan keluarganya disukai oleh semua orang.
Bagaimana kita dapat disukai semua orang ?
1. Sadarilah bahwa anda memiliki rahmat (talenta) yang harus digunakan, seperti Tom dan Jam bekernya, jika Jam bekker hanya dibiarkan tanpa distel maka ia tidak akan berfungsi. Talenta anda harus digunakan dengan nyata kepada siapa saja, sehingga Talenta itu dapat memberi kekuatan bagi orang lain secara nyata, sehingga seperti minggu kita sat ini Letare yang artinya tampaklah.
2. Sebagai etnis Batak yang responsif dan reaktif, kita dapat menggunakannya seperti Petrus, yaitu untuk membebaskan orang dari kelumpuhannya, sehingga ia dapat dengan bebas memuji Allah dan masuk kedalam bait Allah (Kis.3:8), kuatkanlah yang lemah dan bebaskanlah yang tebelenggu.

Akhirnya, Gereja kita dapat menjadi gereja bagi orang lain, karena Kritus juga hadir bagi siapa saja, melampaui batas-batas keanggotaan gereja, kewarga negaraan dan bahkan melampaui etnis. Mari kita wujudkan Gereja untuk semua orang karena warganya disukai oleh semua orang. Kiranya Tuhan menolong kita menjadikan Letare (nyatlah/tampaklah) ditegah-tengah kehidupan kita. Amin !

Disampaikan pada Kotbah Minggu 2 Maret 2008 Pkl. 10.15 GEREJA POUK MARANATHA MEDAN – SUMUT.

Minggu, 03 Februari 2008

YEHOVAH NISSI (TUHANLAH PANJI-PANJIKU)

Oleh : P. Erianto Hasibuan

MINGGU ESTOMIHI = QUINQUAGESIMA

Nats : Kel. 17 : 8-16 Epistola: MAT. 7 : 24-27


PENDAHULUAN :
Didalam berbagai diskusi dan mungkin juga didalam benak kita semua, kerap kali muncul pertanyaan, begitu kejamkah Allah ? sehingga Ia tega untuk menghapuskan ciptaannya yaitu orang Amalek, bahkan akan menghapuskan orang Amalek dari ingatan manusia ? (14).
Siapa sesungguhnya orang Amalek itu dan apa kesalahan mereka hingga mereka mendapat ganjaran yang begutu luar biasa. Amalek dilahirkan oleh Timna yang adalah gundik Elifas anak Esau. (Kej. 36:12) Jadi Amalek adalah Cucu Esau, Saudara kembar Yakub. Esau melambangkan orang yang tidak dipilih Allah, sedang Yakub melambangkan orang yang dipilih Allah. Mengapa Esau tidak dipilih ? menurut penulis Ibrani karena ia memiliki nafsu yang rendah yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan.(Ibr. 12 : 17).
Alkitab memberikan gambaran kepada kita sifat orang Amalek, yaitu :
1. Jahat (Orang berdosa) (1 Sam 5:18 tumpaslah orang-orang berdosa itu, yakni orang Amalek)
2. Suka Menindas Hak.10:12 suku Amalek dan suku Maon yang menindas kamu, ketika kamu berseru kepada-Ku?
3. Suka berperang (Perampok) Ul. 25 : 17-18 "Ingatlah apa yang dilakukan orang Amalek kepadamu pada waktu perjalananmu keluar dari Mesir; 25:18 bahwa engkau didatangi mereka di jalan dan semua orang lemah pada barisan belakangmu dihantam mereka, sedang engkau lelah dan lesu. Mereka tidak takut akan Allah.
Sekalipun orang Amalek adalah Turunan Ishak dan saudara kembar Yakub, tetapi hal tersebut tidak menjamin mereka mendapat tempat dalam kasih karunia Allah bahkan Bileam bernubuat buat mereka "Yang pertama di antara bangsa-bangsa ialah Amalek, tetapi akhirnya ia akan sampai kepada kebinasaan." (Bil.24:20).

El Shaddai
Pada minggu Esto mihi atau Quinquagesima minggu ke tujuh sebelum Paskah, bacaan kita dari Kel. 17 : 8-16 didahului dengan Kel. 17 :1-7 yang bercerita bagaimana orang Israel sudah mulai meragukan kehadiran Allah pada saat mereka bersungut-sungut kepada Musa karena kehausan mereka. Kehausan tersebut seolah menghilangkan seluruh fakta mujizat yang pernah dibuat Allah kepada mereka, sejak mereka keluar dari Mesir hingga tiba di Masa dan di Meriba. Puncak ketidak percayaan mereka adalah ketika mereka mempertanyakan "Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?" (Kel. 17 :7b). Mereka tidak lagi dapat mengatakan EL SHADDAI atau ALLAH MAHA KUASA, ALLAH PEMELIHARA DAN SUMBER KEKUATAN.
Ditengah-tengah kegalauan dan ketawaran hati tersebut, mereka berhadapan dengan orang Amalek, bangsa pengembara yang hidupnya adalah dengan berperang dan merampok untuk menguasai pihak lain. Bagaimana mungkin orang yang sudah meragukan kehadiran Allah ditengah-tengah mereka mampu berperang melawan musuh ? Secara mental dan semangat dapat dipastikan mereka memiliki semangat yang patah dan mental sebagai orang-orang yang kalah. Sementara disisi sana, orang Amalek memandang mereka hanyalah segerombolan para budak yang sedang kebingungan tidak tentu arah. Orang Amalek memandang orang Israel adalah segerombolan budak yang mudah untuk dikalahkan, karena mereka tentu tidak mengerti bagaimana caranya berperang dan angkat senjata. Bagaimana Musa memimpin bangsa dengan mental seperti itu ?

YEHOVAH NISSI
Musa menepis keraguan orang Israel dengan memberikan jaminan bahwa jika mereka berperang dia akan berdiri di puncak bukit dengan memegang tongkat Allah. (9). Musa membangkitkan kembali ingatan orang Israel kepada tongkatnya yang adalah lambang kehadiran Allah ditengah-tengah mereka. Tongkat itu pasti mengingatkan mereka kepada peristiwa penyeberangan di Laut Teberau dan juga peristiwa di Masa dan Meriba. Tongkat yang mengingatkan mereka akan adanya PENGHARAPAN akan KEMENANGAN bila Allah ada dipihak mereka.
Yosua memimpin pasukannya berperang melawan Amalek, bukan lagi dengan keputus asaan tetapi dengan PENGHARAPAN dan KEYAKINAN bahwa Allah menjadi kekuatan mereka yang diperlambang oleh Musa, Harun dan Hur yang ada di puncak bukit.
Kehadiran Allah itu nyata, saat Musa mengangkat tangannya maka pasukan Yosua lebih kuat, tetapi bila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah Amalek. Karena peperangan terjadi terus menerus maka Musa penat hingga perlu ditopang oleh Harun dan Hur.
Kita tidak dapat memahami sepenuhnya cara kerja Allah, tetapi bacaan kita mengajarkan kepada kita pada saat tangan Musa ada di atas, Israel lebih kuat, tetapi bila ia menurunkan tangannya Amalek lebih kuat. Tangan Musa dan tongkat yang di atas melambangkan kehadiran Allah. Saat Allah menguasai kita (ada melampaui keinginan kita) maka kita lebih kuat dari lawan kita. Lawan kita adalah Amalek, yang melambangkan orang yang Jahat (Orang berdosa), Suka Menindas, Suka berperang (Perampok).
Semua kita pada dasarnya senantiasa digoda oleh keinginan kita untuk menjadi orang Jahat (berdosa), berkeinginan untuk menindas orang lain, utamanya untuk menunjukkan bahwa kita melebihi orang lain. Dimana kita memiliki kekuasaan disitu kita berpeluang untuk menindas orang lain, Sebagai pendidik yang berhak memberi penilaian kepada para murid, kita tergoda untuk menindas para murid sesuai keinginan kita, hingga kita lupa bahwa sesungguhnya tugas kita hanyalah memindahkan nilai yang telah dihasilkan oleh para siswa. Suka berperang disini bukan berperang dalam arti untuk mempertahankan hak, atau kehormatan bangsa, tetapi berperang untuk merampok, untuk menguasai milik orang lain. Pada saat kita mengetahui orang lain lemah atau tak berdaya, bukannya kita tergerak untuk memberi belas kasihan, tetapi kita tergoda untuk merampoknya. Suatu kali saya pernah terlibat pembicaraan dengan seseorang, kami memiliki profesi yang sama, saya seorang bankir dan iapun seorang bankir bedanya saya bekerja untuk perusahaan, ia bekerja untuk dirinya sendiri. Saat saya belajar bagaimana sistem perhitungan bunga yang dilakukannya kepada peminjamnya, lalu saya heran dan bertanya, apa ada bisnis yang mampu menghasilkan keuntungan lebih besar dari beban biaya dan bunga yang bapak lakukan ? Dengan enteng dia menjawab, memang rata-rata yang meminjam dari aku bangkrutnya Pak. Hasibuan. Kita kadang berlaku seolah sebagai penolong yang baik, tetapi sesungguhnya kita sedang melancarkan suatu strategi untuk merampok.

Orang Israel telah memberikan contoh, pada saat mereka meninggikan Allah, mereka mampu mengalahkan orang Amalek, tetapi pada saat Allah tidak ditinggikan, mereka kalah. Demikian halnya dengan kita, saat kita bermaksud untuk berubah dan bertobat dari sifat-sifat kita yang buruk, Jahat, Penindas dan Perampok sangat tergantung pada dimana posisi Allah kita tempatkan, apakah kita menempatkannya untuk mengikuti kehendak kita, atau kita menempatkannya di atas kehendak kita. Bila kita meletakkan kehendak kita dibawah kehendak Tuhan, maka kita akan seperti seorang yang bijaksana yang mendirikan rumahnya di atas batu (Mat. 7 : 24b). Sehingga kita tetap kukuh sekalipun datang hujan yang mengakibatkan banjir, artinya sekalipun persoalan hidup kita seolah sambung menyambung tiada henti bagaikan hujan, hingga membanjiri seluruh aspek kehidupan kita, baik ekonomi, kesehatan, karir, hubungan keluarga, bahkan kepercayaan kita. Tetapi bila Allah tetap di atas, kita akan dapat mengatakan YEHOVAH NISSI (Tuhanlah Panji-panjiku).
Untuk dapat mengatakan YEHOVAH NISSI (Tuhanlah Panji-panjiku) maka 2 hal yang perlu kita lakukan, yaitu :
1. Kita harus mengakui kehadiran Allah didalam kehidupan kita.
Bagaimana kehadiran Allah digambarkan dengan mudah, berikut ada sebuah ilustrasi.
Suatu kali seorang atheis meminta seorang anak perempuan kecil untuk mengucapkan beberapa kata tertentu setiap malam sebelum tidur. Dia menuliskan kata-kata itu agar anak itu tidak lupa : ” God is nowhere ” (Tuhan itu tidak ada).
Anak kecil itu mempelajari tulisan itu dan mngejanya huruf demi huruf, demikian : G-o-d God i-s is n-o-w now he-re here. Anak itu berkata, “Mudah sekali! Saya akan memulai doa saya dengan berkata, “God is now here”. (Tuhan sekarang ada di sini)
Artinya, walau persoalan hidup kita seolah memaksa kita untuk mengatakan God is nowhere ” (Tuhan itu tidak ada), tetapi tetaplah katakan “God is now here”. (Tuhan sekarang ada di sini).
2. Tetaplah Bersyukur, layaknya Musa mendirikan Mezbah setelah mereka mengalahkan orang Amalek. Jangan pernah melupakan apa yang pernah dilakukan Allah padamu, saat engkau meminta pertolongan pada Tuhan atas persoalan ataupun pertobatanmu, dan pada saatnya engkau telah dibebaskan dari itu, akuilah bahwa Allah yang bekerja dan Bersyukurlah, Ucapkanlah terima kasih.
Dengan demikian kita dapat mengatakan YEHOVAH NISSI (Tuhanlah Panji-panjiku)

PENUTUP
Kehidupan kita sehari-hari, lingkungan kita, mungkin kerap membuat kita sulit merasakan kehadiran Tuhan, tabiat kita yang tidak baik bahkan mungkin persoalan hidup yang tidak kunjung selesai, kesulitan ekonomi yang tidak pernah berhenti, sakit penyakit yang tidak pernah sembuh, pasangan hidup yang tidak kunjung sesuai, banyak berpacaran tetapi tidak juga menemukan yang cocock, pekerjaan yang tak kunjung hadir, ada pekerjaan tetapi jauh dari yang diharapkan, berkali-kali mengikuti tes tetapi tak kunjung diterima, rangking dikelas yang tidak kunjung membaik, dll. Semua itu mengajak kita untuk menyatakan "Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?" bahkan pada akhirnya kita tergoda untuk mengatakan Tuhan itu tidak ada. Tetapi hari ini, Firman Tuhan menyapa kita dengan kabar Baik, “God is now here”. (Tuhan sekarang ada di sini), ”Yehovah Nissi”, Tuhanlah Panji-panjiku. Aku tidak lagi sama seperti sebelumnya, karena saat ini aku yakin Tuhan sekarang ada di sini. Amin.

Disampaikan pada Kotbah Minggu 3 Feb 2008 Pkl. 10.15 GEREJA POUK MARANATHA