SELAMAT DATANG DI "TEOLOGI KAUMAWAM"

Salam dalam Kasih Tuhan Yesus Kristus. Terimakasih telah mampir di blog yg sederhana ini. Kami sangat berterimakasih bila saudara berkenan memberi tanggapan atas tulisan yang saudara baca di blog ini. Karena dengan tanggapan itu kami akan dapat belajar dan berbagi, sebab untuk itulah blog ini dibuat agar hidup kita tetap terpelihara dalam persekutuan. Semua tulisan dalam blog ini dapat dikutip dengan tetap mencantumkan sumbernya. Kiranya Tuhan Yesus memberkati kita. Pax Vobiscum, Erianto Hasibuan

Rabu, 12 Oktober 2011

Harapan

Kata ini begitu kerap diucapkan, utamanya saat seseorang sedang memberI nasehat kepada mereka yang dalam kesusahan. Kerap diucapkan, namun tidak mudah mendapatkannya. Begitu banyak orang mengharapkan kata itu menjadi bagian dari hidupnya, tetapi begitu banyak pula tindakan yang ditujukan untuk menjauhkan realisasi dari kata itu.
Lihat saja acara di televise, dengan argumentasi untuk mengkritisi, tontonan yang disajikan mayoritas menyajikan “kegagalan” yang membuat kata “harapan” hanya sebuah impian yang hanya akan terwujud disaat kita sedang tidur.
Untuk sebuah majalah berita yang para pembacanya harus merogoh kocek lebih dalam, masih dapat diterima akal sehat, karena dapat dipastikan mereka yang membacanya adalah orang yang telah memiliki daya saring yang memadai untuk memisahkan antara “gossip”, “provokasi” dan fakta.
Tidak untuk sebuah acara televise, yang semua orang dapat menonton tanpa harus merogoh kocek sedikitpun. Tontonan tersebut justru membuat “harapan” berlari kencang menjauhi kaum “papa” yang menontonnya laiknya kecepatan mobil formula satu.
Konon kemudian “kita” yang memiliki daya saring cukup, kembali meneruskan cerita-cerita “serem” tersebut kepada mereka yang belum memiliki daya saring, sebagai orang yang dianggap memiliki kemampuan intlektual yang cukup, cerita kita kembali ditelan tanpa daya saring. Yang terjadi adalah pesimistis yang berkelanjutan. Akankah kita mengharapkan daya juang tinggi dalam masyarakat yang hidup dalam lingkaran persepsi pesimistis ?
Atasan menyalahkan bawahan, kolega menyalahkan rekan kerja, bawahan menyalahkan keadaan … dst. Lalu kapan keadaan tersebut akan membaik bila tidak ada yang memulai untuk mengatakan “masih ada harapan” untuk berbuat lebih baik.
Apakah teori X Douglas McGregor begitu merasuk, sehingga para atasan senantiasa mencurigai bawahannya dan harus mengawasi mereka terus menerus atau menyatakan hal-hal yang negative akan mereka?  Penulis seolah sedang berdiri sendiri di buritan kapal dan memandang ke lautan dalam kesendirian. Ditengah kesendirian, dengan tetap menyadarkan diri bahwa Douglas McGregor juga memberikan teori Y yang melihat dari sisi positif kemanusiaan, laiknya Sang Khalik saat usai mencipta manusia dengan bersabda “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.”
Jika semula dijadikan sungguh amat baik mengapa kita senantiasa memandang seolah tiada lagi tersisa yang baik ? Mari kembali melihat segala sesuatu dari hal yang baik, agar alam pikiran kita juga tetap memiliki harapan, yang dapat dirasakan orang disekitar kita, hingga akhirnya keputusasaan berubah menjadi harapan dan optimisme untuk berbuat lebih baik da lebih baik lagi …. Semoga  (erh12102011-bjd)

Sabtu, 01 Oktober 2011

Masikah ada kata ….”tapi” ?


Oleh : P. Erianto Hasibuan

Selesai upacara bendera tanggal 17 Agustus 2011 yang lalu, setelah ramah-tama sejenak (maklum bulan puasa, jadi tidak ada pertandingan dan makan bersama), inspektur upacara mendekati penulis, seraya mengajak menjauh dari keramaian.
               Si Ibu, sebut saja ibu “Sihol” mulai bercerita dan bersaksi bagaimana suka cita yang dirasakannya setelah mendapatkan mutasi dari tempat kerja yang lama ke tempat kerja yang baru.  Dengan penuh kesabaran, penulis mendengarkan secara cermat cerita dan kesaksian ibu Sihol.

Puncak cerita, tanda tanya besar penulis mulai tersingkap, mengapa kami harus mencari lokasi yang terbebas dari keramaian. Si Ibu menceritakan kisah hubungannya dengan atasannya di tepat kerja sebelumnya. Perlakuan atasannya yang menurut ibu Sihol, sangat kasar dan tidak manusiawi membuat dia “luka batin”. Berkali-kali Ibu Sihol mengatakan bahwa, ia telah mengampuni atasannya itu, tapi tak dapat melupakan perbuatannya yang begitu kasar. 
Kata-kata, “telah mengampuni, yang digandeng dengan kata tapi”, menarik disimak lebih lanjut. Benarkah Ibu Sihol, atau kita yang kerap mengatakan : saya mengampuni, tapi …  benar-benar sudah mengampuni ?
MENGAMPUNI
Di dalam Alkitab, kata mengampuni utamanya dalam PL (Perjanjian Lama) kerap digandengkan dengan kata kasih setiaNya, seperti pujian Musa saat hadirat Allah menghampirinya di gunung Sinai : Berjalanlah TUHAN lewat dari depannya dan berseru: "TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat." (Kel. 34 : 6-7; demikian halnya dalam Bil 14: 18; Neh 9: 17; Maz. 78: 38; Mzm 86: 5; Mik. 7: 18)
Dari sederetan ayat tersebut, tampak bahwa Allah mengampuni manusia berdasarkan pada kasih-Nya yang begitu besar kepada manusia, bukan karena sesuatu yang berasal dari manusia berdosa yang akan diampuni-Nya. Dalam PB (Perjanjian Baru), kata mengampuni disejajarkan dengan aktivitas resiprokal (timbal-balik),  yaitu bagaimana kita mengampuni orang lain agar Bapa di Sorga juga mengampuni kita, seperti dalam Mat. 6: 14 :  Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Hal senada juga terdapat dalam Mat. 6: 14-15; 18: 35; Mrk. 11: 25.
Dalam prespektif resiprokal di PB, pengampunan tergantung pada kerelaan kita untuk mengampuni orang lain. Bagaimana prespektif mengampuni yang dikehendaki Tuhan, dapat kita lihat pada konteks PL, saat Allah mengampuni. Pengampunan yang dilakukan Allah tidak tergantung pada upaya manusia, tetapi karena Kasih Allah kepada manusia. Artinya pemgampunan Allah timbul dari diri Allah sendiri yang memiliki Kasih, yaitu Kasih Agape, kasih yang tidak tergantung pada objeknya. Maksudnya, tidak tergantung pada tindakan manusia yang akan diampuni, tetapi karena Kasih Allah semata.
Bercermin dari hal tersebut, pengampunan dalam prespektif PB, mengajak kita untuk dapat mengampuni sesama sesuai dengan pola Allah mengampuni, yaitu dengan tidak tergantung pada objek yang kita ampuni, artinya tidak tergantung pada tindakan orang yang kita ampuni. Pada saat kita dapat mengampuni dengan cara demikian, maka Allah Bapa di Surga juga akan mengampuni kita.  

BELAJAR

Pemahaman akan pengampunan kerap dipersepsikan secara berbeda. Tidak jarang orang Kristen memandang bahwa pengampunan dapat dilakukan saat mereka yang bersalah kepada kita, telah bertobat dan mengakui kesalahannya. Sebagian lagi beranggapan saat mereka telah berbalik dari kesalahannya dan membuktikan bahwa mereka telah berubah, bahkan ada yang beranggapan setelah yang bersalah membayar lunas hutang-hutangnya.
Penafsiran ini, bahkan telah masuk ke lingkungan gereja. Mari memperhatikan beberapa geraja yang memiliki tata gereja yang begitu kaku, hingga seorang yang melakukan kesalahan, seolah tak memiliki pintu masuk lagi ke gereja tersebut, dan harus dikeluarkan.  Hal ini dapat saja memberi kesan bahwa gereja adalah tempat orang-orang yang “suci”, sementara Yesus sendiri mengikrarkan “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu “ (Mat. 11:28)
Tuhan Yesus dengan jelas dan lugas, mengajak semua yang letih lesu dan berbeban berat  untuk dapat datang kepada Nya untuk “belajar”, sebagaimana dituliskan dalam Mat. 11:29a Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku. Belajar  tidak hanya ditujukan bagi mereka yang berkecimpung dalam bidang kependetaan atau para teolog dan fungsionaris gereja, tetapi kepada semua orang.
Belajar kepada Yesus artinya, memahami tidak hanya tindakan-tindakan Yesus selama lebih dari 33 tahun hidup di dunia, tetapi lebih dari itu, memahami motivasi yang menjadi dasar pertimbangan Yesus melakukan hal tersebut, sehingga kita juga memahami mengapa kita mengambil sikap tertentu atas berbagai situasi, sesuai dengan perkembangan zaman.
Jika kita belajar untuk mengenal Yesus,  pada saatnya kita akan mengenal bahwa Yesus itu lemah lembut dan rendah hati (Mat. 11: 29b).  Pada saat memasuki fase pengenalan demikian, maka Yesus sendiri yang menjanjikan dan mengatakan bahwa : jiwamu akan mendapat ketenangan (Mat. 11: 29b). Pengenalan Yesus lemah lembut dan rendah hati, sudah barang tentu bukan dalam arti teoritis, atau sebatas pemahaman, tetapi dalam arti mengalami di dalam kehidupan sehari-hari dan tercermin dalam setiap ucapan, pandangan dan prilaku.
Sudah barang tentu, untuk masuk pada fase implementasi tersebut, harus diawali dari fase pembelajaran melalui apa yang ada di dalam kitab suci. Dengan demikian kita bertekun dalam pelajaran, hingga akhirnya kita berlatih mengimplementasikan apa yang kita pahami di dalam bimbingan Roh Kudus.
Secara sederhana, mari belajar dari riwayat Ayub, saat setelah dia mengalami penderitaan. Pengakuannya pantas disimak : Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. (Ayub 42: 5) Belajar penting untuk mengenal dan memahami, tetapi mengalami sediri pengenalan akan Tuhan adalah fase kedewasaan, setelah mengalami berbagai pembentukan, seperti Ayub. Pada akhirnya mereka yang masuk pada fase mataku sendiri memandang Engkau (mengalami sendiri kehadiran Tuhan) akan menjadi kesaksian yang hidup bagi setiap pribadi dan banyak orang.

KASIH
Kasih dalam bahasa Indonesia agak sulit dibedakan dari pengertian Agape, Philia dan Eros dalam bahasa Yunani.  Keseluruhan kata itu diterjemahkan sebagai “Kasih”, meskipun dalam bahasa Yunani, pengertian ketiganya berbeda.
Agape kerap digunakan untuk menyatakan kasih Allah. Kasih Agape ini adalah kasih yang tulus tanpa pamrih, kasih yang tidak tergantung pada objeknya. Sedang  Philia adalah kasih persaudaraan, yaitu kasih karena hubungan darah, atau hubungan lainnya, jadi masih mengandung pamrih. Eros adalah kasih yang terjadi diantara lawan jenis, dengan demikian kasih ini didasarkan pada adanya keinginan untuk memiliki.
Allah mengampuni didasarkan pada kehendaknya sendiri yang digerakkan oleh KasihNya kepada manusia. Tidak ada pamrih yang diharapkan dari manusia. Kasih Agape ini kerap diterjemahkan secara keliru, dengan mempersepsikan bahwa Agape adalah Kasih Allah semata, sehingga manusia tidak mungkin memiliki kasih agape. Sesungguhnya kasih agape sebagai kasih yang tanpa pamrih (tidak tergantung pada objeknya) berarti Allah menunjukkan kasihNya, agar manusia ciptaanNya yang memiliki gambar dan rupa  Allah dapat mewarisi kasih agape tersebut. Itulah sebabnya di PB, Tuhan Yesus memperkenalkan pengampunan yang resiprokal, dengan mengatakan, “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga” (Mat. 6: 14).
Kembali ke kisah ibu Sihol, boleh jadi pemahamannya bahwa kasih agape hanya milik Allah semata, maka wajar kalau manusia mengampuni “sekedar”  tidak membalaskan sakit hati kepada yang menyakiti, tetapi tetap mendendam atau mengingatnya adalah perkara manusiawi.
Philia dan Eros dimengerti sebagai kasih milik manusia, memiliki pamrih, entah  berdasarkan hubungan darah atau sekedar “nafsu” atau keinginan untuk memiliki. Jika kedua tipe kasih ini yang dipahami menjadi milik umat manusia, maka sangat wajar bila dalam mengampuni kita kerap mengatakan, “saya mengampuni, tapi saya masih mendendam luka, atau belum dapat melupakan kesalahannya atau alasan apapun yang kita tambahkan setelah kata “tapi”.
Dampak pola pengampunan jenis ini sangat jelas, mereka memang berdamai, tetapi hubungan mereka tetap gersang, mereka bertegur sapa, tapi tidak lebih hanya agar khalayak menilai bahwa mereka berjiwa besar dengan mengampuni satu sama lain. Ketulusan hubungan yang semula ada sebelum mereka berselisih (konflik) tidak pernah hadir kembali.

MENGAMPUNI TANPA KATA “TAPI”
Untuk dapat mengampuni tanpa kata “TAPI” menurut hemat penulis, hanya dapat dilakukan jika kita memiliki kasih Agape, yaitu Kasih dengan sudut pandang Allah. Bagaikan bercermin, jika kita masih menutupi lubang yang ada diwajah kita dengan make up, boleh jadi orang lain tidak tahu bahwa diwajah kita ada lubang, tetapi kita pemilik wajah tahu persis akan keberadaan lubang tersebut.  Demikian halnya dengan sikap pengampunan kita terhadap orang lain, hanya kita yang tahu setulus apa kita mengampuni orang lain.
Mari mendalami makna Kasih Agape yang bukan monopoli milik Allah, tetapi yang telah dipesankan oleh Yesus untuk kita Implementasikan kepada sesama, melalui pengampunan tanpa syarat. Hanya dengan cara itu, kita dapat menghadirkan SYALOM (EIRENE), Damai sejahtera bahkan kepada mereka yang pernah menyakiti kita atau yang  kita sakiti. Dengan cara itu, kita akan memperoleh ketenangan pada jiwa kita. Selamat bejar dan berlatih. (ERH 21082011)  Tulisan ini dimuat Mercusuar edisi 22 September 2011.


Sabtu, 10 September 2011

Pengampunan Jalan kepada kebebasan

               Sebagai pengikut Kristus, sudah pasti kita dituntut menjadi orang-orang yang istimewa, artinya tidak biasa. Sebut saja kejahatan, selayaknya dibalas dengan kejahatan, sebagaimana thema film laga dan sinetron yang tak lepas dari “balas dendam”. Namum Yesus mengajarkan untuk mengasihi musuh dan berdoa buat orang yang menganiaya kita (Mat. 5:44).
Demikian halnya dengan pengampunan, secara sadar maupun tidak sadar, dunia telah mengajarkan kepada kita, bahwa mengampuni adalah sebuah kekalahan besar. Setiap orang yang mengampuni sesamanya di”persepsikan” kehilangan banyak hal. Rugi besar istilah orang dagang. Kalau kita mau untung, kita harus menghukum seberat-beratnya (menghakimi) orang yang bersalah, agar kita di”persepsikan” mendapat kemenangan besar.
  Setidaknya situasi tersebut terjadi pada jemaat di Roma, mereka yang memegang teguh peraturan-peraturan, termasuk soal makanan dan memelihara hari-hari tertentu, mengahakimi kelompok yang tidak melakukan hal tersebut sebagai “terdakwa”. Sebaliknya kelompok yang mempercayai kebebasan kristen, sehingga tidak lagi tunduk terhadap larangan soal makan dan hari-hari tertentu , menghina kelompok lain.
Masing-masing kelompok menggunakan pengetahuan dan pemahamannya bukan sebagai berkat bagi orang lain, tetapi sebagai sarana untuk mencari kesalahan orang lain. Masing-masing kelompok “asyik” untuk mencari kesalahan orang lain, sebagai sarana untuk menghakimi, bukan untuk bertumbuh dan saling menguatkan.
Menjadi Kristen tidaklah otomatis membuat kita mampu mengerti sepenuhnya anugerah Allah dan pola hidup baru di dalam kristus. Yusuf adalah tokoh yang mengerti benar akan hal itu. Saat Yakub meninggal dan saudaranya cemas akan pembalasan yang akan dilakukan Yusuf kepada mereka atas dosa masa lalu mereka, dan Yusuf memiliki kekuasaan dan kesempatan untuk membalaskannya. Tetapi yang diucapkan Yusuf adalah “ …aku inikah pengganti Allah? (Kej.50:19b), ini adalah pengakuan yang sempurna akan anugerah Allah, bahwa Yusuf tidak berkehendak “merampas” kedaulatan Allah, dan ia mengampuni dan menerima saudara-saudaranya tanpa syarat, bahkan menjamin kehidupan mereka.
Yusuf tidak berlaku seperti seorang hamba raja, yang berhutang sepuluh ribu talenta, saat hutangnya yang sangat besar dan bahkan tidak mungkin untuk dilunasinya, dihapuskan, oleh karena raja berbelas kasihan (Mat.18:24-27), tetapi  hamba itu gagal mengampuni orang lain yang berhutang padanya hanya seratus dinar, suatu jumlah yang sangat tidak berarti (Mat.18:28-30). Yusuf istimewa, karena ia memiliki pengakuan yang tidak biasa: “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, … (Kej. 50:20)
Tidak ada yang berkurang dari Yusuf saat dia mengampuni, justru yang terjadi dia menghilangkan seluruh beban masa lalunya, dan menggapai masa depan yang sangat cerah dan penuh dengan keberhasilan, sekalipun banyak orang yang mereka-rekakan yang jahat bagi dia. Anda ingin hidup terbebas dari masa lalu yang suram? Dapatkan kebebasan anda dengan cara mengampuni secara total, tanpa pernah merampas hak Allah untuk menghakimi. (ERH08092011) Dimuat pada Renungan Warta Minggu, 11 September 2011-GKI KP

Kamis, 04 Agustus 2011

Teologi “Kemelaratan”

Bacaan :          Yesaya 39 : 1-8

Tujuan : Mendiskusikan prespektif Kristen akan harta benda.

Pengantar
Membaca topik di atas, sudah barang tentu menghadirkan rasa “kecut” di hati anda. Lain halnya jika saya membuat topik Teologi Kemakmuran. Karena pada dasarnya siapa sih yang mau hidup melarat ? Yang jelas bahasan kita kali ini, bukan memperdebatkan, Teologi Sukses atau kemakmuran yang pada dasarnya menekankan bahwa orang Kristen yang beriman dan benar-benar mengikuti Allah pasti akan kaya, atau harus kaya. Atau membahas Teologi kemiskinan yang pada dasarnya menolak materialisme demi mengagungkan asketisme.
Terlepas dari apa penyebutannya, pada dasarnya yang dipermasalahkan dalam Teologi Sukses atau Miskin adalah, bagaimana Alkitab memandang harta benda bagi umat Tuhan. Kekristenan tidak menghalangi umatnya untuk memiliki harta benda, namun yang perlu disadari bahwa pada harta benda itu tersembunyi kekuatan spiritualitas yang baik dan spiritualitas yang jahat dan dasyat. Pesona harta benda dapat menarik hati manusia sedemikian rupa, sehingga manusia berelasi mendalam dan emosional dengannya.

Belajar dari Hizkia

Hizkia anak Ahas pada usia dua puluh lima tahun, telah menjadi raja Yehuda. Hizkia adalah seorang raja yang baik. Kitab Raja-raja mencatat tiga hal kebaikan Hizkia. Pertama, Ia melakukan apa yang benar dihadapan Tuhan (2 Raj. 18:3); Kedua, Hizkia percaya kepada Tuhan, Allah Israel, dan tidak ada raja-raja Yehuda sebelum dia sesudahnya yang sama seperti dia (2 Raj. 18:5); Ketiga, Ia berpaut kepada TUHAN, tidak menyimpang dari pada mengikuti perintah Tuhan dan berpegang pada perintah-perintah TUHAN (2 Raj. 18:6).
Tuhan berpihak pada Hizkia, sehigga pada masa kepemimpinannya Hizkia mendapat kekayaan dan kemuliaan yang sangat besar. Ia juga telah membendung aliran Gihon di sebelah hulu, dan menyalurkannya ke hilir, ke sebelah barat, ke kota Daud. Hizkia berhasil dalam segala usahanya. (2Taw.32:27-31) Terowongan air yang dari mata air Gihon, telah membuat penduduk Yerusalem tetap mendapat air meskipun musuh mengepung Yerusalem.
Ketika berusia 39 tahun, Hizkia pernah sakit keras dan divonis bahwa ia akan meninggal dunia (Yes. 38 :1). Tetapi ia berdoa minta kesembuhan dari Tuhan dan Tuhan mengabulkan doanya. Ia sembuh dan Tuhan memperpanjang umurnya selama 15 tahun (Yes. 38 :5). Kesembuhan Hizkia disertai dengan tanda ajaib. (Yes. 38 :7-8).
Tanda ajaib ini ternyata telah menyebar, bahkan hingga ke manca Negara. Sesudah kesembuhannya, raja Babel, Merodakh Baladan mengirim utusannya dengan tujuan untuk mendengar penjelasan mengenai tanda ajaib itu. Tetapi apa yang dilakukan oleh Hizkia. Bukannya ia bersaksi akan kebesaran Tuhan yang telah menyembuhkan dan memberkatinya, tetapi yang dilakukannya adalah memamerkan seluruh harta benda yang dimilikinya. (Yes. 39: 2).
Hati Hizkia telah melekat pada harta benda yang dimilikinya, dia tidak lagi menceritakan bagaimana campur tangan Tuhan dalam hidupnya, tetapi bagaimana dia melihat dirinya memiliki kekuatan seiring dengan kepemilikan harta bendanya. Tidak ada lagi jarak pembatas antara Hizkia dengan harta bendanya. Kekuatan spiritualitas jahat yang dasyat pada harta benda telah mempengaruhi Hizkia. Harta benda telah menjadi berhala bagi Hizkia. Hizkia telah menyingkirkan posisi Tuhan itu dengan harta bendanya.
Tuan yang jahat itu telah menjadi tuan bagi Hizkia, sehingga ia juga ikut menjadi jahat. Ia menjadi jahat di mata Tuhan (2Taw. 32:25) dengan menyebutnya sebagai orang yang tidak tahu berterima kasih kepada Tuhan dan menjadi sombong. Ternyata kejahatan Hizkia tidak berhenti hanya di situ. Saat Yesaya menyampaikan hukuman yang akan menimpa kerajaannya dan keturunannya (Yes. 39:6-7), Hizkia bahkan tidak menghiraukannya dan yang Ia pikirkan  hanya kepentingannya sendiri saja (egoisme) yang penting itu tidak menimpa diriku (Yes. 39 :8).

Pertanyaan Diskusi :
1.    Bagaimana menurut saudara realitas “pemujaan” terhadap harta benda pada masa kini di masyarakat kita ?
2.    Menurut saudara, apakah yang menyebabkan orang menganggap harta benda sebagai kemuliaannya ? adakah kebudayaan di masyarakat yang mendukung terjadinya hal itu?
3.    Bagaimana kita seharusnya membuat pembatas yang tegas antara kita dengan harta benda yang kita miliki ?
Bacaan :  Lentera Umat Edisi 12.

Disampaikan pada acara ibadah (PA) Bapekkris PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Jakarta, 05 Agustus 2011  di Gedung Menara BTN Lt. 12

Minggu, 24 Juli 2011

Memilih dengan Hikmat Allah

Setiap pribadi pasti pernah bahkan kerap memilih, ada pilihan yang ringan, seperti harus memilih jalur mana untuk pulang agar tidak terkena macet, hingga pilihan yang pelik menyangkut masa depan. Saat selesai SMA, saya juga harus memilih, meneruskan sebagai karateka atau melanjutkan sekolah. Keseluruhan pilihan memiliki konsekuensi, hingga wajar jika kita mengatakan bahwa “hidup penuh dengan pilihan”.

Demikian halnya dengan Lot, saat harus memilih tempat dia hidup, agar tidak lagi terjadi pertikaian antara hambanya dan hamba Abram (sebelum menjadi Abraham). Lot memilih berdasarkan indranya, pandangan matanya bahwa seluruh Lembah Yordan banyak airnya, seperti taman TUHAN (Kej. 13:10), pilihannya pada akhirnya, membawa konsekuensi buruk baginya dan keluarganya, karena tempat yang elok menurut pandangan matanya ternyata dihuni oleh orang yang penuh dengan dosa dan jahat, itulah Sodom yang kemudian dimusnahkan oleh Allah.

Salomo merupakan contoh terbaik dalam memilih, saat dia diberi kesempatan Allah untuk meminta, "Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu." (1Raj.3:5), ia tidak meminta apa yang kasat mata, seperti yang dilakukan Lot, tetapi yang ia minta adalah “berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat” (1 Raj. 3:9).

Pertanyaannya adalah, mengapa Salomo dapat meminta hal yang begitu indah?, hingga ia mendapatkan anugerah yang luar biasa dari Allah seperti yang dikatakan Allah sendiri “… sesungguhnya Aku memberikan kepadamu hati yang penuh hikmat dan pengertian, sehingga sebelum engkau tidak ada seorang pun seperti engkau, dan sesudah engkau takkan bangkit seorang pun seperti engkau”. (1 Raj.3:12). Jawabannya karena Salomo menunjukkan kasihnya kepada Tuhan dan hidup menurut ketepan-ketetapan Daud, ayahnya (1Raj3:3a), artinya Salomo bergaul akrab dengan Tuhan, hingga hikmat Tuhan ada dalam dirinya. Paulus juga menegaskan hal ini bahwa “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, …” (Rom. 8: 28a)

Demikianlah seyogianya kita dalam memilih, kepada siapakah kita akan bertanya jalan menuju ke suatu tempat ? akankah kita mempercayai petunjuk jalan yang diberikan oleh seseorang yang belum pernah ke tempat itu?. Tidak kah kita kawatir akan dihantar ke tempat yang tidak seharusnya ?

Tetapi jika yang kita ikuti adalah petunjuk jalan dari pemilik tempat itu, masikah tersisa keraguan ? Mari simak apa yang dikatakan si empunya tempat, Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. (Yoh.14: 6) Selamat Memilih ! (ERH) Tulisan ini disampaikan dalam Renungan Warta GKI-KP Minggu 24 Juli 2011.

Sabtu, 16 Juli 2011

Sabar dan Berpengharapan dalam menjalani kehidupan

Bacaan I : Yesaya 44: 6-8 ; Antar Bacaan Mazmur 86 : 11- 17
Bacaan II : Roma 8: 12-25 Bacaan III: Matius 13: 24-30-, 36-43
Anggota Jemaat terdorong untuk sabar dan berpengharapan dalam kehidupan sehari-hari yang terkadang diwarnai kejahatan.

PENDAHULUAN
Seekor burung kutilang yang sedang terbang sangat tinggi, melihat sesuatu sedang bergerak di bawah di sebuah kebun. Karena ingin tahu, ia terbang menurun agar bisa melihat dengan jelas. Dia melihat bahwa itu adalah sebuah kereta yang ditarik oleh seekor kucing yang berteriak-teriak terus, “Cacing segar dijual. Cacing segar dijual”.
Merasa tertarik, burung itu hinggap di jalan, tetapi di jarak yang cukup aman. Dia bertanya dengan apa cacing itu bisa dibeli?. Tiga ekor cacing bisa dibeli dengan satu bulu sayapmu, “kata kucing itu. Burung itu memikirkan tawaran kucing itu, lalu memberi satu bulunya dan menyantap cacing yang nikmat itu.
Kemudian dia terbang, berputar-putar lagi … tetapi bayangan cacing yang lezat itu membuatnya turun kembali ke kereta itu. Kali ini, ia membeli sebanyak dua kali lipat dari pembelian pertama. Hal yang sama terjadi beberapa kali lagi ….
Tetapi kucing itu terus memperhatikannya. Ketika kekuatan sayap terbangnya sudah tidak ada, burung itu tidak mampu lagi terbang ketika kucing itu menerkamnya … dan ia binasa di kebun itu .. dimana godaan telah terlalu kuat baginya. (Tonne)

Kita dapat saja menertawakan burung kutilang dalam ilustrasi di atas, dengan menagatakan “siapa suruh berinteraksi dengan pemangsa!”. Tetapi bagaimana dengan umat Allah, bangsa Israel juga melakukan hal yang sejalan, sekalipun mereka telah mendengar “Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain daripadaKu. (Yes. 44: 6b), tetapi mereka masih saja membuat patung untuk menggantikan keberadaan “Allah”.
Patung (berhala) mungkin tidak kita buat dalam kehidupan kita saat ini, tetapi permainan PS, Game On line, FB, Twiter dsb, boleh jadi telah menjadi berhala baru bagi kita, sehingga kita tidak lagi dapat berlaku adil. Adil dalam arti luas, seperti tidak dapat lagi memberikan waktu kita untuk membantu orang tua, saudara, bahkan berdoa bagi kedua orang tua dan saudara kita.
Mari mencoba memeriksa diri, kalau kita mengalami kesulitan, apakah kita sedang sakit, atau kita sedang cemas karena mau ujian, atau karena “dia” yang kita sedang nantikan tidak kunjung hadir sesuai dengan janjinya, apa yang kita lakukan pertama? Adakah hati kita berseru “ Tuhan Lindungilah dia” atau atau kita langsung bersungut-sungut ?
Kehidupan umat Yehuda (Kerajaan Selatan) di era Yesaya mengalami kemerosotan rohani dan moral, tidak hanya dimasyarakatnya tetapi juga di pemerintahan. Yesaya memperingatkan Raja Yehuda Ahas, untuk tidak meminta bantuan Asyur dalam melawan Israel dan Aram. Demikian juga, setelah kejatuhan Israel Tahun 722 SM, Yesaya memperingatkan Raja Hizkia, agar jangan mengadakan persekutuan dengan bangsa asing melawan Asyur. Yesaya menasihati kedua raja itu, untuk percaya kepada Tuhan saja sebagai perlindungan mereka.
Sementara pendapat khalayak ramai, termasuk para nabi palsu melakukan hal sebaliknya. Tetapi Yesaya dengan tegas tetap menyuarakan untuk tetap mengandalkan Tuhan saja. Saat ini dalam kehidupan para remaja juga banyak tawaran-tawaran, seperti cara pintas untuk lulus UAN dengan mecari soal bocoran, atau seperti nyontek massal di SDN2 Gadel Surabaya yang dilaporkan Ny. Siami.
Demikian halnya dengan bimbingan intensif yang ditawarkan untuk memasuki perguruan tinggi negeri, atau supaya ranking di kelas. Kadang adik-adik dibuai dengan nilai tinggi, sehingga yang dilakukan adalah mempelajari soal ujian, hingga kadang melupakan pelajaran sesungguhnya.
Untuk mendapatkan hasil yang baik dan akurat memang diperlukan kesabaran, kesabaran adalah sikap tenang, tidak terburu nafsu, dan tekun dalam menghadapi segala macam situasi. Kesabaran juga merupakan sikap untuk tetap berpegang teguh pada keyakinan. Sebagai pelajar, seyogiayanya yang dilakukan untuk mendaptkan hasil yang baik, adalah berlatih dan belajar secara berkelanjutan, dimulai dari saat awal semester, bukan mengandalkan pada kursus singkat yang mengandalkan pada hasil namun lalai pada proses.
Kesabaran ditunjukkan oleh pemazmur, ditengtah-tengah kesulitannya dengan rendah hati telah memohon kepada Tuhan untuk mengajarkan jalan-jalan kebenaranNya, supaya ia dapat takut kepada Allah dengan segenap hatinya. Mzm : 86: 11 : Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu, ya TUHAN, supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu; bulatkanlah hatiku untuk takut akan nama-Mu.

LALANG DIANTARA GANDUM
Perumpamaan tentang lalang diantara gandum menunjukkan bagaimana Yesus berbicara tentang seorang tuan tanah, yang diganggu oleh seorang musuh dengan cara yang jelek sekali. Setelah benih gandum yang baik ditaburkan di ladang tuan tanah itu, maka datanglah musuhnya “waktu semua orang tidur” (yaitu pada malam buta), lalu dengan diam-diam menaburkan benih lalang diantara gandum itu.
Yang ditaburkan tuan tanah itu adalah benih yang baik, karena ia juga mengharpkan hasil yang baik. Sebagaimana harapan sipemilik benih, kita sebagai benih yang baik juga menginginkan hidup dengan baik seturut dengan renacana dan kehendak Allah, namun keinginan tersebut kadang berseberangan dengan kenyataan yang kita alami.
Paulus menggambarkannya bagaikan peperangan yang terus menerus terhadap segala yang membatasi karya Allah di dalam hidup kita, karena dosa senantiasa ingin berkuasa atas kita. Iblis senantiasa mengarahkan kita kepada hidup dengan hawa nafsu dan “tabiat berdosa“ (Gal. 5: 16-21 : (19) Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, 5:20 penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, 5:21 kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. … barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.
Sebagaimana perumpamaan yang disampaikan Yesus, ketika gandum dan lalang kedua-duanya mulai berbuah (berbulir) maka hamba-hamba tuan ladang itu dengan heran memperhatikan banyaknya lalang di ladang itu. Saat mereka hendak mencabutnya, tetapi tuan ladang itu melarangnya, sebab gandum akan ikut tercabut, karena akar lalang dan gandum sudah saling mengkait. (29)
Orang Yahudi menyebut lalang itu dengan nama gandum haram oleh karena kemiripannya. Demikian halnya yang dialami Yesaya di eranya, tidak ada perbedaan secara fisik antara nabi palsu yang memberitakan kabar yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Situasi saat itu memang sangat memungkinkan mereka untuk menang melawan Israel dan Aram bila mereka dibantu oleh Asyur, tetapi Yesaya tetap memberitakan apa yang Tuhan perintahkan. Demikian halnya saat sebelum kejatuhan Israel, para nabi memberitakan bahwa mereka akan menang dan kejayaan Israel akan dikembalikan. Itu adalah berita yang menyenangkan bagi telinga semua orang, siapa yang tidak suka dengan berita kemenagan. Tetapi Yesaya tetap pada pendiriannya untuk memberitakan suara Tuhan.
Untuk dapat terus memberitakan dan melakukan kebenaran Tuhan kita sebagai orang percaya, harus memiliki ketekunan dengan sabar dalam berpengharapan kepada Tuhan dan memutuskan untuk ikut tuntutan tabiat ilahi yang didalamnya kita ikut ambil bagian. Paulus pada akhirnya memberikan jalan keluar untuk hidup seturut dengan kehendak Allah yaitu dengan menjadi Anak Allah melalui hidup yang dipimpin Roh Allah. (Rom. 8 :14 Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah) Roh kudus berdiam di dalam anak Allah supaya memimpinnya berpikir, berbicara dan bertindak sesuai Firman Allah. Dan ini juga menjadi jaminan keselamatan, karena Anak adalah pewaris tahta.
Perlu dipahami, sekalipun kita telah memutuskan untuk mengikuti tuntutan Roh Tuhan, tetapi bukan berarti kita memiliki hak untuk menghakimi mereka yang belum hidup dalam tuntunan Roh Tuhan. Sebagaimana Tuhan memang membiarkan Gandum dan Lalang tumbuh bersama, tetapi bukan berarti Tuhan tidak menghukum mereka, tetapi ada saatnya Tuhan akan membinasakan mereka, pada saat musim menuai tiba, seperti yang dikatakan pada Ay.30 Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku."
Perumpamaan ini dengan jelas menunjukkan kepada kita, bahwa penghakiman adalah milik Tuhan, artinya sekalipun adik-adik melihat temannya bertindak tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, kita tidak memiliki hak untuk menghakimi mereka. Sabar bukan berarti tidak melakukan tindakan apapun, sabar berarti tetap pada pendirian dan membantu teman (sesama) yang melakukan tidak sesuai dengan kehendak Tuhan untuk kembali pada jalannya.

SIMPULAN
Sabar adalah sikap tenang, tidak terburu nafsu, dan tekun dalam menghadapi segala macam situasi. Artinya tidak seperti burung kutilang yang melupakan siapa yang dihadapinya hanya karena pikirannya telah dikuasai oleh keinginan nafsunya untuk memenuhi perutnya dengan cacing yang nikmat dan menjadikan makanan menjadi berhala yang pada akhirnya membinasakannya. Tetapi untuk hidup dipimpin oleh Roh Allah, dan berpengharapan pada Nya menjadi anak Allah, sehingga dalam menjalankan hidup ini kita tidak menghakimi mereka yang hidup menurut keinginan daging, tetapi memberikan hak penghakiman pada Allah.

Oleh : Pnt. P. Erianto Hasibuan, M. Div Disampaikan pada Ibadah Kebaktian Remaja Minggu, 17 Juli 2011 – GKI KP

Minggu, 10 Juli 2011

Mencari kehendak Allah

Nats : Roma 12 : 1-2

Nats ini tidaklah asing bagi kita, karena termasuk salah satu ayat yang kerap digunakan sebagai ayat landasan dalam pengumpulan persembahan, utamanya ayat 1. Masyarakat Roma yang dihadapi oleh Paulus sebagai tujuan suratnya, adalah masyarakat yang hidup penuh dengan kebebasan yang tak lagi berkenan dengan berbagai pengekangan.
 
PERSEMBAHAN YANG HIDUP

Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. (Roma 12 : 1)

Tulisan Paulus ini, bagi kita tidak aneh. Tetapi tidak demikian bagi orang Yunani pada masa itu. Bagi orang Yunani yang perlu dipersoalkan adalah roh; tubuh hanyalah penjara, Sesuatu yang dipandang rendah dan memalukan.  Dengan demikian kata-kata Paulus ini adalah kemustahilan bagi orang Yunani.  Tetapi bagi orang Kristen sejati, tidak pernah berpendapat demikian. Orang Kristen percaya bahwa tubuh adalah milik Allah, sebagaimana juga jiwanya, ia dapat melayani Allah baik dengan pikirannya, rohnya maupun dengan tubuhnya.

Tubuh itu adalah bait Roh Kudus dan alat yang dipakai oleh Roh Kudus. Sebagai contoh, suatu gedung gereja yang dibangun sebagai tempat beribadah kepada Allah. Tetapi itu harus dirancang oleh pikiran seorang arsitek, dibangun oleh tangan-tangan terampil para tukang dan pekerja; hanya kemudian, bangunan itu menjadi tempat ibadah dimana orang berkumpul untuk beribadah.  Gereja itu adalah hasil pikiran, tubuh dan roh manusia.

Oleh karena itu, kata Paulus : “ambillah tubuhmu; kerjakanlah semua tugas –tugas yang harus kamu kerjakan setiap hari;  sebagai pengusaha, karyawan, pelayan, ibu rumah tangga,  persembahkanlah itu sebagai korban yang hidup bagi Allah.
 
KEHENDAK ALLAH

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. (Roma 12 : 2)

Hidup beribadah sebagaimana ayat 1 menurut Paulus, menuntut perubahan hidup yang radikal. Kita tidak boleh menjadi sama dengan dunia ini, tetapi sebaliknya harus berubah.  Kata yang digunakan untuk menjadi serupa dengan dunia ini adalah Suschematizesthai,  akar katanya schema, yang artinya pola, rupa.

Suschematizesthai merupakan bentuk imperatif (perintah) dalam bentuk kini.  Dengan demikian dalam arti positif, bentuk imperative itu mengandung arti “terus menerus”. Sehingga menurut Van Den End Roma 12: 2 dapat diterjemahkan menjadi “Jangan lagi biarkan dirimu menjadi serupa dengan pola dunia ini, tetapi biarlah rupamu diubah terus menerus.  Menjadi serupa dengan dunia ini, yang dimaksudkan adalah dunia yang dikuasai dosa dan ketidaksempurnaan.  Jadi kata-kata Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini tidak boleh ditafsirkan seakan-akan orang percaya diajak menjauhi dunia, dalam arti kenyataan jasmani lalu melakukan askese (bertapa).

Schema, yang artinya bentuk luar yang selalu berubah-ubah, dari tahun ke tahun dan dari hari ke hari. Schema seseorang tidak sama ketika ia berumur tujuh belas dan tujuh puluh tahun. Tidak sama ketika ia berpakaian pergi bekerja dan pergi ke sebuah pesta jamuan makan. Schema itu terus menerus berubah. Oleh karena itu Paulus berkata : Janganlah menyesuaikan kehidupan mu kepada kebiasaan kebiasaan dunia; jangan menjadi seperti bunglon yang warnanya berubah-ubah, menurut lingkungannya.

Kata yang dipakai untuk berubah adalah metamorphoustai.  Akar katanya morphe, yang artinya suatu bentuk atau unsur pokok yang tidak berubah-ubah. Orang yang mempunyai schema  tidak sama pada umur tujuh belas dan tujuh puluh tahun, tetapi ia mempunyai morphe yang sama. Bentuk luarnya berubah, tetapi dalam dirinya, ia adalah pribadi yang sama. Oleh karena itu menurut Paulus, untuk dapat beribadah dan melayani Allah, kita harus melalui suatu perubahan, bukan bentuk luar kita, tetapi kepribadian kita yang di dalam diri kita.

Tujuan perubahan itu ialah sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah. Kata yang digunakan adalah dokimazein berarti memeriksa menguji atau test in order to approve; determine by searching and testing (Max Zerwick S.J A Gramatical Analysis of The Greek New Testament, Editrice Pontificio Instituto Biblico, Roma 1996). Tidak hanya sekedar mengetahui apa yang berkenan kepada kehendak Allah, tetapi lebih dari itu dapat membuktikan (mengalami) apa yang menjadi kehendak Allah.

Mencari kehendak Allah bukanlah hal yang mudah, mengingat Pertama, dalam kehidupan sehari-hari seorang Kristen sering diperhadapkan pada berbagai situasi yang sulit baginya untuk menentukan sikap. Utamanya menyangkut perkembangan teknologi yang cepat diberbagai bidang. Semuanya ini memerlukan pertimbangan matang untuk menentukan mana kehendak Allah. Kedua, kita diajak mengusahakan “budi” dalam kita mencari kehendak Allah, karena Alkitab bukanlah kitab hukum. Alkitab tidak menyajikan kepada kita seperangkat peraturan menunjuk jalan kepada orang Kristen sekaligus mengikat mereka.  Sebab Injil tidak merupakan hukum yang baru, tetapi justru memberi kita kebebasan sebagai anak-anak Allah.

Bukan Pendeta, atau Penatua yang harus menentukan “manakah kehendak Allah”, lalu menurunkan keputusannya ke jemaat.  Anggota-anggota jemaat tidak boleh hanya menunggu petunjuk “dari atas”. Setiap orang percaya dipanggil dan diperbolehkan mempertimbangkan sendiri kehendak Allah.  Hanya saja yang perlu diingat, bahwa orang Kristen bukanlah terdiri dari individu-individu yang hidup sendiri-sendiri, tetapi mereka merupakan satu tubuh di dalam Kristus.  Maka dalam mencari kehendak Allah umat Kristen juga perlu untuk berkumpul, dan saling meminta nasihat.

Untuk itulah pada hari ini kita melakukan Persidangan Majelis Jemaat yang Diperluas (PMJD) yaitu untuk menerjemahkan tiga kata yang dipakai oleh Paulus untuk merinci kehendak Allah : Apakah yang baik, yang berkenan bagi Allah dan yang sempurna.

(Disampaikan pada pembukaan PMJD 10 Juli 2011- GKI KP Bekasi)